
Pukul 07. 20 am.
Maura melangkah gontai, wajah cantiknya tampak sendu. Tersirat lelah dan kesedihan.
Maura pasrah, dia menyerah mendapatkan maaf dari Tristan. Gadis bersurai hitam itu sudah melakukan berbagai cara supaya bisa berbaikan dengan mantannya itu, tapi Tristan terus berkeras hati.
Namun Maura tidak menyalahkan Tristan, dia sadar bahwa apa yang dilakukannya di waktu yang lalu merupakan kesalahan besar.
Tristan membencinya, itu pantas Maura dapatkan. Maura bisa menerimanya. Maura mengerti, dia telah menggores luka begitu dalam di hati Tristan.
Sejujurnya, Maura masih mencintai Tristan, berbagai cara dia lakukan untuk melupakan Tristan.
Banyak pria yang dia pacari, namun semuanya tak setia, semuanya tak ada yang sebaik Tristan. Semua pria itu mengkhianatinya, persis seperti yang dia lakukan dulu pada Tristan.
Mungkin ini karma. Batin Maura sesak.
"Maafin aku, Tristan. Seandainya ada mesin waktu, aku ingin kembali ke masa-masa dulu. Masa-masa di mana aku dan kamu masih menjadi kita. Masa di mana hanya ada cinta di antara kita, bukan kebencian," ucap Maura diiringi isak tangis.
Maura tengah duduk di halte, menunggu bus. Gadis itu baru saja pulang dari kantor. Semua temannya sudah pulang sedangkan dirinya mendapat lembur hari ini.
Sebuah range rover hitam berhenti di depannya, di dalam mobil itu, Alpha mengerutkan keningnya saat melihat gadis itu.
"Maura?" Alpha segera turun dan menghampiri gadis itu.
Dugaannya benar, itu memang Maura, gadis pujaannya.
"Kak Maura?"
Maura mendongak dan mendapati Alpha tengah menatapnya dengan kening berlipat.
"Al..pha ya?" tanya Maura mencoba mengingat lelaki di depannya.
"Iya, ini gue Alpha. Temennya Kauki, masih inget gue kan?"
"Yang waktu itu nangis jejeritan di mall?"
Alpha merona malu, Maura masih ingat kejadian memalukan itu ternyata.
"Hee.. Iya."
Maura manggut-manggut. Alpha tersenyum dan menempatkan diri duduk di samping gadis itu.
"Lo ngapain di sini sendirian?"
"Nunggu bis."
"Sendirian doang? Temen-temen Kakak ke mana?"
"Udah pada pulang."
Alpha mendengus dalam hati saat Maura menjawab singkat setiap pertanyaannya. Namun keningnya kembali berkerut saat menyadari mata sembab Maura.
"Kak Maura abis nangis?"
Maura gelagapan, "Ah, enggak, kok," kilahnya.
"Bohong. Kok suaranya serak gitu?"
"Enggak. Beneran." Maura memaksakan senyum, mencoba meyakinkan.
Alpha terus menatap Maura, membuat gadis itu sedikit salah tingkah.
"Ke-kenapa kamu liatin aku kayak gitu?"
"Kak, sahabat Kauki itu sahabat gue juga. Jadi Kakak boleh cerita sama gue, apapun itu," kata Alpha dengan nada serius.
Maura tertegun mendengarnya, gadis itu menunduk, tanpa sadar dirinya kembali terisak.
Alpha yang tega pun membawa gadis yang disukainya itu ke dalam pelukan. Menenangkan Maura.
Maura tak menolak. Dirinya butuh sandaran sekarang. Ia pun terisak di pelukan lelaki itu.
"Sst.. Cerita sama gue. Lo kenapa? Ada yang nyakitin lo, ya?" Alpha bertanya lembut sembari mengelus rambut Maura.
"Aku gak tau harus gimana lagi.. Aku udah nyoba segala cara biar dia bisa maafin aku," isak Maura.
Alpha sebenernya tak mengerti siapa 'dia' yang Maira maksud.
"Aku cuma pengen baikan. Kalau pun aku gak bisa kembali sama dia, aku terima asal dia gak membenci aku, Alphaa.."
Maura tak peduli jika dirinya terlihat lemah di mata Alpha. Dia terus mengeluarkan unek-uneknya dan Alpha mendengarkan dengan baik.
