
Tristan berlari melewati lobi rumah sakit dengan tergesa, dirinya masih memakai pakaian kantor.
Beberapa menit yang lalu Tristan mendapat telpon dari Kauki, Tristan pikir adiknya itu yang menelpon dirinya, tapi keningnya berkerut begitu suara lelaki yang menyapa telinganya.
"Halo, Kauki?"
"I-ini saya, Nando, Kak."
Tristan tampak mengingat-ngingat. "Nando yang waktu itu nganterin Kauki?"
"Iya, Kak."
"Kok hp Kauki ada di tangan kamu?"
"Mm.. Kauki.. Kauki sekarang lagi di rumah sakit, Kak."
"Apa? Kenapa?!"
"Kak Tristan tenang ya. Ceritanya panjang dan saya gak bisa ngejelasin ke Kakak lewat telpon."
"Di mana rumah sakitnya?" potong Tristan yang langsung menutup pekerjaannya begitu saja. Bahkan dirinya sudah berlari menuju lift.
"Rumah sakit cempaka, Kak."
"Saya ke sana sekarang. Tolong jaga Kauki di sana."
"Iya, Kak."
Dan sekarang Tristan udah ada di depan ruangan Kauki. Nando yang ngeliat kedatangan Tristan langsung berdiri dari duduknya.
"Kak-"
"Gimana keadaan Kauki sekarang?"
"Kauki masih ditangani dokter."
"Kenapa bisa Kauki ada di sini, Nando?"
"Aku bakal jelasin tapi Kak Tristan tenang dulu."
Nando mengajak Tristan duduk.
"Jadi, kenapa?"
Nando menarik napas sebelum menjelaskan. "Kauki tadi nolong temennya."
"Nolong temennya? Emang temennya kenapa?"
"Jadi temen Kauki ini diculik, Kauki dan Alpha nyoba nolong temen perempuannya itu, tapi sayang Kauki kalah ngelawan para penculik itu."
"Tunggu, kamu bilang Kauki nolong temennya itu sama Alpha? Terus sekarang Alpha-nya di mana?"
"Em.. Alpha.. lari sama temen perempuannya itu."
"Brengsek!" Rahang Tristan mengeras, matanya berapi-api. "Jadi dia ninggalin Kauki gitu aja?"
Nando hanya mengangguk seraya membetulkan posisi kacamatanya. Dan setelahnya, hanya keheningan yang mengisi suasana. Keduanya sibuk berdoa untuk Kauki yang mereka sayangi.
ššš
Alpha membawa Maura menuju taman untuk menenangkan gadis itu.
Maura sedari tadi menangis, rasa takut masih menghinggapinya.
"Kak, udah dong nangisnya. Sekarang kan Kakak udah selamat."
"Kakak kepikiran Kauki, Al."
Jawaban lirih Maura membuat Alpha lemas. Sebetulnya Alpha juga terus kepikiran Kauki. Bagaimana nasibnya? Selamat? Atau habis di tangan para preman itu.
Alpha langsung menggeleng membayangkan pemikirannya yang kedua.
Nggak. Kauki nggak mungkin kalah, dia cewek kuat, Alpha tau itu! Pikirnya.
Alpha mengambil ponselnya, dia harus menghubungi Kauki untuk memastikan keadaan sahabatnya itu.
Heh, sahabat? Alpha bahkan merasa gak layak dipanggil sahabat sekarang.
Nada sambung terdengar ketika Alpha menelpon Kauki. Gak berlangsung lama, panggilannya diangkat, membuat Alpha menghela napas lega.
"Halo, Kauki? Kauki, Kauki lo baik-baik aja, kan? Lo selamat dari penculik itu, kan? Jawab, Ki, jangan bikin gue khawatir."
"Alpha?"
Dahi Alpha bertaut, ini bukan suara Kauki. Suara ini seperti suara laki-laki. Rasa cemas langsung menyergap Alpha, apa ini suara penculik itu?
"Lo siapa? Ke mana Kauki?"
"Ini aku Nando. Alpha kamu ke mana aja? Kauki sekarang di rumah sakit."
"Rumah sakit?"
Tubuh Alpha menegang, perasaannya mendadak gak tenang.
"Datang ke sini kalo kamu mau tau kondisi Kauki. Nanti aku kirim alamatnya."
