Back To Ya

Back To Ya
Bab 7


__ADS_3

Hari ini Alpha rela bangun subuh-subuh. Setelah mandi dan memakai seragam sekolah, cowok itu bergegas ke rumah Kauki.


"Maafin gue, Ki.. Pleaseee.."


Kauki mendengus jengah, diliriknya Alpha yang tengah memasang wajah memohon. Bikin Kauki nggak tega.


"Ya udah iya. Gue maafin!" Kauki luluh, dia nggak bisa marah lama-lama sama sahabat oroknya ini.


Mendengar jawaban Kauki, senyum Alpha langsung terbit, cerah mengalahkan cerahnya matahari.


"Thank you, thank you thank you! I love youuu, mis amigos!" seru Alpha meluk Kauki erat-erat.


"Uhuk, Alpha! I'm sick, you know!"


"Ups, sorry, Kauki. I forgot that you sick." sesal Alpha.


Kauki hanya mendengus, "Gue belum selesai ya."


Alpha mengernyitkan dahinya.


"Gue mau maafin lo, tapi ada syaratnya."


"Apa, Ki? Apa aja bakal gue lakuin."


"Bener?" Alpha ngangguk cepet. "Bentar."


Kauki ngambil sesuatu di lacinya. Sebuah mukena, mukena itu milik Cia yang Cia titipin di rumah Kauki.


"Lo mau ngapain?" Alpha mulai was-was saat Kauki ngambil bagian atas mukena.


"Diem!" Sambil nahan ketawa, Kauki memakaikan mukena tersebut ke Alpha.


"Kauki, lo apa-apaan sih ah!"


"Diem aja napa. Mau dimaafin, kan?"


Akhirnya Alpha cuma pasrah saat mukena telah terpasang di dirinya.


"Nah, sekarang pake kacamata. Selesai!" Kauki bersorak dengan suara serak karena kondisinya yang sedang sakit.


Kauki menatap Alpha, sedetik kemudian tawanya menggelegar.


"Bhahahahaha!"


Bibir Alpha manyun lima senti melihat Kauki terbahak-bahak menertawakannya.


"Alpha.. Haha.. Alpha you're so fuckin pretty!! Huahahaha!" ucap Kauki di sela-sela tawanya.


"Puas lu?" Dengusan keras Alpha malah menambah tawa geli Kauki.


Tapi Alpha ngerasa lega, seenggaknya dia udah dimaafin walaupun dibuat konyol begini.


Cowok itu melihat bubur tersaji di meja deket kasur Kauki, membuatnya teringat bahwa dirinya belum sarapan.


Diambilnya mangkuk berisi bubur itu dan langsung dilahapnya tanpa menyadari wajah terperangah Kauki yang menatap tak rela buburnya.


Bunda Mia datang dengan segelas susu hangat, wanita paruh baya berwajah cantik itu berkacak pinggang melihat Alpha yang dengan santainya memakan bubur yang ia buat khusus untuk Kauki.


"Alpha!"


"Apa?"


"Itu buat Kauki!"


"Hah?" Alpha terperangah, dia menengok ke arah Kauki, alis gadis itu tampak menukik tanda tak senang.


Sedetik kemudian Alpha menyengir kuda, "Sorry, Kauki."


Kauki kembali mendengus. Bunda Mia geleng-geleng kepala lantas menjewer telinga anaknya.


"Kamu yaa.. Maen sikat aja sarapan orang. Untung Bunda bikin buburnya banyak." omel bunda.


"Ya maap, Bunda, Kauki nggak bilang."


"Harusnya kamu tau dong, kalo buburnya ada di sini ya udah pasti buat Kauki." Bunda Mia kesel ngeliat Alpha ngeles.


"It's oke, Bunda. Kauki lagi pengen makan roti."


"Ya udah, Bunda ambilin rotinya dulu ya, Sayang."