"Lo yang sabar ya. Mungkin dia butuh waktu." Alpha memberi masukan.
Maura melepaskan pelukannya, tak sengaja beradu pandang dengan Alpha. Maura salting kemudian menghapus air matanya, sementara Alpha menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
"Maaf," ucap Maura merasa canggung.
"Gak apa-apa. Lain kali kalo lo ada masalah, panggil gue aja. Gue siap kapanpun lo butuh," ucap Alpha tulus.
Maura tersenyum memandang Alpha. "Makasih, ya."
"Iya. Eh, kalo gitu lo gue anterin pulang aja, gimana?"
"Eh, gak usah. Aku gak mau ngerepotin-"
GLUDUG!
Maura dan Alpha sama-sama terlonjak mendengar suara guntur, tamda akan turun hujan.
"Tuh kan, ujan. Masih mau nunggu bis?"
"Tapi.."
"Udah, ayo."
Maura tak bisa menolak sebab Alpha keburu menarik tangannya untuk memasuki mobil.
ššš
"Si Alpha mana nih, katanya mau jemput gue. Ini udah sejam lebih gak dateng-dateng juga! Mana ujan gede lagi!" dengus seorang cewek dengan tampang kesalnya.
Kauki, baru aja selesai membeli peralatan buat kerja kelompok. Tadinya Kauki berangkat bareng Alpha, tapi karena Alpha ketiduran jadilah dia berangkat sendiri naik ojek online.
Kauki memeluk tubuhnya yang kedinginan, karena saat itu Kauki cuma pake crop tee hijau sama celana pendek di atas lutut, rambutnya dia kepang dua.
ļæ¼
Kepalanya celingak-celinguk mencoba melihat setiap kendaraan yang lewat.
Sebuah mobil melintas di depan Kauki, tapi Kauki tau betul itu mobil Alpha. Kauki udah hampir lega ngira Alpha datang buat jemput, tapi harapannya pupus saat mobil itu gak berenti sama sekali.
Tapi Kauki bisa ngeliat kalau itu Alpha, dengan seorang cewek di sampingnya. Dan meski pun cuma sekilas mobil itu lewat, tapi Kauki kenal siapa cewek yang ada di mobil Alpha.
"Maura? Alpha sama Maura?" gumam Kauki memandang range rover Alpha yang menjauh.
Kauki menghela nafas, "Pantesan Alpha ngelupain gue, ternyata lagi sama Maura!" gerutu Kauki.
Dia sebal tapi mencoba memaklumi. Alpha lagi jatuh cinta dan Kauki harus banyak ngalah kali ini. Demi kesuksesan pdktnya Alpha! Batin Kauki agak nyesek.
"Terus gue pulang sama siapa? Udah mau malem lagi," gumam Kauki lemes.
Kauki mau mesen ojol tapi dia gak bisa nyalain hp dalam keadaan ujan gede gini.
Dia mondar-mandir di depan toko buku. Akhirnya Kauki masuk lagi buat minta plastik gede ke pemilik toko, dan untungnya dikasih.
Dimasukkannya barang belanjaan serta hpnya ke dalam tas. Menarik nafas sejenak kemudian memberanikan diri menerjang hujan.
GLUDUG! JGER!
__ADS_1
Gadis berambut panjang itu sebenernya agak takut mendengar suara gledeg, tapi Kauki tetep menguatkan diri.
Alpha *******! Kauki mengumpati sahabatnya itu yang terus membuatnya harus rela berkorban untuk kepentingan pdkt Alpha.
Kauki terus jalan di bawah guyuran hujan, bajunya udah basah. Dia memeluk tubuhnya melindungi diri dari hawa dingin, tapi percuma.
---
Nando nyesel ninggalin mantel yang biasa dia bawa di rumah. Nando gak tau kalo bakal ujan, mana ujannya gede lagi.
Cowok berkacamata itu pun mau nggak mau harus rela tubuhnya kebasahan karena hujan.
Saat di tengah perjalanan pulang, alis tebalnya berkerut menangkap seorang gadis yang tak asing di matanya.
Dia pun berenti di samping gadis itu, membuat gadis itu terkejut sekaligus takut.
"Kauki?"
"Nando?" Cewek itu yang ternyata Kauki, menautkan kedua alisnya. Merasa lega karena ternyata yang menghadangnya bukan orang jahat.
