Baby S(H)Itter

Baby S(H)Itter
«10» Kecelakaan


__ADS_3

"Tuan Afi tolong jangan loncat loncat ditangga." Dengan mudah Mia menangkap tubuh Afi yang melayang saat akan turun ke tangga dibawahnya.


Mia meletakkan Afi di lantai setelah tangga terakhir. Kembali lagi ke atas Asiha ternyata sudah siap untuk merosot dengan tubuh tengkurap seolah tangga itu adalah perosotan ditaman.


Mia kembali membelalakkan matanya. Dengan tergesa Mia menaiki tangga yang tinggal separuh jalan sampai diatas tempat gadis kecil itu berada. Mia berhasil menangkap tubuh kecil itu setelah Asiha merosot setidaknya dua buah tangan.


'Aneh, kenapa tanggal terasa lebih licin dari biasanya?' tanya Mia dalam hati.


Saat akan menyusul Asiha Mia beberapa kali hampir terjatuh jika saja refleks tangannya tidak cepat memegang pegangan tangga. Kalau itu jebakan anak anak sepertinya tidak mungkin karena Mereka tidak pernah main main di tangga. Mungkin pernah, dulu. Tapi selama Mia disana belum pernah dan semoga tidak.


Mendudukkan Asiha di kursinya, Mia menjauh untuk meminta tolong kepada pembantu yang lain untuk membersihkan ulang tangga, namun jawaban yang diberikan cukup membuat Mia bingung.


"Tapi tangga baru saja dibersihkan menggunakan penyedot debu."


Jadi, letak licinnya dimana? Jelas jelas sang tangga tidak dibersihkan dengan sabun apalagi air.


memilih masa bodoh, Mia kembali keruang makan. Disana Asiha sudah sibuk dengan rotinya sampai rontok rontok di meja dan Jurba serta Afi berebut piring dengan takaran porsi yang sama. Sedangkan Tuan Nam. Entah kemana pria itu berada, dari pagi Mia belum melihat keberadaannya.


menghela nafas lelah Mia berjalan mendekat namun sebelumnya berbelok terlebih dahulu mengambil nasi goreng buatannya yang masih berada di panci penggorengan dan menaruhnya di piring. Sebenarnya itu adalah jatah makannya. Dan akan di makan nya nanti.


"Habiskan dulu yang ada di piring, kalau kurang boleh tambah dengan ini." Mia meletakkan piring yang dibawanya diantara Jurba dan Afi.


For your information kedua anak itu sebenarnya juga suka masakan Mia yang katanya lebih beragam rasa. Bahkan setiap bekal yang dibuatkan Mia selalu habis tak bersisa meskipun diterima sambil menggerutu.

__ADS_1


Drek!


Urusan dengan kedua tuannya sementara selesai. Mia mengangkat kepalanya menghadap suara kursi berderik terdengar. Melihat keberadaan Tuan Nam dengan gesit Mia memberikan piring berisi Nasi goreng dengan telur ceplok diatasnya, menu sarapan yang Mia buat. Milik Jurba dan Afi juga sama hanya saja dengan porsi yang lebih sedikit dari porsi Tuan Nam.


"Silahkan, Tuan."


Sarapan berjalan dengan lancar seperti biasanya. Semuanya diam seolah tidak pernah terjadi keributan sebelum Tuan Nam datang.


Jurba dan Afi tidak jadi menambah porsinya karena kekenyangan. Tentu saja Mia sudah menduga itu. Tuan tuannya tidak pernah makan banyak saat sarapan berbeda dengan makan siang yang bisa dua kali lipat dari sarapan yang porsinya sama dengan makan malam.


...----------------...


Hampir sama seperti kemarin. Lantai tiba tiba memiliki sesuatu yang membuatnya lincin. Namun sekarang bukan benda tak terlihat melainkan sehelai kulit pisang yang hampir menjatuhkan Jurba jika saja Mia tidak bergegas menangkapnya.