Kauki cuma senyum saat bunda pergi dan beranjak ngambil roti. Ngeliat perhatian bunda Mia bikin Kauki bersyukur, keliatan banget kalo ibu dari sohibnya itu sayang banget ke dia.


Ya itu karena Bunda Mia udah nganggep Kauki kayak anaknya sendiri. Membuat Kauki sedikit bisa melupakan rasa kangennya ke sang mommy yang jauh di Spanyol.


Alpha mencopot mukena yang dipakainya, "Gue berangkat dulu kalo gitu. Elo cepet sembuh ya, jangan susah kalo disuruh minum obat."


"Yee emangnya gue elo!"


Alpha cuma senyum dan nyium kening Kauki singkat.


šŸšŸšŸ


Maura melangkah terburu-buru memasuki kantor, waktu sudah menunjukkan pukul 8.20 pagi, yang artinya dia terlambat 20 menit.


Saking terburu-burunya, saat di depan pintu masuk Maura tak sengaja menabrak seorang pria, pria yang berkuasa di kantor tempatnya bekerja.


"Tristan?" desisnya.


"Kamu terlambat 20 menit," Tristan melirik arlojinya.


"Ma-maaf, Pak. Saya tel-"


Tristan menatap datar Maura. "Jangan diulangi lagi."


Maura melongo, dia pikir Tristan akan membentaknya. Lah ini cuma ngingetin abis itu melengos pergi.


Sama herannya dengan Maura, wanita yang duduk di biliknya juga menatap Tristan dan Maura curiga.


Biasanya Tristan akan membentak habis karyawan yang terlambat. Tristan adalah orang yang tegas, lewat satu menit saja, karyawan yang telat tersebut tidak diijinkan bekerja. Tapi ini?


"Apa perempuan itu ada sesuatu dengan Pak Tristan?" gumam wanita itu.


Tak mau ambil pusing, Maura menuju tempatnya. Dan itu tak luput dari wanita yang sedari tadi mengamatinya dengan pandangan tak suka.


šŸšŸšŸ


Tristan menghela nafas kasar, pria itu baru saja mendapat telpon bahwa asistennya, Gea, mengundurkan diri karena mengurus pernikahan.


"Kenapa gak minta cuti aja, kenapa harus resign!" Tristan menggerutu.


Masalahnya Gea resign di waktu yang tidak tepat. Pekerjaan Tristan menumpuk dan dia butuh bantuan asisten, tapi asistennya itu malah mengundurkan diri.


Kepala Tristan pening memikirkannya. Secepatnya, dia butuh asisten pengganti.


Dan saat lama terdiam, sebuah keputusan terlintas di otaknya. Pria itu meraih telpon dan menghubungi seseorang.


"Miko, panggil Maura ke ruangan saya."


šŸšŸšŸ


"Maura, kamu diminta Pak Tristan ke ruangannya."


Deg.


Maura tercengang, Tristan meminta dia ke ruangannya? Jangan-jangan mau memberinya hukuman karena terlambat. Pikir Maura was-was.


Dengan langkah berat, Maura menuju lantai atas. Dan Maura tak langsung masuk, gadis berhelai hitam sebahu itu pun hanya berdiri cemas.


Maura cemas dengan kemungkinan yang akan terjadi berikutnya.


"Tenang, Maura.. Kalaupun Tristan mau ngasih hukuman, itu pantas buat kamu. Huh.." Maura menarik nafas kemudian mengetuk pintu.


"MASUUK!"


Maura membuka pintu dan dirinya langsung beradu pandang dengan sang bos.


"Si-siang, Pak. Kata Bu Fenny, Bapak manggil saya."


"Hm, ya. Silahkan duduk."


Maura manut, gadis itu duduk berhadap-hadapan dengan Tristan. Maura tak nyaman ditatap sedingin itu.


"Maaf, Pak. Kalau boleh tau, ada perlu apa ya Bapak manggil saya?"


"Mulai besok, kamu saya tunjuk untuk menggantikan posisi Gea sebagai asisten saya."


