
Klik! Klik! Ceklek!
Setelah pintu terbuka, Afi dan Jurba segera menyeret pengasuhnya masuk kedalam ruangan yang baru saja mereka buka kuncian nya. Kamar Tuan Nam yang jarang dibuka selain untuk dibersihkan.
Semalam, ketiga anak itu merengek ingin tidur dengan sang ayah. Dan besok paginya, pagi pagi sekali Tera menjemput tuannya itu. Asisten Tuan Nam itu bilang ada urusan penting yang tidak bisa ditunda lagi.
Sangking paginya, aktifitas belum terdeteksi di rumah itu. Kecuali Mia yang memang selalu bangun subuh. Pria itu hanya berpesan untuk mengantarkan makanan untuknya sarapan di kantor nanti.
Karena di kamarnya masih berada tiga mahluk bernyawa yang sedang asik mengarungi lautan mimpi di atas pulau kapuk, Tuan Nam jadi membiarkan kamarnya terbuka.
Tidak ada di pikirannya anak anaknya akan mengacau susunan kamarnya. Atau pembantu yang tidak berwenang masuk ke dalam kamarnya.
Dan karena hal itulah Jurba akhirnya dapat diam diam menyimpan kunci kamar sang ayah tanpa sepengetahuan siapa pun.
Oh, kecuali Mia yang melihat bagaimana anak itu mengeluarkan sebuah kunci dari katong celananya untuk membuka kamar yang dikunci Bu Anli.
Awalnya Mia biasa saja saat diseret anak anak menuju lantai dua setelah selesai makan siang. Dia pikir Mereka ingin segera dibacakan dongeng sebelum tidur siang seperti biasanya. Dongeng khusus karangan Mia yang harus anti-mainstream.
Beda lagi kalau Malam. Ketiga anak itu akan minta segelas susu dan dinyanyikan lagu pengantar tidur saja sudah cukup. Mungkin terlalu mengantuk jika harus mengerjai Mia lagi dengan permintaan permintaan aneh mereka.
Dengan gelisah Mia berujar, "Tuan, Tuan, bukankah sudah seharusnya Kita tidur sekarang? Dan Papa bisa marah nanti kalau Kita bermain di sini. Adik Asiha juga sudah mengantuk."
Tidak juga. Mata Asiha masih terlihat segar dan semangat memainkan lipstik yang diambilnya dari meja rias yang sepertinya milik Ibu dari ketiga kurcaci ini.
"Kalau begitu tidurnya di sini saja. Aku suka kamar Papa." Jurba berujar santai setelah berhasil menyeret Mia ke satu satunya ranjang yang ada di ruangan itu.
Melirik Afi yang masih memegangi tangannya. Mungkin anak itu berjaga jaga jika Mia memilih kabur.
Anak itu hanya berguma kecil dengan kepala yang mengangguk dengan semangat, "Hmm…"
Mia tidak bisa apa apa. Menolak pun percuma karena Asiha dan Jurba sudah tidur terlentang di atas tubuh rampingnya. Salah satu tangannya dijadikan bantal oleh Afi menambah kegagalan usaha Mia untuk bangkit tanpa membangunkan ketiga tuannya.
__ADS_1
Tanpa sadar Mia juga ikut terlelap di atas ranjang Tuan Nam. Mia sudah pasrah dengan apa yang mungkin terjadi jika sang Tuan tahu hal ini.
Entah pukul berapa Mia terbangun yang pasti gadis itu membuka matanya saat merasakan lehernya yang terasa seperti tercekik.
Pemandangan pertama yang dilihatnya adalah Asiha yang menunduk diatas wajahnya. Sepertinya rasa tercekik yang Dia rasakan berasal dari si kecil yang menduduki lehernya.
"Apa yang sedang Dik Asih lakukan?" tanya Mia sedikit menggeser Asiha lebih kebawah tepat diatas dadanya.
"Ma, puk puk," jawab Asiha sembari menepuk pelan pipinya sendiri dengan tangannya yang kosong sedangkan tangannya yang satunya memegang alat make-up yang tidak diketahui Mia namanya.
Jujur saja di usianya yang belum lama ini menginjak kepala dua Mia hanya mengetahui bedak dan lipstik sisanya Dia tidak peduli. Untuk apa peduli kalau dirinya tidak mungkin memakai semua alat tempur itu.
"Jadi, Adik Asiha sedang membedaki Saya?" Asiha terlihat mengangguk saat Mia melontarkan pertanyaan itu.
