
Cekrek!
Suara kamera yang tidak sengaja terpencet Jurba menggema dalam ruangan yang mendadak sepi setelah Mia keluar. Seolah tersadar akibat mendengar suara kamera tadi, Asiha langsung dengan girang meminta Mia menggedong tubuh kecilnya.
Cup!
Mia tertegun mendapatkan ciuman tiba tiba di pipinya ditambah lagi kata kata yang keluar dari mulut pink alami Asiha.
"Kak Ma cantik!"
Benarkah dirinya secantik itu sampai pantas di puji?
"Terimakasih Adik kecil." Senyum berkembang semakin lebar di wajah Mia yang telah lebih baik dari saat di beri make-up oleh Asiha.
Mia melirik kebawah saat dirasa ada yang menarik pakaian yang dikenakannya. Terlihat Afi menyodorkan ponsel Mia yang masih menampilkan aplikasi kamera sambil membuang muka.
Mia yang memahami itu segera meraih ponselnya. Mengatur kamera depan, Mia selfi bersama Asiha yang berada di gendongannya. Akibatnya Afi memberenggut kesal.
Sudah susah susah berebut dengan Jurba, mengajak poto bersama malah dikasih foto bersama orang lain.
Berbanding terbalik dengan Afi. Mia rasanya ingin tertawa melihat raut muka Afi yang seketika berubah setelah dia menyodorkan poto yang baru saja diambilnya.
Ikut mengerjai Mereka sepertinya asik juga?
"Oke, oke. Ayo foto bersama." Mia merendahkan tubuhnya agar lebih sejajar dengan anak anak. Menyadari ada yang kurang Mia menoleh ke belakang tubuhnya. "Kak Jurba tidak ingin ikut?!"
Tidak ada jawaban dari si Sulung namun langkahnya berjalan mendekat. Entah gengsi atau memang irit bicara, yang pasti anak yang satu ini memang jarang bicara kecuali saat meperdayai Mia.
Berbagai posisi sudah dilakukan. Foto yang didapat pun sudah lebih dari sepuluh. Namun bagi Mia yang paling bagus adalah foto terakhir mereka.
Jurba yang memeluknya dari belakang, entah sengaja atau tidak mencium pipinya. Afi dan Asiha berebut posisi untuk berada di pangkuannya. Sedangkan Mia sendiri duduk bersila melebarkan rok yang dikenakannya sampai menutupi kakinya.
Foto yang terlihat ceria meskipun suasana disana terlihat suram bahkan temaram.
............
Setelah drama ganti baju selesai anak anak sudah saatnya mandi. Tidak perlu usaha keras karena mereka dengan mudahnya menurut saat dipinta.
__ADS_1
Setelah anak anak rapi dan wangi waktunya Mia bersantai sebelum gadis itu harus masak untuk makan malam yang akan dilakukan sekitar pukul tujuh nanti.
Sebentar lagi biasanya sang Tuan Rumah pulang. Hari ini Mia belum menerima kotak dari orang misterius seperti biasanya. Mia sudah senang sendiri.
Dalam pikirannya 'Mungkin orang itu pasrah rencananya mengusik penghuni rumah Diantoro tidak berpegaruh apa apa.'
Jujur saja, sebenarnya Mia sedikit geli pada isi kotak yang diterimanya. mengesampingkan rasa jijik yang selalu mendera, Mia selalu berusaha mengatasi setiap isi kotak kotak misterius itu sendirian.
Tapi sepertinya harapannya harus pupus di jam itu juga. Karena tidak lama kemudian terdengar bunyi pintu diketuk dan saat di buka. Walaa… Kurir pengantar paket dengan kotak misterius ditangannya.
"Hari ini datangnya lebih sore dari biasanya ya," gurau Mia namun dengan nada tertekan yang tidak ditutup tutupi.
Kurir itu mengernyitkan dahinya. "Bukannya ini baru kedua kalinya, ya?"
"Iya, kalau yang ngantar, Mas-nya memang baru dua kali ini. Tapi kalau sama yang diantar temennya Mas, ini udah kesekian kalinya."
Keasikan curhat dadakan kepada si Kurir, Mia sampai tidak sadar jika mobil yang bisanya dipakai Tuan Nam sudah parkir tepat di belakang Kurir. Bahkan, pria itu sudah meminta satpam untuk menaruh mobilnya digarasi.