"Ha?" Maura cengo. "Bapak serius? Tapi saya kan hanya mahasiswi magang di sini."


"Kurang jelas? Kamu asisten saya sekarang," tandas Tristan tegas, tak ingin dibantah. "Sekarang kamu boleh keluar." ucapnya lalu sibuk berkutat dengan laptopnya.


Maura masih bingung, dirinya beranjak saat diusir secara sopan oleh pria itu.


Sembari kembali menuju biliknya, Maura terus berpikir, kenapa Tristan menunjuknya menjadi asisten? Kenapa bukan yang lain?


Tapi Maura tak bisa memungkiri bahwa dirinya senang bisa naik jabatan. Karena selain posisinya naik, Maura bisa jadi lebih dekat dengan Tristan. Pikir Maura tersenyum-senyum.


"Maura, Pak Tristan tadi katanya manggil kamu? Kenapa?" Gisel, rekan kerja Maura sekaligus teman dekatnya di kantor bertanya dengan wajah kepo.


"Mm.. Pak Tristan nunjuk aku jadi asistennya." Maura agak bisik-bisik ngejawab pertanyaan Gisel.


"APA? JADI KAMU NAIK JABATAN DONG?! Wuiiih.." seru Gisel heboh hingga karyawan lain mendengarnya dan mengerubungi meja Maura.


Maura gelagapan saat karyawan lain mengerubunginya untuk meminta kepastian dari seruan Gisel barusan. Dasar Gisel ember! Umpat Maura.


"Kamu naik jabatan, Maura?"


"Waah.. Selamat ya."


"Jangan lupa traktiran, Ra."


Berbagai ucapan selamat dan decak kagum membanjiri Maura, sementara gadis itu hanya tersenyum canggung membalasnya.


Semua menyalimi Maura, kecuali satu orang. Seorang wanita yang hanya duduk di tempatnya, raut wajahnya mengekerut, ada ketidaksukaan dari wanita tersebut melihat keberhasilan Maura.


"Sial! Gue yang udah kerja hampir tiga taun cuma gini-gini aja, sedangkan dia yang cuma bocah magang bisa langsung naik pangkat!" dengus wanita itu dalam hati. Hatinya memanas menahan iri.


"Mawar, kamu kenapa diem aja. Ayo selamatin Maura." wanita di sebelahnya menegur wanita bernama Mawar itu.


"Eh, em.. nanti aja lah. Kerjaanku numpuk nih." jawab Mawar dibarengi cengiran paksanya.


Mawar kembali memandang Maura, tatapan kebencian menyorot tajam ke arah Maura yang tersenyum pada rekan-rekannya.


"Awas lo anak baru!"


šŸšŸšŸ


Siang ini Cia, Viral sama Thoriq mengunjungi rumah Kauki untuk menjenguk gadis itu.


Cia yang emang paling perhatian di antara teman yang lainnya gak berenti ngoceh mencekoki Kauki dengan berbagai macam obat-obatan yang dia bawa.

__ADS_1


"Nih, ini ramuan herbal dari nenek akoh. Katanya bisa nyembuhin demam. Diminum ya, Ki." cuit Cia bak tukang obat di pasar-pasar.


"Iya, Ci. Tapi.. gue kan udah ada obat dokter.


"Halah.. Obat dokter gak bisa ngejamin, Ki. Mending ramuan nenek moyang yang udah terbukti dari doloe."


"Iya deh iyaa.." Kauki nahan senyum geli ngeliat Cia yang menggebu-gebu ngasih dia rekomendasi obat nenek moyang.


Viral menggeser Cia hingga gadis itu hampir jatoh, untungnya, Thoriq selalu siap siaga di samping gadis berkacamata bulat itu.


"Iih.. Viral, hati-hati dong!" dengus Cia yang gak dipeduliin Viral.


