
Bangkit dari kesedihan itu sulit. Tapi Kauki udah terlanjur janji sama Nando untuk tidak meneteskan air mata lagi.
Jadi Kauki menyemangati dirinya dengan senyuman.
Yeah, Nando has gone, but his love lives on.
"Buenos dias, Hermano! (Selamat pagi,Ā Kak!)" seru Kauki menyapa kakaknya di meja makan.
"Buenos dias." Tristan tersenyum menyambut sang adik. Pria itu senang Kauki bisa bangkit, tapi meski bisa tersenyum dan riang, Tristan tau, hati Kauki belum sembuh.
Kadang Tristan mendapati adiknya itu ngelamun sambil ngeliatin foto-foto bareng Nando dulu.
Mulut Kauki tertutup, tapi matanya bicara. Dan Tristan bisa menangkap masih ada kesedihan di sana.
"Kakak jadi fitting baju besok?"
"Iya, Dek. Sebenernya waktu itu udah, tapi karena Kakak sama Maura beda pendapat soal gaunnya, jadi yaa.. sampe sekarang belum ada yang kepilih. Akhir-akhir ini Kakak emang sering cekcok gitu sama Maura," curhat Tristan pada adiknya.
Kauki menyentuh lengan Tristan. "Kalo mau nikah tuh emang gitu, Kak, pasti ada aja godaannya. Beda pendapat lah, ini lah itu lah, yang penting Kak Tristan sama Kak Maura harus kompak."
"Ciee.. yang makin bijak," goda Tristan mengacak rambut coklat Kauki.
Kauki muter mata. "Dikasih nasehat malah ngeledek," ketusnya bikin Tristan tertawa.
"Oh iya, rencana kamu hari ini ngapain?"
"Nggak tau deh, Alpha sih ngajak aku nonton."
"Ciee yang makin lengket sama Alpha." Tristan kembali menggoda adiknya.
Sebenarnya pria itu tau kalo Alpha punya perasaan lebih sama Kauki, Alpha sendiri yang bilang waktu mereka pulang dari Singapura. Dan Tristan cuma bisa ngasih restu dengan syarat, Alpha gak boleh nyakitin Kauki.
Kauki kembali memutar mata. "Aku sama Alpha lengket dari lahir keleus!"
"Dek, Kakak mau tanya deh."
"Apa?" tanya Kauki males.
"Pernah gak sih kamu ngerasain sesuatu yang beda kalo lagi sama Alpha? Kalian kan udah dewasa."
"Maksud Kakak?"
"Ya kayak deg-degan kalo lagi tatap-tatapan, atau enggak grogi pas lagi pelukan, kayak gitu-gitu pernah ngerasain gak sih?"
Kauki terdiam. Akhir-akhir ini dia emang ngerasa beda sama Alpha. Kadang Kauki grogi kalo ditatap Alpha.
Tatapan Alpha itu ya, dalem banget ngelebihin sumur!
Pegangan tangan aja Kauki ngerasa dag dig dug, kadang ada rasa kangen kalo Alpha nggak di sampingnya, tapi Kauki mencoba menepis perasaan aneh itu.
Karena Kauki yakin masih ada Nando di hatinya, nama Nando tertulis permanen di hatinya. Period!
"Nggak. Biasa aja." Kauki menjawab setelah cukup lama terdiam.
"Yakin?"
"Yakin!"
"Kalo ternyata nih ya, Alpha yang bakal jadi jodoh kamu, gimana?"
"Kita itu lagi bahas hubungan Kakak sama Kak Maura, kenapa nyerempetnya ke aku sama Alpha, sih?" ujar Kauki jengah.
"Ya penasaran aja. Kalian kan udah gede, udah tau cinta-cintaan."
"Aku tau kok cinta-cintaan, dan aku cintanya sama Nando."
Tristan menarik nafas. "Dek, kapan kamu mau maju? The story about you and Nando has close and done. Kamu punya masa depan, dan kamu harus berani melangkah untuk itu."
"Aku mau ngambek aja deh kalo Kakak masih ngebahas ini." Kauki mendadak gak mood. Perasaannya campur aduk.
"Ngambek bilang-bilang," kata Tristan membuat Kauki mendelik. "Kakak sih ngingetin aja. Jangan mangkir dari perasaan kamu, karena penyesalan itu bakal datang setelah kesalahan itu dilakukan."
"Emangnya aku bikin kesalahan apa coba?"
Tristan tersenyum tipis. "Kesalahan kamu ya gak mau mengakui perasaan kamu."
Pria bertahilalat di hidung itu meneguk kopinya kemudian mengambil tas kerja. Mengacak rambut adiknya yang terdiam.
"Kakak ke kantor dulu. Inget, ngebohongin diri sendiri itu lebih menyakitkan daripada dibohongin orang lain, Dek," tuturnya sebelum akhirnya pergi menuju kantor.
