
"Aku maunya nanti di pernikahan kita, semuanya warna ungu!"
Tristan menganga mendengar ucapan Maura. Mereka tengah berada di ruang tamu, ngomongin rencana pernikahan mereka beberapa bulan mendatang.
"Sayang, masa warna ungu sih." Tristan protes. "Ungu itu warna janda, kamu mau jadi janda duluan di hari pernikahan kita?"
"Sembarangan! Emang siapa coba yang bilang ungu itu warna janda?" Maura ngelipet tangannya dengan alis menukik.
Dua calon pengantin itu berhadapan dengan wajah bersungut-sungut.
Hingga akhirnya Tristan menghela nafas pasrah.
"Ya udah, kita pake warna ungu." putus Tristan ngalah.
Seketika mengembangkan senyum lebar Maura. "Yes!"
"Tapi..." Tristan ngegantung ucapannya. "Sehari setelah pemberkatan." sambungnya membuat Maura kembali mendengus.
"Kok gitu sih?"
"Maura, denger, aku memilih warna putih di hari pernikahan kita itu, karena warna putih melambangkan kesucian. Sama kayak cinta aku ke kamu. Paham?"
Maura tertegun, gadis itu sadar kalau dirinya sudah kekanakan. Beruntung dia punya Tristan, yang selalu sabar dan bisa mengerti dirinya.
"Kalo gitu, kita pake warna putih aja deh. Aku juga mau buktiin ke semua orang kalo cinta kita itu suci." katanya.
Tristan tersenyum, lelaki itu mengacak rambut calon istrinya.
BRAKK
Pintu yang terbuka keras membuat dua calon pasutri itu terlonjak. Mereka melempar pandangan dan mendapati Kauki yang datang dengan wajah berlinang air mata.
"Dek? Kamu kenap-"
Belum sempat Tristan meyelesaikan pertanyaannya, Kauki keburu melengos menuju kamar.
"Kauki!"
Kembali, Tristan dan Maura dibuat terkejut dengan kehadiran Alpha.
"Alpha, ada apa, sih?" tanya Tristan dnegan muka bingung.
Alpha menoleh dan mengeluarkan cengiran lebarnya. "Gak apa-apa kok, Kak."
"Tapi kok Kauki-nya nangis?" Kali ini Maura yang bertanya dengan raut khawatir.
"Emm.. Ini urusan anak muda, orang tua gak usah ikut campur. Kalian mending urusin aja masa depan kalian mau dibawa ke mana. Ya udah, gue ke kamar dulu ya."
Tristan dan Maura mengangguk, tapi kemudian Tristan menatap tajam Alpha saat mendengar kalimat yang mengusik dirinya.
"TADI LO BILANG KITA APA? ORANG TUA?!"
"Ya kan kalian emang udah tua. Udah hampir kepala tiga." sahut Alpha enteng.
"Waaah kurang asem nih bocah." Tristan udah nyiapin bantal sofa buat dilempar.
Dengan segera Maura melerai. "Sayang, udahlah. Alpha cuma becanda.
"Enggak, Kak Maura. Gue serius."
"Tuh kan!"
Brukk!
Tristan ngelempar bantal itu ke arah Alpha, tapi sayangnya cowok itu keburu naik tangga, nyusul Kauki.
"Alpha, awas kamu ya!"
ššš
Kauki menubruk kasur dengan tubuh lemahnya. Menangis terisak di atas bantal.
Gadis itu masih gak menyangka kalo Nando bisa sekasar itu padanya. Selama ini Nando selalu bersikap lembut padanya, tapi tadi?
Cuma karena Laluna bahkan Nando berani menamparnya. Kauki yakin itu tamparan pertama yang Nando layangkan ke seseorang seumur hidupnya. Mengingat sifat Nando yang lembut ke orang lain.
"Kenapa kamu tega banget sih, Nan.. aku tuh cemburu.."
Alpha menatap nanar Kauki. Ini pertama kalinya Kauki nangisin seorang cowok. Dan cowok itu Nando, coba pikir, pasti Kauki cinta banget sama Nando.
Tapi, cemburu bukan hal yang tepat sekarang. Yang harus Alpha lakuin adalah menghibur sahabatnya ini.
"Kauki.." Alpha duduk di sisi ranjang Kauki, mengelus kepala gadis itu.
Kauki mendongak dan ngeliat Alpha dengan mata merah berairnya. Dan itu menyakiti Alpha, mata sedih Kauki merupakan salah satu hal yang dia benci. Walaupun Alpha gak memungkiri bahwa dirinya dulu sering bikin Kauki sedih, tapi nggak untuk kali ini dan seterusnya. Alpha janji.