"Ka-Kauki, ka kata orang, o-orang sa-sakit itu ha harus makan makanan ya-yang mengandung vit-vitamin. Ni-nih gue ba-bawain buah bu-buahan."


"Makasih ya, Viral.. Duh, baik banget sih." Kauki ngelus pipi Viral, cowok itu cengar-cengir dielus Kauki.


"Yaelah... Kalian.. kalo jenguk orang sakit tuh bawainnya jangan yang biasa dong. Apaan tuh, buah sama obat? Kalo yang sakit orang macam Kauki, kalian harusnya bawa ini nih," Thoriq menepuk paper bag berisi kardus persegi.


"Wuiih.. PS4!" seru Kauki girang ngeliat hadiah yang Thoriq bawa.


Thoriq tersenyum miring lalu mainin alisnya ke arah Cia dan Viral, ngeledek. Sementara dua orang yang diledek cuma melengos.


"Makasih ya, Thor. Tapi.. gue udah nggak dibolehin lagi maen PS."


"Lah? Kenapa?"


"Ya gue kan udah mulai masuk semester dua nih, jadi kata Kak Tristan gue harus ngurangin maen game. Gue harus banyakin belajar biar bisa lulus dengan nilai tinggi." jelas Kauki ngerasa nggak enak.


"Yaah.. Percuma dong gue beliin lo ini." Thoriq manyunin bibirnya.


"Eh, enggak kok. Gue pasti bakal maenin kalo lagi bosen. Makasih ya, Thor."


"Hehe sama-sama, Ki."


"Yaelaah.. PS4 doang mah Kauki juga sanggup beli kali, Thor." Cia nyinyir. "Hati-hati, Ki, jangan-jangan itu cuma modus."


"Apaan sih, orang niat gue tulus ngasih hadiah ke Kauki. Gue tuh ngasih Kauki PS4 karena Kauki suka maen game."


"Wak wak wak," celetuk Viral menggerakkan tangannya seperti mulut bebek saat menyaksikan dua sejoli yang gak kunjung jadian itu adu mulut.


"Udah ih, malah pada berantem," lerai Kauki pada Thoriq dan Cia yang sekarang saling adu punggung.


"Makanan datang.." seru Alpha membawa semangkuk samyang. "Nih, Ki. Gue udah bikinin kesukaan lo. Samyang!"


"Samyang? Lo gila? Kauki lagi sakit, man, malah lo kasih samyang." Thoriq geleng kepala, gak ngerti sama jalan pikiran Alpha.


"Kenapa emang? Kauki kan suka samyang."


"Ya tapi Kauki kan lagi sakit, harusnya kamoh bikinin bubur. Samyang kan pedes banget, yang ada Kauki malah sakit perut." timpal Cia.


Kauki manggut-manggut menyetujui, Alpha natap Kauki cemberut.


"Yaah.. Percuma dong gue bikinin ini buat lo, Ki,"


"Gak ada yang nyuruh," cuek Kauki.


"Ya-ya udah.. Sam-samyangnya buat gu-gue aja!" Viral tanpa permisi ngerebut piring berisi samyang di tangan Alpha dan melahapnya.


Kauki terkekeh. Kamar Kauki sekarang rame karena lima sahabat itu. Cia dan Thoriq yang debat dengan Viral dan Alpha yang mengompori dua mahluk itu, sedangkan Kauki yang masih lemes cuma jadi penonton.


Suara gelak tawa dan celotehan berkumandang di kamar Kauki, hingga akhirnyaa..


Bruut!


Seketika ruangan jadi sunyi saat bunyi yang menyenangkan itu menggema.


"Ew, Kauki," Alpha nyeletuk memecah keheningan membuat semua menatap Kauki.


Kauki yang ditatap bak maling ketangkep basah cuma bisa melongo.


"Oh my God, Kauki!"


"Kauki kentuuut.." Cia nutup hidung.


"Jo-jorok Kauki," Viral menaruh piring samyangnya di meja.


"Whaaat?"


