Back To Ya

Back To Ya
Bab 23


__ADS_3

šŸšŸšŸ


Brakk!!


Maura menutup pintu taksi begitu sampai di depan rumah Tristan. Gadis itu melangkah memasuki pekarangan rumah Tristan dan tersenyum melihat calon suaminya tengah berdiri di teras, menunggunya.


"Hai, Sayang," sapa Maura dan memberi kecupan manis di pipi Tristan.


"Hai," balas Tristan, lelaki itu mengambil satu kecupan singkat di bibir Maura.


Maura melotot kemudian menepuk bisep lelakinya. "Ih.. nanti kalo ada yang liat gimana!"


"Kenapa, sih? Kan bukan kali ini doang aku nyium kamu," celetuk Tristan gak peduli pada rona merah di pipi Maura.


"Oh iya, Kauki mana? Aku kangen sama calon adik ipar aku."


"Kauki pergi hiking ke semeru bareng Alpha."


"Apa? Hiking?"


Tristan mengangguk polos.


"Ya ampun, Sayang, semeru itu kan jauh."


"Lah emangnya kenapa?"


"Aku khawatir."


"Ngapain khawatir, kan Kauki ke sana bareng Alpha sama temen-temennya."


Maura berdecak, dia beneran khawatir. Mungkin karena Maura udah nganggep Kauki adiknya, makanya paniknya berlebihan.


"Udah jangan mikirin Kauki, masih ada pernikahan kita yang butuh perhatian."


"Hm.. iya juga sih."


"Ya udah, masuk, yuk. Masa ngobrolnya di luar, sih?"


"Tapi beneran kan Kauki ke sana gak sendiri?"


"Iya, Sayang. Kenapa sih, khawatir banget, aku yang kakak kandungnya aja santuy."


"Ya karena aku sayang sama Kauki makanya aku khawatir."


"Iya, aku ngerti. Tapi sekarang yang kita pikirin adalah pernikahan kita yang sebentar lagi tiba. Waktu gak akan berenti cuma buat nunggu kita, Sayang, kita yang harus ngejar waktu. Udah yuk, waktu kita gak banyak."


Maura mengangguk pasrah saat Tristan merangkul bahunya memasuki rumah dan dua sejoli itupun sibuk mengurus pernikahan mereka.


šŸšŸšŸ


Kauki, Alpha, Thoriq dan juga Cia bersiap memulai perjalanan. Setelah makan mereka ke Ranupane buat ngisi pendaftaran setelah itu mereka langsung memulai pendakian.


Dan setelah beberapa jam jalan akhirnya mereka nyampe di pos 1, di sana ada warung kecil dan keempatnya memutuskan untuk berhenti sebentar, beli makanan juga minuman. Karena siapa tau mereka keabisan stok makanan di perjalanan.


Aku menyayangimu..


Tapi lagi-lagi kau bohongi ku..


Kau telah tipu aku..


"Eh, guys, joged yuk!" seru Thoriq nunjuk radio jadul milik pedagang yang tengah memutar lagu hits jaman now.


Thoriq narik Cia dan Alpha buat ikutan joged dan memberikan handycamnya ke Kauki.


Entah a..(kwak)pa (kwak) yang (kwak) merasukimu..


Kauki tersenyum kecil kemudian terkekeh ngeliat para sahabatnya dengan semangat berjoged ria mengikuti tarian yang tengah viral.


"Kauki, sini ikutan," ajak Thoriq.


"Iya, ayo, Ki." Cia ikut ngajak Kauki.


Kauki menggeleng, Alpha yang gemes langsung narik sohib kentalnya itu buat ikut bergabung.


"Apaan sih, Alpha. Gak mau.."


"Harus mau. Kalo nggak sentil nih."


"Sini biar akoh yang ngerekam." Cia mengambil alih handycam yang tadi dipegang Kauki.


"Gini nih, Ki, cara jogednya gampang. Elo tinggal nepuk bahu secara silang, tepuk lagi secara lurus, abis itu tangan lo digerakin kayak lagi ngeremes."


