
"TOLOOONG.."
Cewek berhelai keemasan itu terus meminta tolong.
Gak tau gimana awalnya tapi yang pasti sekarang dia tergelantung di jembatan.
Kauki, terus menggenggam kuat tiang jembatan, matanya sesekali melihat ke bawah. Di sana ada sungai dan kalau dia jatuh bisa dipastikan tubuhnya akan hanyut atau bahkan langsung jadi santapan mahluk-mahluk air yang mungkin ada di dalam sana.
Kauki putus asa, dadanya berdegup kencang. Sambil berpegangan pada jembatan, cewek itu mencoba menyelamatkan diri.
"Tolong.."
"Kauki? Astaga, Kauki!!" pekik seorang cowok dan tanpa babibu langsung meraih lengan Kauki.
"Rio.." Kauki menghela napas lega saat pacarnya yang entah abis dari mana datang dan menolongnya.
"Kamu kenapa bisa begini, sih?" tanya Rio sambil berusaha menarik tubuh Kauki.
"Aku tadi lagi bengong, terus kepeleset."
"Lain kali jangan bengong dong, Meli."
"MELI?!"
Rio gelagapan. Mukanya langsung pucet saat Kauki menatapnya garang.
"WHO IS MELI?!"
"E a A-anu.." Rio terbata-bata.
Kauki menajamkan manik hazelnya ke arah Rio.
Beberapa detik kemudian posisi keduanya tertukar. Kauki yang di atas dan Rio yang gelantungan di jembatan.
"MAMAAAA.." Rio jejeritan manggil mamanya, sama kayak Kauki tadi.
"Kauki, Kauki tolongin gue, Kii..," mohonnya pada Kauki
Kauki cuma ngeliat cowok itu dengan cuek.
"Minta tolong sana sama yang namanya Meli!" ketusnya lalu ninggalin Rio dalam keadaan bergelantungan di jembatan.
Kesel, dongkol, benci! Semua Kauki rasain saat tau kalo pacar-yang sekarang udah jadi mantan-nya punya selingan.
Kauki meskipun baik hati, tapi sekalinya dendam ya langsung dibalas saat itu juga. Jadi ketika ninggalin cowok itu dalam keadaan kesusahan, Kauki gak nyesel sama sekali.
Drrt..
Hp Kauki bunyi. Dia ngeliat layar ponsel.
Bunda Mia calling
Dengan segera Kauki ngangkat telpon. "Halo?"
"Kauki, Kauki cepetan ke sini. Bantuin Bunda, Kaukiii.." Suara bunda Mia terdengar panik.
"Kenapa, Bun?"
"Alpha, Ki, Alpha!"
"Alpha kenapa?" Kauki mulai khawatir denger nama sahabatnya.
"Bunda susah ngejelasinnya. Kamu ke sini aja ya, Sayang. Buruan."
"I-iya, Bunda. Kauki on the way ke sana," kata Kauki lalu mematikan panggilan.
Dengan kecepatan kuda Kauki pun menuju rumah Alpha.
ššš
Sesampainya di rumah Alpha, Kauki langsung masuk dan mendapati seorang wanita paruh baya berdiri di depan toilet dengan muka paniknya. Itu bunda Mia, bundanya Alpha.
"Ada apa, Bunda?" Kauki bertanya dengan napas ngos-ngosan.
"Sayang, Alpha.."
"Alpha kenapa?"
"Alpha-"
"AAA.." Terdengar teriakan keras dari kamar mandi.
Kauki panik.
"Al-Alpha, Alpha lo kenapa di dalem?"
"Sakit, Kauki.." Suara Alpha melemah bikin Kauki dan bunda Mia makin cemas.
"Bun, sebenernya Alpha kenapa?"
"A-Alpha lagi susah BAB, Sayang, udah hampir sejam dia nggak keluar," jelas bunda Mia.
"Ha?" Kauki cengo. "Jadi Alpha teriak itu karena dia susah BAB, Bun!?"
