
ššš
Bel istirahat berkumandang, Nando langsung bangkit dari kursinya tanpa menghiraukan tatapan Laluna.
Lelaki beralis tebal itu menghampiri Kauki dan mengajak sang pacar ke kantin.
Di bangkunya, Laluna menatap Nando dengan pandangan sendu.
"Buruan, Viral, elo mau ke kantin, nggak?" Alpha yang udah kelaperan menatap kesal Viral yang cuma diem di kursi.
"E-elo du-duluan aja. Gu-gue nan nanti nyu-nyusul!"
Alpha mendengus. "Dari tadi kek ngomongnya. Gue kan gak usah nungguin lo."
Cowok ganteng itu pun beranjak menuju kantin, ninggalin Viral di kelas. Sedangkan cowok bertubuh jangkung itu menghampiri Laluna.
"Ha-hai.. La La-llluna!" sapa Viral.
Laluna ngeliat Viral dengan tatapan aneh. "Hai.. siapa ya?"
Dengan semangat Viral menyodorkan tangannya. "Ke-kenalin. Na-namaku vi Vi Viral Ber Br Bramasta!"
Gadis manis itu menyambut uluran tangan Viral. "Laluna. Salam kenal ya, Viral," katanya dibarengi senyum ramah.
Viral ngusap jambulnya tebar pesona. "Ke-ke kantin, yu-yuk!"
"Mm.. ayo, deh." Laluna langsung nerima ajakan Viral.
Mereka jalan bareng ke kantin dengan Viral yang terus berceloteh dengan kalimat putus-putusnya. Sementara Laluna cuma jadi pendengar walau pun ikutan engap denger Viral ngomong.
"I-itu temen-temen." Viral narik lengan Laluna lembut menuju meja di mana temen-temennya berada.
Mata Laluna berbinar saat ngeliat Nando di meja itu. Gadis itu menghempas lengan Viral dan berlari kecil mendekati meja Nando.
"Hai, guys.."
Semua yang ada di situ menatap Laluna bingung.
"Hai, La..luna ya?" Cia yang pertama kali ngejawab.
Laluna ngangguk dan duduk di sebelah kiri Nando.
"Hai, Nando."
Yang disapa cuma nengok sekilas dan tersenyum singkat. "Hai."
Dengan riangnya Laluna memeluk Nando dari samping. Mendadak suasana hening, Kauki terperangah, Cia menganga, Alpha gak jadi nyuap baksonya dan Viral ngeliat adegan itu dengan tampang gak rela.
"Aku kangen banget sama kamu. Bersyukur banget akhirnya kita bisa ketemu lagi setelah hampir dua tahun pisah."
Kauki yang ada di sebelah kanan Nando mengernyitkan dahinya gak suka. Jujur Kauki pengen marah saat cowoknya dipeluk cewek lain. Tapi dia gak mau cemburu buta, pasti ada penjelasan di balik sifat SKSD Laluna ke Nando.
"Tunggu.. kalian udah saling kenal?"
Nando ngelepasin pelukan Laluna dnegan tampang risih. Laluna ngeliat ke arah Kauki.
"Iya. Gue itu man-"
"Temen aku di Singapura," sela Nando sebelum Laluna selesai menjawab.
"Owh.. Hai, gue Kauki. Gue-"
"Kauki pacar aku, Lun," sela Nando lagi dengan menekan kata 'pacar'. Dengan sengaja menggenggam tangan Kauki di atas meja dan menunjukkannya ke Laluna.
Raut wajah Laluna berubah, yang tadinya cerah menjadi keruh.
"Oh, jadi kamu udah punya pacar, Nan?"
"Iya," jawab Nando singkat sambil menatap Kauki. Sementara yang ditatap tampak malu-malu.
Ngeliat adegan itu mendadak Laluna gerah. "Eh iya, Nan. Mamaku juga di Jakarta, loh. Dia nanyain kamu terus."
Nando menahan nafas ketika Laluna seperti sengaja memberi tahu semua orang kalau mereka dulu pernah dekat. Sangat dekat.
"Ya." Cuma itu yang bisa Nando ucapkan.
"Oh iya, Mama kamu gimana kabarnya?"
Laluna sibuk mengenang kebersamaan dia dengan Nando dulu, gak peduli sama temen-temen Nando yang saling lempar pandang. Atmosfir di situ mendadak gak enak.
Tiga pasang mata milik Cia, Alpha, dan Viral kemudian tertuju pada Kauki yang bermuka bingung. Kemudian berpindah ke arah Nando yang keliatan gak nyaman.
"Kamu udah selesai makannya, Sayang? Kita ke taman, yuk," ajak Nando ke Kauki yang masih mengerutkan kening.
"Ah? Eem.." Kauki gak sempet ngejawab soalnya Nando keburu narik tangannya lembut.
"Semuanya, kita pergi duluan, ya."
"O-oh.. Iya, Nando," jawab Cia mewakili, Alpha sama Viral cuma ngangguk pelan.
Sedangkan Laluna? Gadis itu lagi nahan kesel karena Nando cuekin.