"Ngeremes apaan?" tanya Kauki bikin Thoriq gelagapan.


"Squishy," jawab Thoriq asal, Cia yang mendengarnya kontan ketawa diikuti Alpha. Kauki ngangkat bahu.


Akhirnya Kauki ikut menikmati dalam tarian tersebut. Dan setelah puas mereka langsung ngelanjutin perjalanan mereka buat ke pos berikutnya.


Perjalanan dari pos satu sampe tiga masih santai. Di pos tiga udah mulai keliatan kabut yang membuat jarak penglihatan mulai berkurang.


Setelah beberapa jam perjalanan, tibalah mereka di pos empat, yaitu ranu kumbolo di ketinggian 2400 mdpl.


Mereka nge-camp di situ sambil ngisi perut. Abis itu istirahat buat nyambung perjalanan besok yang pastinya lebih berat lagi.


šŸšŸšŸ


Paginya, Kauki bangun terlebih dahulu. Diliriknya Cia yang masih pulas sambil meluk squishy kesayangannya.


Kauki senyum dan geleng-geleng kepala. Gadis itu kemudian bangkit, mencepol rambut dan keluar tenda sambil bawa sabun cuci muka, dan alat kebersihan gigi.


Gadis bermata coklat karamel itu tersenyum kala ngeliat Alpha lagi sibuk masak air.


"Buenos dias, Alpha. (Selamat pagi, Alpha. "


Sapaan Kauki disambut senyum manis Alpha. "Buenos dias, Kauki."


Kauki tersenyum dan melangkah menuju danau Ranu Kumbolo. Gadis itu berdecak kagum saat ngeliat airnya yang super jernih.


Kauki melangkah perlahan di atas kayu supaya gak nginjek air danau. Karena dia gak mau mengotori air suci danau.


Iya, masyarakat Tengger menyebut air danau Ranu Kumbolo adalah air suci. Berani lo nyampah di sana, hukuman berat menanti. Jangankan nyampah, nginjek aja hukumannya harus ngumpulin sampah sebanyak satu kresek gede. Mau?


Bukan berarti Kauki takut sama hukumannya, tapi Kauki lebih menghargai kepercayaan orang Tengger.


Kauki mengambil air melalui botol gede yang dia bawa sebelumnya. Setelah botol terisi penuh, Kauki langsung bersih-bersih. Cuci muka dan gosok gigi.


Setelah selesai dengan aktivitasnya Kauki duduk di depan tenda, menikmati pemandangan Ranu akumbolo yang kayaknya bakal bikin Kauki susah move on dari tempat indah ini.


Bukitnya yang mirip bukit teletubbies, danau jernihnya, pepohonan yang bergoyang damai tertiup angin, warna-warni tenda pendaki membuat pemandangan semakin bernyawa, semua pemandangan itu membuat Kauki tenang. Terlihat dari senyum damai yang terpatri di bibir ranumnya.


Ah, Indonesia. Betapa beruntungnya Kauki hidup di negeri yang kaya Raya ini. Semoga ke depannya harta bangsa ini dijaga dengan apik oleh generasi penerus. Amen.


"Eh-"


Lamunan Kauki tentang keindahan ranu kumbolo terganggu ketika semangkuk mie berada di depan wajahnya. Cewek berdagu belah itu mendongak dan mendapati Alpha tersenyum sembari menyodorkan mie itu padanya.


"Nih, sebelum jalan ke pos Kalimati kita harus ngisi bensin biar kuat."


Sambil tersenyum, Kauki menerima mie buatan Alpha. "Gracias.."


Alpha ikut bergabung di samping Kauki, menyantap mie buatannya bersama.


"Eh iya, Al. Gue baru inget, kok lo gak ngajak Viral?"


Alpha menghentikan suapannya, menatap Kauki dengan senyum kecut.