Bangun dari posisi tengkurapnya, Kauki beralih memeluk Alpha, dan dengan penuh perhatian cowok berhidung mancung itu mengusap punggung Kauki, memberi ketenangan.
Kauki menempelkan pipinya di bahu Alpha, menumpahkan kesedihannya di sana. Dengan begitu Alpha bisa mendengar isak tangis Kauki yang pilu.
"Keluarin aja, Ki. Lo boleh nangis sepuas hati lo." ucap Alpha, Kauki makin tersedu.
"Kenapa, dia tega, Al.. Dia nampar gue, cuma karena mantannya itu." Kalimat Kauki terputus-putus karena ngomong sambil nangis.
"Sst.. gue yakin Nando gak sengaja. Elo-nya juga sih tadi bilang Laluna ganpangan."
"Kok lo belain dia, sih!" Kauki ngelepas pelukannya, natap Alpha kesel.
"Bukan ngebelain, cuma ngingetin kesalahan lo yang bikin Nando lepas kendali."
Kauki terdiam, sadar kalo dirinya emang salah. Tapi Kauki begitu karena cemburu telah meracuninya, membuatnya lepas kontrol dengan ucapannya.
"Tapi kenapa harus nampar, sih? Padahal dulu dia gak gitu, jangankan nampar, ngomong elo-gue aja gak pernah. Tapi sekarang cuma karena mantannya dia tega nampar gue."
"Itu karena Nando gak mau image lo jelek di mata Laluna. Nando maunya Laluna tau kalo lo pacar yang baik, eh elonya malah ngomong kasar."
"Ya tapi gak nampar juga, Alpha." Kauki masih nyari pembelaan. Kauki gak terima kalo cuma dia yang disalahkan.
"Ya udah iya, Nando yang kejam, puas?" Alpha ngangkat kedua tangannya pasrah.
__ADS_1
Kauki kembali terisak, bikin Alpha bingung.
"Kenapa lagi?"
"Gue takut.."
"Takut apa?"
"Gue takut kalo Nando bakal berpaling dari gue, Al."
Kauki menutup wajah dengan kedua tangannya, menangis di sana. Alpha membuka tangan itu dan menatap Kauki.
"Kauki, dengerin gue. Nando gak bakalan berpaling, dia itu cintanya cuma sama lo. Percaya sama gue. Cinta itu orang yang mencintai lo dan orang yang lo cinta, dan kalo kalian saling cinta, harus ada rasa percaya. Cemburu emang rasa cinta, tapi kalo cemburunya berlebihan, jatohnya malah jadi posesif. Dan posesif, bukan rasa cinta, tapi obsesi."
Kauki menganga mendengar penuturan Alpha, barusan sahabatnya ini bertransformasi jadi Mario Tegar.
"Kalo ternyata ketakutan gue beneran terjadi gimana?"
"Ya udah, lepasin aja Nandonya. Kan masih ada gue." Alpha nunjuk dirinya sendiri dan memainkan mata serta alisnya, genit ke Kauki.
Muka sedih Kauki seketika berubah males. Didorongnya muka Alpha kuat-kuat hingga cowok itu terjungkal ke belakang.
"Aw! Sakit, blekok!"
"Makanya jangan ngimpi, ogah bet gue sama cowok kayak lo!" ketus Kauki sembari keluar dari kamar.
Alpha nyinyir. "Ati-ati kemakan omongan sendiri."
ššš
Nando berjalan hilir mudik di kamarnya, sesekali mendengus gusar. Tangannya gak pernah lepas dari ponsel.
Berkali-kali Nando mengubungi Kauki, tapi gak pernah ada respon dari pacarnya itu. Bahkan pesan dsrinya pun gak dibaca sama sekali sama Kauki.
"Ck!" Nando mengacak rambutnya frustasi.
Setelah kejadian di taman tadi, Nando memutuskan pulang ke rumah, ninggalin Laluna gitu aja. Nando gak ke rumah Kauki, bukan karena gak mau minta maaf, tapi Nando takut dapat penolakan. Jadi Nando memutuskan untuk ngasih Kauki waktu.
"Maafin aku, Ki.. Maaf karena bikin kamu nangis." Nando termenung. Air mata Kauki adalah salah satu hal yang Nando benci, tapi sekarang dia sendiri bikin air mata itu jatuh.
Dan tatapan Kauki tadi, ya ampun.. bikin Nando pengen baku hantam sama dirinya sendiri. Baru kali ini Kauki natap dia dengan mata sendu, biasanya Kauki bakal natap dia dengan cinta, tapi kali ini.. penuh kekecewaan dan itu menyayat hati Nando.
"Tuhan, tolong luluhkan hati, Kauki."
ššš
Sedangkan di rumahnya, Laluna terduduk lemah setelah muntah darah. Sepulangnya dari taman tadi Laluna ngerasa tubuhnya lemas, mual juga. Dan Laluna pun pingsan.
