Back To Ya

Back To Ya
Bab 12


__ADS_3

Kriiiingg..


Bel masuk berbunyi, seluruh murid langsung memasuki kelas masing-masing, begitu juga murid-murid kelas IPA 2, kelasnya Alpha dan Kauki.


Bucin, guru berwajah seksi yang merupakan guru biologi masuk membuat seluruh siswa terdiam.


"Hari ini kita ulangan." ucap Bucin disambut decakan dan umpatan kesel para murid.


"Em.. Bu, PR ya-yang kemarin gi-gimana?" Pertanyaan Viral membuat semua mata menyorot tajam ke arahnya, lemparan bola-bola kertas serta berbagai alas tulis pun didapat Viral dari temen sekelasnya.


"Oh iya, sebelumnya, kumpulkan pekerjaan rumah kalian," tagih Bucin bikin Viral makin banyak haters.


"Viral begooo."


"Bocor lu gagap!"


"Gue belum selesai semua *****!"


"A-apaan sih. Ki-kita tuh ng-nggak boleh bo-bohong sama gu-guru." Viral ngebela diri, dia gak takut sama sekali sama tatapan temen-temen sekelasnya, karena yang dia lakuin gak salah kan?


Cia yang ngeliat temenn sebangkunya dibully langsung ngebela dong. "Kalian, tindakan Viral tuh bener. Gimana Indonesia mau maju kalo PR aja ditutup-tutupin dari guru!"


Siswa siswi yang protes tadi cuma menghela napas pasrah. Alhasil mau nggak mau, selesai gak selesai, dan bener gak bener tugas pun mereka kumpulin.


Tapi ada satu orang yang kaget karena dirinya lupa ngerjain PR. Cowok itu Nando.


Kauki ngeliat Nando yang cuma diem jadi heran. Dihampirinya meja cowok itu.


"Nando? Kamu gak ngumpulin tugas?" tanya Kauki ketika yang lain sibuk maju ke depan ngumpulin tugas.


Nando menggeleng lemas, keliatan banget kalo cowok itu frustasi.


Dari gelengan Nando, Kauki nyimpulin satu hal, Nando emang belum ngerjain PR-nya. Kauki sontak heran, karena biasanya Nando yang paling awal ngumpulin PR, lah ini?


"Ki, sana kumpulin PR. Nanti Bucin ngamuk loh," kata Alpha setelah ngasih PRnya.


"Ng.. Iya."


"Nando? PR kamu mana?" tanya Bucin yang nggak menemukan nama Nando di antara buku-buku PR yamg terkumpul.


"Em.. Maaf, Bu, saya lupa," jawab Nando berusaha tenang.


Bucin melotot, heran sekaligus marah. Digebraknya meja di depannya dengan keras.


BRAKK!


"A-ayam ayam.." Viral ngelus dada, latah.


"KENAPA BISA LUPA?!"


"Karena saya nggak inget, Bu."


"Bbff.." Para murid nahan tawa denger jawaban Nando, lupa sama nggak inget apa bedanya, Nando?


"Alasan aja! Pokoknya saya nggak mau tau, kamu saya hukum bersihin semua toilet di sekolah ini SE-KA-RANG!"


"Baik, Bu." Tanpa mau berlama-lama Nando beranjak menuju tempat hukuman.


Sebelumnya lelaki berkacamata itu mengelus lengan Kauki yang menatapnya kasian.


'Aku gak apa-apa' Nando seolah bilang begitu lewat tatapannya.


Bucin mendengus saat Nando keluar kelas.


"Kalo kalian tidak mau seperti Nando, kerjakan PR. Jangan malas, jangan banyak alasan!" kata Bucin.


Semua cuma bisa mingkem, gak berani ngejawab omongannya Bucin yang lagi ngamuk. Ini masih mending cuma ngomel-ngomel, biasanya kalo udah terlampau kesel, Bucin bakalan ngeluarin teriakan yang bikin kuping siapapun nyeri. Bahkan, tembok pun bisa retak-retak karena teriakannya.


Kan ngeri..


Kauki diem di tempat, dia ngerasa nggak tega sama Nando yang dapet hukuman. Ya emang salah Nando sih kenapa nggak ngerjain PR. Tapi kalo dihukum sendiri kan kasian, mana toilet sekolah banyak dan luas-luas lagi.


