Baby S(H)Itter

Baby S(H)Itter
«22» Mengantar Bekal


__ADS_3

"Mia, anak anak mana?"


Mia terkejut mendapati suara yang tiba tiba masuk ke gendang telinganya. Dilihatnya orang yang baru saja bicara. Tuan Nam terlihat mengambil gelas bersih.


Mungkin ingin mengambil minum.


"Tuan Jurba, Tuan Afi dan Nona Asiha baru saja tidur, Tuan." Dilihatnya lagi Tuan Nam yang tidak memberikan respon. Ragu ragu Mia berujar,


"em… maaf Tuan, bisakah anda berangkat setelah anak anak bangun? Akhir akhir ini mereka selalu menanyakan keberadaan Anda."


Dengan begitu, anak anak tidak akan bisa menuduhnya mengusir ayah mereka, kan?


"Akan aku usahakan."


Iya, itu yang dia katakan kepada Mia, tapi nyatanya. Sudah tiga hari sejak percakapan itu berakhir dan belum satu kali pun Tuan Nam menemui anak anaknya saat masih, atau setidaknya sudah bangun.


Dan seperti biasa, Mia lagi lagi mendapat paper note tertempel di pintu kulkas saat akan membuat sarapan. Tulisannya pun juga sama seolah copy paste dengan yang sudah sudah.


'Tolong antarkan bekal ke kantor.'


Sangking samanya sampai Mia curiga kalau pria itu menulisnya dengan stempel atau lebih parahnya memang hasil foto copy. Wah, apa mungkin ada persediaan tulisan ini selain di kotak sampah? dikamar tuan Nam atau di ruang kerjanya, mungkin.


Dan yang lebih penting dari itu semua. Makanan apa yang harus Mia sediakan? Dan, kenapa tidak ada satu pun Tupperware dilemari?!


"Huh, harusnya aku meralat ucapanku waktu itu. Seharusnya aku bilang saja bawa pulang Tupperware-nya dan bukan berangkatlah setelah sarapan."


Pagi itu dimanfaatkan dengan memasak dan mengeluarkan unek unek alias mendumal oleh Mia.


...****...


Jam sudah menunjukkan pukul tujuh lewat tiga puluh saat Mia dan anak anak selesai bersiap ke Kantor 'D Corp mengantarkan pesanan si pemilik gedung. Afi dan Asiha terutama Jurba terlihat begitu antusias.


"A-aku hanya bosan dirumah terus. Ja-jangan bicara omong kosong." Kata anak itu dengan muka memerah saat Mia dengan isengnya menanyakan keantusiasan Jurba yang memang jarang terlihat bersemangat.

__ADS_1


Padahal Mia tahu betul alasannya. Ayah. Satu kata itu sudah cukup untuk mengartikan keantusiasan mereka. Tidak ada yang lebih menyenangkan dibandingkan bertemu sang ayah bagi mereka yang memang hanya punya ayah sebagai keluarganya.


Mungkin jika Mia diberi libur panjang pun, sdis itu akan menghabiskannya di rumah yang ada ayah dan ibunya ketimbang berlibur je tempat tempat yang memang sangat ingin dikunjunginya.


Kurang lebihnya, gadis itu tahu harapan anak anak untuk lebih punya waktu kebersamaan bersama ayah mereka. Termasuk rencana pengusiran setiap pengasuh yang tuan Nam pilihkan.


Hanya agar sang ayah lebih menghabiskan waktunya dirumah dari pada di kantor. Tapi mereka terlalu takut untuk mengutarakannya. Setidaknya itu yang Mia tahu dari jadwal tuan Nam yang hanya ada di rumah saat sarapan dan setelah pukul lima sore.


Dan sekarang malah pergi subuh pulang tahajud.


Mia memastikan sekali lagi kalau bekal buatannya sudah tertata dengan rapi dan aman dibawa pergi. "Semua sudah siap?" tanya Mia memastikan yang dijawab serentak oleh ketiga anak itu.


Setelah memastikan semua aman, Mia mulai mengstater motor yang berhasil ditemukannya di garasi. Sudah lama rasanya Mia tidak mengendarai kendaraan roda dua seperti ini. Apalagi sampai bonceng lipat lipat begini.


