Baby S(H)Itter

Baby S(H)Itter
«14» Jalan Jalan


__ADS_3

"Aku yang meminta Kak Mia memakai itu Tante. Pakaian Kak Mia terlihat jelek jadi Aku ambilkan baju Bunda."


Jika Jurba sudah bicara maka Lazha akan sulit menjawab karena dalam kalimat sederhananya mengandung berbagai penjelasan yang diperlukan.


Mungkin jika diberi soal penjelasan nilainya akan menjadi sangat kecil karena jawabannya yang terkesan singkat.


Makan malam berakhir setelah kepergian Lazha yang merasa tidak puas karena gagal menyingkirkan Mia, lagi. Dan juga karena hal lain yang diharapkan terjadi saat pertemuan terakhir dirinya dengan keluarga kecil Nam Chuan untuk beberapa bulan kedepan tidak terjadi.


Beberapa hari kemudian.


Di akhir pekan ini pagi pagi sekali Mia sudah bersiap untuk pergi. Ini kedua kalinya Dia mendapatkan gaji. Mia berencana untuk mengkirimkan sebagian gajinya untuk kedua orang tuanya di desa.


Beberapa hari yang lalu Dia juga mendapat wajengan dari sang Tuan Besar untuk pergi keluar kemanapun itu saat weekend nanti. Dan itu artinya hari ini.


Mia senang senang saja. Sudah disuruh jalan jalan. Diberi uang saku double lagi. Tak perlu diberi alasan, Mia tentu saja tahu kenapa.


Ingatannya melayang pada kejadian beberapa hari lalu. Jika teringat lagi rasanya mau menghilang saja. Bagaimana mungkin dia seberani itu membuat keributan


Flashback minggu lalu.


Setiap akhir pekan Tuan Nam selalu meminta Mia untuk beristirahat kecuali jika Dia berencana untuk berpergian. Untuk family time, katanya.


Dan minggu ini tidak ada rencana keluar sama sekali. Jadi Tuan Nam menemani anak anaknya bermain di rumah.


Mia yang tidak ada kerjaan membantu tukang kebun menyiram tanaman di halaman rumah. Tidak hanya menyiram, Mia juga menghilangkan daun daun yang sudah menguning dan kering.


Entah apa alasannya Jurba dan Afi yang melihat Mia di depan ikut ikutan melakukan aktivitas dihalaman. Sedangkan Asiha masih asik berada dipangkuan sang Ayah.


Awalnya hanya bermain sepeda dengan Afi yang mengejar Jurba. Namun entah sejak kapan, selang yang semula dipakai Mia sudah berpindah tangan kepada Jurba.


Kedua anak itu memandikan sang sepeda tepat dibelakang Mia yang mencoba tidak memperdulikan mereka. Hari ini Dia libur, apa yang terjadi terhadap kedua tuannya itu bukan urusan Mia, pikirnya.


"Hey Mia~"


Chuur


Wah, wah sekali rasanya.

__ADS_1


Tepat setelah Mia membalikkan badannya memenui panggilan si Tuan Muda Sulung dirinya mendapatkan serangan air dari selang yang dipegang anak itu.


Sabar Mia, ini bukan apa apa.


Tarik nafas…


Buang…


Tarik nafas…


Buang…


Tarik nafas…


Jangan buang, mubazir. Eh,


Setelah beberapa kali mencoba menahan amarahnya. Namun itu belum cukup ampuh karena setelahnya…


"TUAN JURBAA!!"


Suara menggelegar yang tidak perlu dijelaskan lagi siapa pemiliknya terdengar hampir di seluruh penjuru rumah.


Kembali lagi saat ini.


Menu sarapan buatan Mia sudah tersaji. Tinggal menunggu tempat pembuangannya datang. Namun sebelum itu tentunya sudah tugas Mia untuk membangunkan sekaligus menyiapkan para Tuan dan Nona mudanya sebelum turun sarapan.


...*****...


Sesi sarapan selesai dan Mia sudah bersiap beranjak jika saja Asiha tidak mengeratkan pegangannya. Gadis kecil seolah tahu jika Mia akan meninggalkannya hari ini.