Ketika Bucin ngebagiin kertas ulangan, Kauki cuma diem. Otak Kauki berpikir keras, gimana caranya biar dia dihukum juga sama Bucin.


Diliriknya Cia yang lagi fokus ngerjain soal, Kauki menyeringai. Dia punya ide.


Sreeet..


Kauki ngerebut kertas jawaban Cia bikin cewek berpipi chubby itu kaget.


"Iiih.. Kauki!" decak Cia berisik, Bucin yang ngeliat itu langsung menghampiri.


"Ada apa ini?"


"Ini, Bu, Kauki ngambil kertas jawaban akoh," adu Cia.


Bucin melotot ke arah Kauki, dibalas muka polos gadis itu.


"Kauki, bener yang dibilang Cia? Kamu nyontek?"


"I don't cheating, i just.. looking at the answer," jawab Kauki tanpa dosa.


"That's cheating!" dengus Bucin geregetan.


Kauki cengar-cengir. Alpha geleng kepala, heran kenapa Kauki bisa nyontek. Kauki kan ranking 2 di kelas setelah Cia, masa iya nyontek sih? Pikir Alpha curiga.


"Sorry, Cia."


"Iya, gak apa-apa."


"Karena kamu sudah menyontek, kamu saya hukum bersihin toilet juga kayak Nando!"


"Hah? Serius, Bu?" Muka Kauki berseri-seri.


"Ya serius!"


"Ah, gracias, Bucin!"seru Kauki memeluk Bucin kenceng kemudian ngacir keluar dengan langkah riang gembira.


Tentu hal itu bikin Alpha serta kawan-kawannya yang lain jadi heran.


"Dihukum kok bahagia?" gumam Bucin ngeliat tingkah aneh Kauki.


🍁🍁🍁


Nando baru aja bersihin satu bilik toilet saat Kauki dateng dengan senyum lebarnya.


"Nando!"


"Kauki? Kamu ngapain di sini?"


"Ehehe.. Aku dihukum karena ketauan nyontek."


"Kamu nyontek?" Alis Nando berkerut, dia nggak percaya Kauki nyontek. "Nggak mungkin."


"Kenapa gak mungkin?"


"Kamu kan pinter, masa iya nyontek."


"Emang orang pinter gak bisa nyontek?"


Nando garuk-garuk kepala, iya juga sih..


"Ngobrolnya sambil ngerjain hukuman yuk, biar gak kerasa," ajak Kauki ngambil pengepel lantai.


Nando cuma ngangguk, sebenernya dia seneng ada Kauki. Dia jarang bisa berduaan sama Kauki kayak gini.


"Kamu kenapa gak ngerjain PR?" tanya Kauki mulai ngerjain hukumannya.


"Aku lupa."


"Biasanya kamu yang paling depan ngumpulin PR. Kamu kan pinter."


"Orang pinter juga bisa lupa, Kauki, ditambah lagi, lupa kan gak ada obatnya," jawab Nando bikin Kauki terkekeh.


"Iya juga ya. Kenapa ya lupa gak ada obatnya?"


Kali ini Nando yang terkekeh mendengar pertanyaan cerdas Kauki.


"Karena kalo obat lupa diciptain, semua orang bakal balik sama masa lalunya."


"Kalo balik emang kenapa? Kalo masa lalunya indah kan bagus."


"Masa lalu itu ada untuk ditinggalkan, Kauki, supaya kita bisa maju ke masa depan."


Kauki manggut-manggut, terkesima dengan ucapan Nando yang selalu bijak. Nando selalu punya jawaban sekalipun pertanyaan Kauki nyeleneh dan gak masuk akal. Yaa walau pun jawaban Nando agak gak nyambung sih.


Nando sebenernya gemes pengen nyubit Kauki. Pasalnya, tiap Kauki nanya, gadis itu selalu nunjukin muka penasarannya. Pipi mengembung, bibir dimenyon-menyonin, alisnya berkerut dan mata bonekanya yang bening menatap polos meminta jawaban.


Kan gemes pengen nyubit.


Dan hukuman itu pun jadi berasa menyenangkan karena keduanya menikmati setiap detiknya. Setiap kali mata itu beradu pandang, dua jantung saling berdetak liar memunculkan rona di wajah masing-masing.


Kekehan dan tawa gembira lepas dari mulut manis Kauki, membuat Nando terpesona dan bertekad menjaga kebahagiaan itu untuk selalu menghiasi hari-hari Kauki, bukan tangis menyedihkan.