Sambungan terputus, tapi Alpha masih terpaku. Kauki masuk rumah sakit dan semua itu karena ketidak-becusannya dalam menjaga gadis itu.
"Alpha, Kauki kenapa?" Maura yang sedari tadi hanya jadi pendengar menegur Alpha yang hanya terdiam seribu bahasa.
"Kauki... masuk rumah sakit."
Maura menutup mulutnya, air matanya kembali mengalir. Rasa cemas menyelimutinya.
"Kita ke rumah sakit sekarang!"
"Kak Maura yakin udah tenang?"
"BUKAN WAKTUNYA MIKIRIN DIRI SENDIRI, KITA HARUS KE RUMAH SAKIT SEKARANG, ALPHA!"
Alpha mengangguk, gak ada waktu untuk mengkhawatirkan Maura, faktanya gadis yang tengah bersamanya kini baik-baik saja, karena yang harus dia khawatirkan adalah kondisi Kauki, sahabatnya.
ššš
"Keluarga pasien?"
Tristan dan Nando kompak menghampiri dokter. "Saya Kakaknya, Dok. Bagaimana keadaan adik saya?" tanya Tristan.
"Kondisi pasien cukup buruk. Terdapat banyak luka pukulan pada tubuh pasien."
Tubuh Tristan lemas seketika, begitu pula Nando.
"Tulang belakang pasien juga retak akibat pukulan yang diterimanya." Dokter itu menjelaskan dengan hati-hati ketika melihat raut sedih di wajah Tristan.
Nando ingat, salah satu dari penculik itu juga sempat memukul tulang belakang Kauki dengan kayu besar. Karena itulah Kauki hilang kesadaran.
__ADS_1
"Pasien sempat kritis, tapi puji Tuhan pasien berhasil melewati masa kritis itu, dan saat ini pasien belum sadarkan diri."
"Ya Tuhan, Dek.." Tristan bergumam lirih membayangkan adiknya.
Mata Tristan berkaca-kaca, hatinya hancur, dia merasa gagal menjaga adiknya. Walaupun Tristan tau Kauki menguasai berbagai jurus bela diri dari mulai karate hingga taekwondo, itu semua gak jadi jaminan kalo Kauki akan selalu aman.
Nando yang berada di samping Tristan gak kalah sedih mendengar kondisi Kauki. Ternyata Kauki gak sekuat yang Nando pikir.
"Boleh saya melihat adik saya, Dok?"
"Ya, boleh. Tapi hanya satu orang."
Tristan mengangguk dan dokter itu pamit.
"Kak Tristan masuk aja duluan, Nando belakangan," ujar Nando. "Kauki cewek kuat, Kak Tristan jangan sampe nunjukkin muka sedih Kakak di depan Kauki. Nanti Kauki ikut sedih ngeliat Kakaknya sedih," sambungnya yang diangguki Tristan.
"Makasih ya, Nando, udah bawa Kauki ke sini."
Nando tersenyum tipis.
"Kauki sahabat aku sekarang, udah seharusnya sahabat itu saling menjaga."
Tristan tersenyum kecil kemudian masuk untuk melihat adiknya sementara Nando kembali duduk menunggu giliran untuk melihat kondisi Kauki.
Napas Tristan terasa sesak mendapati adiknya terbaring lemah di ranjang rumah sakit. Penuh luka dan matanya terpejam.
Air mata Tristan tumpah meski sudah dia tahan. Dia merasa sangat terpukul melihat Kauki yang seperti ini.
"Dek.." panggil Tristan tersendat karena menahan tangis.
"Adek Kakak yang paling cantik kok merem aja, sih? Bangun dong, Ki. Liat nih, gara-gara kamu Kakak nangis. Tanggung jawab loh, Dek."
Tristan mengelus rambut Kauki.
"Maaf karena gak bisa jagain kamu."
Dalam hatinya Tristan tak berhenti mengucap kata maaf. Maaf pada Kauki dan pada kedua orangtuanya karena lalai menjaga sang adik.
Tapi Tristan berjanji, ini untuk terakhir kalinya Kauki terluka. Dia gak akan ngebiarin siapa pun nyakitin adiknya lagi.
ššš
Tristan keluar dengan mata sembab, Nando yang melihat itu langsung bangkit.
"Kak.."
"Kamu mau jenguk Kauki kan, Nan? Sana masuk, bangunin puteri tidur di dalam sana," ucap Tristan lirih.