Semua yang tadinya duduk di deket Kauki sekertika bangkit dan ngambil tas masing-masing, kemudian ngacir, pulang.


"Gue pulang ah. Kauki jorok."


"Akoh juga. Assalamualaikum!"


"Wa-wa'alaikumsalam. Guys, come back. Sumpah bukan gue, guys. GUYS!" Kauki mencoba ngebela diri saat tiga temannya ngacir.


Alpha cuma berdiri di samping ranjang sambil ngibas-ngibasin tangan di depan hidungnya.


Kauki noleh ke arah sohib gantengnya itu dengan muka cemberut.


"Alpha, that wasn't me," rajuk Kauki memprotes tuduhan Alpha tadi.


Alpha cengar-cengir, "I know, sweety. It was me."


Kauki menganga, alisnya menukik.


"*******, ALPHAAAA!!"


šŸšŸšŸ


Besoknya Kauki udah mulai berangkat lagi, walaipun belum sehat-sehat amat, Kauki tetep kekeuh karena takut ketinggalan pelajaran.


"Eh, abis kelulusan nanti, kita hiking ke semeru yuk!"


"Yaelah, masih jauh kali, Ci."


"Ya rencana kan boleh, Al."


"A-ayo aja."


"Menurut kamoh gimana, Ki?" Kali ini Cia nanya pada Kauki yang sibuk nyalin.


"Em.. Terserah," jawab Kauki masih fokus ke bukunya. "Eh, Ral, yang ini gimana sih? Gue nggak ngerti."


Viral nengok ke arah buku.


"Oh.. I-ini, beg-begini, Ki."


Alpha sama Cia melongo, Kauki juga cengo. Dia kayaknya salah minta Viral ngejelasin materi yang dia kasih.


Sebenarnya Viral ngejelasin dengan cara yang benar, cuma kan karena dia ngomongnya gagap, temen-temennya jadi owgel dengerin dia ngomong.


"Nge-ngerti nggak, Ki?"


"Ha? Oh, ngerti kok, Ral. Makasih ya."


"Elo ngomong kayak sinyal di gunung, Ral. Putus-putus." tawa Alpha yang mendapat pelototan Kauki.


Viral cuma terkekeh, dia nggak tersinggung sama sekali.


"Gu-gue juga nggak ma-mau beg-begini." ucap Viral bikin Alpha garuk-garuk kepala, ngerasa bersalah.


"Sori, Ral."


"I-iya." Viral menerawang, "Gue harap, su-suatu hari nan-nanti, bakal ada ya-yang nyembuhin ga-gagapnya gu-gue. Ka-kalo dia ce-cewek bakal gue nik-nikahin. Kak-kalo cowok, gu-gue jadiin sa-saudara." tuturnya.


"Elo itu Viral Bramasta apa Dayang Sumbi sih?" celetuk Alpha bikin yang lain terbahak.


"Viral kerasukan Dayang Sumbi yang bener."


"Iya deh, Ral, gue doain nanti bakal ada yang bisa nyembuhin gagap lo." ucap Kauki dibalas senyum manis Viral.


šŸšŸšŸ


Maura baru aja keluar dari kantor, gadis itu membuang nafas panjang hari ini sangat melelehakan buat dia. Ternyata jadi asisten bos itu lebih capek dari apa yang dia pikir.


Walaupun Maura seneng karena bisa sama Tristan terus, tapi pria itu sama sekali gak bisa bersikap hangat padanya.


Mobil jeep berwarna hitam itu terus berdiam beberapa meter dari Maura. Di dalamnya terdapat tiga orang pria berpenampilan preman dan satu wanita di balik kemudi. Mereka tampak mengintai dari dalam mobil.


"Orangnya yang mana sih, Bos?"


"Sebentar, nanti juga dia nongol. Nah, nah, itu Maura! Tapi, Tristannya mana? Bagus, Maura lagi sendirian, itu artinya misi ini akan berjalan mulus. Kalian bertiga, liat tuh cewek yang pake blazer ungu."


