Baby S(H)Itter

Baby S(H)Itter
«11» Putri Ayu


__ADS_3

Tok! Tok! Tok!


Ceklek!


Seorang pria dengan pakaian kurir berdiri menenteng sebuah kotak. Tidak besar namun juga tidak kecil.


"Ada yang bisa Saya bantu, Mas?"


"Benar ini rumah Bapak Nam Chuan Diantoro?" Pria itu terlihat seperti memastikan sesuatu dengan yang ada di ponselnya.


"Iya, Saya pekerjanya. Ada yang bisa Saya bantu?" Hanya basa basi. Nyatanya Mia tahu pria itu ingin menjalankan tugasnya. mengirim paket.


"Oh, ini ada paket untuk Putra Bapak Nam."


"Dari siapa ya, Mas?"


"Maaf Mbak, Saya kurang tahu pengirimnya tidak memberikan namanya."


Setelah menyelesaikan segala administrasi yang ada sebagai bukti barang sampai tujuan sang Kurir pamit pergi.


Setelah sang kurir pergi Mia membuka kotak kecil itu. Isi sama seperti yang didapatkannya beberapa hari lalu. Potongan bangkai dengan disertai note atau poto.


Yang dilakukan Mia juga tidak jauh beda dengan yang sudah sudah. Membuang isi yang asli dan digantinya dengan barang seadanya.


Terakhir kali Mia memasukan buah mangga yang ada di halaman belakang. Kebetulan berbuah itu sedang ada yang matang. Kali ini mungkin diisi bunga di samping seperti boleh juga.


Menutup kotaknya lagi, Mia berjalan ke samping rumah. Pintu yang tertutup membuat Mia tidak khawatir dicurigai orang dalam.


Membuat lubang kecil dengan alat seadanya bukan masalah bagi Mia. Bahkan dengan batu saja Mia mampu. Akibat teralu sering menyembunyikan sesuatu saat di desa dulu.


Setelah mengubur si bangkai agar baunya tersamarkan Mia memetik beberapa bunga kemudian memasukkan ke dalam kotak. Tentu saja dengan sedikit rangkaian tangannya.


Tanpa Mia sadari ada seseorang yang selalu memperhatikannya dari mulai membuka pintu samping masuk lagi.


...-------...


Sedikit berteriak Mia mengumumkan kedatangan sang kotak. "Tuan, Tuan, kiriman datang."

__ADS_1


"Apa ada kue? Aku ingin kue."


"Kue!? Berikan padaku."


Dari dapur Jurba dan Afi berlarian kedepan. Keduanya antusias setiap bertemu dengan kotak.


"Entahlah, tapi sepertinya bukan. Baunya tidak seperti kue." Gadis itu meletakkan sang kotak di meja.


"Yah, Mia mengecewakan ck."


Mia terkekeh melihatnya. Meskipun tidak sesemangat tadi, kedua anak itu tetap berjalan mendekat.


"Bukankah dibelakang juga sedang membuat kue? Apakah dua toples masih kurang untuk Tuan Tuan?"


Posisi Afi yang berada didekat Mia memudahkan gadis itu untuk menghapus sisa tepung yang masih menempel di pipi Afi. Tadi, setelah bangun tidur dua pria kecil itu merengek dan merusuh meminta kue yang pernah Mereka makan dari kotak misterius.


Tentu saja Mia tahu kue apa yang Mereka maksud. Kue sederhana yang pernah Mia buat untuk camilan malamnya namun harus gagal karena habis dilahap ketiga krucil Diantoro.


"Itu panas, Mia. Aku ingin yang bisa langsung di makan." Afi membuang mukanya sembari bersidekap dada.


Entah benar atau tidak Mia melihat sesuatu yang memantulkan cahaya lampu yang baru saja dinyalakan. Dengan tenang namun juga cepat Mia menghampiri Asiha yang mulai menangis ketakutan.


Staples? Siapa yang menaruh staples disini? Seingatnya tidak ada orang lain yang naik ke atas setelah anak anak tidur.


Setelah jam makan siang selesai pembantu juga kembali ke peraduan mereka. Satu satunya orang asing yang berada di rumah besar itu selain anak anak ya hanya Mia. Itupun Dia tidak jauh jauh dari ketiga krucil Diantoro.