"Kamu kenapa abis dari mana? Kenapa ujan-ujanan? Nanti sakit," ujar Nando agak teriak karena suaranya teredam hujan.
"Elo juga ujan-ujanan," sahut Kauki.
"Ayo naik, aku anterin."
"Eh, gak usah, Nan. Rumah gue gak jauh dari sini, kok."
"Gak apa-apa biar cepet. Kamu bisa demam kalo keujanan lama-lama," ucap Nando.
Kauki pun nurut, dia naik ke vespa Nando tepat di belakang cowok itu.
"Udah?"
Kauki mengangguk, tapi kemudian..
JDEER!!
Guntur menggelegar hebat membuat Kauki memeluk Nando secara reflek. Nando terpaku, jantungnya berdegup keras.
Sadar akan kehilafannya, Kauki pun melepas lingkarannya di pinggang Nando.
"So-sori, Nan, gue nggak sengaja."
"Eh, e-enggak apa-apa kok, Ki." Nando jadi salting begitu pun Kauki.
Diam beberapa saat, keduanya sibuk menetralisir degupan jantung masing-masing.
"Nando?"
"I-iya?"
"Kapan jalannya?"
"Oh i-iya maaf." Nando segera menjalankan vespanya, Kauki yang ngeliat kegugupan Nando cuma mengulum senyum.
Sejujurnya, Kauki pun dag dig dug sekarang.
ššš
Alpha nyampe di depan rumah bercat putih Maura. Maura gak langsung turun, dia menoleh ke arah Alpha.
"Makasih ya, Alpha. Kamu udah nganterin aku."
Alpha tersenyum tulus, sengaja biar keliatan ganteng di depan Maura.
"Sama-sama. Jangan sedih-sedih lagi ya, Kak. Kalo lo punya masalah, curhat aja sama gue. Gue siap kok kapan pun lo butuh," tutur Alpha ngasih senyum malaikat.
Ucapan Alpha bikin Maura tertegun, Alpha ternyata sebelas dua belas sama Kauki dalam hal peduli.
"Kamu baik banget sih, beruntung Kauki punya sahabat kayak kamu."
"Kalo gitu aku masuk dulu ya. Sekali lagi makasih karena udah ngaterin aku," kata Maura.
Gadis itu hendak turun, tapi Alpha menahan lengannya. Maura menatap Alpha dengan dahi berkerut meminta penjelasan.
"Em.. Anu.." Alpha menggaruk kepalanya. "Boleh minta nomor kontak lo gak?"
Maura tersenyum, "Kirain apa. Boleh dong," jawab Maura membuat Alpha senang bukan main.
Akhirnya setelah saling bertukar nomor, Maura turun diiringi tatapan memuji Alpha.
Alpha menatap ponselnya yang menampilkan nomor Maura dengan binar gembira.
Namun binar itu hilang ketika ingat bahwa dirinya harus menjemput Kauki.
"Astaga, Kauki!"
ššš
Motor vespa berwarna biru pastel milik Nando memasuki gerbang rumah Kauki yang terbuka.
Kauki segera mengajak Nando meneduh di rumahnya, awalnya Nando menolak, tapi Kauki memaksa membuat lelaki beralis tebal itu tak bisa menolak.
"Kak Tristaan!!"
Tristan yang siap mandi segera menuju Kauki dan melotot ngeliat sang adik basah kuyup.
"Kauki! Kamu abis dari mana? Kenapa ujan-ujanan!" omel Tristan.
Kauki nyengir. "Maaf ya, Kak. Kauki tadi abis beli alat-alat buat kerja kelompok. Eh, taunya ujan."
"Kenapa gak telpon Kakak?"
"Lagi ujan gede gini emangnya boleh nyalain hp?"
Tristan terdiam, benar juga. Bahaya kalo sampe Kauki nyalain hp di saat hujan gledeg begini.
"Emang kamu gak bareng Alpha?"
Muka Kauki langsung berubah kesel saat Tristan nyebut nama Alpha.
"Tau deh tuh dia ke mana. Nyebur ke laut, kalik!" ketusnya bikin Tristan bingung.
Tatapan Tristan beralih pada lelaki di samping Kauki.
"Ini siapa?"
"Ini Nando, temen sekelas Kauki," ucap Kauki.
Nando menyalimi Tristan. "Nama saya Nando, Kak."
Tristan manggut-manggut. "Ya udah, Dek, cepet ganti baju. Nanti sakit, lagi. Dan kamu Nando, kamu ganti baju saya aja di sini."