Berdoa saja, semoga tidak ada polisi yang menilang.


...*****...


Bangunan bertingkat dengan huruf 'D' sebagai ikonnya sudah dekat dengan keberadaan Mia dan anak anak. Sekali klakson, satpam yang memang sudah hafal wajah Mia langsung membukakan gerbang. Bahkan Mia tidak perlu menunggu lagi.


Sekali lihat saja Mia sudh bisa menebak kalau ini bukan pertama kalinya anak anak itu kesini. Langkah langkah kecil itu melaju dengan yakin sejak menapak di lantai. Mia hanya mengikutinya saja dari belakang dengan Asiha dan rantang ditangannya.


Berbeda dengan Afi yang menyeret Jurba ke arah lift, Mia berjalan menuju meja resepsionis. Biasanya Mia hanya menitipkannya di meja itu. Tapi karena kali ini tujuannya datang adalah untuk mempertemukan anak majikannya dengan sang majikan jadi Mia hanya bertanya keberada orang yang dicarinya.


Sudah dapat yang di inginkan, tinggal mendatanginya. Baru berbalik Mia sudah dihadang anak kecil.


"Aku tahu ruangan Papa. Kak Jurba juga tahu."


Mia tidak menjawab namun mukanya sudah menunjukkan tanya. Lagipula Afi memang terlihat belum menyelesaikan ucapannya. Tak perlu menunggu lama untuk mendengar suara anak kecil itu lagi.


"Kak Jurba yang pimpin jalannya," tunjuk Afi dengan bangga.


"Hah, Kamu yang sombong kenapa Aku yang pimpin jalan? Tidak mau!" Tolak si empunya nama tanpa basa basi.

__ADS_1


"Waktu itu, kan aku masih kecil. Sekarang sudah lupa, sedikit."


Dan kalau sudah begini artinya perang dunia. Akan ada balasan balasan lainnya yang akan menimbulkan masalah kalau tidak dihentikan.


"Tadi katanya tahu!'


"Tahu ruangannya kan bukan jalannya!"


"Sama saja. Itu artinya kamu bohong!"


"Aku tidak…" Belum selesai Afi mengeluarkan bantahannya lagi, suara Mia lebih dulu menimpa suaranya.


"Sudah, sudah. biar saya saja yang pimpin jalannya. Tadi saya sudah tanya dimana ruangan Papa."


Dengan begitu keduanya jadi tenang. Oh, ralat. Hanya Jurba yang tenang karena Afi masih tetap bersuara.


"Yakin? Nanti kalau salah gimana?"


"Kan ada Tuan Afi yang tahu segalanya." Kalimat sarkas yang dibalut kelembutan Mia berikan. Tak lupa senyum manisnya yang melekat membuat Afi seolah dipuji.


Dan anak itu kegirangan, tentu saja. Dia kan tetap saja anak kecil yang bisa dibodohi. Berbeda dengan Jurba yang menyadari sidiran Mia. Dia Hanya mendenguskan tawa dan ikut melangkah dibelakang Mia.


Tidak sulit untuk menemukan ruang Tuan Nam. Berbeda dengan pimpinan yang lain dimana mereka lebih suka kantor di lantai paling atas, maka Tuan Nam lebih suka kantornya di tengah-tengah.


Tidak butuh waktu lama untuk mencapai ruangan bertuliskan 'ruang direktur'. Selain karena tidak terlalu jauh dari lantai bawah, ruang itu juga dekat dengan lift. Begitu keluar ruangannya sudah kelihatan.


Tanpa mengetukkan Afi yang memang pada dasarnya penuh semangat dan mudah heboh langsung membuka pintu yang diyakininya milik sang ayah. Namun anak itu tidak langsung masuk.


Mia pun ikut ikutan berdiri dibelakang anak itu. Dari posisinya berdiri Mia dapat mendengar dengan jelas apa yang dibicarakan Tuan Nam dengan seseorang yang juga ada di dalam ruangan.


"Kapan aku bisa pergi ke rumah orang tuaku?"


"Sekitar tiga hari dari sekarang Tuan."

__ADS_1


Jadi, majikannya memang sengaja menghabiskan hampir seluruh waktunya di kantor untuk ini? Iya, setidaknya itulah yang Mia tangkap.


__ADS_2