"Eh iya, Nando, aku ada permainan," kata Kauki setelah satu jam mereka ngerjain hukuman, mereka duduk di kursi beton depan ruang musik, sambil minum minuman yang dibeli dari kantin.


"Permainan apa?"


"Judulnya cepet-cepetan."


Nando agak tergelak mendengarnya.


"Oke. Jadi gimana cara mainnya?"


"Jadi, ketika aku nyebut satu kata, kamu harus jawab sesuai yang ada di pikiran kamu. Harus langsung dijawab, gak boleh mikir lebih dari satu detik. Ngerti, kan?"


Nando mengangguk mengerti. "Oke."


"Sip. Kita mulai ya. Ehem, 'uang'."


"Kebutuhan."


"Belajar."


"Penting buat masa depan."

__ADS_1


"'sekolah'!"


"Bekal masa depan."


"'CEO'!"


"Aku di masa depan."


"Kauki."


"Istri aku di masa depan."


Cess


Kauki terdiam, mukanya merah merona. Apalagi onyx coklat gelap Nando natap langsung ke manik coklat terangnya.


"Nando, ih, yang bener jawabnya!" dengus Kauki padahal dirinya baper atas jawaban Nando.


"Loh, salahnya di mana?"


"Au ah. Kita ulangin ya, kali ini jawabnya harus bener."


"Iya iyaa." Nando nahan senyum ngeliat muka manyunnya Kauki. Padahal hatinya juga cenat-cenut karena berani ngegombalin Kauki.


"Emm.. 'Dendam'."


"Hal yang sia-sia."


"'Bucin'."


"Guru bohay."


Kauki ketawa, begitu pun Nando yang geli sama jawabannya yang super refleks.


"Maksud aku, 'Bucin' di sini tuh budak cinta, bukan guru kita yang seksoy itu loh, Nando," kekeh Kauki. Nando cuma garuk kepala.


"Lanjut ya. 'Kesayangan'."


"Mama."


"Kegemaran."


"'Baca buku'."


"'Kecintaan'."


"Kauki."


Kauki langsung nepuk pundak Nando begitu cowok itu ngasih jawaban yang bikin pipinya kembali merona.


"Nando, iih.."


"Apa?"


"Au' ah!"


"Ahaha.. Sekarang gantian. Kamu yang harus jawab pertanyaannya."


"Oke, siapa takut."


"Mm.. 'Tristan'."


"Galak tapi penyayang."


"'Alpha'."


"Cengeng."


Nando terkekeh tapi lanjut ngasih pertanyaan. "Cia."


"Eksis dan cerdas."


"Viral."


"Sahabat yang selalu ada."


"Nando."


"Say-" ucapan Kauki terhenti, dia menatap Nando yang mengulum senyumnya.


"Say apa hayoo?"


"Say...habat.." Kauki ngeles diakhiri cengiran garingnya.


"Oh.. sahabat.." Nando manggut-manggut, "Kirain 'Say-ang."


"Ih, apaan sih, Nando. Udah ah, aku mau masuk, hukuman kita juga udah selesai. Bye!"


Sambil menghentakkan kakinya, sambil membawa rona merah di wajahnya, Kauki ninggalin Nando yang menatap kepergiannya dengan kekehan bahagia.


Nando bahagia bisa ngeliat muka merahnya Kauki, bukan cuma gemesin, tapi juga ngangenin.


Lelaki berkulit putih itu seneng bisa bikin Kauki bahagia. Nando tau walaupun tadi Kauki keliatannya kesel tapi hati gadis itu bahagia.


Cinta, mungkin itu yang jadi alasan Nando untuk selalu membuat Kauki bahagia.


🍁🍁🍁


Jam istirahat di kantor, Maura sibuk sama makan siangnya. Sesekali dia balesin pesannya Alpha yang nyuruh dia supaya gak telat makan.


Maura tersenyum, ternyata pacar brondongnya ini tipe cowok yang perhatian. Walaupun Maura bosen karena Alpha ngechat cuma buat nanya udah makan apa belum.


Saat ngalihin pandangannya ke pintu kantin, pada saat itu Tristan muncul barengan Miko yang gak lain asisten barunya.


Setelah kejadian penangkapan Mawar tempo lalu, Maura minta untuk turun jabatan jadi karyawan biasa. Karena dia takut bakal ada yang iri lagi dengan dirinya.