Nando menghela napas, menepuk pundak Tristan pelan, menyalurkan kekuatan pada pria itu.
"Kakak yang sabar, ya. Kauki adik Kakak yang kuat, ini cuma ujian kecil buat Kauki."
Kemudian Nando masuk. Gak jauh beda dengan Tristan, hati Nando teriris nyeri.
Dia memang belum lama mengenal Kauki, tapi hatinya sudah merasa dekat dengan gadis itu.
Nando duduk di samping Kauki, meraih lengan gadis itu dan menggenggamnya hati-hati, dia gak mau nyakitin Kauki.
"Kauki.." Mata Nando berkaca-kaca, "Bangun.. buka mata kamu. Kamu nggak kasian ngeliat kakak kamu sedih begitu?"
Belum ada respon dari Kauki, Nando memejamkan matanya pedih, dia sakit melihat keadaan Kauki saat ini. Padahal tadi siang gadis itu tersenyum bersamanya di toko buku, tapi sekarang terbaring tak berdaya di ranjang rumah sakit, dengan luka di mana-mana.
"Bangun, Ki.. Aku sayang sama kamu.." Nando membenamkan wajahnya di tangan Kauki yang dia genggam.
Hingga akhirnya kelopak mata itu terbuka, rasa nyeri di seluruh tubuh seketika menyapa Kauki. Membuat gadis itu meringis.
Nando yang panik segera bangkit. "Kauki?"
Kauki meringis, sulit sekali bergerak walau itu hanya satu senti.
"Sa...kit.."
"Apanya yang sakit, Ki? Bilang sama aku. A-aku panggil dokter dulu, ya?"
Kauki menahan lengan Nando membuat lelaki itu mengurungkan niatnya. Kauki tersentak melihat wajah Nando yang basah karena air mata. Apa Nando menangis untuknya? Pikir Kauki.
"Ka..mu ke-napa.. na..ngis?"
Nando tersenyum dengan wajah sendunya. "Nggak apa-apa, aku cuma seneng ngeliat kamu bangun. Aku pikir.. aku pikir aku nggak bisa ngeliat kamu lagi."
Kauki tertegun, merasa tersentuh karena Nando begitu peduli padanya. Kauki yakin Nando-lah yang membawanya ke rumah sakit.
"Aku.. nggak papa, Nan..do," ucap Kauki memberi senyum walau harus menahan sakit.
"Kenapa? Badan kamu sakit, ya?" hanya Nando khawatir melihat wajah Kauki berkerut.
Kauki menggeleng. "Sakit.. tapi aku nggak apa-apa," jawabnya serak. "Kamu di sini aja. Temenin aku."
Nando tersenyum dan mengelus rambut coklat Kauki. "Aku gak akan ke mana-mana. Aku bakalan terus di sini, di samping kamu," ucapnya membuat hati Kauki sedikit lega.
ššš
Alpha dan Maura tiba di rumah sakit sesuai alamat yang Nando kirim. Sesampainya di sana mereka melihat Tristan yang terduduk lemas.
"Kak Tristan.."
Mendengar suara itu, Tristan mendongak. Maura yang melihat wajah sendu itu merasa nyeri, ini kedua kalinya Tristan terlihat sedih setelah perselingkuhan yang dia lakukan dulu.
Dan sekarang Tristan menangisi Kauki yang kritis karena mengorbankan diri untuk menyelamatkan Maura. Maura semakin merasa bersalah, merasa bersalah karena kembali membuat Tristan sedih.
"Kak.. gimana dengan kondisi Kauki?" tanya Alpha dengan perasaan yang sulit dijabarkan.
Tristan bangkit dan menatap Alpha dengan rahang mengeras. Tanpa pemberitahuan, Tristan melayangkan bogeman mentah di wajah sahabat adiknya itu.
BUGH!!
"Baru sekarang kamu datang? KE MANA AJA KAMU? KENAPA KAMU NINGGALIN KAUKI SAAT DIA KESULITAN MENGHADAPI PARA PREMAN ITU, HAH, KE MANA?!"
Alpha menunduk memegangi bekas pukulan Tristan, Alpha tau dia salah, makanya dia gak ngelawan.
"Ma-maaf, Kak."
"MAAF? MAAF KAMU GAK BIKIN KAUKI SEMBUH!"
