Baby S(H)Itter

Baby S(H)Itter
«4» 'D Corp


__ADS_3

"Taraaa… Saya sudah buatkan bekal untuk tuan Na_ Ehem! Papa."Mia menunjukkan bekal yang dibuatnya.


"Siapa yang ingin mengantarnya?!" lanjutnya.


Selama Asiha tidur Mia mendengar Asiha berulang kali memanggil ayahnya. Dengan inisiatifnya sendiri Mia membuatkan makanan untuk Chuan. Lagi pula kantornya searah dengan sekolah Afi.


"Siha! Siha!"


Gadis kecil itu sudah cantik dengan gaun yang sedikit mengembang dan tatanan rambut yang di ikat dua membuatnya terlihat lucu. Asiha memang sudah bangun dari tadi. Dia hanya duduk diam di kursi makannya memperhatikan Mia yang memasukan makanan ke dalam kotak bekal.


Tidak butuh waktu lama untuk sampai di kantor tuan Nam. saat mengantar Jurba dan Afi, Mia juga di beritahu letak kantor yang ditempati Chuan.


Perusahaan besar dengan nama 'D Corp dan huruf D dengan bunga di salah satu sisinya sebagai logonya. Entah apa makna dari simbol itu.


Awalnya Mia menggenggam tangan Asiha selama memasuki gedung bertingkat itu. Namun Asiha yang memberontak untuk dilepas dilaksanakan oleh Mia. Ini kantor ayahnya, tidak mungkin terjadi sesuatu apa anak itu.


Sementara Asiha berlarian kesana kemari melihat berbagai barang barang yang baru pertama kali dilihatnya. Mia berjalan kearah meja resepsionis dan meletakkan barang bawaan di meja yang menjadi penghalang dirinya dan sang resepsionis.


"Maaf Mbak, bisa minta tolong antarkan ini pada tuan Nam." Meskipun terdengar ragu, namun Mia sudah puas dengan jawaban 'iya' dari orang didepannya.


"Tolong katakan padanya, 'ini dari putri tercintanya.' Terimakasih," lanjutnya


Baru saja akan mencari Asiha yang berkeliaran, Mia dikejutkan dengan suara seseorang terjatuh dengan keras.


...----------------...


Setelah genggam tangannya terlepas, dengan riang Asiha mengelilingi ruangan. Memasuki sela sela kecil yang memang muat untuk tubuhnya. Dan banyak lagi.


Teringat akan tujuan ke bangunan itu. Asiha berjalan mencari pintu yang berkemungkinan bisa membawanya menuju sang ayah. Tiba tiba…


Bruk!


Mata Asiha berkaca kaca ketakutan. Apalagi orang yang ditubruknya memiliki wajah yang menyeramkan di mata Asiha. Isak tangis terdengar lirih dari mulutnya. Seakan akan jika dia menangis dengan keras orang didepannya akan memakannya.


Berbeda dengan Asiha yang ketakutan, orang yang baru saja ditabrak malah kebingungan. Meskipun dia tidak tahu anak siapa yang ada di depannya.

__ADS_1


Langkah pertama yang diambil pria itu adalah membantu anak kecil di hadapannya berdiri lagi. Tak lupa dia juga mensejajarkan tubuhnya dan siap bertanya.


Rasanya pria itu pernah melihat wajah yang sama dengan yang ada didepannya. Tapi… siapa? Baiklah, ayo tanyakan namanya.


Belum juga dia bersuara gadis itu sudah lebih dahulu berlari menghampiri seorang wanita sambil berteriak, "MAMA!!"


Mia yang tiba tiba dipeluk tentu saja terkejut. Dan mendengar dirinya dipanggil 'Mama' ada rasa bangga terhadap dirinya sendiri.


Mendapat panggilan manis, dari mahluk yang manis.


Dari gesture tubuh si manis yang menenggelamkan wajahnya di pahanya. Mia menyadari kalau dia sedang ketakutan. Dengan telaten Mia menenangkan Asiha dan mengajaknya pergi.


samar samar pria yang tadi ditabrak Asiha mendengar salah satu ucapan Mia saat akan melewatinya.


"Sudah ya, ayo kita pergi. Ketemu Papanya nanti aja ya cup… cup…"


saat melewati meja resepsionis pun juga. Ck! Ck! kenapa telinganya sensitif sekali hari ini. Pria itu memutar kembali langkahnya.


"Maaf, sepertinya Saya tadi mendengar nama Nam Chuan, benar?" Ragu ragu resepsionis itu menjawab iya. Pria itu beralih mengambil kotak bekal yang berada di atas meja. "Kalau begitu biar Saya saja yang membawanya ke atas. Dadah cantik," lanjutnya sambil mengedipkan mata, menggoda.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Mendengar suara pintu yang diketuk Chuan mempersilahkan pengetuk untuk masuk.