Tapi Tristan menolak dan malah menjadikan wanita cantik itu sekretarisnya. Maura cuma bisa nurut.


Oh iya, Maura baru aja lulus kuliah seminggu yang lalu. Sayangnya saat kelulusan itu Alpha gak bisa hadir lantaran sibuk.


Tapi Maura tetep seneng karena Kauki bisa hadir. Terlebih gadis imut itu membawa sang kakak, Tristan. Gak tau kenapa kehadiran Tristan jauh membuat Maura ngerasa lengkap meski pun Alpha yang notabenya pacar gak ada di sana.


Maura menatap Tristan yang tampak memesan teh, gadis manis itu tersenyum mengenang. Tristan emang lebih suka teh dari pada kopi, kata Tristan, minum kopi bikin mulutnya bau sama giginya kuning. Tristan gak mau giginya kuning, kayak kakek-kakek katanya. Maura terkekeh kalo ingat kenangan saat mereka masih pacaran.


Tapi kemudian dia menggeleng, inget Maura, kamu udah punya Alpha. Dan Tristan, cuma masa lalu! Batin Maura.


"Eh, kenapa kamu?" tanya Gisel heran ngeliat Maura geleng-geleng tanpa sebab.


"Hah? Enggak, kok."


"Lah itu tadi, geleng-geleng, udah gitu senyum-senyum segala lagi ngeliat Pak Tristan. Hayooo naksir yaa?" goda Gisel membuat pipi Maura tambah merah.


"Eh, enggak kok. Ih apaan sih, Gisel, aku tuh udah punya Alpha."


"Hmm.. Masih ngelak segala. Eh, lagian nih ya, kalo kamu naksir Pak Tristan juga gak apa-apa, kamu lebih cocok sama Pak Tristan ketimbang pacar kamu yang masih sekolah. Siapa tuh namanya? Alpha-mart bukan?"


"Alpha!" dengus Maura jengah. Tapi dia seneng waktu Gisel bilang dirinya cocok dengan Tristan.


Tapi apa boleh buat, sekarang ini dia punya Alpha. Lagian, Tristan cuma nganggep dia temen biasa, jadi Maura gak bisa berharap lebih. Hmm..


🍁🍁🍁


"Mami es seria? mami quieres visitar aqui? (Mami beneran? Mau main ke sini?" tanya Kauki girang saat mendapat telpon dari maminya yang berada di Spanyol.


"Si, cariño. Mañana también iremos allí. (Iya, Sayang. Besok kita berangkat ke sana)."


"Ah, i'll waiting you, Mamita!" seru Kauki gembira membuat sang mami terkekeh di sana.


"Bien, querida, mamá cuelga el teléfono primero. tenemos que empacar. (Oke, Sayang. Mami tutup dulu telponnya. Kami harus kemas-kemas baju)."


"Ah, si. Take care, Mamasita."


"Adios, sweety cupcake. Mami te ama. (Daah, Sayang. Mami sayang kamu)."


"Yo también te amo Mami. (Aku juga sayang Mami)," balas Kauki kemudian sambungan terputus.


Kauki masih tersenyum bahagia karena maminya mau pulang. Gadis itu meletakkan hpnya di atas meja kemudian terdiam saat mendapati ketiga sahabatnya tengah menatapnya dengan mulut terbuka. Cengo.


"Awas lalet masuk," celetuk Kauki.


"Kamoh tadi ngomong apa, Ki? Kok akoh gak ngerti?" tanya Cia dengan muka cengonya.


"I-iya." Viral ngangguk, jujur kepalanya pusing denger percakapan Kauki tadi yang sama sekali gak dimengertinya.


"Kauki tadi ngomong bahasa Spanyol, bahasa emaknya Kauki," jawab Alpha ngewakilin Kauki yang sibuk melahap baksonya.


"Ooo.. Emang Maminya Kauki gak bisa ngomong bahasa Indonesia?" tanya Cia. Dia emang udah temenan lama sama Kauki tapi sama sekali belum ketemu sama orang tuanya Kauki.


"Em.. Bisa sih. Cuma yaa sekata dua kata, Mami gue kan gak ada turunan indo. Tapi kalo Daddy, papanya Daddy orang sunda, Daddy kadang main ke indo dan lumayan lancar ngomong pake bahasa indo. Yaa walau pun sering diselip pake bahasa inggris sama Jepang sih," jelas Kauki, Cia manggut-manggut.