"Yang lagi celingukan itu, Bos?"


"Iya. Cepet kalian bawa dia sebelum keliatan banyak orang!"


"Baik, Bos."


Wanita itu tersenyum menyeringai, "Sori, Maura, gue nggak suka ada yang lebih unggul dari gue."


Maura berdecak dan menghentakkan kakinya sebal, "Ini taxi pada kemana siih.."


Maura membuang nafas kasar, ia kembali meraih ponselnya dan sibuk memesan ojek online. Tak menyadari kalau di belakangnya telah berdiri tiga pria berbadan besar nan berwajah garang.


Ketiganya tampak saling mengkode sampai salah satunya membekap Maura dengan sapu tangan yang telah di tetesi obat bius.


HUP!


"Hhp.. Mm.. Mmm..!!" Maura kesulitan bernafas dan meronta-ronta. Namun kekuatan tiga preman tak sebanding dengan dirinya yang cuma seorang wanita.


Maura masih mencoba melepaskan diri, namun obat bius itu bereaksi kemudian penglihatannya mulai kabur dan tubuhnya lemas. Maura pun pingsan dalam bekapan preman itu.


"Bos pasti seneng."


"Ayo, kita bawa dia ke Bos."


"Iya, sebelum ada yang liat."


Ketiga pria itu lekas membopong Maura ke dalam mobil dimana Bos mereka menunggu.


šŸšŸšŸ


Alpha melirik jam tangannya, ini udah waktunya Maura pulang. Cowok itu berencana menjemput Maura.


Tapi Alpha terbelalak saat melihat gadis itu dibekap dan dibawa masuk ke dalam mobil oleh pria-pria bertubuh kekar.


Alpha panik dan segera mengikuti, tangannya memegang telpon, menelpon seseorang.


"Halo?"


"Kauki!"


"Kenapa, Al?"


"Ki, Maura.. Preman.. Maura.. pingsan.. dibekep!" jelas Alpha gak jelas saking paniknya.


"Lo ngomong apaan sih? Gak ngerti gue."

__ADS_1


"MAURA DICULIK!"


Kauki yang berada di toko buku bersama Nando, membelalakan matanya mendengar kabar dari Alpha.


"Apa?"


"Cepet ke sini, Ki. Kasian Maura."


"Eh, i-iya. Lo di mana sekarang?"


"Gue lagi ngikutin para penculik itu. Gue nggak tau mereka mau bawa Maura ke mana."


"Ya udah, lo ikutin mereka terus, nanti lo kabarin mereka berenti di mana, biar gue bisa nyusul. Ya?"


"Iya, Ki. Cepet ya, Ki."


"Iya."


šŸšŸšŸ


Kauki menutup ponselnya, dia menghampiri Nando yang tengah sibuk memilih buku dengan tergesa.


"Nando, aku pulang duluan ya."


"Loh, kenapa?"


"Eng.." Kauki nggak mau ngelibatin Nando, dia nggak mau Nando ikut dan malah kenapa-napa. "Emh.. Ada urusan mendadak. A-ku duluan ya. Bye!"


Kauki langsung lari dan mencari angkutan umum. Dia harus buru-buru atau kemungkinan buruk bakal terjadi, dia nggak mau Maura kenapa-napa.


Sementara Nando yang kepo ikut keluar dari toko buku. Dia ngeliat tingkah Kauki yang keliatan panik bikin Nando curiga.


"Ikutin nggak ya? Ikutin aja deh." putus Nando setelah menimbang-nimbang.


Cowok berkacamata itu segera mengambil vespa biru pastelnya dan mengejar Kauki.


šŸšŸšŸ


Kauki udah nyampe di tempat yang Alpha kirim. Cewek yang menguncir dua rambut coklat panjangnya itu langsung bergabung bersama Alpha dalam mobil cowok itu.