"Nan, Nando! Iih.. Kok ditinggal, sih!" dengus Laluna.
"Eeh.. La-Laluna ma mau makan a-apa?" Viral mencoba mengalihkan kekesalan Laluna dengan nawarin makanan.
"Gak laper!" sahut Laluna ketus kemudian melengos pergi gitu aja.
Cia nyinyir. "Yee.. gak jelas banget, sih."
"Ta-tapi cantik," celetuk Viral mendapat lemparan sedotan dari Cia.
"Eh, guys, kalian merhatiin gak sih? Kayaknya Laluna itu bukan cuma temennya Nando deh."
"Maksud kamoh?"
"Kayaknya si Laluna ini mantannya Nando, atau nggak temen deketnya Nando yang punya rasa sama Nando. Kayak yang di sinetron-sinetron." Alpha berasumsi.
"Da-dasar ko-ko korban sin-sinetron," ledek Viral.
"Alpha sok tau!" sorak Cia mendapat dengusan malas cowok itu.
"Heh, gue enggak sok tau, gue cuma menilai apa yang gue liat!"
"Mau Laluna mantannya Nando kek, temen deketnya atau apa pun itu, semoga kehadiran Laluna gak ngerusak hubungan Kauki sama Nando."
"Bet-betul tuh," Viral menyetujui.
Alpha manggut-manggut setuju. Dia ikut mendoakan kelanggengan hubungan sahabatnya walau pun hatinya perih.
"Iya. Semoga aja Laluna gak ganggu hubungannya Kauki sama Nando."
ššš
"Nando, aku pengen nanya sesuatu ke kamu."
"Tentang Laluna?"
Kauki memandang Nando takjub. "Kok tau, sih?"
"Karena aku bisa ngerasain semua yang kamu rasa, termasuk rasa bingung kamu."
"Ya ampun, bersyukur banget punya pacar peka." Kauki terkekeh senang sambil ngerangkul lengan Nando. "Jadi, Laluna itu beneran cuma temen kamu?"
Nando diam sebentar, lalu mengangguk pelan.
"Temen deket atau.."
"Nggak. Cuma temen biasa," jawab Nando pelan, namun hatinya meringis meminta maaf pada Kauki karena telah membohongi gadis itu.
Kauki manggut-manggut. "Ooh.. tapi kok akrab banget? Tadi juga Laluna bilang kamu sering main ke rumahnya, malah udah kenal sama Mamanya. Beneran cuma temen biasa?"
Nando menelan ludah, dia bingung harus ngejelasin dari mana. Dia pengen bilang ke Kauki kalo Laluna itu sebenernya mantan dia, tapi Nando takut.
Ngeliat wajah gak nyaman Nando, bikin Kauki ngerasa bersalah.
"Aku terlalu banyak nanya, ya? Gak apa-apa kok, Nando, aku gak bakal ngelarang kamu deket sama siapa pun termasuk temen kamu si Laluna itu. Asal... kamu harus inget kalo udah punya aku."
Seulas senyum terbit di bibir Nando, lelaki itu mengusap lembut kepala Kauki.
"Gak ada yang bisa lupa sama kamu."
Nando bukannya gak mau jujur, dia cuma belum siap cerita. Nando gak mau hubungannya sama Kauki rusak cuma gara-gara Laluna, apalagi hubungan mereka baru seumur jagung.
Nando sangat mencintai Kauki dan dia gak mau kalo sampe kehilangan Kauki. Belum waktunya, batin Nando sembari mempersiapkan diri.
Dari jauh, sepasang mata indah Laluna ngeliat pemandangan itu dengan tatapan terluka.
Laluna terluka saat mengetahui bahwa hati Nando kini sudah menemukan pemilik yang baru. Yakni Kauki.
ššš
Pulang sekolah, adalah hal kecil yang bikin semua murid bahagia. Kauki, Alpha dan Nando jalan beriringan menuju parkiran.
"Nando.. Nando tunggu!" teriakan seorang cewek menghentikan langkah ketiga remaja itu.
Dilihatnya Laluna yang berlari ke arah mereka. Nafas gadis itu ngos-ngosan akibat ngejar Nando.
"Nando, aku pulang sama kamu, ya. Supirku gak bisa jemput."
Nando langsung nolak. "Gak bisa! Aku pulang sama Kauki."
"Yaah.. Nando, tega banget, sih."
Alpha cuma bisa nonton, berasa jadi patung. Cowok itu ngelirik Kauki yang cuma diem.
"Em.. Gak apa-apa, kok, Nan. Kamu anterin aja Laluna."
Nando langsung menggeleng. "Nggak, Ki. Aku maunya sama kamu."
"Nando, aku kan baru di sini, belum tau jalan," rengek Laluna gak peduli walau pun ada Kauki.
"Ya itu urusan kamu," balas Nando gak peduli.
"Nando.." tegur Kauki. "Anterin aja gak apa-apa, kasian Laluna."
"Tuh, pacar kamu aja ngerti." Laluna menimpali ucapan Kauki. Walau gak iklas waktu nyebut Kauki pacar Nando.