"Enak ya jadi lo. Bisa tau empat bahasa sekaligus. Bahasa Spanyol, Jepang, inggris, sama sunda," ujar Alpha mencocol basrengnya ke saos.


"Iya sih."


"Terus, terus, tadi Mami kamoh bilang apa?"


"Dia bilang mau ke sini. Besok udah berangkat dari sana," jelas Kauki riang.


"Pa-pantesan seneng. Ta-taunya a-ada ya-yang mau di-didatengin Ma-maminya," celetuk Viral.


"Ehehe.."


"Nanti kalo Mami kamoh udah pulang, kenalin akoh ya, Ki. Akoh kan pengen ketemu sama orang tua kamoh."


"Ashiaap.." balas Kauki pake gayanya Atta halilintar.


"Nga-ngapain sih, nan-nanti tuh me-mereka mau qu-quality time!"


"Iih.. ya suka-suka akoh lah. Kaukinya aja gak keberatan!"


"Eeh.. udah udah. Cia, elo nih gak ada Thoriq, sama Viral geludnya."


"Ta-tau!"


"Iih.. Rese ya kalian berdua!"

__ADS_1


Kauki terkekeh ngeliat muka asem Cia yang kena bully Alpha sama Viral. Sayang banget Thoriq gak ada, kalo ada pasti tuh cowok belain Cia abis-abisan. Secara Cia kan pujaan hatinya Thoriq hehe.


🍁🍁🍁


Sore ini setelah ngejemput Maura dari kantor, Alpha ngajak Maura makan di salah satu kafe.


Maura tadinya mau nerima tawaran Tristan, tapi ternyata Alpha udah nunggu, masih pake seragam sekolah, kayaknya baru pulang juga.


"Kamu gak ganti baju?" tanya Maura yang risih sama pengujung yang menatap mereka, malah ada yang kasak-kusuk ngomongin dia.


Mungkin mereka ngira kalo Maura ini tantenya Alpha. Atau mungkin mereka pikir Maura ini tante girang yang doyan brondong. Ya walau pun faktanya Maura pacaran sama brondong, tapi Maura kan bukan tante girang.


"Nggak."


"Kenapa gak ganti dulu sih.."


"Ya udah sih, yang penting aku pake baju, gak telanjang," jawab Alpha enteng, Maura mendelik.


"Apaan sih omongannya!"


"Ehehe.."


"Eh iya, aku mau nanya sesuatu sama kamu."


"Nanya apaan?" tanya Alpha sambil nyomot kentang gorengnya.


"Kamu sama Kauki temenan udah berapa lama sih?"


"Kok tiba-tiba ngomongin Kauki?"


"Jawab aja," gemas Maura.


"Ya udah iya. Aku sama Kauki itu udah sahabatan sejak lahir. Awalnya orangtuaku, lebih tepatnya Bunda sahabatan sama Maminya Kauki waktu mereka kuliah di California. Dan persahabatan mereka nurun ke aku sama Kauki." Alpha senyum kalo inget cerita bunda Mia tentang persahabatannya dengan Maminya Kauki.


"Percaya nggak, aku sama Kauki bahkan lahir di hari yang sama. Yaa walau pun beda tempat, Kauki lahir di Spanyol, aku di Jerman. Waktu kita lahir juga cuma selang dua detik, Kauki lebih dulu dari aku, dan karena itu dia nyuruh aku buat manggil dia kakak. Haha.. lucu, kan? Padahal cuma beda dua detik," jelas Alpha panjang lebar menjelaskan persahabatannya dengan Kauki.


Maura memutar-mutar gelas capucinonya.


"Lama banget, ya?"


Alpha cuma ngangguk dan menyeruput lemon tea nya.


"Kalian sahabatan dari bayi, dan sekarang umur kalian udah 18, selama itu.. apa gak ada di antara kalian yang jatuh cinta?"


Uhuk!


Alpha terbatuk ketika Maura nanya gitu.


"Cinta?" Maura mengangguk, Alpha terkekeh. "Ya nggak lah. Kita itu dari kecil selalu dilabeli sebagai saudara kembar. Jadi ya sampe sekarang aku sama Kauki ngerasa kalo kami ini memang begitu. Jadi nggak ada alasan buat saling suka."


"Masa sih? Terus setiap kalian peluk-pelukan, cium pipi cium kening gitu, yakin gak ada rasa suka sama sekali?"