"Ah, nggak usah, Kak. Saya pulang aja. Rumah saya deket sini, kok."
"Tapi nanti lo sakit, Nan," bujuk Kauki.
"Enggak apa-apa, Ki. Aku enggak mau ngerepotin," kata Nando. "Kalo gitu aku pulang dulu, ya. Kak, saya pulang dulu."
"Em.. iya, makasih ya udah nganterin Kauki," ucap Tristan lembut dibalas senyum tulus Nando.
Cowok itu pun pergi meninggalkan rumah Kauki. Pandangan Kauki gak pernah lepas mengantar kepergian Nando, gadis itu tersenyum tanpa sadar.
"Udah kalik ngeliatinnya, udah pergi juga Nando-nya!" Tristan mengusap wajah imut Kauki membuat adiknya kaget.
"Ck, Kak Tristan."
"Abis kamu ngeliatin Nando sampe segitunya, naksir yaa?" goda Tristan menoel-noel hidung bangir Kauki.
__ADS_1
"Iih.. Apaan sih, Kak Tristan!" Kauki yang tak tahan digoda sang kakak pun segera ngacir dengan membawa pipi merahnya.
Tristan terkekeh melihat tingkah malu-malu Kauki, pria itu pun ikut masuk setelah sebelumnya menutup pintu.
ššš
Alpha mendesah frustasi, dia udah ngubek-ngubek toko buku di seluruh Jakarta tapi gak menemukan Kauki.
Alpha melihat jam tangannya, udah hampir jam 9 malem. Apa Kauki udah pulang? Batin Alpha.
Akhirnya daripada pusing Alpha pun memutuskan untuk pulang. Dan setelah memasukkan mobilnya ke garasi, Alpha segera berlari ke rumah Kauki yang berdampingan dengan rumahnya.
Tok tok tok!!
Tristan yang lagi ngopi sambil ngerjain file kantor berdecak saat mendengar ketukan pintu.
Dengan malas dia turun dan membuka pintu. Di depannya Alpha berdiri dengan tampang khawatir.
"Alpha? Ada ap-"
"Kauki mana, Kak? Kauki udah pulang kan? Dia gak kenapa-napa, kan? Kauki-"
"Wowowo, Dek, satu-satu nanyanya," Tristan menyela rentetan pertanyaan Alpha.
"Kauki ada tuh di kamar, tapi udah tidur. Tadi sih pas pulang basah kuyup, kehujanan dia. Emang kenapa?"
Alpha menghela nafas, tampangnya nunjukkin kalo dia ngerasa bersalah.
"Maaf ya, Kak, harusnya tadi gue jemput Kauki. Tapi guenya lupa."
"Hm.. Pantesan dia kayak kesel sama lo," kata Tristan membuat Alpha semakin ngerasa gak enak sama Kauki.
"Harusnya tadi gue jemput Kauki.."
"Udah, mending sekarang lo pulang, tidur. Besok minta maaf sama Kauki." ucap Tristan. Alpha mengangguk dan berbalik menuju rumahnya.
Semoga aja, Kauki bisa maafin dia.
šš
"Muka kamoh pucet banget, Kauki. Kamoh sakit?" Cia menatap muka Kauki dengan khawatir.
Kauki menggeleng walau sebenernya dia ngerasa pusing.
"Nggak kok, Cia. Hari ini gue lupa pake lip tint, makanya keliatan pucet." jawab Kauki menenangkan gadis berhijab itu.
"Masa, sih? Coba sini akoh liat." Cia hendak menghadapkan wajah Kauki ke arahnya, tapi kemudian dia tercekat merasakan suhu badan Kauki. "Kauki, badan kamoh panas banget!" pekiknya.
Kauki diem aja waktu Cia menyentuh pipi, jidat dan keseluruhan bagian wajahnya cuma buat ngecek suhu badan Kauki.
"Kauki, fix, kamoh sakit! Kamoh pulang aja ya," saran Cia. Dia nggak mau temennya kenapa-napa.
Kauki menepis halus lengan Cia dari mukanya. "Nggak mau, Cia. Gue nggak apa-apa," kilahnya.
"Ih, Kauki. Nanti kamoh kenapa-napa."
"Enggak akan, Cia!"
"Huh, ya udah. Akoh ke UKS dulu ngambil minyak kayu putih buat kamoh."