"Kak, aku tadinya mau bantuin Kauki, tapi penculik itu mau ngejar kami."
"PENGECUT! HARUSNYA LO LAWAN, BUKAN LARI NINGGALIN ADEK GUE!" bentak Tristan kasar, mulai memakai bahasa lo-guenya. Tanda dirinya benar-benar murka.
Tristan melihat Maura terisak di samping Alpha, amarahnya semakin membara. Jadi Alpha meninggalkan adiknya hanya untuk menyelamatkan gadis penghianat ini? Pikirnya.
ššš
Kening Kauki berkerut melihat Nando yang berkali-kali menengok ke arah pintu.
"Kenapa, Nando?"
__ADS_1
"Em.. kayaknya di luar ada yang nggak beres deh, Ki."
"Aku keluar sebentar, ya?" ujar Nando meminta ijin diangguki Kauki.
Nando tercengang saat melihat Alpha, lelaki ini, yang katanya sahabat Kauki, yang telah meninggalkan Kauki dalam kondisi babak belur.
Nando sebenarnya marah dan ingin melampiaskannya seperti Tristan, tapi Nando cukup sadar dirinya bukan siapa-siapa. Jadi biarlah Tristan yang membalaskan kekecewaannya.
"Kak, kalo aku tau bakal begini jadinya aku nggak akan ninggalin Kauki."
"MAKSUD LO KAUKI HARUS CELAKA DULU BARU LO NOLONG DIA GITU!"
"Nggak, Kak, gak gitu.." Alpha menggeleng, dia memang tidak bermaksud meninggalkan Kauki. Dia juga tak tau akan berakhir seperti ini. "Aku terpaksa karena penculik itu mau ngejar aku sama Kak Maura. Dan Kak Maura tadi sempet trauma makanya aku bawa Kak Maura buat nenangin dia."
"BUKAN BERARTI LO BISA NINGGALIN KAUKI! LO TAU, GARA-GARA KALIAN ADEK GUE HAMPIR KEHILANGAN NYAWANYA!"
Maura semakin terisak, Kauki sudah seperti adiknya sendiri. Dan saat Maura tau Kauki celaka karena dirinya, hatinya serasa dihujam oleh ribuan jarum.
Dan Alpha? Dirinya seperti kejatuhan bom. Alpha merasa dirinya gak layak disebut sahabat.
"Kauki.. maafin Kakak.." Maura berucap lirih.
"Maafin aku, Kak.. Izinin aku ketemu Kauki."
"Nggak!" tolak Tristan langsung. "Mulai sekarang lo gak boleh ketemu Kauki, gue nggak akan ngijinin Kauki buat temenan lagi sama lo!"
"Kak Tristan, please-"
"Nggak!"
"Kak.." Nando menyela, "Izinin mereka buat minta maaf sama Kauki, Kak. Kita bisa marah, kecewa atau pun benci, tapi Kauki yang berhak memutuskan. Dia yang tersakiti bukan kita," tutur Nando.
Tristan sebenarnya tidak rela, tapi benar kata Nando, dia bisa kecewa dan marah tapi di sini Kauki yang berhak memaafkan.
"Ya udah, lo boleh masuk, tapi setelah ini, jauhin Kauki!" tandas Tristan tegas.
Alpha mengangguk, tapi dia tak mempedulikan perintah Tristan. Dia akan tetap menjadi sahabat Kauki sampai kapan pun itu.
Alpha kemudian masuk diikuti Maura.
"Kauki.." Tangis Maura pecah melihat Kauki terbaring lemah.
Kauki menoleh, terkejut melihat kedatangan Maura dan Alpha.
"Kauki.." Maura langsung memeluk Kauki.
"Aduh.. Kak Maura, badan aku masih sakit," cicit Kauki parau, Maura segera melepas pelukannya.
"Ya ampun.. Maaf, maafin Kakak.."
Kauki menghela napas, dia ingin marah, tapi Maura tidak bersalah. Toh Maura diculik juga bukan kemauan wanita itu.
"Aku nggak apa-apa, Kak Maura. Kakak juga baik-baik aja, kan?"
"Kakak baik, Ki. Maaf karena Kakak, kamu jadi celaka."
"Udahlah lupain aja. Malang nggak berbau. Yang penting kita sama-sama selamat."
Kauki melirik Alpha yang menunduk, gak berani natap Kauki.