Ninggalin Kauki yang mematung karena ucapan kakaknya.
Apa iya, Kauki mulai ada rasa sama Alpha?
ššš
Malam ini Alpha ngabisin waktu di rumah Kauki. Selain untuk menghibur gadis itu, Alpha juga lagi usaha buat dapetin hati Kauki, salah satunya ya dengan mepetin Kauki terus.
Mereka duduk di balkon kamar Kauki, menikmati pemandangan bulan yang memantul dari kolam di bawah sana sambil ngelus kucing-kucing Kauki.
__ADS_1
Kauki mutusin buat ngadopsi Peach sebagai kenang-kenangannya sama Nando. Dan atas izin mama Nando, akhirnya kucing oren itu ada di rumah Kauki sekarang.
"Ki," panggil Alpha setelah keduanya lama terdiam. "Lusa kan ulang tahun kita, elo mau kado apa dari gue?'
Kauki menatap Alpha yang sibuk nyisirin rambut Peach lalu tersenyum.
"Gak usahlah. Gue minta doa yang baik-baik aja."
"Gak bisa. Pokoknya lo harus minta sesuatu dari gue." Alpha maksa.
Kauki terkekeh, "Dasar pemaksa."
"Ya udah, kalo lo tetep maksa cuma pengen minta doa dari gue, gue kasih deh. Gue doain semoga lo panjang umur, sehat terus, makin cantik, makin imut, makin sayang sama gue."
"Yang terakhir kok gak ngenakin sih?" Kauki nahan senyum.
"Justru yang terakhir itu yang paling penting."
"Penting buat lo maksudnya?"
Alpha nyengir ganteng. "Gue kan emang sayang-able."
"PD lo!" sorak Kauki menoyor pelan jidat cowok itu.
Alpha nangkep tangan Kauki. "Tapi emang lo gak sayang sama gue?"
Pertanyaan Alpha bikin Kauki diem. Kauki sayang Alpha, tapi bingung 'sayang' yang kayak gimana.
"Ki?" tegur Alpha pada Kauki yang mematung.
"Hm?"
"Gue tanya sekali lagi. Elo sayang sama gue?"
Kauki tiba-tiba salting. Gak tau kenapa. Dia ngeliat Alpha yang natap dia, serius banget.
"Elo sendiri, sayang sama gue?" Kauki malah balik nanya.
Alpha mengangguk mantap. "Sayang!" jawabnya tegas. "Sekarang giliran elo yang jawab gue. Elo, sayang apa enggak, sama gue?"
Alpha mengulang pertanyaannya lamat-lamat, dengan muka serius dan onyx madunya menyorot tepat ke iris karamelnya Kauki.
Sementara gadis berkulit cerah itu menatap Alpha lama, mencoba mencari jawaban ke dalam hatinya.
Satu kata yang sulit terucap
Hingga batinku tersiksa
Perasaanku berubah jadi cinta
Gak lama kemudian Kauki menarik nafas lalu menjawab, "Sayang."
Senyum Alpha mengembang lebar.
"Elo kan sahabat gue," sambung Kauki cepat, melunturkan senyum Alpha.
"I knew it," ucap Alpha pelan. Senyum lebar tadi berubah menjadi senyum kecut, kecewa.
Alpha maunya lebih dari 'sahabat'!
Sedangkan Kauki, cuma nunduk dan terdiam. Yang Alpha nggak tau, cewek itu sibuk menahan sesuatu yang meronta dalam hatinya. Memaksa Kauki untuk mengatakannya pada Alpha.
Sesuatu itu, yang mungkin aja bisa disebut cinta.
ššš
"Telur sama ayam itu lebih dulu telur, Ki."
Pagi menjelang siang Kauki sama Alpha debat. Mereka tadinya akur, tapi semuanya berubah kala Alpha nyari 'pertanyaan paling sulit dan belum terpecahkan' di pencarian google.
Alpha dan Kauki yang punya pemikiran berbeda pun sama-sama kekeuh sama pendapat masing-masing.
"Ya ayam dulu lah, Alpha."
"Lah?"
"Ayam kan yang bertelur, bukan telur yang ber-ayam."
"Tapi kan ayam juga awalnya telur dulu, Kauki!"
"Ayam dulu, Alpha." Kauki tetep gak mau kalah. "Nih ya, sekarang gini aja, kalo ayam sama telur disuruh lomba lari, duluan siapa?"
Tukk!
Alpha ngetok jidat Kauki pelan.
"Ya kalo gitu mah udah pasti ayam duluan." Alpha masang tampang males atas kalimat Kauki barusan. "Gak bisa, pokoknya telur duluan."
"Ya ayam dulu lah!"
__ADS_1
"Telur!"