"Em.. Ki, elo gak tau ya? Viral kan ke Singapura enam bulan yang lalu. Barengan sama.. Nando." jelas Alpha begitu hati-hati ketika nyebut nama Nando.


"Ha? Ke Singapur? Enam bulan yang lalu? Kok gue baru tau!"


Alpha garuk-garuk kepala. "Em.. itu.. karena elo sibuk ngegalauin Nando."


Kauki melengos, kecewa sama dirinya sendiri. Cuma karena galau lagi-lagi dia kelewat satu berita tentang sahabatnya, Viral.


"Viral ngapain ke singapur?"


Dengan berat Alpha menghembuskan nafasnya. "Dia mau donorin hatinya buat Laluna."


"Apa?!" Respon Kauki kembali syok.


Asli, Kauki bener-bener ngerasa kayak orang nolep yang gak tau apa-apa.


"Kenapa?"


"Karena dia cinta sama Laluna. Cinta banget, makanya dia rela nyerahin 'hati'nya buat Laluna."


Mata Kauki memanas, terharu dengan rasa cinta Viral ke Laluna. Tapi Kauki juga iba, karena selain nyerahin hatinya, Viral juga rela Laluna sama Nando. Bayangin gimana sakitnya jadi Viral.


Kauki bahkan bisa ngerasain sesaknya. Ngerelain orang yang kita cintai buat orang lain itu sakitnya kayak nyiram perasan air jeruk ke luka yang masih segar. Perih, sakit, gak bisa dideskripsikan lagi pokoknya.


Karena gak kuat nahan sedih, air mata Kauki kembali tumpah. "Ya ampun Viral.."


"Kauki.. hei, jangan nangis."


"Alpha, Viral baik-baik aja kan sekarang?"


Pertanyaan Kauki membuat Alpha terdiam. Dia juga nggak tau keadaan Viral sekarang. Viral udah gak pernah ngontak dia lagi semenjak kepergiannya ke Singapura.


"Dia pasti baik-baik aja, Ki." kata Alpha yakin gak yakin.


"Elo tenang aja, Viral cowok yang kuat." hibur Alpha.

__ADS_1


"Eh iya, gue kan punya hadiah ya buat lo. Bentar gue ambil."


Dengan mata sembabnya Kauki ngeliatin Alpha yang lagi sibuk mengobrak-abrik tas carriernya. Senyum lelaki itu muncul ketika berhasil mendapatkan sebuah kresek. Alpha balik ke samping Kauki.


"Nah, ini dia hadiahnya."


Dahi Kauki mengkerut. "Tapi kan gue belum nyampe Puncak, Al."


"Gak apa-apa. Elo udah nyampe sini aja udah menang."


Alpha menunjukkan sebuah kupluk rajut berwarna coklat. Di kupluk itu ada tulisan 'Alpha ganteng'. Di bawahnya juga ada tulisan Alpha + Kauki \= Love.


Kauki terkekeh. "'Alpha ganteng'?"."


"Ya gue kan emang ganteng. Eh, gue juga punya loh buat gue pake."


Alpha make kupluk rajut berwarna coklat yang mana ada rambut palsu di dalamnya. Memiliki tulisan yang sama.


"Tadaa!"


Kauki terkekeh saat kupluk itu terpasang di kepala Alpha. Terlebih rambut palsu ikal panjang itu terlihat pas di Alpha. Bikin cowok itu keliatan cantik.


Kauki ketawa geli banget.


"Kok elo ketawa sih?"


"Gak apa-apa."


"Gue cantik kan pake rambut gini?"


Kauki tertawa. "Iya lo cantik."


"Kayak putri duyung kan." Alpha menyisir rambut palsunya dan ngedip-ngedipin matanya sok centil.


"Bukan. Dugong."


Alpha terbahak bersama Kauki.


"Gue bikin dua kupluk ini sendiri loh."


Seolah gak percaya sama ucapan Alpha, Kauki memutar matanya. "Bohong banget."


