
Saat ini ke limanya masih berada di 'Zoo Land'. Lebih tepatnya fi kawasan burung. Katanya objek pencarian Jurba kali ini adalah burung merak.
Tanpa membuang waktu lagi Mia langsung mengarahkan Jurba menuju kawasan burung dipandu peta bantuan untuk pengunjung yang dimintanya dari petugas. Langkah keduanya akan secara otomatis diikuti Afi, Asiha dan Tuan Nam jika jarak kedua kelompok itu terlalu jauh.
Karena kehadiran Tuan Nam, secara tidak sadar Mia memenuhi keinginan Jurba yang ingin jalan jalan berdua. Ah, tapi ini sepertinya tidak bisa disebut jalan jalan berdua.
Karena ketimbang teman jalan, Mia lebih cocok disebut pemandu wisata yang menyediakan jasa titip barang sekaligus. Oh, juga fotografer dadakan. Seperti saat ini.
Afi dan Tuan Nam beserta Asiha yang menyertai berhasil berada di samping Mia yang menemani Jurba yang tiba tiba berhenti saat melihat kandang Ayam Kalkun. Afi langsung berpose dan meminta Mia untuk dipotokan.
"Ini bukan merak, tapi ekornya berdiri," gumam Jurba lirih.
Meskipun lirih, posisi Mia yang ada tepat disampingnya tetap bisa mendengar apa yang Jurba katakan.
"Ini Namanya Kalkun. Tahu tidak kalau hewan ini satu spesies dengan ayam?"
"Spesies?"
Wajah polos Jurba saat bertanya memancing jiwa jiwa jahil Mia yang akhir akhir ini mulai menunjukkan bakalnya.
"Iya, sejenis. Dulu Ayam Kalkun biasa disebut Ayam Turkey, mau tahu kenapa?"
"Kenapa?"
Senyum senang Mia semakin mengembang kala anak itu masuk perangkapnya.
"Karena kalau mau makan Ayam Turkey harus pergi ke Turki."
Bukannya mengindahkan perkataan Mia yang sudah pasti bohong. Jurba beralih menghampiri ayahnya dan berkata, "Papa, kenapa burung itu namanya Ayam Turkey?"
"Entahlah, Papa tidak tahu." Ini tidak bohong. Dia memang tidak peduli pada bangsa burung termasuk ayam. Baginya itu tidak menguntungkan.
"Karena jalur perdagangannya melalui nagara Turki. Ini yang benar, kalau masih belum paham tunggu berarti belum waktunya. Kalau sudah besar Tuan pasti mengerti." Sahut Mia.
Pada akhirnya Mia tetap menjelaskan yang sebenarnya. Salahkan saja wajah Jurba yang menggemaskan. Kan, Mia jadi tidak tahan.
Selesai menjelaskan, Mia mengedarkan pandangannya. Mencari keberadaan hewan bernama latin Pano Muticus. Tanpa sengaja Mia malah melihat jam tangan yang dikenakan Tuan Nam.
Astaga, jam makan siang sudah hampir lewat.
"Burung Merak nya mungkin masih harus ke dalam lagi. Bagaimana kalau Kita makan siang dulu? Disana ada tempat duduk."
__ADS_1
Mungkin karena memang sudah lapar. Keempatnya mengikuti saran Mia begitu saja. Duduk dan makan dengan nyaman meskipun tidak di meja makan.
Oh, tidak juga.
Baru satu suapan, Afi sudah lari kesana. Dan jika sudah jauh, maka Afi tidak akan kembali lagi. Jadi, mau tidak mau, Mia harus mengikutinya anak itu kemanapun langkah kecil itu berjalan.
Dengan porsi yang sengaja dilebihkan, Mia menguapi Afi dan sesekali sendok itu masuk ke mulutnya sendiri. Karena Mia tahu jika Afi sudah susah begini pasti hanya akan makan sedikit.
Jurba yang melihat Mia sudah kembali sendiri dengan tangan yang memegang piring kosong lantas tertawa cekikikan. Mia jadi curiga kalau tingkah Afi diprakasai oleh anak itu.
"Mana Afi?" todong Tuan Nam melihat Mia datang sendiri.
"Ada disana Tuan." Tunjuk Mia pada anak yang sedang asik memotret burung sampai terjongkok jongkok.
Tentu saja Mia tidak akan meninggalkan Afi begitu saja. Apalagi jaraknya cukup jauh. Jadi gadis itu sengaja memberikan ponsel Afi pada pemiliknya agar bisa dihubungi. Afi malah menggunakannya untuk memotret burung yang ditemuinya.
Asiha yang sudah menyelesaikan makannya berlari menghampiri Afi. Meskipun harus jatuh beberapa kali akibat kakinya sendiri.
Berbanding terbalik dengan Afi dan Asiha. Tuan Nam dan Jurba terkesan lebih tenang. Saat adik adiknya berlarian setelah baterai mereka terisi, Jurba lebih memilih duduk tenang di samping sang Ayah. Menunggu makanan turun.
Entah kenapa, tiba tiba saja Mia beranjak menghampiri Afi dan Asiha membawa satu set pakaian ganti Asiha. Padahal barang bekas mereka makan belum selesai dibereskan.
"Liat apa?" tanya Afi sambil menundukkan kepalanya.
"Tunggu… jangan pelan pelan begitu. Tunggu aba aba dari Saya nanti nunduk yang cepet ya?" Setelah disetujui, Mia mulai menghitung mundur dari angka tiga dengan suara yang tergolong rendah seperti berbisik.
