
Tawa anak anak menguar di sepanjang telinga mendengar. Seperti yang dibayangkan. Taman hiburan sudah pasti ramai. Terlebih sekarang akhir pekan.
Seharusnya Mia mendapatkan liburnya, namun sayangnya Model yang baru saja mendapatkan liburnya setelah perjalanan panjang mengajak Nam Chuan sekeluarga berlibur.
Karena anak anak ikut semua dan sepertinya susah jika harus mengawasi ketiganya bersamaan ditempat ramain. Mia diharuskan ikut.
Tentu saja kehadirannya dianggap lembur. Karena sesuai perjanjian, hari kerja Mia hanya Senin sampai Sabtu. Tak terkecuali saat tanggal merah. Jika diluar hari itu maka dianggap lembur.
Belum ada satu jam dan sudah beberapa kali Afi hampir terseret pengunjung. Jurba dan Asiha tentu saja aman.
Jurba berada di dekapan erat seorang Lazha. Sangking eratnya sampai anak itu terlihat seperti kesulitan bernafas.
Berbanding terbalik dengan sang Kakak. Asiha sangat nyaman di gendongan Mia. Selama Mia tidak terseret maka Asiha juga akan aman.
"Maaf, Tuan. Tapi bagaimana kalau Kita makan siang dulu? Sepertinya akan kurang nyaman bermain ditengah lautan manusia seperti ini."
Pukul sepuluh lewat Lazha tiba tiba datang dan mengajak, atau lebih tepatnya memaksa Nam Chuan sekeluarga bermain dengannya ditaman hiburan. Dan yang paling disibukkan tentu saja pengasuh manis Kita. Mia Yamaja.
Memangnya ada yang lainnya? Terutama untuk mengurus Asiha. Gadis kecil itu hampir tidak pernah lepas dari Mia seharian ini. Padahal Mia hanya rebahan dikamar sambil menonton sinetron random yang muncul di berandanya.
Setelah berbagai persiapan yang lebih tepat disebut ganti pakaian secepat kilat. Mereka tiba ditaman bermain sekitar pukul sebelas. Dan taman bermain yang dipilih Lazha sedang ramai ramainya.
Banyak orang yang berlalu lalang keluar dan masuk yang jika lebih diperhatikan lagi lebih banyak yang keluar dari pada masuk. Menahan rasa sesaknya berada ditengah kerumunan dengan perut kosong bukanlah tipikal Mia sekali.
Dan mengingat jam makan siang yang sebentar lagi mulai Mia mendapatkan keberanian untuk mengatakan pendapatnya. Berharap saja suaranya tidak tertelan oleh suara lain yang berada disekitar Mereka.
"Ide bagus. Ayo cari restoran dekat sini!"
Oh, harapannya terwujud? Padahal Afi saja sudah merengek dari tadi dan pria itu tidak menggubrisnya.
Dengan itu rombongan mereka mengikuti arah orang orang yang ingin keluar juga. Dan beruntungnya pembayaran karcis berada di setiap wahana yang artinya Mia tidak perlu membayar hanya untuk memasuki kawasan taman bermain.
__ADS_1
Selama berjalan tatapan Mia tidak luput dari anak anak. letaknya yang berada dibelakang keempatnya memudahkan Mia untuk mengawasi Jurba dan Afi yang berada diluar jangkauannya.
Tidak juga, Afi yang sesekali akan terbawa arus tangan Mia lah yang menjangkaunya. Hanya Jurba yang benar benar tidak bisa dia raih.
Lazha yang sesekali mengecek ponselnya membuat Mia khawatir Jurba juga terseret arus. Dan benar saja apa yang dikawatirkan. Jurba menjauh dari pandangannya.
"Maaf Tuan, bisa bawa Nona Asiha nya sebentar, 'Saya ingin ke toilet." Setelah menyerahkan Asiha kepada Nam Chuan, Mia kabur ke arah Jurba terseret.
Cukup sulit untuk menemukan anak itu yang tingginya saja masih belum mencapai angka satu meter. Butuh ketelitian ekstra untuk mencari Jurba.
