Baby S(H)Itter

Baby S(H)Itter
«23» Kakak?


__ADS_3

Sudah seperti rutinitas harian Tuan Nam selalu berangkat pagi. Saking paginya, matahari pun masih enggan menampakkan wujudnya. Pria itu sudah ada di kantor yang seharusnya belum ada penghuninya. Mengerjakan tugas tugas yang memang sengajal dibuatnya menumpuk. Bahkan sang berkas juga menunjukkan tanggal yang belum terjadi.


Satu jam setelah kedatangan Tuan Nam barulah Tera, asistennya datang. Memang terkesan aneh, namun Tuan Nam memang tidak mematok Tera untuk datang sebelum Tuan Nam meskipun jabatannya adalah asisten pribadi.


Bagi tuan Nam, selama urusan kantor selesai dengan baik hal lainnya bisa dikesampingkan. Termasuk keterlambatan. Hal itu tidak hanya berlaku untuk Tera saja namun seluruh karyawannya.


Ditambah perusahannya yang memang utamanya bergerak di bidang fashion terutama perhiasan. Selain bagian front room toko, sisanya tidak bertemu langsung dengan konsumen dan tidak harus datang tepat waktu atau pun lebih awal, jika diperlukan.


Kembali lagi saat ini. Tuan Nam yang sudah menyelesaikan berkas terakhirnya baru sadar akan kehadiran asistennya. Pria itu mempinta Tera untuk masuk ke ruangannya.


Tanpa perlu repot repot menyuruh duduk, Tuan Nam langsung mengucapkan alasan utama pemanggilan Tera, "Ada agenda penting apa hari ini?"


Yang ditanya pun tidak kesulitan menjawab pertanyaan yang terlontar. Tera selalu menyiapkan jadwal Tuan Nam untuk seminggu kedepan setiap awal minggu meskipun harus tetap memperbarui jadwal jika ada yang mengajukan janji temu tiba tiba dan harus dalam waktu dekat.


Setelah mendengar penjelasan Tera, Tuan Nam mengecek jamnya. Tak lama kemudian suaranya kembali berkumandang, "Kapan aku bisa ke rumah orang tuaku?"


Iya. Tuan Nam sengaja menghabiskan hampir seluruh waktunya di kantor sejak mengetahui hari libur panjang anak anaknya. Bukan tanpa sebab, melainkan karena ingin pulang ke rumah orang tuanya setidaknya selama satu minggu.


Tera yang memang sudah memasukkan jadwal kepergian Tuan Nam kedalam agenda dapat menjawab dengan mudah. "sekitar tiga hari dari sekarang Tuan."


Baru saja akan angkat suara lagi namun kedatangan seorang anak kecil yang berlari dan berteriak mampu membuat Nam terkejut dan tidak menyangka.


"PAPA! Apa benar kita akan ke rumah Nenek?"


...*****...


Setelah mendapatkan konfirmasi dari sang ayah, Jurba tak hentinya tersenyum. Bahkan saat mereka sudah dirumah setelah puas melihati Tuan Nam menjalankan jadwalnya yang hampir tanpa jeda.

__ADS_1


"Tuan Jurba sepertinya sangat bahagia, memangnya semenyenangkan itu, kah bermain ke rumah kakek nenek?" Mia mendudukan dirinya tepat disamping Jurba yang hanya diam sambil senyum senyum sendiri.


"Adik Asiha, jangan dimakan mainannya. Itu kotor."


Jurba mengalihkan pandangannya kepada Mia yang beralih bicara kepada si bungsu. Padahal Dia belum menjawab pertanyaan gadis itu. Perlahan senyumnya lenyap berganti tatapan iri yang tidak terlalu terlihat.


"Bukan Kakek, tapi hanya Nenek," jawab Jurba dengan ketus.


"Ah, maaf…" Mia menoleh kearah Jurba berada. "Jadi, Kakek sudah tiada?"


"Bukan."


