Baby S(H)Itter

Baby S(H)Itter
«21» Japanese Indonesia


__ADS_3

"MIA!! Papa mana?!" Suara Jurba terdengar menggelegar ditelinga Mia. Anak itu memang jarang bicara dan sekalinya suaranya keluar lebih sering membuat emosi dari pada berbangga hati.


Mia hanya bisa mengelus dada mendengar suara tuannya yang datang dari arah tangga itu. Untung saja Asiha tidak menangis karena terkejut dan Afi masih tetap tenang walaupun terganggu.


Gadis yang dipanggil namanya membalikkan badannya menghadap Jurba yang berada di atas tangga yang menghadap tempatnya duduk. Kaki kaki kecil itu terlihat melangkah menuruni tiap tiap undakan yang ada. Sesekali juga melompat lompat kecil.


Hah, kenapa tidak turun dan bicara pelan pelan saja. Kan, jadi tidak perlu keluar tenaga untuk teriak.


Mia mensejajarkan tubuhnya setelah Tuan Jurba berdiri didekatnya. Diliriknya sebentar jam yang hampir menunjukkan waktu makan maalm. "Tuan Nam sepertinya belum pulang. Ada perlu apa, hm? Nanti biar Saya sampaikan jika bertemu."


Sejak anak anak mulai libur kenaikan kelas dan Jurba membawa rapot dengan nilai yang memuaskan. Tuan Nam memang jarang terlihat di rumah. Pria itu pergi pagi pulang malam.


Bahkan terkadang juga melewatkan sarapan dan hanya meninggalkan pesan untuk Mia membawakan makanan untuknya ke kantor nantinya. Selain menyetujui tentu saja tidak ada yang bisa Mia lakukan.


Tanpa perlu repot repot menjawab Mia, Jurba berjalan mendekati Afi yang fokus memainkan lego legonya yang kini berserakan dimana mana. Kedua anak itu berbisik bisik namun suaranya masih cukup kuat untuk dapat Mia dengar.


"Akhir akhir ini Papa jarang pulang pasti karena wanita itu." Mulai Jurba melirik sinis Mia.


"Benarkah? Tapi sepertinya memang iya." Afi jadi ikut ikutan melihat Mia.


Hei, anak anak Saya tidak melakukan apa apa lo. Dalam hati Mia menjerit frustasi. Semakin frustasi lagi kala mendengar lanjutan ucapan Afi.


"Aku lihat lihat mukanya memang seperti penjahat yang menghasut Papa."


Setelah tidak berhasil mengusir Mia dengan segala tugas tugas yang sengaja ketiga iblis kecil Diantoro itu berikan. Mereka berubah haluan menjadi mengucilkan Mia meskipun masih lebih sering cari perhatiannya.


Karena bagi mereka mengganggu Mia adalah wajib. Sedangkan mengusir Mia sekarang berubah haluan jadi fardhu kifayah. Harus tapi jika sudah ada yang melakukan tidak perlu.


Seperti saat ini. Setelah puas menghujat Mia, Afi berlari menghampiri gadis itu. Tanpa aba aba anak kecil itu melompat ke arah Mia. Meskipun sempat terhuyung Mia tetap bisa menjaga keseimbangannya.

__ADS_1


"Mia, Aku mau makanan Japanese Indonesia!"


Mia hanya tertawa mendengar celetukan Afi. Apanya yang Japanese Indonesia. Bilang saja mau makan lemper.


Tiga hari yang lalu Mia iseng iseng membuat lemper saat orang tuanya mengirimkan satu ikat daun pisang yang sebenarnya tidak sengaja masuk keranjang yang akan ayah ibunya kirim ke tempat Mia berada.


Ayah ibu Mia sebenarnya tahu kalau gadis itu sudah mendapatkan pekerjaan tetap dan terjamin kesehariannya. Namun kedua orang tua Mia tetap mengirimkan bahan makanan walaupun dengan jumlah yang lebih sedikit.


Dan dengan sayur sayur itulah Mia dapat menyediakan makanan desa yang sesekali diminta Tuan Nam sekeluarga. Jangan lupa, ini kota. sulit mencari batang bambu muda disini. Pasar tradisional paling dekat pun jaraknya sekitar lima jam-an.


"Aduh, gimana ya. Tapi daun pisang tidak ada, bagaimana kalau besok saja? Setelah sarapan kita cari bahannya sama sama nanti jalan jalan juga." Mia mencoba memberi pengertian.


Biasanya dengan memberi iming iming jalan jalan anak anak asuhnya akan mudah dibujuk. Tapi konsekuensinya Mia harus benar benar mengajak ketiga anak itu jalan jalan atau mereka akan menjelma menjadi trouble maker.