Bunda Mia ngangguk, Kauki hampir pingsan. Kauki kira Alpha kepeleset atau semacamnya, taunya susah BAB!
Bangkeee..!! Teriak hati Kauki.
"KAUKI TOLONGIN GUEE! HUAA BUNDA SAKIIT.." Alpha kembali teriak membuat Kauki tersadar.
"Alpha, coba kamu dorong yang kuat," kata bunda ngasih saran.
"Alpha udah.. Hh.. udah sekuat tenaga, Bun.. Tapih.. Susahh.." Muka Alpha keringetan karena kecapean ngeden (menggeram).
"Haduh, Kauki.. kita harus gimana?" Bunda makin cemas sama Alpha.
Kauki jadi nggak tega. Tapi dia bingung, dia nggak pernah nolong orang yang susah BAB sebelumnya.
__ADS_1
"Mmh.. Bunda punya minyak?"
"Minyak apa, Sayang?"
"Apa aja. Minyak kelapa atau minyak goreng, pokoknya ambil aja," ujar Kauki.
Bunda mengangguk dan segera ngambil bahan yang Kauki sarankan.
"Alpha, lo terus berusaha ya. Gue doain dari luar."
"Udah lemes banget gue, Ki.." Alpha melemah.
"Em.. coba lo ketok-ketok siku kaki lo, Al."
Alpha melakukan intruksi Kauki, dan sedikit ada kemajuan. Tapi tetap gak menyelesaikan kesulitan Alpha.
"Kauki, di rumah cuma ada minyak goreng, gimana?"
"Gak apa-apa, Bunda. Ya udah, kasihin ke Alpha."
Bunda manut dan ngebuka sedikit pintu lalu nyerahin minyak goreng yang udah dia taro di mangkuk kecil. Alpha menerima minyak goreng dengan dahi mengkerut.
"Minyak goreng? Buat apa?"
"Alpha, itu minyak gorengnya, nanti lo olesin ke 'anu' lo ya," ujar Kauki dari luar.
Alpha cuma nurut dan mengoleskan minyak gorengnya.
"Udah, Ki."
"Udah? Ya udah."
"Ih, Kauki lo gimana, sih! Gue harus gimana lagi inihh?"
"Ya elo ngeden lagi."
"Ayo, Alpha. Nanti makin sakit lho kalo ditahan terus," timpal bunda.
"Iya, Al. Ayo, sekarang lo tarik napas dalam-dalam, abis itu buang."
Alpha kembali nurut, dia narik napas dalam-dalam, buang napas dan menggeram.
"Errhh.."
"Ayo, Alpha, semangat!" seru bunda menyemangati anaknya.
"Come on, Alpha, you can do it!!" Kauki gak kalah semangat ngasih motivasi ke sohibnya.
Alpha terpacu dan semakin berusaha keras. Hingga akhirnyaaa..
Plukk!
Suara benda masuk ke air bikin Kauki dan bunda terdiam. Saling pandang kemudian kompak bertanya.
"Alpha?"
Alpha terduduk dengan napas tersengal. "I'm done."
"Akhirnyaaa.."
"Huh, thank God!"
Alpha cuma terkekeh dan geleng kepala. Lantas menyudahi kegiatannya.
Pintu kamar mandi terbuka dan Alpha keluar dengan langkah lunglai.
"Eh, eh.." Kauki sama bunda sigap nangkep Alpha yang hampir jatoh.
Alpha masih ngos-ngosan, mukanya banjir keringet seperti orang yang baru melahirkan.
"Alpha, are you okay?"
Alpha ngangguk dan ngangkat jempol dengan lemas. Bunda mengusap butiran keringat di muka Alpha.
"Kasian anak Bunda sampe lemes gini," ucap bunda Mia memeluk anaknya.
"Eh, Alpha, yang brojol barusan udah lo kasih nama belom?" tanya Kauki kocak.
"Udah," jawab Alpha lemes.