Setelah bangun pun belum ada yang naik ke atas. Semua sibuk dengan ulah para Tuan Muda yang minta dibuatkan kue entah apa namanya. Para pelayan tentu saja tidak tahu apa yang diinginkan Jurba dan Afi.


Oh, kecuali satu. Orang yang katanya kebetulan lewat dan mampir untuk numpang ke kamar mandi. Tapi…


Mungkinkah Dia pelakunya selama ini? Mia menggelengkan kepalanya mengusir pemikirannya yang absurb. Tidak mungkin orang itu ingin mencelakai orang yang disayanginya kan?


...---------...


"Kak Mia, ini namanya apa?"


Huh, Kak? Mungkinkah ada Tuan Besar? Baiklah turuti saja.

__ADS_1


"Ini Putri Ayu."


Setelah mendapatkan jawabannya, Afi melompat turun dari sofa melewati Mia begitu saja. Tampilan anak itu dan dua saudaranya yang lain sudah lebih baik.


"Papa, kuenya enak, Aku suka." Dari tangga yang berada dibelakang Mia, Tuan Nam berdiri menggunakan kaos kasual mengendong Afi yang melompat padanya.


Sejak kapan ayah dari ketiga iblis kecil itu pulang?


Berbanding terbalik dengan si Putra Bungsu. si Sulung masih nyaman memangku toples berisi Putri Ayu bagiannya. Sedangkan Asiha masih belum menghabiskan satu potong yang diambilnya sejak duduk dipangkuan Mia.


Tuan Nam juga ikut mendudukkan dirinya di sofa. "Apa rasanya enak?" tanyanya pada putra pertamanya.


"eem… buatan Kak Mia no bet"


"No bad, Jurba." ralat Tuan Nam.


"Enak kan, Papa. Aku bantu buat tadi." Tuan Nam menerima suapan Afi yang telah beralih berdiri di sofa.


"Bohong, Kamu tadi cuma numpahin tepung aja, Aku yang bantu pecahin telurnya, Papa. Tapi lengket dan bau." Jurba menunjukkan tangannya yang telah bersih setelah mandi.


Tentu Tuan Nam percaya semua ucapan anak anaknya. Tadi saat dirinya masuk langsung terdengar keributan yang terjadi di dapur saat tepung yang di bawa Afi tumpah ke lantai. Tuan Nam berdiri beberapa saat dan melihat berbagai tingkah anak anaknya selama pembuatan adonan yang tidak diketahui namanya itu.


Kilatan permusuhan muncul diantara Jurba dan Afi. "Kata Kak Mia namanya Putri Ayu tapi tidak jadi cantik karena Kak Jurba yang dandanin tadi."


"APA! Kak Mia bilang cantik kok."


Mia yang namanya disebut tiba tiba merasa dalam masalah. Benar saja, kini tatapan keduanya mengarah padanya. Menuntut jawaban yang mereka inginkan.


"Iya, kuenya cantik semua kok, yang gak cantik kan udah Saya perbaiki. Lagi pula yang terpenting rasanya tetap enak, kan?"


Iya, itu yang paling penting. Harusnya. Tapi bukan jawaban itu yang Afi inginkan. Setelahnya suara tangisan Afi terdengar. Pria itu tidak puas dan senyum mengejek yang dilayangkan Jurba semakin menambah ketidak puasan Afi.


Sepontan Mia berdiri untuk menghampiri dan menenangkan Afi. Namun ternyata aksinya membuat gadis kecil yang tadinya tenang tenang saja di pangkuannya ikut mengeluarkan suara emasnya.


Oh Tuhan, apa dulu yang harus dilakukan Mia sekarang. Mendengar satu tangis saja sudah seperti pecah gendang telinga ditambah satu lagi. Untuk si Sulung tetap diam.


......Gak kerasa udah lama gak update. Kali ini aku kasih triple update ya. doa ini aja ngetiknya cepat selesai biar ceper update. terima kasih buat semua yang masih setia baca termasuk buat silent reader aku tetap senang kok.......

__ADS_1


__ADS_2