Mamanya yang ngeliat Laluna kontan panik. Wanita itu langsung menyuruh supirnya membopong Laluna dan membawanya ke rumah sakit.
"Loh, kok pada pergi?" gumam seorang cowok berjambul di dalam mobilnya.
Viral, tadinya mau main ke rumah Laluna. Sebelumnya dia juga pernah mampir ke rumah Laluna, niatnya mau pdkt.
Laluna juga nerima Viral sebagai temannya karena cowok itu enak buat dijadiin tempat curhat. Akhirnya, Viral pun tau tentang masa lalu Laluna dan Nando.
Mata Viral membeliak ketika ngeliat pak Sapri--supir Laluna-- keluar dengan menggendong Laluna yang pingsan diikuti mama Lita yang berwajah cemas. Mereka masuk mobil lalu pergi. Dengan segera Viral mengikuti mobil sedan tersebut.
Laluna mulai bandel, gadis itu udah jarang kemo akhir-akhir ini dan sayangnya Mama Lita baru tau kabar ini dari dokter yang menangani Laluna.
Sekarang gadis berwajah manis itu berada di ruang rawat, setelah sebelumnya mendapat pemeriksaan dokter.
Mamanya gak pernah berenti ngeluarin air mata, raganya sama sekali gak beranjak dari kursi di samping Laluna.
"Mama.."
Mama Lita berjengit. "Kenapa, Sayang? Ada yang sakit?"
Gelengan lemah Laluna kasih sebagai jawaban.
"Nando."
"Apa?"
"Aku.. mau.. Nando, Mah."
Dan setelah itu, Laluna memejamkan mata, seolah perbincangannya tadi menguras tenaganya.
Tubuh Laluna lemas, kemudian terlelap meninggalkan sang mama yang membisu karena rasa bingung.
ššš
Besoknya Kauki berangkat ke sekolah dengan malas. Cewek itu berangkat bareng Alpha. Pagi-pagi banget Kauki udah siap dengan seragam sekolah dan bangunin Alpha.
Saat hendak memasuki kelas, Kauki ngeliat Nando berdiri di ambang pintu. Cewek berlesung pipi itu melengos dan membalikkan badan, hendak pergi. Tapi Alpha menahannya.
"Mau ke mana lo?"
"Lepas, Al. Gue ogah ketemu dia."
"Kauki, lo jangan berkeras hati. Nando pasti udah nunggu lo dari pagi."
"Ya tapi gue males, Alpha."
"Jangan lari dari masalah. Setiap hubungan itu pasti ada aja masalahnya, dan menghindar, bukan cara nyelesain masalah."
Kauki diam, bener yang dibilang Alpha. Tapi.. kalo keinget tamparan Nando kemarin rasanya Kauki pengen lari jauh dari Nando.
"Yuk, gue temenin." Alpha ngerangkul Kauki dan menghampiri Nando.
Di sana Nando berdiri tegang, jantungnya deg-degan.
"Hai, Nando." sapa Alpha ceria.
"Eh, hei, Alpha."
"Ki, gue masuk ya. Awas aja kalo sampe kalian gak baikan." bisik Alpha. "Ya udah, gue masuk dulu ya guys."
Alpha masuk dan meninggalkan kecanggungan di antara Kauki dan Nando.
__ADS_1
Kauki tadinya mau nyusul Alpha, tapi Nando keburu nahan pergelangan tangannya.
"Sayang."
"Apaan sih, lepas!"
"Kauki, dengerin aku dulu."
"Gue lagi males, Nando."
Suara dingin Kauki bikin hati Nando ngilu, terlebih cewek itu make bahasa elo-guenya. Bukan aku-kamu kayak biasa. Itu artinya, Kauki beneran marah.
"Kauki, aku tau kamu marah banget sama aku. Tapi tolong, biarin aku jelasin kejadian kemarin."
"Gak perlu. Lupain aja."
"Kemarin itu aku meluk Laluna karena dia-"
"Udah dibilang gak perlu jelasin!"
Tanpa sadar Kauki ngebentak Nando, bikin Nando kaget. Tapi Nando nyoba sabar.
"Dan soal tamparan aku kemarin..," Nando memejamkan mata saat rasa menyesal kembali menyergapnya. "Aku bener-bener minta maaf. Aku gak bermaksud nyakitin kamu, Ki. Aku cuma gak mau kamu ngomong kasar di depan Laluna."
Mendengus sinis, Kauki mengalihkan matanya.
"Gue ngerti, elo pengen ngejaga perasaannya Laluna, kan. Elo gak mau dia sakit hati." Kauki tersenyum getir. "Elo bahkan sampe nampar gue."
Perkataan Kauki dibalas gelengan Nando.