"Ayam!"
"Tel-"
"Kalian berdua daripada berantem di sini mending ikut kita ke butik." Tristan dateng dari ruang kerja diikuti Maura.
Suara Kauki sama Alpha kedengeran sampe luar. Bikin sepasang kekasih itu geleng-geleng kepala.
"Dih, ngapain?"
"Udah ayok ikut aja." Maura langsung narik tangan Kauki sedangkan Tristan narik kupingnya Alpha.
"Kak Tristan, ih! Kauki aja digandeng, masa aku dijewer." Alpha protes.
"Kuping kamu gemesin," jawab Tristan ngasal. Alpha cuma mendengus.
Dan tibalah mereka di butik, sesampainya di sana Maura sama Tristan nyoba beberapa pakaian, ninggalin dua remaja itu dalam kebingungan.
"Lah ngapain ngajak kita kalo ujung-ujungnya kita yang diabaikan?"
Kauki cuma ngedikkin bahu lalu menyibukkan diri dengan majalah. Alpha yang dicuekin malah keliling ngeliat-liat pakaian pengantin.
"Ki."
"Hm?"
"Gaun ini bagus banget deh, Ki. Kayaknya cocok di badan lo. Cobain gih."
Kauki menengok ke arah Alpha yang berdiri di depannya dengan sebuah gaun.
"Enggak ah."
"Yaah ayo, dong." Alpha merengek kayak minta jajan.
Kauki berdecak, ngalah. "Ya udah, mana sini."
Dengan senyum lebar Alpha menyerahkan gaun itu pada Kauki.
Saat Kauki masuk ke ruang ganti, Alpha turut serta masuk ke bilik sebelah buat ganti pakaian yang tadi dipilihnya.
Kauki keluar dari ruang ganti dan berjalan ke arah kaca seukuran badan di depannya.
Tertegun menatap bayangannya di cermin, Kauki mencopot kunciran sampingnya hingga rambut coklat keemasan itu terurai indah.
"Kauki, lo udah sele--sai?" Alpha gak menyelesaikan ucapannya karena terpaku menatap Kauki.
Gaun itu tampak pas di tubuh Kauki, gaun model bahu melorot itu menampilkan bahu serta punggung mulus Kauki. Bikin Alpha kesulitan menelan ludahnya sendiri.
Kauki sendiri tampak takjub dengan penampilan Alpha sekarang. Dari cermin Kauki ngeliat cowok itu memakai setelan pakaian pengantin yang serasi dengannya. Kalau yang gak tau, pasti bakal ngira mereka ini calon pengantin.
Alpha menghampiri Kauki, berdiri sangat dekat di belakang gadis itu. Keduanya saling tatap melalui cermin dengan pandangan yang sama-sama terpesona.
Tiba-tiba alpha melingkarkan tangannya di perut Kauki, memeluk gadis itu dari belakang. Kauki menahan nafas atas perlakuan Alpha.
Alpha meletakkan dagunya di atas bahu Kauki dan berbisik, "You're so perfect."
Kauki diam, membeku. Dadanya ketar-ketir, jantung gue kenapa, Tuhaaan. Batin Kauki menjerit.
"Hmm.. Thanks."
"Coba liat dua orang di cermin itu." Alpha nunjuk pantulan dirinya dan Kauki di cermin. "Kalo menurut gue mereka cocok. How do you think?"
Deru nafas Alpha di area lehernya membuat bulu Kauki meremang.
Tak bisa hatiku merafikan cinta
Karena cinta tersirat bukan tersurat
"Em.. Ng.." Kauki sulit berkata-kata.
"Cocok! Cocok banget!" Itu bukan suara Kauki, melainkan Mbak Risa alias pemilik butik yang ngomong.
Kauki segera menjauhkan diri dari Alpha.
Mbak Risa memandang Kauki dan Alpha dengan mata berbinar. Wanita berambut keriting itu ngira kalo dua remaja di depannya ini juga calon mempelai kayak Maura dan Tristan.
Sedangkan kedua calon pengantin asli itu berdiri di belakang mbak Risa, keduanya menganga melihat Kauki dan Alpha yang tampak seperti pengantin.
"Em.. Mbak, kan kami yang mau nikah, bukan mereka." Tristan nyeletuk.
Mbak Risa menutup mulutnya. "Owh.. Maaf, saya kira mereka juga mau nikah. Habis serasi banget sih. Cantik dan ganteng, mukanya juga mirip," komentarnya membuat pipi Kauki bersemu merah.
Alpha garuk-garuk kepala, salting. Maura memandang keduanya dengan senyum menggoda, begitu pula Tristan bikin Kauki dan Alpha makin salting.
Meski bibirku terus berkata tidak
Mataku terus pancarkan sinarnya
__ADS_1
ššš