Ternyata para penculik itu membawa Maura ke sebuah gedung. Kayaknya dulu bekas pabrik kecil, tapi udah lama ditinggal.


"Gimana nih, Ki? Gue khawatir banget sama Maura."


Kauki ngeliat penculik itu membawa Maura masuk ke dalam gudang.


"Ayo, Al. Kita ikut masuk."


"Tapi-"


"Tenang aja, Alpha, gue udah nelpon polisi tadi, mungkin kurang dari setengah jam mereka dateng. Sekarang kita masuk. Ayo!"


Kauki masuk ke dalam gudang diikuti Alpha. Mereka sembunyi-sembunyi, takut ketauan.


Di sana mereka ngeliat Maura digeletakin di atas kardus. Gak lama kemudian datang seorang wanita berwajah bule.


ļæ¼


Mawar


"Gimana, Bos?"


Wanita yang gak lain adalah Mawar itu tersenyum miring.


"Bagus.."


"Jadi nih cewek mau kita apain, Bos?"


"Terserah kalian. Mau dirusak kek, dibunuh, gue nggak peduli." ujar Mawar membuat para orang suruhannya menggosok-gosok tangan mereka seraya tersenyum lebar.


"Ini bayaran kalian. Terserah mau kalian apain dia. Gue pergi dulu, lo nikmatin deh tuh cewek sialan." kata Mawar lalu keluar meninggalkan Maura bersama tiga pria kekar itu.


Alpha menatap was-was saat para penculik itu mengangkat tubuh Maura.


"Ki, Maura mau diperkosa, Ki."


Kauki diem, dia juga panik. Otaknya mencoba berpikir keras.


"Ki, elo hadapin preman-preman itu ya, Ki."


Kauki menoleh kasar pada Alpha selepas cowok itu memberinya intruksi.


"Gue ngehadapin mereka? Terus apa gunanya lo di sini?" marah Kauki.


"Ki, elo kan bisa bela diri sementara gue nggak. Tapi gue bakal tetep bantuin lo kok, nanti ketika lo ngelawan mereka dan bikin mereka lengah, gue bakal bawa Maura pergi dari sini diem-diem."


"Dan lo bakal ninggalin gue di sini gitu?" Kauki mengernyit, gak suka sama rencana Alpha.


"Kauki, pliis.."


"Ya tapi, Alpha-"


"Kauki! Lo tega ngebiarin Maura dirusak sama para penculik itu!" bentak Alpha.


Kauki memandang Alpha dengan tak terbaca. Dia kecewa, marah, sedih. Smeua jadi satu hingga menimbulkan rasa sesak di dadanya.


"Sagitu cintanya lo sama Maura, sampe rela numbalin diri gue, Alpha?"


"Kauki buruan!" Alpha mencak-mencak ngeliat keterdiaman Kauki, sementara di depan sana Preman itu mulai ngebuka ikatan tali Maura.


Kauki gak bisa nolak, gadis itu melangkah maju dengan tak yakin.


"Dasar Alpha gak guna!" desis Kauki.


Para penculik itu terkesiap ngeliat keberadaan Kauki.


"Siapa kamu?!"


"Gak ada waktu buat kenalan, Om. Gue temennya dia. Udahlah, mending langsung baku hantam aja kita." ucap Kauki dingin.


"Ooh.. Berani ya lu bocah kecil."


Para penculik itu mengambil ancang-ancang. Kauki menelan ludahnya, sebenernya dia takut.


Kauki melirik Alpha, cowok itu memberinya semangat lewat kepalan tangan. Tapi entah kenapa, Kauki sama sekali tak terpacu akan dukungan itu.


"Alpha.. I'm not sure with this." Kauki menarik nafas, kemudian mempersiapkan diri.


BAK


BUK


BAK


BUGH!


Di menit berikutnya, Kauki berhasil melumpuhkan ketiga penculik itu. Maura yang mendengar suara keributan pun tersadar dari pingsannya.