Kaki yang tidak berhenti berjalan melangkah sesuai insting. Kepala berputar ke segala arah meneliti semua yang terjangkau matanya. Mulutnya juga sesekali memanggil manggil nama sng anak
Mencari satu anak kecil diantara ribuan manusia itu susah. Hampir putus asa, Mia melihat tangan yang melambai dengan pita kain di lengannya.
Pita yang sengaja Mia buat untuk antisipasi kejadian seperti ini. Memberi gelang pita saat akan pergi ke tempat ramai sudah menjadi kebiasaan bagi Mia.
Tanpa menunggu lama Mia meraih tangan itu sehingga mereka berhadap hadapan.
"Ibu, takut."
"Apa Kamu bodoh, putriku perempuan!"
Mia memandangi Ibu dan Anak yang pergi setelah sang Ibu menghinanya. Mia gagal.
...______...
Jurba yang merasa tangan sebelahnya ditarik berusaha memanggil ayahnya. Namun suaranya belum cukup keras untuk menarik perhatian sang Ayah yang berjalan berlawanan dengannya.
Jurba tidak cukup bodoh untuk tidak mengerti bahwa saat ini ada yang ingin menjauhkan Dia dengan rombongannya. Tubuhnya yang kecil mudah untuk menghilang diantara banyaknya orang yang lebih besar darinya.
Jurba berusaha melepas genggaman di lengannya. Tenaganya yang tidak cukup besar menyulitkan usahanya. Bahkan kulitnya sudah memerah.
__ADS_1
Tidak sengaja mata Jurba melihat pengasuhnya. Dengan keberanian yang ada dan kemungkinan yang besar untuk lepas Anak itu menggigit tangan orang yang menggenggamnya.
Berhasil!
Secepat mungkin Jurba berlari kearah Mia, meskipun tubuhnya harus berkali-kali menubruk kaki orang yang lebih tinggi darinya. Mia yang terlihat berhenti dengan tubuh lunglai mempercepat Jurba menggapainya.
Bruk!
"Mia, Aku takut…"
Seolah nyawanya yang hampir tercabut ditarik masuk kembali. Mia memeluk erat Jurba. Dia juga takut, tapi Mia harus memenangkan Jurba terlebih dahulu.
"Tidak apa apa Tuan Muda, Saya disini." Berulang ulang kali Mia mengucapkan kata serupa, perlahan Jurba pun juga tenang.
Disamping stan gula kapas dengan Jurba yang masih berada di gendongannya Mia merasa lebih tenang. Terlepas dari keramaian yang menyiksa. Dan yang lebih penting Tuan mudanya tidak jadi menghilang.
Sangking tenangnya Mia bahkan tidak merasa kalau sudah menggendong Jurba cukup lama. Tubuhnya tidak merasa pegal atau apapun yang biasanya terjadi saat menggendong Anak ini.
Apa mungkin karena sudah terbiasa menggendong Jurba dan Asiha secara bersamaan?
Dan disinilah keberadaan akhir Mereka. Di depan pintu masuk dan Jurba dalam gendongan Mia. Dengan satu batang gula kapas besar di tangan pria itu. Yang tentu saja merupakan hasil dari merampok Mia.
"Sekarang Kita harus kemana, Tuan Muda?" nada bingung melekat dalam kalimat tanyanya. Mulut Mia yang terpantau kosong kembali dimasuki makanan yang dibawa oleh satu satunya anak kacil di sana.
Setelah menelan gula kapas di mulutnya Jurba berkata dengan nada mencemooh yang tidak pernah menyinggung Mia, "Dasar bodoh, Papa tidak mungkin tidak memberi tahu mu keberadaannya. Cek ponselmu Mia bodoh." Tidak kasar namun juga tidak lembut begitulah cara bicara Jurba.
Setelah diberi tahu, Mia jadi sadar kalau belum membuka ponselnya.
...Masih kelamaan gak? Enggak kan. Udah Aku usahain secepat mungkin soalnya. ...
...And setelah Saya perhatikan di bab ini ternyata banyak narasinya. Bukan karena gak bisa buat percakapan tapi emang banyak diemnya. emang apa yang mau diomongin disaat rasa sumpek lebih mendominasi....
__ADS_1
...Kemungkinan besar yang ada di kepala pasti 'kapan keluar dari siksaan ini'...
...See You next Chap...