Alpha terdiam. Gak biasanya Maura ngebahas hubungannya sama Kauki. Cowok itu lantas menyadari sesuatu.


"Kamu cemburu sama Kauki?"


"Enggak.." elak Maura santai, dia emang gak cemburu. "Aku cuma heran aja. Sahabat kok peluk-peluk, sama cium-cium, sih?" katanya seraya menyeruput cappucino miliknya.


Maura sempet beberapa kali nangkep Alpha yang lagi meluk bahkan nyium Kauki, atau Kaukinya yang meluk Alpha. Walau pun gak cemburu, Maura kan heran, masa sih gak ada rasa suka?


Tapi Alpha malah menyimpulkan kalo Maura cemburu. Dia pikir sih wajar aja dia begitu sama Kauki, toh mereka udah sahabatan lama.


Wajar kalo Maura cemburu, selama mereka pacaran aja Alpha cuma merangkul, meluk sama pegangan tangan sama Maura.


Gimana ya, Maura sama Kauki tuh beda. Alpha kadang segan sama Maura, jangankan nyium, meluk aja kayak ada suatu batas yang bikin Alpha enggan melewatinya.


Sedangkan kalo sama Kauki tuh rasanya bebas aja kalo peluk atau cium, mungkin karena sejak kecil peluk sama cium udah biasa mereka lakuin, dan mungkin juga karena mereka udah dari kecil sahabatan, jadi Alpha nyaman sama Kauki.


Tapi kalo Maura cemburu, dia harus ngomongin ini ke Kauki.


🍁🍁🍁


Brukk..


Kauki menjatuhkan bokongnya ke atas sofa dengan helaan napas, dia baru aja pulang dari taman. Sepulang sekolah dan berganti baju, Nando mengajaknya ke taman karena pengen kenalan sama Ferguso setelah gadis itu bercerita tentang peliharaan barunya.


Dan ternyata, Nando juga punya kucing yang udah dia pelihara sejak SMP, namanya Peach.


Kauki membuka hp dan ngeliat foto yang dia ambil tadi. Ada foto dia sama Nando, foto Ferguso sama Peach lagi main, foto mereka berempat, ada juga foto Peach sama Ferguso yang ngeliat ke kamera.


Kauki terkikik sendiri saat nge-zoom muka peach, kucing Nando itu punya muka sedih kayak orang lagi galau.



Peach, kochenk orennya Nando 🤣


"Peach lucu kan, Ferguso?" ujar Kauki pada Ferguso yang berada di pangkuannya.


"Miaaw.." balas Ferguso, tangannya menjajah liar layar hp Kauki. Kauki terkekeh.


Lagi asik ngeliatin foto, Hp Kauki tiba-tiba bergetar tanda panggilan masuk. Gadis itu mengernyit saat tantenya yang dari Spanyol nelpon.


"Tumben.." gumam Kauki kemudian mengangkat panggilan itu. "Ola, Tia? (halo, Tante)."


"Kauki.."


Kening Kauki berkerut saat mendengar suara tantenya yang bergetar.


"Tía, qué pasa? Tia esta llorando? (Tante, ada apa? Tante nangis?)"


"Kauki.." Tante kemudian terisak, Kauki tambah bingung. "Tus padres murieron.. (Kauki.. Orangtua kamu meninggal)."


Jderr!


Seperti disetrum jutaan volt listrik, badan Kauki lemas seketika. Jantungnya berdetak keras mendengar kabar mengejutkan dari tantenya.


"Que? (Apa?)" Kauki berharap dirinya salah dengar.


Tapi isakan tantenya yang makin keras, membuat Kauki yakin kabar buruk menimpa orangtuanya.


"Tus padres murieron, hija.. (orangtua kamu meninggal, Nak..)" Tangis tante Becky makin keras, membuat Kauki ikut terisak.


"No es posible! Mami dijo que se iban mañana (gak mungkin! Mami bilang mereka berangkat besok)."


"Sí, pero ya te extrañan a ti y a Tristán, así que decidieron irse hoy. Pero en el camino, las alas del avión se incendiaron y se estrellaron en el océano. (tadinya iya, tapi mereka sudah terlanjur kangen sama kamu dan Tristan, jadi mereka memutuskan untuk berangkat hari ini. Tapi di tengah perjalanan, sayap pesawat terbakar dan jatuh di lautan)." Tante Becky menjelaskan dengan terputus-putus karena isakan.