"Gak percaya? Tanya sama Nenek gue. Dia yang ngajarin."


Iya, Alpha emang minta bantuan neneknya buat ngajarin dia ngerajut. Susah gila tapi demi Kauki, Alpha rela begadang buat bikin kupluk.


Walaupun hasilnya gak sesempurna yang di toko, tapi menurut Alpha kupluk buatannya istimewa kayak yang make.


"Ya udah iya percaya." kekeh Kauki ngeliat bibir manyun Alpha. "Tapi serius deh, Al."


"Apa?"


"Elo kayak dugong." ujar Kauki lalu kembali terbahak.


Alpha manyun. Tapi kemudian Alpha tersenyum kecil. Gak apa-apa deh dibilang mirip dugong, yang penting Kauki ketawa dan lupa sama kesedihannya.


Kauki menenggak air yang tadi dia ambil di danau, dan itu gak lepas dari penglihatan Alpha, cowok itu menatap Kauki dengan senyum mengembang.


Men, danau Ranu Kumbolo emang seger, tapi pemandangan Kauki yang lagi minum di depannya ini lebih seger. Ah, Alpha jadi aus.


"Bro!"


BRUSSSHH


Alpha menyemburkan air yang baru diteguknya ke muka Thoriq saat cowok itu tiba-tiba nongol di depan muka Alpha.


Thoriq memejamkan matanya saat air yang baru masuk mulut Alpha membasahi muka eksotisnya.


Kauki dan Cia terkesiap.


"Apa-apaan sih lo, maen sembur aja kayak mbah dukun!" amuk Thoriq ngusap mukanya.


"So-sori, Thor, gue kira elo jin. Abis lo tiba-tiba nongol di depan muka gue." ringis Alpha ngerasa bersalah.


"Ah, belgedes lo!" dengus Thoriq ala mas Pur yang langsung beranjak buat cuci muka.


Kauki dan Cia yang ngeliat perdebatan keduanya cuma bisa ketawa. Sementara Alpha meringis malu.


šŸšŸšŸ


Mereka, Kauki, Alpha, Thoriq dan Cia siap berangkat ke pos-pos berikutnya setelah beresin tenda dan makan.


Sebelumnya mereka foto-foto, sayang kan kalo ke Ranu Kumbolo gak mengabadikan momen.


Thoriq ngelirik Kauki sama Cia yang sibuk ngambil gambar di Oro-Oro Ombo itu semacem lapangan


yang luas di mana berisikan rumput, pepohonan, dan juga salah satu tanaman cantik namun mematikan, Verbena brasiliensis. Kemudian lelaki berkulit sawo matang itu merangkul Alpha


"Alpha."


"Elo sama Kauki udah sedeket apa?"


"Ya gitu-gitu aja. Kauki nganggep gue sohib kecilnya." Alpha menyipitkan matanya saat terik matahari menyapa. "Susah banget tau nggak ngusir Nando dari hati Kauki."


"Sabar, Bro. Cinta itu perjuangan, gak ada perjuangan, gak ada cinta. Yang penting sekarang lo pepet terus Kauki biar berpaling ke elo. Gue yakin, lama-lama Kauki juga bakal liat lo." tutur Thoriq ngasih semangat.


Alpha manggut-manggut. Tanpa disuruh pun Alpha gak akan nyerah buat rebut hati Kauki dari Nando. Toh Nando sekarang udah sama Laluna. Jadi apa lagi yang harus diraguin?


"Eh, Al, lo tau gak? Katanya nih ya, kalo kita bisa jalan lurus di tanjakan cinta ini tanpa noleh ke belakang, kita bisa bersatu sama orang yang kita suka." Thoriq nunjuk tanjakan di depan mereka.


"Mitos."


"Yee.. banyak kok mitos yang jadi nyata.."


"Thor, kalo sebuah informasi masih dalam status 'katanya' itu berarti tuh info jauh dari nyata.