Kauki ngasih senyum walau keliatan lemes. "Makasih ya, Cia."
Cia ikut senyum dan mengelus pundak sahabatnya kemudian pergi menuju uks.
Bertepatan dengan itu, Nando baru datang. Kauki hendak menyapa cowok itu tapi kemudian dia tertegun melihat kondisi wajah Nando yang gak jauh beda dengan dirinya. Sama-sama pias.
"Nando, kamu sakit? Muka kamu pucet."
"Muka kamu juga pucet, Ki. Kamu sakit?" Nando malah melempar pertanyaan yang sama pada Kauki, membuat Kauki terkekeh.
Nando duduk di bangkunya, Kauki menempatkan diri di samping cowok itu.
"Pasti karena semalem, ya? Maaf ya, Nando, gara-gara nganterin aku, kamu jadi sakit."
"Hei, Kauki, aku nggak apa-apa." Suara Nando serak kayak Kauki. "Kamu juga sakit, kan? Kenapa maksain dateng ke sekolah."
"Aku gak mau ketinggalan pelajaran. Kamu sendiri?"
"Aku juga gak mau ketinggalan pelajaran."
"Ikut-ikutan." Kauki tersenyum geli.
"Ih ge-er, enggak yaa." Nando terkekeh digodain Kauki.
Kauki ikut terkekeh kemudian menelungkupkan kepalanya di atas meja. Nando melakukan hal yang sama. Posisi wajah mereka berhadapan.
Kauki membuka matanya dan melihat Nando yang tengah memejamkan mata.
Diam-diam Kauki terpesona. Nando emang gak seganteng Alpha, tapi Nando punya bulu mata yang begitu lentik, apalagi dalam keadaan terpejam gini, bulu mata Nando makin keliatan lentik.
Apa Nando pake bulu mata palsu? Batin Kauki ngaco.
Tanpa sadar tangannya menyentuh mata Nando, cowok itu gak terusik, tangan Kauki beralih mengelus alis Nando yang tebal, alis khas lelaki. Berlaih ke pipi mulus cowok itu, Kauki bisa ngerasain suhu Nando yang panas.
Nando membuka mata dan saat itu juga tatapan mereka beradu. Nando terpesona saat melihat manik boneka Kauki.
Benda bulat itu memiliki warna coklat terang. Teduh namun tajam, Nando suka warna mata Kauki.
"Kauki!"
Baik Kauki maupun Nando sama-sama tersadar dari kekaguman masing-masing saat Alpha masuk dan memanggil Kauki. Keduanya segera duduk tegak.
"Alpha?" gumam Kauki serak.
Alpha menghampiri Kauki dan memeluk sahabatnya itu. Beberapa detik kemudian dia tersentak.
"Badan lo panas!"
"Gue nggak apa-apa."
"Enggak, lo pasti sakit. Ayo, sekarang juga lo harus pulang. Lo nggak bisa belajar kalo lo sakit begini," kekeuh Alpha.
"Peduli lo?"
Alpha tercekat mendengar nada datar Kauki. Kauki beneran marah.
"Ya iyalah gue peduli. Gue kan sahabat lo."
"Kalo lo peduli, lo pasti gak bakal ngebiarin gue nunggu sampe kehujanan kemaren. Kalo lo sahabat gue, lo gak bakal ngelupain gue."
Alpha menatap Kauki dengan rasa bersalah, Alpha sadar dia salah. Tapi, lupa kan gak ada obatnya.
Nando cuma diem ngeliatin keduanya, dia gak mau ikut campur.
Sedangkan Kauki ngerasa kepalanya makin berat. Dia dilanda rasa pusing yang teramat, matanya berkunang-kunang.
"Kauki? Kamu kenapa?" Nando menahan tubuh Kauki yang oleng.
"Nggak apa-apa, Nando."
"Tapi... Ki, Kauki!"
Kauki yang udah nggak kuat langsung ambruk di pelukan Nando. Nando sebenernya lemes, tapi dia berusaha mengangkat tubuh Kauki.
Ngeliat itu Alpha segera mengambil alih Kauki, "Biar gue aja!"
Nando nggak bisa ngelakuin apa-apa saat Kauki udah berpindah ke gendongan Alpha, karena jujur, kepalanya pusing dan badannya lemas akibat demam yang menyerangnya.
ššš
__ADS_1