"Tiga… dua… dan sa… TU!"
Wuss!
Tepat setelah Afi menurunkan kepalanya sesuatu berujung runcing melintas dengan kencang. Gerakannya seperti baru saja dilempar. Dan tidak ada yang mengetahuinya.
"PRENG! Tidak ada apa apa dibawah sana." Jelas Mia sembari tertawa kecil melihat penasaran Afi.
Selesai mengerjai sang Tuan Muda Kedua, Mia berlari lari kecil sambil menggendong Asiha. Dibelakangnya, Afi mengejar dengan penuh gerutu. Dan Asiha tertawa kegirangan diajak berlari sambil digendong.
Bruk!
Ah, rasanya nikmat saat bokong menyentuh bagian rata dari bangku taman yang tersedia. Mia membiarkan Afi memukulnya sesuka hati. Pukulan anak itu tidak terasa apapun baginya, jadi biarkan saja. Nanti kalau lelah pasti berhenti sendiri.
Dan benar saja. Kini Afi memposisikan tubuhnya untuk tidur miring berbantalkan paha Mia. Tidak benar benar tidur. Anak itu hanya berbaring dan memainkan ponselnya.
__ADS_1
Melihat lihat lihat foto yang baru saja diambilnya. Dalam waktu beberapa menit itu, Afi sudah mendapatkan sekitar 15 gambar burung yang berbeda-beda. Dan untuk satu burungnya difoto sekitar tiga sampai empat kali.
Asiha sudah duduk sendiri disampingnya. Gadis kecil itu sedang menikmati roti pemberian sang ayah. Jadi Mia bisa leluasa ikut memperhatikan foto foto yang diambil Afi tanpa terganggu.
Cekrek!
"Astaga, bagaimana bisa kameranya buram begini?" suara grutuan dari seorang pria yang berdiri tak jauh darinya terdengar meskipun lirih. terlihat pria itu mengotak atik kamera yang dibawanya.
Ternyata yang terkejut akan datangnya suara kamera itu bukan hanya Mia. Afi dan Jurba pun begitu. Terbukti dari tubuh Afi yang terasa tersentak sebelum anak kecil itu bangkit menghampiri ayahnya.
"Papa, Afi juga mau difoto dengan Papa." Afi menunjuk pria fotografer yang terlihat dimarahi sepasang manusia yang tidak puas akan hasil jepretan orang itu.
Setelahnya terlihat Tuan Nam menghampiri sang fotografer dan entah bicara apa saja yang membuat mereka terlibat percakapan cukup lama sebelum Tuan Nam kembali mengabarkan persetujuan si fotografer untuk memotret mereka sekeluarga.
Afi dan Jurba yang diam diam mengharapkan hal yang sama pun segera memasang ekspresi senang. Afi meletakan ponsel yang dipegangnya sembarangan tempat dan Jurba segera turun menghampiri sang ayah.
Berbeda dengan keduanya, Asiha malah merapatkan tubuhnya kepada Mia. Tubuhnya ketakutan melihat si fotografer berjalan mendekat meskipun berhenti pada jarak yang cukup jauh. Namun pada akhirnya Asiha mau ikut dipoto setelah diyakinkan dan digendong Tuan Nam.
Suara jepretan asal terdengar berkali kali. Mia tebak orang itu sedang memastikan kualitas gambarnya. Tidak ingin membuat kecewa orang yang menggunakan jasanya lagi.
Mia tidak ikut dalam barisan itu. Tentu saja, Mia bukan bagian dari 'keluarga'. Itu sudah menjelaskan keberadaan Mia yang kini sibuk membereskan barang barang yang ditinggal begitu saja.
Setelah beberapa kali mencoba si fotografer mulai mengarahkan posisi agar masuk kedalam frame.
Ckerek!
Namun hasilnya masih tetap tidak sesuai harapan. Jadi si fotografer meminta maaf dan mengsetting kembali kameranya. Sementara itu Afi keluar dari barisan setelah menyadari ada seseorang yang belum masuk frame. Jurba juga mengikuti dari belakang.
Sesekali si fotografer membidik asal kameranya. Dan Afi sudah berada di samping Mia menarik tangan gadis itu.
"Ayo ikut, Kak Mia juga harus difoto."
Mia menolak ajakan Afi dengan halus dan lembut. Namun Jurba malah ikut ikutan menarik tangannya. Jadilah kedua tangan Mia ditarik Afi dan Jurba kearah yang sama. Spot foto keluarga kecil Tuan Nam Chuan Diantoro.
Tepat setelah Mia masuk dalam jangkauan kamera si fotografer siap untuk membidik lagi. Fotografer sempat terkejut akan keberadaan Mia yang baru saja disadarinya. Dibantu arahan Fotografer dan Afi serta Jurba.
Foto pertama diambil bertepatan dengan Asiha yang meminta beralih gendongan menuju Mia yang ada tepat di samping Tuan Nam dan Afi serta Jurba yang berebut pose memeluk Mia.
Foto kedua keempatnya berdiri bersisian. Mia dan Tuan Nam serta Asiha yang berada di gendongan Mia dibelakang Jurba dan Afi dengan wajah bahagia mereka.
Kedua foto itu yang dicetak cukup besar dan diletakkan di dinding ruang tengah rumah Tuan Nam. Sisanya dicetak kecil kecil dan dimasukkan kedalam buku album termasuk foto yang agak buram.
__ADS_1