"Ya dicoba dulu, Bro. Siapa tau kalo lo berhasil, Kauki langsung jadi milik lo sepulang pendakian. Keajaiban terjadi buat mereka yang percaya."


Diem-diem Alpha tergiur juga, apalagi waktu Thoriq bilang 'Kauki langsung jadi milik lo', milik Alpha. Alpha jadi penasaran.


"Kalo gue nggak bisa jalan lurus?"


"Ah tenaaang.. Gue ada solusi." Thoriq tersenyum misterius kemudian ngeluarin handycamnya. "Pake ini, Bro. Jadi kita bisa ngeliat ke belakang tanpa noleh."


Senyum mereka di bibir Alpha. "Cerdas juga lo, nyet."


"Yee elo, udah dibantu malah menghina." dengus Thoriq yang malah ditanggapi kekehan Alpha.


šŸšŸšŸ


Mereka kembali melanjutkan pendakian, kali ini Cia banyak ngeluh kecapekan membuat Thoriq, Alpha serta Kauki berhenti beberapa kali sampai tenaga Cia terisi kembali.


"Thoriq, kaki akoh pegel." rengek Cia.


"Pegel, Ratuku? Bentar, king Thoriq pijitin." Thoriq dengan sigap memijit kaki Cia yang terbalit celana tebal.


Kauki memandang keduanya dengan senyum cerah, ikut seneng kalo dua temannya bahagia. Dia salut sama Thoriq yang pada akhirnya bisa nahlukin Cia yang judes.


"Mau gue pijitin juga nggak?"


Celetukan Alpha membuat Kauki menoleh, gadis itu menatap Alpha dengan mata menyipit, kemudian melengos.


"Gak usah. Gue bukan cewek lemah." ketus Kauki yang malah dibalas kekehan Alpha.


Setelah Cia puas istirahat, merekapun menyambung perjalanan. Udahra dingin mulai kerasa hingga Kauki harus merapatkan jaketnya.


Alpha yang ngeliat itu langsung sigap ngambil slayer yang terikat di lengan tasnya. Kemudian memakaikannya ke Kauki.


"Pake slayer gue, Ki. Di Kalimati nanti lebih dingin."


Dibenarkannya kupluk Kauki hingga menutupi kuping gadis itu.


Kauki membeku, bukan karena udara dingin, tapi karena sikap perhatian Alpha ke dirinya. Alpha dari kecil emang perhatian, tapi kali ini, Kauki ngerasa beda aja.


"Thanks, Alpha."


Dan Alpha cuma tersenyum dan mengelus pipi Kauki. Lagi, Kauki dibuat terpaku oleh Alpha. Alpha menggandeng tangan Kauki dan mengajaknya berjalan beriringan.


Dari belakang, Cia sama Thoriq saling pandang kemudian sama-sama tersenyum gemes ngeliat adegan Kauki dan Alpha.


Jam enam mereka baru nyampe di pos terakhir, yakni Kalimati. Udara dingin langsung menusuk tulang.


Thoriq dan Alpha bikin tenda, sementara Cia sama Kauki bagian masak. Mereka pun mengisi perut sebelum bersiap untuk istirahat. Karena jam 10 nanti, mereka bakal lanjut perjalanan.


Jam 10 akhirnya tiba, sebelum memulai perjalanan mereka makan roti dulu buat ngisi lambung. Kemudian ngerapiin tenda dan cabut ke Puncak mahameru.


Dua jam setelah perjalanan mereka sampe di Kelik. Cukup berat saat di pos ini, soalnya jalanan yang tadinya jalur tanah berubah jadi jalanan pasir dan berbatu.


Kauki sampe kesel sendiri pas jalan di jalanan pasir itu. Dia merasa kayak lagi treadmill, jalan selangkah, mundur lagi, gitu terus gak maju bikin Kauki pengen teriak, pengen nangis.


Nafasnya tersengal dan Kauki bersumpah pengen banget ngawut-ngawut kumpulan pasir sialan yang mempersulit kakinya melangkah.