Ceklek!


"Hey Bapak Nam!"


Chuan memutar matanya kesal. "Aku bukan bapakmu!" Dan bertambah kesal ketika tahu yang memanggilnya adalah orang yang dikenalnya.


Bruk!


"Iya, iya… ini dari putri kecilmu." Guyonannya yang dibalas serius membuat pria itu menatap tidak percaya Chuan. Dia pikir wanita dibawah hanya membual. "Kau tidak pernah bilang punya anak!" lanjutnya dengan nada yang sedikit tinggi. Lebih ke arah tidak percaya dari pada marah.


"Kenapa tidak," ujar Chuan santai sambil menyimpan kotak bekal untuk dimakannya nanti saat jam makan siang yang memang sebentar lagi.

__ADS_1


"Wow! Kapan Kau meni_ ah bukan, kapan Kau membuatnya?!" Tatapan tidak percaya makin terlontar dari matanya. Dia tidak menyangka selama ini berteman dengan seorang bajingan.


"Berhenti menatapku seperti itu Bernard. Asiha bukan anak seperti yang Kamu pikirkan, dia anakku yang sah secara hukum dan agama." Sebenarnya dia tidak peduli pada anggapan temannya itu tapi risih juga ditatap seperti itu terus menerus seolah dia telah melakukan kejahatan besar. Hey dia orang baik baik ya, catat itu.


"Jadi yang di lobi tadi istrimu?!"


Kini ganti Chuan yang menatap Bernad dengan tatapan bertanya.


"Wanita yang bersama anakmu yang mengantarkan bekal itu. Aku tadi bertemu dengannya di lobi."


"Oh!"


Bernad masih setia menunggu lanjutan ucapan Chuan. Semakin ditunggu tidak juga terlihat niatan seperti akan menjelaskan.


"Hanya itu? Jawabanmu hanya itu? Setelah menikah tanpa kabar, oke itu salahku karena tidak di negri sebrang. Tapi tidak bisakah Kau jelaskan seperti apa istrimu?!" Bernad rasa benar benar jengkel pada temannya yang satu ini.


Dia tahu Chuan memang jarang memperlihatkan emosinya bahkan pikirannya. Dan dia juga sangat tahu kalau Chuan jarang berkata panjang kecuali saat ingin. Dan yang paling dia ingat, temannya yang satu ini sangat benci dipanggil pak.


"Bukan, dia pengasuh anakku. Istriku sudah menikah lagi setelah masa nifasnya berakhir dan Kami resmi bercerai. Pernikahan Kami memang tidak dirayakan jadi bukan salahmu jika tidak tahu."


Setelah mendengar penjelasan dari Chuan yang sebenarnya kurang jelas. Bernad sudah puas. "Oh… I see, Perjodohan, right?"


"Yah, begitulah…"


Dan percakapan diantara keduanya mengalir begitu saja. Wajar kedua orang itu sudah lama tidak bertemu. Yang satu sibuk dengan perusahaan keluarga di tempat kelahiran. Yang satu lagi sibuk dengan perusahaan keluarga sekaligus studi nya di negara tetangga.


Sebelum pergi Bernad masih melempar candaan. "Aku tidak menyangka perusahaan ini bisa sebesar ini. Mungkin lain kali Aku akan kemari dengan setumpuk surat kerja sama. Sampai jumpa teman."


Sebenarnya Bernad ingin mengajak makan siang sekaligus bernostalgia zaman persekolahan dulu saat keduanya masih sering bersama. Tapi mengingat bekal yang baru saja di bawahnya, Bernad mengurungkan niatnya.


Setelah Bernad benar benar pergi, barulah Chuan membuka wadah yang berisi kotak bekal itu. Diatas kotak dia menemukan sebuah sticky note kecil dengan tulisan yang rapi diatasnya.


'Maaf Pak ini hanya tumis pepaya. Saya memang sudah ada rencana membuat sayur pepaya sebelum Tuan Nam meminta Saya tinggal dirumah Tuan.


Makan walaupun hanya sesuap. Makan nasi tidak akan membuat Tuan gendut '

__ADS_1


Entah kenapa ada rasa senang tersendiri kala mendapatkan bekal dari gadis yang baru dikenalnya itu. Padahal ini bukan menu makanan yang mahal. Tapi rasanya… sesuatu sekali.


...Sedikit informasi hari Jum'at sampai Minggu saya tidak memegang ponsel jadi kemungkinan publish next chapter akan lebih lama. Sorry...


__ADS_2