Mia yang aksinya mengulur waktu telah disadarkan oleh Kurir, segera mengambil si paket dan bersiap membubuhkan tanda tangan. Namun suara dari sampingnya lebih dahulu mengejutkan Mia.
"Paket apa itu."
"Paket untuk Bapak Nam Chuan dari pengirim anonim yang tidak menyebutkan namanya." Nada yang keluar terdengar sedikit ketus ditelinga Mia. Mungkin juga di telinga Tuan Nam.
Dasar Kurir sialan. Awas saja, dapat bintang satu mampus Kamu.
Setelah menyelesaikan prosedur yang tersedia Kurir itu pamit dengan terburu buru dan tanpa basa basi lagi. Terlampau kesal pada Mia yang membuang waktu berharganya.
Untung saja kotak itu paket terakhir yang dibawanya. Jika saja masih ada yang lain tak akan bisa Dia setenang itu mengulur waktu.
Setelah Kurir itu pergi, hal pertama yang ingin dilakukan Tuan Nam adalah membuka kotaknya. Mia yang masih asik menggerutu atas sikap kurir yang menurutnya kurang sopan itu terlambat mencegah Tuan Nam untuk membuka kotak.
Bruk!
Kotak itu beserta isinya, tercampakan begitu saja. Wajah datar Tuan Nam membuat Mia tidak tahu apa yang ada dipikiran duda beranak tiga itu.
"Lain kali jangan terima paket seperti itu lagi." Pesan terakhirnya sebelum melanjutkan langkahnya memasuki rumah.
__ADS_1
Baru saja beranjak dari tempatnya, Mia sudah lebih dahulu dipanggil oleh suara wanita dari belakang tubuhnya.
"Hei tunggu, apa Kak Nam sudah pulang?"
...--------...
Dan disinilah Mia berakhir. Setelah selesai mengambilkan makan untuk setiap anggota yang telah bertambah satu orang. Mia duduk di salah satu kursi meja makan yang sama dengan Asiha dipangkunya.
Gadis kecil itu merengek engga ditaruh di kursi khusus miliknya. Namun tubuhnya yang kecil tidak memungkinkan untuk Asiha duduk sendiri.
Hening.
Suasana makan yang selalu diterapkan oleh Tuan Nam kala menyantap makanan utama. Hanya terdengar suara dentingan sendok yang beradu dengan piring sampai akhirnya makanan utama diganti dengan buah buahan sebagai penutup.
"Kak, Kakak yakin tidak akan memecat pengasuh ini?"
Akhirnya si Nona Tamu menyampaikan isi hatinya. Bukan bermaksud narsis tapi Mia merasa diperhatikan oleh Lazha, si tamu yang numpang makam malam.
"Kali ini apa lagi keluhanmu?" Kalimat tanya tanpa minat itu keluar dari bibir pemilik rumah.
Ini bukan pertama kalinya Lazha meminta makan malam bersama sejak Mia bekerja di sini. Dan bukan sekali ini saja wanita itu memprotes kerja Mia.
"Apa Kakak tidak sadar apa yang Dia kenakan saat ini? Itu baju Kakak Ipar, Kak."
"Iya, lalu?" Jujur saja, Nam sebenarnya tidak peduli. Lagi pula itu hanya baju. Tidak terpakai, lagi. Apa salahnya dipakai?
Respon yang ditunjukkan Nam merupakan ketertarikan bagi Lazha. Gadis itu jadi semakin bersemangat memojokkan Mia.
"Apakah pantas seorang bawahan memakai barang atasannya. Tanpa izin lagi. Hal itu sudah menunjukkan kalau Dia tidak memiliki etika yang baik."
Suara lembutnya yang mendayu seolah menyuarakan kepeduliannya berbanding terbalik dengan matanya yang melempar tatapan mencemoh meskipun samar.
"Kakak yakin menyerahkan anak anak Kakak pada orang yang tidak beretika baik sepertinya?" lanjutnya.
Dan seperti biasa pula Mia tidak berkewajiban menjawab atau membantah ucapan Lazha karena…
"Aku yang meminta Kak Mia memakai itu Tante. Pakaian Kak Mia terlihat jelek jadi Aku ambilkan baju Bunda."
__ADS_1
Bak anak kecil yang tidak ingin mainannya pergi. Jurba dan Afi selalu angkat bicara memberi alasan yang mematahkan segala opini wanita itu.