Senyum tercetak diwajahnya yang terpoles make-up tebal itu. "Kak Mia pasti cantik sekali sekarang."
Entah benar atau tidak pernyataan yang dilontarkannya yang Pasti Asiha semakin semangat menaik turunkan kepalanya.
'Rok siapa itu? Terlihat sama dengan yang Aku pakai sekar_' tanpa melanjutkan pemikirannya, Mia melihat kakinya yang teras lebih dingin dari yang lain. Saat itu juga Mia rasanya ingin berteriak saja.
Dengan wajah ingin menangis Mia mengedarkan pandangannya dan berhenti kepada Jurba yang berdiri di depan sebuah lemari sembari menenteng sebuah dress.
Dress itu terlihat menutupi seluruh tubuh Jurba. Mungkin mencapai betis atasnya jika Mia yang pakai.
Dibelakang Jurba juga ada Afi yang memasang senyum lebar. Senyum yang selalu terlihat menyebalkan di mata Mia.
Menyebalkan. Apa mereka mencoba melepas pakaianku?
"Make over. Bajumu jelek, bintang satu." Jurba terlihat memalingkan wajahnya dengan enggan menyodorkan dress yang dipegangnya ke arah Mia.
Afi menyembulkan kepalanya agar terlihat lebih jelas. "Aku mau memakai itu tapi Mia terlalu berat. Dasar gajah."
__ADS_1
Tuh kan, benar. Tanpa bertanya pun pertanyaan Mia telah terjawab. Tapi apa maksudnya gajah. Mereka saja yang kurang kuat.
Mencoba bersabar, Mia memaksakan senyum diwajahnya. "Jadi, Tuan ingin Saya memakai pakaian itu?" Tidak. Mia benar benar berharap jawabnya adalah Tidak.
Namun sepertinya dewi fortuna yang sempat dipercayainya sedang melekat pada tubuh Mia sudah melayang. Karena jawabapn yang diberikan ketiganya sangat berkebalikan.
Hal itu tentu saja membuat senyum Mia ingin luntur seketika. Dipikirannya sekarang sedang memikirkan nasibnya nanti jika sang Tuan tahu kelancangan dirinya terhadap baju Nyonya.
Tanpa memperdulikan wajah cemongnya yang terpantul di cermin meja rias, Mia mengambil dress yang disodorkan Jurba. Berjalan ke kamar mandi yang ada di kamar itu.
Untung saja Dia selalu memakai celana pendek dibalik roknya. Jadi segitiga pelindungnya tidak terlihat saat kurcaci kurcaci itu melepaskan bawahannya.
Setelah membersihkan dan merapikan wajahnya jadi terlihat lebih baik barulah Mia mengganti bajunya. Selesai dengan niat awal masuk kamar mandi, Mia langsung keluar.
Jurba, Afi dan Asiha sudah menanti di balik pintu dengan wajah sumringah. Menanti rupa terburuk Mia yang dipadu padankan dengan gaun yang indah.
Bahkan Jurba juga sudah membawa ponsel Mia yang diambilnya dari gambar pemiliknya. ketiga anak Nam Chuan itu tahu dimana Mia selalu meletakkan barang barang pribadinya termasuk ponsel pintar.
Aplikasi kamera sudah siap untuk menangkap gambar. Bahkan sudah Afi gunakan untuk memotret dirinya sendiri dengan adik satu satunya karena Jurba selalu menolak dipoto.
Ceklek!
Pintu yang ditunggu tunggu akhirnya terbuka. Seolah ada efek slowmotion Mia terlihat keluar perlahan.
Kaki tanpa sandal jepit yang biasanya Mia pakai terlihat keluar tanpa alas kaki sangking terburu burunya Mia masuk kamar mandi. Kaki jenjang tanpa bekas luka sedikitpun itu perlahan menapaki lantai kamar lagi.
Setelah Mia keluar sempurna, Dia hanya berdiri dengan canggung dibawah tatapan ketiga mahluk lain yang berada dalam satu ruangan yang sama dengannya.
Mia tidak terlalu mengerti arti tatapan itu. Yang ada dipikirannya hanyalah ketiga tuannya yang tidak menyukai tampilannya. Memikirkannya menambah kecanggungan yang Mia rasakan.
Cekrek!
__ADS_1
......Tara Saya jujurkan, update nya gk lama lama. Doain aja ngetiknya cepet selesai biar cepet up lagi.......