Nando berdecak lalu mengusap pipi Kauki. "Terus kamu gimana?"
"Kauki sama gue," jawab Alpha cepat.
Nando ngelirik Kauki dan gadis itu mengangguk. Cowok itu membuang nafas kasar.
"Ya udah, kabarin aku kalo udah nyampe rumah. Ya?"
Kauki senyum. "Iya, kamu hati-hati, ya."
Nando mengecup kening Kauki tanpa peduli tatapan gak suka Laluna. Sementara Alpha mengalihkan pandangannya ngeliat adegan itu.
Padahal Nando cuma nyium kening Kauki, tapi cukup bikin hati Alpha dan Laluna kebakar.
"Yuk, Nan." Laluna ngerangkul Nando dengan riang.
Tid!
Nando membunyikan klaksonnya dibalas lambaian tangan Kauki dan senyum tipis Alpha.
Selepas keduanya pergi, Kauki menghela nafas berat. Sebenernya dia gak rela ngeliat Nando sama Laluna. Apalagi cewek manis itu meluk Nando erat banget. Walaupun Nandonya selalu ngasih jarak.
"Ki?" Rangkulan Alpha di bahunya bikin Kauki tersentak.
"Hah?"
"Cemburu lo ya?" tebak Alpha ngeliat tampang kusut Kauki.
"Enggak."
"Gue yakin Nando cowok yang setia. Secantik apapun ceweknya, dia gak mungkin berpaling dari lo," hibur Alpha.
"Semoga aja."
"Udah yuk pulang."
Dengan lemas Kauki mengangguk, Alpha merangkul pundak Kauki dan mengajaknya menuju mobilnya berada.
"Udah jangan cemberut, nanti gue beliin balon deh."
"Emangnya gue bocah!"
"Haha.."
ššš
Sore sekitar jam 7, di kamar bernuansa biru dongker, Nando lagi sibuk dengan buku belajarnya.
Lelaki berkacamata itu lagi gencar-gencarnya belajar dikarenakan sebentar lagi USBN. Jadi, Nando harus belajar dua kali lebih keras biar dapet nilai tinggi.
Nando bahkan ngingetin Kauki agar giat belajar, mereka bahkan udah jarang jalan bareng dan absen ke panti karena sibuk belajar.
"Nando."
Saking sibuknya belajar, Nando baru sadar kalo mamanya udah ada di ambang pintu.
"Eh, Ma? Masuk aja. Kenapa?"
Muka mama Nando tampak serius. "Kamu bilang kamu udah putus sama Laluna."
"Ya emang udah. Nando kan juga udah bilang kalo udah punya pacar lagi."
__ADS_1
"Terus kenapa dia di sini?"
"Dia siapa?"
"Laluna."
Deg.
"Laluna.. ke sini?"
"Iya, dia mau ketemu kamu katanya."
Nando mendengus malas. "Suruh pulang aja. Aku capek."
"Nando.." Mama Nando mendekati putranya yang berwajah datar di meja belajar. "Kamu gak boleh gitu, dia jauh-jauh dari Singapura ke sini buat ketemu kamu."
"Aku gak nyuruh dia datang ke sini."
"Tapi dia ke sini buat minta maaf."
"Aku udah maafin dia. Sekarang Mama boleh suruh dia pulang."
"Nando." tegur mamanya ngasih tatapan lembut sekaligus tegas.
Nando berdecak, dia gak bisa nolak kalo mamanya yang minta. Dengan malas cowok itu beranjak buat nemuin Laluna.
Laluna mengembangkan senyumnya ketika ngeliat Nando turun dari tangga.
"Hai, Nando."
"Hm."
Mamanya Nando menggelengkan kepala ngeliat respon Nando yang cuek.
"Kalian ngobrol dulu ya, Tante siapin minum dulu."
"Ah, gak perlu repot-repot, Tan," kata Laluna halus. Gadis itu senang karena mamanya Nando masih baik padanya walaupun dia dan Nando udah gak pacaran.
"Gak apa-apa, Laluna." Senyum mama Nando kemudian meninggalkan dua remaja itu.
Keheningan menyelimuti, Laluna berkali-kali ngelirik Nando yang sama sekali gak memandangnya.
"Nando," panggil Laluna memecah keheningan. "Gimana kabar kamu?"
"Baik."
"Nando, aku ke sini.. mau minta maaf."
"Udah aku maafin. Sekarang kamu boleh pulang."
"Nando!" Laluna menahan lengan Nando ketika lelaki itu beranjak dari sofa. Matanya berkaca-kaca menerima sikap tak acuh Nando.
"Aku tau aku salah, gak seharusnya aku minta pisah dari kamu. Aku nyesel, Nan.. Plis, Nan.. Kembali sama aku. Kita mulai semuanya dari awal." Laluna mulai terisak.
Sedangkan Nando terdiam di tempatnya, Nando iba, tapi dia gak mau meluk Laluna. Nando gak bisa meluk cewek lain selain Kauki.
Kauki.. Nando teringat sang kekasih, dia gak boleh luluh sama air mata Laluna.
