
"Kak Mia, baju spiderman ku mana?!"
"Kak Mia, sabuk ku ditaruh di mana?!"
"Mama mau susu?!"
"Mia, bekalnya jangan lupa!!"
Semalam Tuan Nam memberitahukan jadwal
keberangkatan mereka untuk berkunjung kerumah kakek nenek tiga kurcaci Diantoro alias orang tua Nam Chuan. Mereka akan berangkat keesokan paginya.
Oleh karena itu, di pagi yang cerah ini, kediaman Diantoro tempat Mia bekerja terasa lebih ramai dari biasanya sekaligus keruh keadaan Mia. Ditambah tugasnya untuk menyiapkan sarapan dan bekal dijalan sesuai perintah si tuan besar.
Diserahkannya terlebih dahulu makanan yang sedang di masaknya kepada juru masak yang ada agar tidak gosong. Belum matang jika Mia ingin mematikan apinya. Lagi pula hanya tinggal menunggu matang saja.
Dihampirinya Asiha yang tadi sempat menangis begitu terbangun dari tidurnya saat Mia baru memulai masak sehingga mau tidak mau Mia harus msnghampiri gadis kecil itu dan mengajaknya ke dapur.
"Adik Asih mau susu, iya? Sebentar ya Kakak buatkan dulu." Dengan menggunakan satu tangan, Mia dengan terampil menaruh Asiha digendongnya. Sementara tangan yang lain digunakan untuk membuat susu.
Urusan persusuan selesai. Dihampirinya kedua anak yang lain yang masih dikamar mereka. Hancur. Satu kata itu terlintas otomatis saat pintu baru saja terbuka. Baju dalam lemari hampir keluar semua. Begitu pun barang barang yang lain.
Oh, ayolah. Ada bayi tak bersalah di tanganku. Jangan sampai aku melemparnya.
"Tuan, Tuan, apa kalian sudah mencarinya dengan benar?"
Bukannya menjawab, kedua anak yang diajaknya bicara malah menatapnya seolah berkata 'Apa semua ini belum membuktikan?'
Oke, ganti pertanyaan.
__ADS_1
"Tuan Jurba sudah coba lihat diruang baju? Siapa tahu sudah digosok dan belum dimasukkan lemari. Dan Tuan Afi sudah coba cek celana yang dipakai kemarin?"
Krik!
Krik!
Krik!
Dari keduanya, tidak ada satu pun yang ingin berbasa basi dengan Mia walaupun hanya sekedar menjawab 'iya'. Afi dan Jurba sudah melipir sesuai instruksi yang Mia ucapkan. Apa Mia mempermasalahkannya? Tidak, karena jika kedua menjawab, Mia yang akan meragukan pendengarannya.
...****************...
Panas.
Satu kata itu yang manapun mendeskripsikan keadaan perjalanan keluarga Diantoro ditambah Mia. Padahal beberapa hari yang lalu masih turun hujan cukup deras. Mungkin Mia perlu bersyukur karena jalan yang dilalui banyak pohon pohon rimbun yang berdiri kokoh dipinggir jalan setelah mobil yang ditumpanginya melewati perbatasan kota.
Sudah hampir 5 jam mereka lalui setelah menyelesaikan keributan pagi hari. Mia rasanya akan mati rasa jika harus berada pada posisi yang sama lebih lama lagi. Apalagi dia juga memangku Asiha yang tiba tiba rewel tidak mau duduk sendiri. Dan menjadi sandaran Jurba yang juga tiba tiba tidak ingin jauh dari Mia.
"Huh, tidak perlu pura pura peduli" Adalah jawaban Jurba saat Mia mencoba bertanya. Dan besoknya Jurba sudah seperti ini.
Dan untuk Afi. Anak itu sudah tak sadarkan diri disamping kursi pengemudi setelah satu jam perjalanan. Mungkin terlalu antusias membuat anak kecil itu susah tidur dengan nyenyak.