Keesokannya lagi berganti dengan pot yang jatuh dari lantai dua hampir mengenai Afi yang berhenti sejenak untuk mengikat tali sepatunya yang terlepas.


Pernah sekali, ada kulit pisang yang sepertinya tujuannya untuknya. Benar benar untuk Mia. Dan tentunya sudah Mia duga jika yang itu kerjaan para tuannya, bukan yang lain seperti kasus di tangga.


Mungkin Tuannya itu terinspirasi dari musibah yang hampir menimpanya.


Untung saja yang dipasang anak anak itu hanya kulitnya tidak dengan sang isi yang kemungkinan besar dimakan habis, jadi tidak terlalu licin saat diinjak.


Ditambah Mia yang selalu memakai sandal teplek meminimalisir kemungkinan terganggunya keseimbangan tubuh Mia yang dapat membuat gadis itu terjatuh.

__ADS_1


Meskipun begitu tidak mungkin bagi Mia untuk marah. Apalagi berpura pura tidak melihat hanya untuk menyuarakan protesnya. Bisa dipotong gaji Mia nanti.


Mendekati jam makan siang, Mia menjemput Afi kemudian Jurba. Dan sesuai tata cara mengendra yang baik Mia tetap berada pada jalurnya meskipun bersebrangan dengan sang pagar yang menyimpan apik bangunan SD itu.


Mata Mia senantiasa melirik gerbang yang sudah terbuka belum cukup lama meskipun harus sesekali terkejut oleh kendaraan lain yang cukup dekat dengan wajahnya yang melongok dari jendela, melintas dari arah belakang mobil yang dikendarainya.


Melihat Jurba yang berjalan mendekat Mia juga ikut bersiap menghampiri si Sulung. Sebelum keluar Mia lebih dahulu memberikan pesan kepada Afi untuk tidak keluar dan tetap didalam bersama Asiha yang selalu ikut menjemput kedua kakaknya.


Seperti biasa, Jurba yang tidak sabaran ikut mendekat dibantu isyarat tangan dari Mia. Untuk sesaat Mia sedikit kehilangan fokus dan mungkin akan melamun jika dia tidak ingat sedang ada di tengah jalan.


Baru dua langkah dari trotoar sebuah motor melesat dengan cepat didekat Jurba dan entah datang dari mana Lazha memeluk Jurba dan memutar tubuh kecil itu. Akibat dari aksinya, Lazha mengalami beberapa luka lecet dan memar terkena kaca spion.


"Nona, Anda baik baik saja?" Mia baru saja sampai sebrang. Jurba dan Lazha kembali berada di trotoar.


"Aku tidak apa apa. Lain kali jangan biarkan anak kecil menyebrang sendirian, ya." Kata kata Lazha memang halus tapi entah mengapa terdengar seperti sindiran ditelinga Mia.


"Lagipula siapa yang membiarkan anak kecil menyebrang sendiri? Aku tetap memperhatikan Tuan Jurba meskipun dari jauh!" Namun mengingat status gadis dihadapannya yang secara tidak langsung juga tuannya, kalimat itu hanya mampu berada dalam kalbu.


"Iya, maaf Nona. Lain kali akan lebih Saya perhatikan lagi, dan ini kantung belanjaan Anda." Mia menyerahkan kantung yang telah dipungutnya kepada Lazha. Diduga kantung kantung itu terjatuh saat Lazha fokus berlari.


Lazha menerima kantung yang disodorkan Mia. Basa basi sedikit meskipun dengan wajah tidak ramah yang Mia duga karena mendapati keponakan kesayangannya hampir kecelakaan.


"Nona sudah akan pulang? Bagaimana jika ikut Kami saja? Saya bisa mengobati luka Nona."

__ADS_1


Mata Lazha melirik Mia dari atas ke bawah, terus begitu sampai beberapa kali. "Antarkan Aku ke Rumah Sakit."


Tersenyum maklum Mia, mengarahkan Lazha ke mobil yang ditumpanginya tadi. Tak lupa menggendong Jurba yang masih sedikit syok.


__ADS_2