Dulu, Laluna minta pisah karena gadis itu sakit kanker hati. Nando udah berusaha mempertahankan hubungan mereka, mau menerima Laluna, tapi Laluna tetap bersikeras pengen pisah, Laluna takut cuma jadi beban Nando.
Dan Nando menyerah, lelaki itu pun pergi dengan hatinya yang retak. Setahun kemudian, Nando belum bisa ngehapus rasa cintanya. Berbagai cara dia lakukan agar bisa menemukan potongan hatinya yang patah karena Laluna. Cowok berambut hitam itu bahkan rela pindah negara buat ngelupain rasa cintanya ke Laluna.
Dan di sinilah Nando, di Indonesia. Di sini, dia menemukan Kauki. Gadis bermata coklat cerah serupa lelehan karamel itu membuat Nando lupa akan Laluna. Kauki juga yang memperbaiki patahan hatinya, menyembuhkan lukanya, dan menjadi pemilik hatinya.
Nando menepis lengan Laluna.
"Dulu aku udah bilang sama kamu kan, aku mau nerima kamu walaupun kondisi kamu seperti itu. Tapi apa? Kamu malah ngusir aku.
Aku udah berusaha, Lun. Tapi kamu malah memilih berjuang sendiri. Dan sekarang dengan gampangnya kamu meminta aku kembali?" Nando menggeleng. "Gak akan bisa, Lun! Maaf, hati aku bukan buat kamu lagi."
"Aku tau, aku emang bodoh ngelepasin cowok sebaik kamu."
Untuk sekejap cuma suara isak tangis Laluna yang mengisi kekosongan, Nando diam membeku.
"Nando, setelah kamu pergi, aku sempat menjalani kemoterapi selama setahun, kondisi aku sempat membaik, aku pikir aku udah sembuh. Makanya aku memutuskan berhenti kemo."
Mata Laluna berbinar kala mengingat rambutnya mulai memanjang, tubuhnya kembali berisi seperti orang sehat. Tapi sekejap kemudian binar itu memudar.
"Tapi ternyata, penyakit sialan itu kembali lagi, bahkan semakin parah. Dan dokter bilang, usiaku gak lama lagi, Nan. Kankerku udah parah."
Nando mengamati Laluna, gadis itu tampak sehat-sehat saja. Nando menarik satu sudut bibirnya membentuk senyum miring.
"Kamu sakit? Kayaknya enggak, deh, kamu sehat-sehat aja. Jangan bohong, Laluna!"
Laluna semakin terisak, tanpa diduga gadis itu menarik rambut panjangnya, yang ternyata menutupi rambut aslinya. Ya, Laluna memakai wig untuk menutupi rambut aslinya yang mulai rontok.
Gak sampe di situ, Laluna mengambil tisu dan mengusap wajahnya, menghapus make up di wajahnya hingga terpampanglah wajah pucat dan mata yang membengkak.
"Sekarang gimana? Apa kamu percaya kalo aku baik-baik aja?"
Nando menatap nanar Laluna. Cowok itu tercengang. Seketika dihujam rasa bersalah.
Ngeliat Laluna yang banjir air mata membuat Nando gak tega, direngkuhnya Laluna. Dan seketika Nando bisa ngerasain tubuh kurus gadis itu.
"Maaf.. maafin aku.."
Laluna memejamkan matanya pedih, akhirnya dia bisa ngerasain pelukan Nando. Tangisnya pecah karena menahan rindu pada lelaki di pelukannya.
Mereka akhirnya larut dalam pelukan itu. Nando gak berenti ngusap punggung lemah Laluna, memberinya kekuatan.
"Kata dokter, usiaku gak lama lagi, Nando. Dan aku mau menghabiskan sisa umurku sama kamu, makanya aku ke sini."
"Maksud kamu?"
"Aku pengen nikah sama kamu, sebelum aku mati."
Nando melepaskan pelukannya dan menggeleng keras. Gak mungkin dia nikah sama Laluna sedangkan hatinya milik Kauki.
"Maaf, Lun, aku gak bisa." Nando menolak secara halus tapi itu tetap bikin hati Laluna sakit.
"Nando, please-"
"Enggak, Laluna!"
"Nando.." Hati Laluna perih mendapat penolakan Nando. "Kenapa, Nan?"
"Laluna, bukan aku bermaksud jahat atau pun balas dendam atas kejadian tempo dulu. Tapi sekarang keadaannya udah berbeda, Lun. Aku udah punya Kauki."
"Dia pasti bakalan ngerti, Nan."
"Enggak, aku gak mau ngelepasin Kauki, Lun. Aku cinta sama Kauki. Aku bahkan udah membuat rencana masa depan sama Kauki, "
Mata Laluna kembali berair, hatinya berasa ditusuk ribuan jarum mendengar ungkapan cinta Nando ke cewek lain.
Dulu dia juga punya rencana masa depan sama Nando, tapi karena keegoisannya, rencana indah itu pun sirna.
"Kasih aku kesempatan, Nan."