Melempar tatapan memelas pada Tuan besarnya. Kata kata yang keluar dari belahan bibir itu malah menambah masalah Mia.


"Ajak Asiha juga, saja."


Baru saja menutup mulut, dua suara terdengar menyahuti hampir bersamaan.


"Jika Adik Asiha ikut, Aku juga mau ikut, Ayah."

__ADS_1


"Jurba tidak ingin bermain sendirian di rumah."


Dan disinilah Mia berakhir. Di taman kota dekat kantor pos, Mia berjalan menyusuri jalan setapak yang tersedia tanpa tujuan. Mengela nafas dengan kasar namun tidak keras. Dia tidak sendirian.


Ada Asiha sudah terlanjur nyaman digendong di depan menggunakan sebelah tangan Mia yang bebas. Tangan kanannya memegang tangan Afi. Lebih tepatnya, digenggam Afi yang sesekali melompati batu yang dilewati.


Sementara dibelakangnya ada sepasang ayah dan anak yang minim ekspresi mengikutinya seperti anak ayam.


Oh ayolah, Mia sengaja berjalan kaki dari Toko Ponsel ke Kantor Pos setelah sebelumnya diantar menggunakan mobil Tuan Nam agar tidak terus diikuti. Padahal jarak kedua tempat tersebut tidak lah dekat.


Saat ini juga. Mia sengaja berajalan keliling taman agar tiga pria yang mengikutinya saat ini berpencar dengannya. Tapi sampai sekarang dirinya masih menjadi induk?


Bukannya kemarin Tuan Nam sendiri yang bilang ingin menikmati waktu bersama keluarga? Kenapa setelah Mia membuat kesempatan itu. Pria ini malah ikut ikutan mengikutinya.


Merasa tali kesabarannya tersisa setipis tisu, Mia menghentikan langkahnya. Tanpa membalik badannya, gadis itu berkata, "Maaf, Tuan. Tidak bisakah kalian bermain ditempat lain saja? Taman ini luas dan banyak tempat bermain."


Merasa tidak akan ada jawaban, Mia melanjutkan, "Kita bisa berkumpul di sini lagi saat jam makan siang nanti. Saya bisa mencari makan yang cocok untuk dijadikan santapan piknik di minimarket depan sebagai menu makan siang nanti."


Hening.


Setelah Mia meyelesaikan ucapannya tidak ada lagi suara yang terdengar dari kelimanya. Termasuk suara langkah kaki. Mereka terdiam ditempat. Entah merasa benar terhadap usulannya atau karena memikirkan apa yang sebaiknya mereka lakukan selain mengikuti Mia.


Karena bagaimana pun mereka tidak aa persiapan sama sekali untuk mengikuti Mia. Keheningan diantara mereka dipecahkan oleh suara asing namun juga familiar bagi Mia.


"Hai Bapak Nam Chuan terhormat. Tidak Aku sangka Kita bisa bertemu disini. Sedang beramain dengan anak anakmu, heh"


"Berapa kali ku bilang, jangan panggil aku bapak, Bernad. Aku bukan ayahmu." Mengabaikan nada sindiran yang keluar dari mulut temannya itu. Tuan Nam melirik Bernad dengan tatapan tajam.


Tanpa diduga duga, suara tangis yang sangat akrab didengar satu rombongan itu, kecuali Bernad yang memang baru bertemu pertama kali kecuali Mia dan Asiha yang sudah kedua kalinya.


"Huuaa Monster."


Meskipun suaranya terendam bahu Mia. Namun gadis itu dapat mendengar dengan jelas apa yang dikatakan Asiha dalam tangis ketakutannya.


Monster. Julukan yang Asiha berikan kepada orang yang baru saja menyapa Tuan Nam. Mungkin karena tingginya? Atau, brewoknya?


Setelah agak jauh, barulah Asiha bisa tenang. Gadis itu sudah bisa tertawa dengan Afi si objek leluconnya. Pria kecil itu tetap mengikuti Mia meskipun genggaman tangannya dilepas gadis itu.

__ADS_1


Semua pergerakan Mia diawasi oleh seseorang yang begitu penasaran padanya. Bahkan rasa penasaran perlahan berubah jadi kagum. Atau bahkan juga tertarik.


__ADS_2