Saat mode biasa saja sudah merepotkan Mia apalagi saat menjadi trouble maker. Tingkat merepotkannya jadi berkali kali lipat.


Tapi sepertinya memang tidak semudah itu. Bukannya langsung mengiyakan, Afi malah memajukan bibirnya sampai bisa diikat. Kalau begini kan tangan Mia jadi gatal.


Haa… apanya yang jarang pulang. Tiap pagi dia harus membuatkan bekal dan juga mengantarnya ke kantor. Meski Mia lebih sering menggunakan jasa antar barang. Tapi Mia tidak akan mengatakan hal itu dan menambah tugasnya.


"Tidak. Saya janji akan buatkan besok. Sebagai gantinya, ayo buat makanan lain?"


Cara pertama tidak berhasil masih ada cara kedua. Mengajak buat bersama.


Biasanya anak anak suka saat diajak memasak bersama. Apalagi saat bermain dengan bahan bahannya. Untung saja ada Bibi Anli yang akan mengatur bawahannya untuk membersihkan ruangan setiap Mia selesai beroperasi. Jadi dia tidak lagi khawatir akan membuat kekacauan.


Dengan mata memincing seolah sedang curiga Afi yang masih belum turun dari gendongan Mia menjauhkan sedikit tubuhnya agar leluasa memandangi wajah pengasuhnya itu. "Tapi jalan jalannya jadi, kan?"


Benar, kan. Jika sudah begini Mia tidak akan ragu ragu untuk menyetujui.

__ADS_1


Setelah dekat dengan Mia, dapur adalah tempat yang wajib ketiga anak Tuan Nam sambangi. Setidaknya satu kali dalam seminggu.


Apalagi Mia tidak akan marah meskipun mereka menumpahkan tepung yang akan digunakan. Atau membuat telur berantakan karena belum benar benar habis sudah dipindahkan dari atas mangkuk.


Sudah hampir satu jam Mia dan anak anak berkutat dengan bahan bahan yang mereka temukan di dapur. Sampai ruangan itu tak lagi berbentuk. Hanya satu menu yang berhasil mereka buat.


"Ini apa?" Afi memperhatikan isi piring yang tersaji makanan buatan mereka.


"Ini namanya baek wan," jawab Mia dengan logat yang dibuat buat


"Japanese Indonesia juga?" Dengan polosnya, Afi bertanya dengan girang.


"Pakora. Namanya pakora. Gambarnya sama dengan ini." Jurba menunjukkan hasil penelusurannya dari ponsel Mia. Tidak lupa wajah menuduh juga Jurba berikan.


Oke, bentuknya memang sama tapi kan Mia tidak bohong. Itu namanya memang bakwan. Mengapa anak itu seolah menuduhnya seolah penjahat mematikan. Ya, meskipun biasanya dia memang suka berbohong terhadap hal kecil.


Mia ikut ikutan mengetik sesuatu di kolom pencarian. Tak butuh waktu lama bagi Mia untuk menemukan apa yang dicarinya. "Tapi yang kita buat memang bakwan," ujarnya ikut ikutan menunjukkan gambar yang ditemukan di internet.


"Dan untuk Tuan Muda Afi, ini juga Japanese Indonesia loh," tambahnya sambil menunjukkan gambar yang baru saja ditemukannya.


Dua anak itu memperhatikan dengan seksama layar ponsel Mia. Padahal yang dipanggil hanya Afi. Kata 'Kakiage' menjadi headline dalam penelusuran yang Mia lakukan. Sedangkan dibawahnya terdapat beberapa gambar yang jika dilihat sekilas memang mirip dengan apa yang Mia buat.


"Walaupun kau sudah membuat makanan Japanese Indonesia, tapi bukan ini yang aku mau, jadi aku tetap minta yang lain." Wajah congkak Afi makin menjadi, padahal kalau ucapannya dibantah anak itu hanya bisa menangis.


Tawa ringan keluar dari bibir Mia. "Iya, iya. Tapi untuk sekarang bahannya tidak ada, Saya janji akan buatkan lagi besok. Sekarang, ayo makan bakwan dulu sambil menunggu jam makan malam," ujar Mia sembari melangkah kembali ke ruang tengah sambil membawa piring bakwan.


"Seperti biasa, tolong ya, Bibi An," Tambahnya saat melewati kepala pelayan itu.


Dari belakang Afi dan Jurba berlarian menyusul Mia. Sedangkan Asiha asik tertawa memperhatikan kedua kakaknya mengikutinya yang sedang digendong Mia.

__ADS_1


Tanpa ada yang menyadari, sudut bibir seseorang yang memperhatikan mereka cukup lama, tertarik keatas membentuk senyuman. Entah apa yang tersimpan dikepala putihnya.


__ADS_2