"Laluna-"
"Kalo kamu gak mau nikah sama aku, seenggaknya jangan jauhin aku. Aku cuma pengen di saat-saat terakhir aku, kamu ada di samping aku, Nando."
Laluna mendongak menatap Nando. Lelaki itu tampak dilema. Di satu sisi dia gak mau hubungannya sama Kauki hancur, di sisi lain Nando kasian sama Laluna.
Akhirnya dengan helaan nafas panjang, Nando memutuskan.
"Oke. Tapi tolong, jangan usik hubunganku sama Kauki."
Laluna tersenyum lebar meski hatinya terbakar.
ššš
Udah hampir dua minggu Laluna bersekolah di tempat Nando. Gadis itu gak pernah mau lepas dari Nando sekali pun ada Viral yang terus merecokinya tiap waktu.
Nando bukannya gak mau tegas, tapi emang dasar Laluna-nya yang gak mau jauh-jauh dari Nando. Walau pun begitu, Nando gak pernah absen merhatiin Kauki. Sebisa mungkin dia lepas dari Laluna supaya bisa berdua sama pacarnya.
Laluna sendiri enak-enak aja ngerangkul-rangkul Nando. Status Kauki sebagai pacar Nando gak diindahkannya, dia cuek aja gelayutan di samping Nando.
Bukan Kauki, melainkan Cia yang kesel sendiri ngeliatnya. Sebagai sahabat yang baik, Cia gak suka Kauki ditikung anak baru. Gadis berkacamata bulat itu bahkan sering ngomelin Kauki yang kelewat santai pacarnya ditempelin.
"Kauki, liat itu ih, masa pacarnya ketempelan kunti didiemin aja!"
Kauki ngelirik sekilas Nando yang baru memasuki kantin, dan Laluna yang gelayutan di lengan cowok itu.
Sebenernya Kauki pengen ngamuk, tapi dia cuma bisa menghela nafas pasrah. Dia bisa aja marah-marah, tapi Kauki bukan tipe orang yang kayak gitu. Toh, Nando gak lupain dia. Dan toh Laluna cuma temen lamanya Nando.
"Biarin aja, toh Nando sayangnya sama gue."
Mendengar jawaban itu, Cia cuma bisa menepuk jidatnya.
Dan belakangan ini Nando sama Kauki jarang ketemu, ketemu pas di sekolah aja. Bukan berarti hubungan mereka renggang.
Meski begitu Kauki gak kesepian, karena Alpha selalu main ke rumahnya dan mereka saling curhat di balkon kamar masing-masing atau ngelakuin hal-hal seru kayak waktu kecil.
Kauki menahan tawanya ngeliat Alpha yang tengah berjuang PDKT sama Ferguso. Dia lagi duduk nyantai di balkon kamarnya, main sama Ferguso. Kemudian Alpha datang dari balkon kamarnya.
Lelaki itu bersikeras pengen ngejinakin Ferguso. Sebab kucing Kauki itu kayaknya gak suka sama Alpha. Tiap Alpha main ke rumah, Ferguso mengeong keras bak kucing garong lagi gelud.
Alpha bahkan beberapa kali dapat cakaran di tangan dan kakinya karena berani mendekati sang mommy, Kauki.
"Ferguso, liat nih, Daddy punya apa." Alpha duduk di depan Ferguso dengan senyum manisnya.
'MEEEEOONG!'
Kauki terkekeh. "Dia nggak mau manggil lo Daddy, Al. Daddy-nya dia tuh Nando."
"Emang kenapa, sih? Gantengan juga gue dari pada Nando-"
'MEEEENG!!' sela Ferguso gak terima Alpha ngebandingin daddynya.
Alpha berjengit dan mengelus dada. "Buset, Ki, elo kasih makan apa si Ferguso jadi garang gini?"
"Gue kasih makan rayap, puas lo!"
"Jangan galak-galak dong, Ferguso. Daddy-"
'Meeeong!' Ferguso ngasih peringatan ke Alpha.
"Ya udah iya! Uncle ke sini bawain makanan buat Ferguso. Tadaaa.."
Mata abu-abu Ferguso berbinar ngeliat sebungkus makanan kucing di tangan Alpha. Kucing berbadan mungil itu langsung mendekati Alpha, tangan mungil bercakarnya mencoba meraih.
"Eits.. Mau ini? Kalo mau, harus nurut sama Alpha."
Ferguso mengeong malas, kucing itu akhirnya nurut saat Alpha membawanya ke pangkuan cowok itu.
"Gue gak nyangka kucing ternyata bisa matre juga. Harus disogok dulu baru nurut dia. Haha.." Alpha tertawa kecil sambil nyuapin Ferguso.
Kauki terkekeh. "Dia begitu sama lo doang. Sama Nando dia langsung akrab." Dielusnya bulu-bulu Ferguso dengan lembut.
"Dasar kucing pilih kasih!" Alpha mengacak bulu-bulu Ferguso gemes.
Tatapan Alpha berpindah ke Kauki, heran, gadis itu keliatan gak semangat kayak biasanya.