"Siapa?"
"Mantan," celetuk Alpha dan keduanya ketawa ngakak. Bunda ikut ketawa, ngerasa lega ngeliat Alpha lepas dari penderitaannya.
"Ya udah kamu tiduran aja dulu ya, Al."
Alpha malah manyun dan merangkul bunda beserta Kauki.
"Gak bisa jalaaan.." rengeknya.
"Yaelah, Alpha. Ya udah sini kita bantuin. Ayo, Bunda," kata Kauki
"Yooo!!"
ššš
"Selamat pagi, Pak.."
"Selamat pagi, Pak Tristan.."
"Pagi, Pak Tristan.."
Sapaan sopan itu terlontar dari para karyawan ketika Tristan memasuki lobi kantor. Tristan, hanya tersenyum tipis membalas sapaan para karyawannya.
Lelaki blasteran Jepang Spanyol itu tampak sempurna dengan wajah tampan, tubuh tinggi tegap dan mata tajam. Dan jabatannya sebagai CEO perusahaan, menambah kesempurnaan Tristan.
"Hari ini jadwal saya apa saja?" tanya Tristan ketika mereka berada dalam lift menuju lantai 20 di mana ruangan Tristan berada.
__ADS_1
"Sebentar, Pak, saya cek dulu," ucap Gea selaku sekretaris Tristan sembari mengecek jadwal bosnya untuk hari ini.
"Jadwal Bapak untuk hari ini hanya menginterview Mahasiswa dan Mahasiswi yang akan kerja magang di sini, Pak," jelas Gea.
Tristan hanya mengangguk tanda mengerti. Pintu lift terbuka dan keduanya keluar sembari melanjutkan pembicaraan.
"Jam berapa saya akan menginterview mahasiswa dan mahasiswi yang akan magang di sini?"
"Jam delapan, Pak," jawab Gea sembari mengikuti langkah bosnya.
"Kalau begitu saya tunggu jam 8. Bilang sama para mahasiswa magang itu supaya tidak terlambat. Lewat semenit saja jangan harap saya akan menerima mereka di sini."
"Baik, Pak," jawab Gea sopan
Tristan mengangguk singkat dan membiarkan Gea ke tempatnya, kemudian dan berjalan memasuki ruangannya.
Tristan duduk di kursi kebesarannya dan tak lama Gea mengetuk pintu.
"Permisi, Pak."
"Ada apa lagi, Gea?"
"Maaf, Pak, ini saya hanya mau mengantarkan data-data para Mahasiswa magang."
"Oh, simpan saja di meja."
"Baik, Pak." Gea menaruh tumpukkan map-map berisi data-data para mahasiswa magang tersebut.
"Kamu boleh keluar."
"Baik, Pak, permisi."
Tristan membuka map dan membaca data-data mahasiswa magang itu. Sesaat dirinya terpaku melihat salah satu data dari orang yang tak asing baginya.
Tok tok!
Pintu diketuk membuat Tristan terusik. "MASUK.."
Pintu terbuka dan seseorang yang mengetuk pintu tadi terkesiap.
"Tristan?" desisnya pelan membuat Tristan menoleh.
Keduanya sama-sama terpaku, Tristan dengan wajah dinginnya menatap gadis itu kaget.
"Ehem!" Tristan berdehem membuat gadis itu tersadar. "Jadi, kamu mahaswi yang mau magang di sini?"
Gadis itu--Maura namanya--mengangguk dan menunduk, tak berani menatap mata elang Tristan.
"Silahkan duduk," kata Tristan dingin.
Maura melangkah dengan gugup dan duduk di hadapan sang CEO dengan jantung berdebar.
"Apa tujuan kamu magang?" Tristan tanpa berbasa-basi.
Tristan tidak perlu bertanya terlalu dalam tentang diri Maura karena dia udah tau semua tentang gadis itu.
"Ng.. Sa-saya ingin menambah pengalaman dan referensi kerja, Pak," jawab Maura, masih betah menunduk.