Maura berinisiatif meninggalkan keduanya, wanita itu tau Alpha merasa sangat bersalah. Jadi Maura membiarkan keduanya menyelesaikan masalah mereka.
"Kakak keluar dulu ya, kamu cepet sembuh. Kalo butuh apa-apa, panggil Kakak aja. Kak Maura nggak akan pulang sampe Kauki sembuh."
"Nggak, Kakak harus pulang. Kak Maura pasti trauma, kan?"
"Kauki lebih penting," ucap Maura.
Wanita itu akhirnya pamit keluar setelah sebelumnya mengecup kening Kauki sayang, rasa sayang seorang kakak.
Dan ketika Maura keluar, keheningan mengisi ruangan. Alpha mendekati Kauki, dari raut wajahnya sangat jelas menunjukkan kalo Alpha benar-benar menyesal.
Melihat luka di wajah Kauki, darah di lengan gadis itu, Alpha meringis saat Kauki meringis, seolah ikut merasakan sakit yang Kauki rasa.
Alpha ngerasa benar-benar pengecut, gak seharunya dia ngebiarin Kauki menghadapi para penculik itu sendiri.
"Ki.."
Kauki bungkam, dia kecewa pada Alpha. Untuk kesekian kalinya Alpha membiarkannya sakit hanya untuk gadis pujaan hatinya.
"Ki.. Gue tau gue gak pantas disebut sahabat. Maafin gue karena untuk kesekian kalinya bikin lo sakit."
Kauki tersenyum miring. Dia bosen mendengar kata 'maaf' terlontar dari mulut Alpha.
"It's oke, Alpha. Gue ngerti, memang untuk mendapatkan sesuatu, kita harus mengorbankan sesuatu juga. Kayak lo yang ngorbanin gue celaka, biar bisa dapetin hatinya Maura. Elo udah melakukan hak benar kok, Alpha," ucap Kauki pelan.
Hati Alpha mencelos, bukan, dia sama sekali nggak bermaksud mengorbankan Kauki atau siapa pun.
"Gue tau sekarang apa posisi gue di hidup lo. Gak penting." Kauki tersenyum getir.
Alpha menggeleng dan berucap lirih, "Nggak, Ki. Lo penting bagi gue, lo sahabat gue, saudara gue, kembaran gue. Gue nggak bisa kalo hidup tanpa lo, Ki."
"Kalo gue penting, kenapa lo ninggalin gue tadi, Al? Lo bilang apa tadi, lo gak bisa hidup tanpa gue? Bullshit!"
"Gue kecewa sama lo, Alpha. Lo ninggalin gue saat gue kesakitan. You say you're my amigo? Sahabat gak pernah ninggalin sahabatnya untuk alasan apapun!"
Alpha melihat Kauki dengan pandangan kabur karena air mata. "Kauki, gue tau gue pengecut, gue banci, tapi nggak ada yang bisa gue lakuin saat itu. Please.. maafin gue.. Gue nggak tau kalo begini jadinya."
"Jadi gue harus celaka dulu baru lo peduli sama gue?"
"Gue selalu maafin lo, Alpha. Tapi bukan berarti gue nggak bisa marah sama lo." Hidung Kauki rasanya nyeri menahan tangisnya.
Alpha menunduk, enggak tau kenapa rasanya sakit saat Kauki marah padanya. Mungkin karena selama ini, Kauki gak pernah semarah ini sama dia.
"Pergi."
"Ki.."
"Gue bilang pergi dari sini, Alpha."
"Kauki, please.. Gue nggak mau jauh dari lo."
"Pergi atau lo nggak bakal bisa liat gue lagi seumur hidup lo!"
Alpha tercekat mendengar ancaman Kauki.
"Gue pergi, tapi lo harus janji sama gue kalo kita tetep sahabat," lirih Alpha.
Lelaki berparas tampan itu sempat menatap Kauki, namun gadis itu memalingkan wajahnya, gak mau menatap Alpha. Hati Alpha nyeri tapi dia cukup mengerti.
Dan ketika pintu tertutup, Kauki gak bisa nahan tangisnya lagi. Cewek berdagu belah itu terisak keras.
Udah cukup. Kauki gak mau nyerah sama hati nuraninya lagi saat ini. Dia harus egois supaya Alpha tau bahwa dia bukan apa-apa tanpa sahabat.
ššš
__ADS_1