Tuhan.. Inginku berkata kasar. Batin Kauki. Sayangnya dia gak bisa ngomong kasar karena di gunung gak boleh keluar kata-kata kasar, itu udah jadi larangan dan Kauki harus menjauhinya.


Mungkin nanti setelah nyampe di Jakarta, Kauki bakal ngomong kasar sepuasnya.


"Ck! COME ON, LEG, LET'S MOVE!!" geram Kauki emosi, bikin ketiga temennya terlonjak kaget. Bahkan Cia yang tadinya agak ngantuk langsung melek karena teriakan Kauki.


"Kauki, kamoh berisik banget."


"Ya abis gue kesel, Ci. Daritadi gue maju selangkah mundur lagi, maju mundur lagi." Kauki membuang nafas kasar. "Dua langkah sama aja kayak satu langkah. Gila, bengek gue lama-lama!"

__ADS_1


"Sabar, namanya juga naik gunung." kata Thoriq yang sebenernya juga udah ngos-ngosan. Apalagi mereka baru bangun tidur.


Alpha mengusap bahu Kauki. "Kita pasti bisa, Ki. Sebentar lagi, semua rasa capek kita terbayar di puncak mahameru. Ayo semangat."


Berusaha dan sabar, itu yang bisa Kauki lakuin sekarang.


šŸšŸšŸ


Akhirnya, setelah enam jam mendaki bahkan merangkak ngelewatin berbagai ***** bengek halang rintang, Kauki, Alpha, Thoriq dan Cia sampe di Puncak Mahameru. Fisik mereka yang cukup kuat membuat mereka nyampe dengan waktu yang cukup cepat.


Dan seolah ingin memberikan hadiah, Tuhan memunculkan matahari terbit setibanya mereka di Puncak.


Decakan kagum langsung keluar dari mulut para insan yang telah berjuang keras melewati hari-hari melelahkan selama mendaki.


"Subhanallah.." Cia berdecak kagum.


Pemandangan sunrise itu gak disia-siakan oleh Cia dan Thoriq, mereka langsung ngambil handycam masing-masing dan nge-vlog untuk konten mereka.


Sedangkan Kauki sendiri terperangah melihat matahari terbit, terpesona. Bener kata Alpha, capek yang Kauki rasa langsung ilang begitu sampe sini, Puncak mahameru.


Dari ketinggian 3676 mdpl (meter dari permukaan laut) ini Kauki bisa ngeliat pemandangan di bawah sana. Jajaran gunung Bromo, Slamet, Sundoro, Sumbing berdiri menjulang dengan gagahnya.


Awan-awan kini bukan berada di atasnya lagi, melainkan di bawahnya. Seandainya awan-awan itu tumpukkan bantal yang lembut, mungkin Kauki udah loncat dengan bebasnya.


Senyum lembut terpatri di wajah Kauki saat memgagumi lukisan Tuhan yang luar biasa menakjubkan terpampang jelas di matanya.


Saking sibuknya mengagumi ciptaan Tuhan, Kauki gak sadar kalo Alpha tengah mengambil gambarnya.


Pemandangan dari atas gunung emang indah, tapi bagi Alpha, senyum Kauki luar biasa indah. Lelaki berparas menawan itu tersenyum seolah tertular senyum Kauki. Kalau dilihat-lihat, senyum kedua remaja itu tampak mirip.


Alpha lega, karena bisa bikin Kauki senyum lagi setelah enam bulan kejadian menyesakkan itu.


Kauki membuka jaketnya tanpa sadar lalu merentangkan kedua tangannya, seolah gak peduli dengan udara gunung yang menusuk tulang.


Melihat itu Alpha panik dan segera memasangkan kembali jaket itu ke tubuh Kauki.


"Pake jaketnya, Kauki. Ntar lo hipotermia gara-gara kedinginan."


Senyum kecil terukir di bibir Kauki saat mendengar nada khawatir Alpha. Entah kenapa, Kauki mulai suka saat Alpha cemas padanya.