"Elo kenapa lemes? Sakit?"
"Hm? Enggak kok."
"Elo pasti mikirin cewek yang sama Nando tadi, ya?"
Tepat, tebakan Alpha emang bener. Emang itu yang bikin Kauki gelisah kayak sekarang.
"Udah lah, Ki, gak usah dipikirin."
"Gimana gue nggak kepikiran, cowok gue ditempelin cewek lain."
"Tapi Nandonya kan biasa aja."
"Biasa aja kan lama-lama bisa kebiasaan, Al. Gue takut lama-lama Nando kepincut sama cewek itu."
"Cinta itu saling percaya. Gak ada yang perlu lo takutin selama lo saling percaya sama cowok lo. Lagian kata lo, cewek itu cuma temen Nando," kata Alpha seraya menempatkan Ferguso di atas kursi belajar Kauki.
"Temen bisa aja saling suka, kan?"
"Yee.. elo kok malah negatif thinking?"
"Gue tuh cemburu, Alpha!" Kauki merengut kesal.
Ngeliat muka cemburu Kauki yang lucu, Alpha malah ngerasa sedih. Karena Kauki cemburu buat Nando dan bukan buat dia.
Ya elah, Alpha.. Sadar dong, elo cuma sohibnya!
"Tadi gue ngajak Nando ke panti, tapi ternyata dia lagi nganterin Laluna ke rumah sakit. Tau deh bener apa enggaknya."
"Elo positif thinking aja, Ki. Mungkin Nando sama cewek itu lagi berduaan," ucap Alpha ngasal.
Plakk!
"Aduh!" Alpha meringis ketika Ferguso nabok pipinya.
"Elo sih, bukannya nenangin gue malah bikin gue parno." Kauki terkekeh puas ngeliat Alpha ngelus pipinya yang barusan digaplok Ferguso.
Sementara Alpha mendelik kesal ke arah Ferguso yang balas menatapnya dengan watados.
ššš
Laluna baru keluar dari toilet, wajah gadis itu tampak pucat. Sambil terus jalan menuju kantin, sesekali Laluna meringis seraya megang perutnya yang terasa nyeri.
Ini emang udah sering terjadi sejak dirinya divonis kanker hati, tapi Laluna masih gak kuat nahan sakitnya.
__ADS_1
"Aw.." Tiba-tiba Laluna ngerasa kepalanya pening, tubuhnya terasa lemas.
Dari depan, tampak Viral yang berlari dengan riang mendekatinya. Dan di belakang cowok itu, ada Alpha yang berjalan santai dengan muka ditekuk.
"Hai, Laluna!"
Sapaan manisnya gak dapat sahutan dari Laluna. Membuat Viral cemberut. Tapi kemudian raut wajahnya berubah khawatir kala melihat Laluna yang meringis.
"La-Laluna, kek kamu ke-kenapa?" tanya Viral panik. Dirinya menopang tubuh Laluna yang hampir ambruk.
Wajah Laluna pucat pasi. "Vi..ral.."
Laluna menatap Viral dengan mata sayunya, hingga mata itu tertutup, dan tubuh Laluna ambruk sepenuhnya di pelukan Viral.
"La-Laluna! Laluna!" Viral gelagapan.
Alpha yang melihat itu terdiam, membuat Viral menggeram kesal.
"Alpha, buruan ke sini! Cepet bantuin gue bawa Laluna ke UKS."
Eh? Alpha makin cengo, Viral barusan ngomong, tanpa putus-putus.
"Alpha!"
Sentakan Viral membuat Alpha tersadar, cowok itu segera membantu Viral mengangkat Laluna dan membawanya ke UKS.
Viral terus menggenggam tangan Laluna, sesekali menepuk pelan pipi Laluna, mencoba menyadarkan gadis itu.
"Nih, Ral, minyak anginnya."
"Makasih ya, Al." Lalu mendekatkan minyak angin itu ke hidung Laluna. "Laluna.. bangun dong. Aku khawatir."
Alpha menatap sahabatnya takjub. Demi apa penyakit gagapnya Viral sembuh?
Seketika Alpha keinget sama ucapan Viral beberapa waktu lalu.
"Gue harap, su-suatu hari nan-nanti, bakal ada ya-yang nyembuhin ga-gagapnya gu-gue. Ka-kalo dia ce-cewek bakal gue nik-nikahin. Kak-kalo cowok, gu-gue jadiin sa-saudara." tuturnya.
"Ral."
"Apa?"
"Elo udah gak gagap lagi."
"Ha?" Viral cengo denger ucapan Alpha.
"Elo udah gak gagap, Ral. Tadi lo ngomong tanpa putus-putus, elo udah sembuh!" seru Alpha girang.
Viral tercenung sejenak. "Masa, sih?"
"Iya, coba deh lo tes."
"Mm.. Tes tes, satu dua, satu dua, di sini Viral Bramasta."
Viral langsung natap Alpha dengan muka girangnya. Dibalas Alpha yang ikut mengembangkan senyum lebar.
"Lah iya, Al. Gue udah gak gagap, GUE UDAH SEMBUH."
