
Seperti yang dikatakan Mia. Setelah pulang sekolah, mereka langsung bersiap makan siang. Lalu tidur sampai jam dua lewat.
Suara alarm yang cukup keras membuat Jurba terbangun. Baru saja matanya terbuka, Jurba sudah melihat buku pelajarannya yang tertumpuk di meja belajarnya. Jika tebakan Jurba benar maka itu adalah buku sesuai jadwal besok.
Cklek!
Pintu yang terbuka mengalihkan perhatian Jurba dari tumpukan bukunya. Di ambang pintu, Mia terlihat sedang memamerkan senyum cerahnya.
"Sudah cukup tidur siangnya. Saatnya mandi."
sekitar pukul setengah empat, ditemani sepiring kue mawar yang Mia buat saat anak anak tidur. Jurba diberikan waktu untuk membaca satu buku pelajaran sebelum Mia melontarkan pertanyaan yang wajib Jurba jawab tanpa melihat buku.
Itu kesepakatan yang keduanya buat sebagai metode belajar mereka.
Besok, Jurba memiliki dua jadwal pelajaran. Jam pertama penjaskes. Tidak perlu melihat buku Jurba, Mia sudah dapat menebak materi materi yang diujikan.
Pasti tidak akan jauh dari kata bola besar, senam, renang dan menjaga kesehatan. Oh, dan seni bela diri. Mau kelas berapapun itu, pasti materi yang diberikan temanya sama dan soalnya tidak jauh jauh bedanya.
Dan untuk jam ke dua adalah matematika. Mia melihat lihat buku anak itu yang diambilnya dari tempatnya. Materinya masih materi dasar seperti penjumlahan dan pengurangan serta pengenalan bilangan dan bangun datar serta bangun ruang.
Sambil menunggu Jurba menyelesaikan bacaannya, Mia juga berusaha memutar otaknya agar dapat membuat pertanyaan pertanyaan yang memiliki jawaban pasti.
Tidak seperti satu per dua yang jika ditulis nol koma lima juga tetap benar..
waktu terus bergulir dan Mia sesekali melontarkan tanya diluar sesinya untuk bertanya. Seperti saat Jurba membalik kertas tiba tiba Mia bersuara.
"Saat bola menyentuh tangan disebut?"
Dan jika tidak dijawab maka Mia akan terus mengatakan pertanyaan yang sama. Padahal materi yang ditanyakan ada dibagian awal sedangkan Jurba sudah sampai akhir.
Ketika Jurba kembali membalik buku untuk mencari jawabannya. Mia akan tertawa kecil. Merasa senang mengganggu anak kecil itu.
Padahal dia sendiri yang meminta Jurba untuk belajar. Setelahnya dengan senang hati Jurba melempar pukulan kecil ke arah Mia.
Saat masuk sesi tanya jawab pelajaran kedua, yaitu matematika. Tanpa mereka sadari Tuan Nam sudah berdiri cukup lama di tangan. Bahkan bajunya juga sudah berganti.
Mata tajam Tuan Nam masih betah mengawasi segala gerak gerik Afi yang asik bermain sesekali mencomot kue di piring bersama Asiha. Sementara Mia memperhatikan sesekali mengganggu Jurba belajar.
Senyum mengembang diwajahnya. Tuan Nam jarang menemukan anak sulungnya itu mau belajar kecuali saat mengerjakan PR. itupun tidak dengan serius. Alias asal asalan.
__ADS_1
Sengaja Tuan Nam mendekat. Pertanyaan Mia pun juga terdengar semakin jelas.
"Baiklah, ini terakhir. Bangun ruang apa yang terdiri dari dua lingkaran?"
Jurba berpikir sebentar sebelum akhirnya tangan kecil itu memulas sesuatu di buku yang ada di hadapannya. Saat selesai Jurba menunjukkan hasil gambarannya.
"Jawabannya adalah tabung."
"Benar. Oke, pertanyaan terakhir_" Pertanyaan yang ingin Mia keluar belum terdengar namun Jurba lebih dahulu menyela dan menunjukkan protesnya.
"Sudah dua kali Kamu bilang pertanyaan terakhir." Dan Mia hanya tertawa senang.
"Ini benar benar terakhir, Saya janji." Jurba tidak menjawabnya. Tentu Mia tetap melanjutkan ucapannya.
"Satu tambah satu sama dengan?"
"Dua!" ucap Jurba tanpa perlu berpikir.