Gadis itu berbalik dan tanpa pemberitahuan langsung memeluk Alpha erat, tak dipedukikannya jaket yang kembali jatuh ke tanah. Jaket itu seolah tak berguna saat Kauki masuk ke pelukan Alpha.


Alpha sendiri yang dipeluk tiba-tiba gak bisa nyembunyiin rasa terkejutnya. Tapi jauh di lubuk hatinya, Alpha bahagia. Lelaki itupun tersenyum dan balas memeluk Kauki dengan mata terpejam, menikmati.


"Alpha."


"Apa?"


"Makasih ya, udah ngajak gue ke sini. Gue seneng banget bisa nyampe sini. Bisa mencapai Puncak ini gue belajar buat ngendaliin emosi dan juga ego gue."


"Sama-sama, Ki. Gue seneng kalo lo seneng. Tapi gue nggak suka ngeliat lo sedih, jadi tolong, janji sama gue kalo lo nggak akan sedih-sedih lagi."


Mendengar penuturan Alpha, Kauki tersenyum.


"Asalkan lo selalu ada di samping gue, gue gak bakalan sedih." ucap Kauki membuat Alpha mengeratkan pelukannya.


Alpha bahagia, sangat. Seandainya dia bisa menghentikan waktu, Alpha mau waktu berhenti saat ini juga.


"Gue gak akan ke mana-mana. Gue bakalan terus di samping lo meskipun lo nyuruh gue pergi."


Ucapan Alpha bikin Kauki terharu. Gadis itu semakin mengeratkan pelukan mereka.


"Gue gak akan pernah ngelakuin itu."


Diam-diam Kauki ngerasa bahagia. Rasa bahagia yang sama saat bersama Nando. Bahkan, lebih dari itu.


Kemudian Kauki melepaskan pelukannya, bikin Alpha kaget sekaligus kecewa. "Kok dilepas?"


"Gue lupa kalo gue belom mandi. Pasti badan gue bau," ringis Kauki.


Alpha terkekeh. "Ya terus apa masalahnya? Udah ah sini, peluk lagi."


Sembari merentangkan tangannya, Alpha mencoba memeluk Kauki. Gadis itu mengulum senyum dan malah menepis tangan Alpha.


"Yee.. malah ketagihan lo. Tidak semudah itu, bambank!" Kauki menggoyangkan jari telunjuknya.


"Yaah.. Kauki, gue kedinginan." Alpha memeluk tubuhnya sendiri. "Peluk dong."


"Sana minta peluk sama yang di sebelah lo. Gue mau ke Cia."


Kauki berlalu ninggalin Alpha, menghampiri Cia yang tengah berfoto ria dengan Thoriq sebagai tukang foto.


Mendengar perkataan Kauki tadi, Alpha lalu nengok ke sebelahnya. Dilihatnya seorang bapak-bapak berdiri semabari melihat ke arah Alpha. Bapak itu tersenyum, dia menyaksikan adegan Kauki dan Alpha serta percakapan dua remaja itu.


"Sini, Mas, saya peluk."


Antara nyengir dan meringis, muka Alpha udah kayak kuda nyengir. "Gak usah, Pak. Makasih."


Bapak itu terkekeh kemudian berlalu menuju kelompoknya karena udah ditolak Alpha, sedangkan Alpha sendiri ikut bergabung sama para sahabatnya untuk mengabadikan gambar selama mereka di Puncak Mahameru.


Sebelum turun dari gunung, keempat remaja itu beserta para pendaki lainnya menghadap ke arah bendera merah putih, lalu hormat berjamaah dengan penuh penghayatan. Cia dan Kauki bahkan hampir menangis karena teringat perjuangan para pahlawan.


Memang hanya sebuah kain merah putih biasa, tetapi memiliki makna yang mendalam. Banyak nyawa yang pergi hanya untuk membuat kain merah putih itu berkibar sampai sekarang.