"Iya, Ral. Puji Tuhan."
"AAA.. THANK GOD! Alpha, gue udah bisa ngomong lancar, gue cowok perfect sekarang, HOREEE!!"
Alpha agak terbatuk kala Viral memeluknya erat-erat, seolah menyalurkan rasa bahagianya.
"Iya, Ral, gue iket seneng. Tapi, lepasin dulu pelukannya. Gue hampir mati."
Tersadar, Viral ngelepasin pelukannya dan ngeliat Alpha merasa bersalah.
"Maaf, Bro, gue terlalu seneng."
"Iya, gak apa-apa."
"HOREEE.. GUE UDAH SEMBUH!"
"Enghh.." Teriakan Viral rupanya mengusik Laluna. Gadis manis itu membuka matanya dengan susah payah.
"Eh.. Laluna, kamu gak apa-apa? Mana yang sakit? Mau aku panggilin dokter?"
Seketika Alpha menyentil dahi Viral. "Ini sekolah, bukan rumah sakit. Gak ada dokter, ****!"
"Ya maksud gue kan dokternya gue telpon ke sini, ****!"
"Eh, nggak usah.. Gue nggak apa-apa kok," kata Laluna melerai perdebatan dua cowok ganteng itu.
Laluna mencoba bangkit dan dengan sigap Viral membantunya. Rasa cemas terpatri di wajah ganteng Viral membuat Alpha mengulum senyum karena Viral telah menemukan pujaan hatinya.
"Laluna, kamu belum makan, kan? Kita ke kantin yah."
"Enggak usah," sahut Laluna serak, gadis itu kemudian terbatuk saat merasa gatal di tenggorokannya.
'Uhuk.. Uhukk..!'
Awalnya batuk biasa, tapi batuk itu tak kunjung mereda, membuat Viral tambah cemas.
Laluna terdiam merasa sesuatu yang cair membasahi tangannya yang menutup mulutnya. Cewek itu ngeliat tangannya, kemudian membeku melihat darah di tangannya.
Viral dan Alpha ikut ngeliat darah itu kontan membeliak. Terlebih Viral.
"Laluna, kamu berdarah!"
"Iya, Lun. Elo gak apa-apa?"
"Eh, eng-nggak papa, kok. I-ini bukan apa-apa. I-ini lipstik," kilah Laluna kemudian beranjak dari kasur UKS. "Ya udah ya, gue ke kelas dulu. Viral, Alpha, makasih yang udah nolongin gue."
Dengan terburu-buru Laluna meninggalkan UKS, serta Viral dan Alpha yang saling pandang dengan wajah yang sama-sama kebingungan.
Sebenernya, Laluna kenapa? Pikir mereka.
ššš
Kauki mematut dirinya di depan cermin. Cewek bersurai coklat keemasan itu udah cantik dengan outfit seadanya.
Di kasur Kauki, Alpha duduk merhatiin gadis itu dengan muka cemberut. Tadinya Alpha mau ngajakin Kauki nge-mall bareng Cia sama Thoriq. Tapi ternyata Kaukinya malah janjian sama Nando.
"Elo ngapain masih di sini? Katanya mau ke mall."
"Ya masa gue gak ada pasangannya sih, Ki."
"Makanya cari pacar dong, Alpha," sahut Kauki cuek.
"Males."
Kauki cuma ngangkat bahu kemudian mengambil tas kecil yang senada sama warna bajunya.
"Gue pergi dulu ya, Alpha. Byee.."
"Eeh.. Tunggu bentar."
Kauki muter matanya jengah. "Apaan?"
"Gimana kalo gue ikut lo ketemu Nando."
Kauki sontak mendelik. "Gak! Gak boleh!" tolaknya.
"Yaah.." Alpha manyun.
"Tapi lo bisa nganterin gue."
"Yang bener?" Muka Alpha langsung berbinar.
"Nganter doang tapi, ya."
"Oke, siap!" Alpha semangat. Seenggaknya, dia bisa berdua sama Kauki walau sebentar.
Niatnya pas nganter Kauki, Alpha mau ngelamain laju mobilnya biar gak cepet sampe. Hehe..
ššš
"Nando, kamu kenapa ngehindarin aku sih?"
"LALUNA, CUKUP!" bentak Nando, jengah sama Laluna yang selalu ngintilin dia ke mana-mana.
Kayak sekarang ini, mereka ada di taman kota, tadinya Nando mau ngajak Kauki ketemuan, tapi ternyata Laluna ngikutin dia.
Laluna tercekat, baru kali ini Nando membentaknya. Nando jarang ngebentak orang, dan kalo Nando udah main bentak-bentakan, itu artinya Nando beneran marah.
"Aku capek ya sama tingkah kamu, kamu bilang cuma mau temenan sama aku!"
"Aku udah nyoba buat jadi temen kamu, Nando, tapi aku gak bisa." Gadis itu merangkum pipi Nando, menatapnya dalam. "Aku mau kita kayak dulu."