"Saya tidak suka ketika saya bicara tapi tidak ditatap, itu sangat tidak sopan menurut saya."
"M-maaf, Pak." Dengan takut-takut Maura menatap Tristan dan tertegun ketika pada akhirnya kembali menatap mata tajam itu.
Setelah sekian lama.
"Apa yang membuat kamu tertarik untuk magang di sini?"
"Ng.. karena saya direkomendasikan oleh teman saya yang bekerja di sini."
"Jadi karena teman? Bukan karena kamu tau perusahaan ini seperti apa?"
"Em.." Maura tidak tau harus menjawab apa.
"Kalau kamu mencari tempat kerja, cari berdasarkan kualitas perusahaan, bukan karena teman kamu kerja di sini!" ujar Tristan tegas.
Maura cuma duduk dengan kikuk, meremas jari-jarinya dengan gugup. Jantungnya berkerja dua kali lebih cepat. Demi apapun dia ingin segera keluar dari ruangan ini.
"Kamu ingin magang untuk posisi apa?"
"Mm.. Apa saja posisi yang saya dapat, saya bisa menerima. Karena saya multitasking."
"Multitasking?" Tristan terkekeh sinis membuat Maura agak takut. "Yayaya, saya percaya kamu multitasking. Sangat percaya." kata Tristan penuh penekanan, onyx coklat terangnya menyorot tajam tepat ke iris hitam Maura.
Maura menelan ludah susah payah, dia tau tatapan itu, dia ingat. Tatapan Tristan saat ini sarat akan amarah, dendam, dan kebencian. Membuatnya ingin segera pergi namun sulit bergerak.
Hening sejenak, hanya suara jarum jam yang berdetak, waktu terasa lambat membuat Maura gelisah di kursinya.
Berhadapan dengan lelaki yang kini menjadi masa lalunya, yang jujur sampai saat ini belum bisa dia lupakan. Menatapnya tajam dan dingin seolah dirinya musuh yang harus disingkirkan.
"Baik, saya akan kasih kesempatan kamu magang di sini," ucap Tristan setelah sekian lama hening.
Maura mengukir senyum lega. "Terima kasih atas kesempatannya, Pak. Saya berjanji akan bekerja dengan baik," katanya mengulurkan tangan, salaman.
Tapi Tristan hanya menatap tangan itu, tak segera menerimanya. Lelaki itu hanya tersenyum miring.
"Hm, ya, sama-sama. Tapi saya tidak suka janji, kamu buktikan saja kalau memang kamu bisa bekerja dengan baik di sini. Lagipula, kamu janji pun belum tentu kamu tepati," ucap Tristan menekan kalimat terakhirnya.
Maura tercekat, dia menarik kembali tangannya saat merasa Tristan tidak akan membalas uluran tangannya. Ucapan Tristan tadi, seolah menyindirnya. Mata gadis itu berkaca-kaca, merasa tersentil dengan sindiran itu.
"Ka-kalau begitu saya permisi, Pak." Maura bangkit dari kursi dan beranjak hendak meninggalkan ruangan.
Tristan tak bergeming, membiarkan gadis itu melangkah, namun tatapannya terus menyorot tajam pada Maura.
Maura berhenti ketika membuka pintu, dia menoleh sejenak dan menatap Tristan dengan perasaan campur aduk. Dan lelaki itu masih menatapnya, datar, namun tersirat emosi.
"Silakan keluar," ujar Tristan membuat Maura menunduk dan akhirnya meninggalkan ruangan Tristan.
Setelah Maura pergi, barulah Tristan membuang nafas panjang. Ia tak pernah menyangka akan dipertemukan lagi dengan gadis dari masa lalunya. Masa lalu yang pahit.
__ADS_1
"Dunia memang sempit," pikirnya. Dari 7 miliar manusia di muka bumi ini, kenapa harus Maura yang kembali ia lihat?
ššš