Sesuatu yang diperjuangkan dengan penuh kerja keras pastinya selalu membuahkan hasil yang manis. Kauki, Alpha, Cia dan Thoriq udah ngebuktiin itu. Buktinya, mereka ada di atas sini sekarang.


Di Puncak Mahameru.


šŸšŸšŸ


Setelah hampir 2 jam di atas gunung semeru, Alpha mengajak teman-temannya turun.


"Kita turun yah, Ki. Toh kita udah ngambil banyak foto di sini. Yuk, Kak Tristan pasti udah nungguin lo di rumah," bujuk Alpha serupa ngebujuk bocah.


Kauki menggeleng.


"Gak mau, Alpha. Gue mau tinggal di sini aja. Mau hidup, nikah, ngelahirin, bikin keluarga di sini. Period!"


"Kauki, kamoh jangan becanda. Inget, bulan depan Kakak kamoh nikah. Masa kamoh mau di sini terus, sih."


"Tapi gue ke sini susah payah, Ci. Paling turunnya cuma beberapa jam."


"Kauki, elo bisa hipotermia kalo kelamaan di sini." bujuk Thoriq.


"Nggak! Pokoknya gue nggak mau turun!" Kauki kekeuh.


Ketiga sahabatnya cuma bisa menghela nafas.


Akhirnya setelah berbagai jurus bujuk rayu, Kauki pun mau turun dan meninggalkan Puncak Mahameru.


Ya walaupun dengan muka cemberut.


"Huhu.. Mahameru.."


"Udah jangan nangis. Nanti kita ke sini lagi."


šŸšŸšŸ


"Sayang, ayo dong, ditelpon Kaukinya."


Tristan menghembuskan nafas kasar, sedari tadi Maura terus mendesaknya untuk menelpon Kauki.


Dari semenjak kepergian Kauki ke semeru, Maura emang terus rempong nanyain Kauki.


Ini udah hari ke empat Kauki pergi dan wanita itu cemas karena belum juga dapet kabar dari calon adik iparnya itu.


"Tristan.."


"Iya iya, aku telponin." Tristan nyerah, lelaki itu meraih ponselnya membuat Maura tersenyum cerah.


Tristan mencari nama kontak Kauki, kemudian menekan tombol 'call'. Namun belum lama ponsel itu menepel do telinganya, Tristan kembali meletakkan benda pipih itu di atas meja.


"Loh, kok ditaro lagi?"


"Sayang, kamu lupa? Kauki kan lagi di gunung, di sana gak ada sinyal. Gimana nelponnya coba."


Maura manggut-manggut. "Iya juga ya."


"Kamu segitu khawatirnya sama Kauki."


"Ya jelaslah, Kauki kan juga bakal jadi adik aku. Kauki sekarang tanggung jawab kita, Sayang."


Tristan tersenyum mendengar penuturan calon istrinya. Sebenernya dia seneng kalo Maura khawatir sama Kauki, itu artinya wanita itu sayang sama Kauki.


"Ya udah, mikirin Kaukinya nanti aja, di sana Kauki dijagain sama Alpha. Sekarang mending kita langsung ke butik buat fitting baju pernikahan kita."


Maura mengangguk dan tersenyum. "Ayo."


Tristan beranjak dari kursi tamu diikuti Maura yang sudah membawa tasnya. Calon pasutri itu keluar untuk pergi ke butik di mana baju pernikahan mereka dipesan.


"Kak Tristan."


Maura menoleh pada dua remaja di depannya begitu pula Tristan yang selesai mengunci rumah.


Pria itu tampak terkejut ngeliat seorang gadis manis berambut hitam panjang bersama sosok lelaki berkaca mata di depannya.


"Halo, Kak. Saya Laluna. Kaukinya ada?"


Tristan masih diam mematung, bahkan ketika Maura menyikutnya, pria itu tak mengalihkan pandangannya dari lelaki berkacamata itu.


"Kamu?"

__ADS_1


šŸšŸšŸ


__ADS_2