Nando menyentak lengan Laluna. "Dulu dan sekarang itu udah beda, Lun. Aku sekarang udah punya Kauki, harusnya kamu mikir dong gimana perasaan dia."
"Maafin aku, Nando. Aku cuma.." Suara Laluna tertelan. "Aku cuma belum terima kalo hati kamu bukan lagi milik aku. Aku masih cinta sama kamu."
Nando mendengus kasar saat Laluna mulai menangis. Dan Nando gak bisa ngeliat seorang perempuan nangis terlebih itu karena dirinya.
Dengan terpaksa Nando membawa Luna ke pelukannya, menenangkan gadis itu. Dan Laluna menyandarkan kepalanya di dada bidang Nando.
Gadis berambut hitam panjang itu mengeratkan pelukannya, semakin nyaman dengan perlakuan Nando yang mengelus punggungnya.
Sialnya, saat itu pula Kauki yang baru datang ngeliat adegan itu dari kejauhan. Kauki terpaku, kakinya lemas saat melihat kekasihnya berpelukan dengan gadis lain. Hatinya seketika memanas karena cemburu.
Alpha yang berada di samping Kauki juga udah panik, takut kalo Kauki ngamuk tiba-tiba.
"Ki-"
"NANDO!"
Nando tersentak begitupun Laluna. Nando langsung melepas pelukannya dan menatap panik Kauki yang menatapnya nanar.
Segera dihampirinya Kauki yang mulai netesin air mata.
"Kauki, aku bisa jelasin. Ini gak seperti yang kamu liat."
"Jelasin apa? Udah jelas-jelas tadi aku ngeliat kamu pelukan sama dia!"
Alpha memandang Kauki ngeri, terlebih ngeliat tangan Kauki yang mulai mengepal. Siap nonjok orang.
"Elo, gue mulai muak ya sama lo. Seenaknya aja nempelin cowok orang!"
Tatapan Kauki beralih pada Nando. "Kamu juga, kenapa diem aja, sih? Seneng dipepetin dia terus?"
"Kauki, bukan gitu-"
"Terus apa?"
"Kauki, sabar.. Marah-marah gak bakal nyelesain masalah." Alpha mencoba menenangkan sohibnya.
"Diem lo! Jangan ikut campur!" Alpha meringis waktu dibentak Kauki. Akhirnya cowok itu memilih diam, Alpha takut.
"Dan lo, Laluna. Gue tau lo sahabatnya Nando, tapi bukan berarti lo bisa meluk ataupun ngerangkul dia seenaknya! Lo mikir gak sih kalo jadi gue?"
"Elo gak ada hak buat ngatur gue. Nando bukan suami lo, dan gue lebih dulu kenal Nando daripada lo!" balas Laluna nyolot.
"Ya tapi seenggaknya lo hargai gue dong, gue pacarnya Nando sekarang!"
"Gue tau lo pacarnya. Tapi asal lo tau, sebelum sama lo, Nando pernah sama gue."
Kauki tercekat. "Maksud lo?"
"Gue sama Nando dulu pacaran."
Dor!
Dan fakta itu akhirnya terungkap, gak cuma bikin Kauki kaget, tapi juga nyesek. Jadi selama ini Nando bohongin dia?
"Apa?" Kauki natap Nando meminta penjelasan. "Kamu.. kamu bohongin aku, Nando? Kamu bilang dia cuma temen kamu."
"Kauki, aku bisa jelasin.."
"Kenapa kamu harus bohongin aku sih, Nando. Kenapa dari gak jujur dari awal?"
"Kauki-"
"Oh, atau jangan-jangan kamu sengaja nyembunyiin ini semua, biar kamu bisa berduaan terus sama cewek gampangan ini tanpa sepengetahuan aku."
PLAKK!
Ucapan Kauki yang penuh emosi membuat Nando lepas kendali dan tanpa sadar melayangkan tamparannya pada gadis itu.
Kauki syok, begitu pula Alpha. Laluna terperangah.
"Nando, elo--" Suara Alpha tertelan karena syok.
Seketika itu juga Nando sadar, lelaki itu menatap tangannya kemudian menatap Kauki yang tampak mematung.
Nando langsung disergap rasa nyesel. Tapi dia nggak suka kalo Kauki ngomong kasar kayak tadi.
"Ka-Kauki.. Kauki, aku minta maaf--"
Kauki segera menyentak tangan Nando yang mencoba menyentuhnya.
"Gue salah nilai lo. Elo gak sebaik yang gue kira, Nando." Suara Kauki tercekat nahan tangis. Hidungnya bahkan sudah memerah, dadanya sakit menahan sesak.
Dengan perasaan hancur Kauki berlari meninggalkan Nando yang terdiam menyesali kebodohannya barusan.
"Kauki!" Alpha langsung ngejar Kauki, takut sahabatnya itu akan melakukan hal buruk setelah ini.
"Kauki.." desis Nando. Dia pengen ngejar Kauki, tapi kakinya lemas. Cowok itu mengacak rambutnya frustasi.
__ADS_1
Sedangkan Laluna diam mematung. Dia bingung harus seneng atau iba sama Kauki.
ššš