Musik Dialog Sore Hari yang menemani hampir setengah perjalanan membuat mata Mia lama lama terasa ikut berat. Tak apa kan jika dia tidak ikut terjaga? Lagi pula dirinya juga tidak tahu berapa lama lagi.
...****************...
Entah berapa lama Mia tertidur. Yang pasti suara berisik dari suara yang sangat amat dihafalnya hampir setengah tahun ini membuat Mia mau tiak mau terbangun. Apalagi ada goncangan ditubuhnya.
"Afi jangan lompat lompat, bahaya!" Meskipun mengiyakan ucapan sang ayah, nyatanya sang anak masih tidak bisa diam.
__ADS_1
Mia tak kaget mendapati pemandangan itu saat pertama kali matanya sadar. Ada yang lebih membuatnya was was ketimbang sikap Afi yang baginya masih tahap wajar.
Sejak kapan nona kecilnya ini berdiri diatas pangkuannya?!
Secara reflek tangan Mia memegang tubuh kecil yang asik melihat lihat pemandangan luar jendela. Padahal tadi sebelum tidur anak ini masih anteng anteng saja duduk dengan tenang. Mata Mia pun tanpa sadar ikut melirik jendela.
Dilihat dari pemandangannya, sepertinya ini sudah jauh dari daerah kota yang ditinggalinya selama ini. Tangan kecil Asiha yang bersandar di wajahnya terasa seperti sedang memukul kecil dirinya seolah ingin membangunkan dirinya yang masih tidak. Bersamaan dengan itu, pekikan girang juga keluar dari kedua bibir peach itu.
Melihat keantusiasan Asiha, Mia jadi tanpa sadar menurunkan setengah jendela dan ikut melongokan kepalanya diambang jendela. Membiarkan angin masik menerpa dirinya dan Asiha yang semakin kegirangan.
"Mana tupai nya?"
Asiha yang akhirnya mendapatkan respon, memusatkan pandangannya kepada sang pengasuh rasa keluarga nya. Jari telunjuk dan jari tengahnya terangkat bersamaan. "Iya. Tadi da Upai ima."
Tawa kecil keluar dari mulut Mia. Asiha memang ikut belajar berhitung saat kakaknya, Afi mengerjakan PR numerik. Tapi tetap saja hitungan tidak berurutan. Jarinya menunjukkan angka dua tapi yang disebut lima.
Tanpa jawaban Mia, Asiha sudah kembali berceloteh hal lain. Tidak Mia duga jika perjalanan menuju kediaman kakek nya anak anak akan memakan waktu seharian. Pantas saja minta bawa bekal, orang tidak berhenti saja sampainya sore apalagi berbelok ke restoran dulu.
"Uting! Pa, Dek mau Uting." Kepala kecil itu beralih menghadap sang ayah yang masih menyetir.
melirik sekilas sepion tengah untuk melihat sang putri yang mengajak bicara. "Iya, nanti ya dirumah nenek. Sebentar lagi sampai."
Setelah mendapat jawaban, Asiha kembali asik mengamati benda benda yang dilewati. Sementara Mia merasakan pergerakan Jurba yang semakin merapatkan tubuhnya. Sekitarnya memang sudah terdapat beberapa rumah rumah sederhana, tidak aneh jika Tuan Nam bilang sebentar lagi sampai. Tapi kenapa wajah Jurba malah terlihat enggan?
Aneh?
Dan lebih aneh lagi saat mobil yang ditumpanginya berbelok kearah satu satunya rumah yang paling besar dikawasan itu. Bukan, bukan rumahnya yang aneh. Tapi…
Saat adik adiknya terlihat semangat, kenapa si sulung ini malah terlihat err... takut? Apalagi saat keluar mobil. Jurba benar benar melekat dengannya tidak hanya memagang ujung baju saja melainkan memeluk sebelah kakinya. Padahal adik adiknya sudah berlarian menghampiri kakek nenek mereka yang sudah menyambut didepan pintu.
__ADS_1
"Jangan melihat Kak Mia seperti itu, Dasar Orang Jel…"