Haa, lalu… kalau bukan karena tiada untuk apa wajah cemberut yang ditampilkan Jurba saat ini? Jujur saja pemikiran anak yang satu ini memang sulit ditebak.


"Apa saya punya salah?"


Iya, setidaknya itu salah satu usaha yang selalu Mia lakukan setiap si anak mulai cemberut. Biasanya karena alasan sepele Mereka suka ngambek tidak jelas terhadap Mia.


Padahal saat itu Mia sedang temu kangen dengan kedua orangtuanya walaupun hanya virtual. Untung saja Asiha tidak melanjutkan rengekannya setelah diajak virtualan dengan orang tua Mia yang saat itu juga ada keponakan yang ikut masuk frame.


Dugaan Mia ternyata benar saat dilihatnya Jurba yang beralih buang muka dan enggan menjawab. Setelah buang muka, Jurba bergumam dengan lirih.


"Asiha dipanggil 'adik' tapi aku tetap 'tuan' huh."


Ooohh, iri.


"Kak Jurba mau Saya bagaimana?"

__ADS_1


Tidak ada jawaban dari yang bersangkutan. Meskipun begitu, Jurba tidak bisa menyembunyikan rona kebahagiaannya yang bérusaha di sembunyikan Jurba. Tawa kecil Mia mengudara untuk beberapa saat. Bahagia juga rasanya melihat sang tuan bahagia.


"Afi juga, Afi juga. Aku juga mau di panggil kakak," ujar Afi yang dari tadi ikut mendengarkan pembicaraan Mia dengan Jurba.


Haah, dasar bocil. Mia kan, jadi ingin menjahili kalau seperti ini. Mia bersiap mengeluarkan penolakannya diam diam tertawa dalam hati.


"Aduh, tapi sepertinya Saya tidak mau, gimana dong Tu.an~," ujar Mia sengaja memperjelas kata 'Tuan'.


Jika Jurba akan buang muka alias enggan menatap dan Asiha akan menangis dengan keras jika keinginan mereka tidak terwujud. Maka, beda lagi dengan Afi. Anak itu akan melawan dengan aktif.


Seperti saat ini. Mata bulatnya yang sehitam obsidian memincing tajam menatap Mia dengan aura permusuhan. Tangan tangan kecilnya terangkat dan siap memukul apa saja yang di gapainya.


Pukulan pukulan itu tentu memberikan rasa sakit untuk Mia, meskipun tidak seberapa. Bukannya menyerah Mia malah makin menjadi apa lagi si tuan kecil juga menyerukan protesnya berulang ulang membuat Mia mengeluarkan tawa yang menyebalkan di telinga Afi.


"CURANG! CURANG! CURANG!! KAK JURBA CURANG!!!"


Grep!


Dengan mudahnya Mia menangkap tangan kecil Afi. Diangkatnya anak itu kepangkuan Mia dengan posisi membelakanginya. Tidak lupa, Mia juga mendekap erat erat Afi agar anak itu bisa turun.


"Jadi, Tuan AFI juga ingin di panggil 'Kakak'? Kalau begitu 'tuan' saya siap dong?" ujar Mia dengan nada yang dibuat sedih.


"Ya… Aku?" jawab Afi tidak yakin. Dan balasan Mia semakin membuat Afi merasa tambah bingung.


"Katanya mau di panggil 'Kakak' berarti tidak bisa jadi 'tuan' lagi dong?"


Mia rasanya semakin ingin tertawa kencang karena berhasil membuat anak teraktif diantara ketiganya terdiam. Namun suara Jurba yang ikut ikutan menyahut pertanyaan Mia, cukup untuk membuat Mia terdiam meskipun hanya gumaan kecil.

__ADS_1


"Huh, alasan. padahal ganti panggilan belum tentu ganti status. Pembantu ya tetap pembantu, dasar!"


Wah, dari mana anak ini tahu kata kata itu? Apa iya pergaulan orang kaya memang seperti itu?


__ADS_2