"Salah."
"Satu tambah satu sama dengan dua, itu benar!"
Mendapati jawaban tidak masuk akan itu, Jurba ingin menyuarakan protesnya tapi penjelasan Mia lebih dahulu keluar.
"Bercanda. Benar kok jawabannya dua, tapi Saya sengaja membuatnya jadi jendela biar tidak tegang, hem. Jangan marah."
"Papa, lagi, ambilkan lagi!"
Mia tersentak kaget mendengar ucapan Afi. Seketika kepalanya menoleh kearah datang suara. "Eh… Tuan Nam!?"
Buru buru Mia berdiri dan membungkukkan sedikit tubuhnya. Akibatnya kakinya sempat beradu dengan meja. "Maaf, Saya tidak menyadari keberadaan Anda." lanjutnya.
"Hem, masak makan malam," perintah Tuan Nam tak mempermasalahkan Mia yang terlambat menyadari keberadaannya.
"Baik, Tuan," jawab Mia sebelum melenggang pergi melaksanakan perintah
Meskipun jauh, Mia tetap bisa mendengar pembicaraan ayah dan anak didik dadakannya itu.
"Sedang belajar apa, hem?"
__ADS_1
Setelahnya suara Jurba terdengar menjawab dengan antusias.
Dalam hati Mia menyakini, bonusnya bulan ini pasti besar. Oh, bukan bulan tapi minggu ini. Setidaknya salah satu dari opsi itu.
...----------------...
Kegiatan belajar dadakan yang dibuat Mia berjalan seminggu penuh. Ujian Jurba sudah selesai. Hanya tinggal menunggu raport saja dan anak itu resmi naik kelas semester depan.
Itupun kalau memang tidak tinggal kelas. Tapi Mia yang hal itu tidak akan terjadi.
Dua hari setelah selesai ujian, Jurba selalu mengeluh malas berangkat. Meskipun hanya dilakukan dibelakang Tuan Nam, alias diam diam. Namun tetap saja merepotkan bagi Mia. Karena Mia yang harus membujuk anak itu.
Murid kelas satu SD itu mengeluh bosan di dalam kelas seharian lantaran guru guru sibuk menyiapkan raport. Tidak ada acara yang diadakan sekolah dan tidak ada teman yang dekat dengannya menambah kemalasan Jurba.
Lama lama, Mia kasihan juga. Meskipun begitu tidak membuat Mia membiarkan anak sulung tuannya untuk tidak berangkat ke sekolah.
Kasihan, ya kasihan saja, bukan berarti bisa bolos. Itu beda perkara. Simpatik boleh, tapi jangan sampai tertipu daya licik.
"Baiklah, begini saja. Jika Tuan Jurba mau sekolah sampai pembagian raport hari Sabtu, Saya akan ajak Tuan Jurba jalan jalan keluar secara pribadi?"
Itu penawaran terakhir yang bisa Mia berikan. Mia tidak tahu harus menawarkan apa lagi saat si sulung ini menolak saat ditawarkan makanan.
Padahal biasanya antusias. Tidak ada anak seorang Nam Chuan menolak makanan. Dan penolakan itu tentu membuat Mia sedikit pesimis.
"Benarkah? Mia janji?" ujar Jurba menyodorkan kelingkingnya.
Mia ikut mengkaitkan kelingkingnya yang ukurannya mungkin dua kali lipat dari tangan Jurba. "Iya, Saya janji!"
"Kita berdua, saja?"
Pertanyaan Jurba memancing ringisan Mia keluar. Ragu ragu Mia menjawab, "Emm… sepertinya Adik Asiha akan ikut kan Tuan tahu sedikit betapa tidak inginnya Adik Asih jauh dari Saya."
Itu adalah kebenarannya. Semakin hari, Asiha semakin tidak bisa ditinggal oleh Mia. Bukan bangga dengan fakta itu, tapi yang Mia rasakan lebih ke tertekan.
Karena jika anak anak terlalu menempel pada Mia maka Pria yang ikut andil dalam pembuatan Anak Anak akan menatapnya dengan tajam seharian. Apalagi kalau saat weekend yang terjadwal sebagai hari family time di kediaman Tuan Nam Chuan Diantoro terhormat.
Semakin tertekan lagi Mia.
Dan jawaban yang diberikan Jurba semakin membuat Mia tercengang.
__ADS_1
"Cih, dasar tidak asik."