"Nggak, bukan begitu. Aku cuma gak mau Laluna ngira kamu cewek kasar. Kauki yang aku kenal selalu bertutur kata yang baik, gak kayak kemarin."
Diam, Kauki membenarkan ucapan Nando. Dia juga salah, tapi namanya juga orang lagi cemburu, asal jeplak aja ya, kan?
Nando menangkup kedua pipi tembem Kauki, menatapnya dalam. Mengantarkan rasa menyesal dan rasa cinta secara bersamaan. Dan saat itu juga Nando bisa nangkap sorot luka di mata Kauki.
"Aku tau kamu kecewa, marah, tapi tolong maafin aku. Aku gak mau karena kejadian kemarin bikin aku kehilangan kamu."
Kauki diem. Masih pengen ngeliat seberapa besar usaha Nando buat dapetin maaf darinya.
"Kamu boleh balas nampar aku. Ayo, balas aku. Kamu bahkan boleh nonjok aku pake jurus-jurus kamu."
Nando meraih tangan Kauki, membuat gerakan menampar ke pipinya sendiri. Kauki nahan senyum, gak mungkinlah dia mau nyakitin Nando.
"Kamu bohongin aku tentang Laluna." Akhirnya Kauki bersuara, Nando ngerasa lega.
"Yang itu juga aku gak bermaksud bohong. Laluna cuma masa lalu yang gak penting."
"Tapi-"
"Sayang, gak usah peduliin Laluna. Dia itu dulu, dan sekarang itu kamu."
"Bener kamu udah gak ada rasa sama dia?"
"Nggak. Seluruh perasaan aku udah diambil sama kamu soalnya." jawab Nando lugas. "Kamu mau maafin aku, kan?"
Kauki akhirnya tersenyum. "Iya, aku maafin."
Tersenyum lega, Nando ngerasa semua bebannya terangkat saat itu juga. Dipeluknya Kauki penuh kerinduan.
"Makasih."
"Janji gak akan kasar lagi?"
"Janji."
Kauki mengeratkan pelukannya. Gara-gara Laluna dia jadi sering kehilangan waktu sama Nando.
"Nando."
"Hm?"
"Jangan pernah tinggalin aku ya." Jujur Kauki masih takut dengan keberadaan Laluna.
Karena gimana pun juga Laluna pernah berkuasa di hati Nando.
Nando yang sadar kegelisahan Kauki langsung nyium kening gadis itu.
"Gak akan." Dan jawaban Nando menenangkan Kauki.
Dari balik jendela kelas, Alpha ngeliat itu semua. Dadanya sesak, hatinya sakit, tapi siapa dia? Cuma sahabat Kauki. Alpha juga gak lupa kalo dia pernah nyakitin Kauki.
Jadi Alpha pikir Nando cowok yang tepat buat Kauki. Baik, lembut, penyayang. Beda sama dia yang mesum, jelalatan dan suka nyakitin perasaan.
"Jagain Kauki baik-baik, Nando. Lo layak untuk Kauki. Gue berharap banyak sama lo."
ššš
"Kanker yang diderita pasien sudah memasuki stadium tiga, kanker mulai menyebar ke kelenjar getah bening serta organ lain di dekatnya. Kondisi pasien semakin memburuk akibat gangguan fungsi organ hati dan organ-organ di sekitarnya yang terkena dampak. Akan semakin parah jika tidak ditindaklanjuti."
Hati mama Lita bagai dipecut, sakit tak terkira. Laluna, anak semata wayangnya harus menderita penyakit yang sangat berbahaya.
"Lalu.. apa yang harus saya lakukan, Dok?"
"Pasien sebaiknya dibawa ke luar negeri untuk menjalani kemoterapi."
Tapi.. kemoterapi sangat menyakitkan. Begitu kata Laluna setiap habis menjalani kemoterapi yang menyiksanya.
"Selain kemoterapi, apa tidak ada cara lain, Dok?"
"Ada, Bu, yaitu transplantasi hati. Tetapi, cara ini dapat dilakukan jika ada orang yang mau berbaik hati saja mendonorkan hatinya pada pasien."
Dan yang jadi masalahnya, siapa yang mau berbaik hati memberikan hatinya untuk Laluna?
Dari balik tembok, Viral mendengar percakapan itu dengan perasaan hancur.
Tentu, gadis pujaannya, yang bikin dia sembuh dari penyakit gagapnya, ternyata sakit parah. Gak tanggung-tanggung, penyakit itu bahkan dapat merenggut nyawa Laluna kapan aja.
Dan jika itu terjadi, itu artinya Viral harus kehilangan Laluna.
__ADS_1
Tapi apa yang harus Viral lakuin supaya Laluna sembuh selain berdoa?
ššš