Tubuhnya gemetar saat ngeliat Kauki yang tengah bertaung melawan tiga pria yang badannya lebih gede dari gadis itu.


"Kauki.." ucap Maura lirih.


Kauki menoleh dan mengkode gadis itu supaya lari. Maura tampak ragu, saat itu dia ngeliat Alpha yang melambai-lambai.


"Lari, Kak Maura, Lari!"


Karena sibuk mengkode Maura, Kauki nggak sadar kalo salah satu penculik itu bangkit dan berdiri di belakangnya.


BUGH!


"KAUKII..!!" Maura menjerit saat Kauki terjatuh akibat pukulan itu.


Alpha yang ngeliat itu bergegas menarik Maura keluar sementara gadis itu terus menjeritkan nama Kauki.


Sebelum benar-benar keluar, Alpha sempet ngeliat Kauki tumbang karena preman itu membanting Kauki ke tumpukan kardus.


Alpha terpaku, "Bangun, Ki.. Lawan mereka. Elo cewek kuat!" batin Alpha menatap nanar Kauki.


Kauki mencoba bangkit, tapi tak mampu, wajah Kauki pun babak belur dengan darah di hidung dan sudut bibir Kauki.


BUKK!


Preman itu memukul punggung Kauki dengan sebuah kayu.


"Uhuk.. Help.." Kauki merintih, kondisinya yang masih lemas sehabis demam membuat Kauki lemah melawan para penculik itu.


Kauki sempat melihat Alpha dan Maura hendak kabur dengan mata sayunya. Tak lama kemudian mata itu tertutup rapat. Kauki tak sadarkan diri.


"Hei, mau lari ke mana kalian?" sentak salah satu preman itu menbuat Aloha tersadar dan segera menarik Maura pergi meninggalkan gedung. Dia berencana menenangkan Maura nanti.


Ketiga penculik itu membiarkan Alpha lari, toh sekarang ada mangsa yang lebih montok. Pikir mereka mesum.


"Enaknya kita apain nih cewek songong?"


"Kita-"


Ngiung... Ngiung...


"POLISI... POLISII.."


Tiba-tiba ada yang berteriak menyebut-nyebut polisi, bersamaan itu, suara sirine juga terdengar membuat ketiga preman itu kelabakan dan keluar berjamaah kemudian memasuki mobil, pergi dari tempat itu.


Sesorang yang berteriak itu, yang ternyata Nando, keluar dari persembunyiannya begitu para penculik itu pergi.


Ternyata bener kecurigaan Nando, ada yang gak beres dengan tingkah Kauki. Dan keputusannya untuk mengikuti Kauki tak sia-sia.


Dan saat ngeliat Kauki yang hendak menjadi pahlawan buat wanita yang Nando gak kenal, saat itu juga Nando panik.


Otak jenius Nando memberikan ide, lelaki itu mengunduh backsound sirine polisi, menyetelnya kuat-kuat dan berteriak menyebut nama polisi. Dan Nando bersyukur rencananya berhasil.


"Kauki.." panggil Nando lirih melihat keadaan Kauki.


Hati Nando terasa teriris, matanya berkaca-kaca melihat Kauki. Gadis itu tak sadarkan diri dengan darah dan luka lebam di mana-mana, Nando berani bertaruh, pasti Kauki tengah kesakitan sekarang.


Nando khawatir, takut, sedih. Semua rasa itu membuat Nando sadar bahwa dirinya mempunyai perasaan lebih pada Kauki.


"Ki-kita ke rumah sakit sekarang ya, Ki."


Nando segera mengangkat tubuh Kauki keluar dari tempat itu. Setelah sebelumnya dia menelpon rumah sakit untuk mengirimkan mobil ambulan supaya lebih mudah membawa Kauki.


You know I'm the one who put you up there


Name in the sky, does it ever get lonely?


Thinking you could live without me


Thinking you could live without me


šŸšŸšŸ

__ADS_1


__ADS_2