Kauki? Gadis itu merasa seluruh tulangnya patah, lemas tak berdaya. Jangan tanya keadaan hatinya yang hancur mendengar kabar duka tentang orangtuanya.


"No es posible, Tiaa.. (gak mungkin..)" Kauki menggeleng, isakannya makin keras.


"Mañana tus padres están enterrados. Quieres estar ahi? (besok orangtua kamu dikebumikan. Kamu mau hadir?)"


"Por supuesto que estoy aquí, tía. Al menos ... Al menos todavía puedo verlos por última vez... (Tentu aku hadir, Tante. Seenggaknya.. Seenggaknya aku masih bisa ngeliat mereka untuk terakhir kalinya)," tangis Kauki.


"Muy bien, calma tu corazón, hija. Tus padres se han ido pero tu familia todavía está cerca. Tía esperando por ti y Tristan para venir aquí. (ya udah, tenangkan hatimu, Nak. Orangtuamu tiada tapi keluargamu masih ada. Tante tunggu kedatangan kamu dan Tristan di sini)."


Tante Becky menutup panggilannya, dan saat itu tangisan Kauki semakin menjadi.


"Mami.. Daddy.."


Kauki mengambil hpnya, menghubungi Tristan.


"Ya, Dek?"


"Kak Tristan."


Alis Tristan bertaut, "Dek, kamu nangis?"


"Kak.. Mami.. Daddy.."


"Mami sama Daddy kenapa, Ki?"


"Ta-tadi, Tia Becky nelpon aku.. Dia bilang.. Mami sama Daddy.. meninggal karena kecelakaan pesawat.."


Dor!


Seperti vas yang ditembak dari jauh, hati Tristan rasanya hancur saat itu juga.


"A-apa..?" Tristan mengusap muka frustasinya, mata dan hidungnya bahkan udah memerah nahan tangis.


"Kak Tristan, kita harus segera ke sana. Kata Tia Becky.. besok mereka dikebumikan," isak Kauki menyadarkan Tristan dari kenestapaannya.


Tristan mengangguk, dirinya membereskan tempat kerjanya dengan buru-buru. Gak peduli ada benda yang jatuh karena gak sengaja kesenggol.


"Kamu tenangin diri dulu ya, Dek. Tunggu Kakak pulang abis itu kita langsung berangkat ke sana," kata Tristan langsung menutup telponnya lalu berlari keluar kantor tanpa peduli apa pun.


Bahkan Miko yang tadinya mau nganterin berkas dilewati Tristan begitu aja. Saat ini yang ada di pikiran Tristan cuma Kauki dan orangtuanya.


🍁🍁🍁


Alpha baru aja sampe di rumah neneknya, bundanya ngajak dia nginep lantaran sang nenek tengah sakit.


Alpha merebahkan tubuhnya di atas kasur, dia tidur di kamar tamu. Kamar yang sering dipake kalo Alpha lagi main ke rumah sang nenek.


Hp Alpha berdering membuat cowok itu membuang nafas kesel. Dia baru mau merem, tapi udah ada yang ganggu.


"Halo?"


"Alpha.."


Alpha menghela napas saat tau Kauki yang nelpon.


Kauki... Alpha inget kalo Maura cemburu sama Kauki. Itu berarti dia nggak boleh deket-deket sama Kauki.


"Apaan sih, Ki?"


"Alpha.." Kauki sesenggukan. "Alpha, gue mau curhat."


Alpha berdecak. "Lain kali aja ya curhatnya, gue capek tadi abis nganter Maura jalan. Bye, Ki."


Alpha menutup panggilan sepihak.


"Alpha.. Al.." Kauki mencoba mencegah, namun cowok itu keburu nutup telpon. Kauki memejamkan matanya perih, tangisnya makin pilu. "Alpha.. orangtua gue meninggal, Alphaa.." sambungnya lemah.


Udah gak bisa digambarin lagi betapa sakitnya hati Kauki. Dua orangtua tersayangnya pergi untuk selamanya, dan sikap Alpha yang menambah buruk kondisi hati Kauki, membuat tangis gadis itu semakin menjadi.

__ADS_1


Sakit, hati Kauki nyesek. Di saat dirinya butuh bahu seseorang, tapi sahabatnya justru gak bisa jadi sandaran.


🍁🍁🍁


__ADS_2