Back To Ya

Back To Ya
Bab 14


__ADS_3

Tristan keluar dari lift, kemudian berjalan menuju ruangannya dengan langkah gontai. Sejujurnya Tristan masih malas berangkat ke kantor, namun menunda pekerjaan bukanlah sifat Tristan. Dia adalah seorang CEO, dan bos yang baik selalu menjadi contoh baik bagi karyawannya.


Kedatangan pria itu menyedot perhatian Maura, gadis itu langsung bangkit dari tempat duduknya kemudian memberi salam pada Tristan.


"Pagi, Pak Tristan."


Tristan cuma mengangguk lalu masuk ke ruangannya. Maura menatap pria itu iba, Maura tau, Tristan pasti masih berduka.


Ingin sekali Maura memeluk lelaki itu, memberikan kekuatan agar Tristan tetap tegar meski baru ditinggal orang-orang yang disayanginya.


Tok tok


"Masuk!"


Maura muncul dari balik pintu, membuat Tristan mengernyitkan dahinya.


"Ada apa, Maura?"


"Eh, em.. Gak apa-apa, Pak. Saya cuma mau tanya."


"Tanya apa?"


"Em.. apa bener, orangtua Bapak-- meninggal?" Maura hati-hati banget nanyanya. Seolah takut bikin Tristan sedih.


Dan emang bener, Tristan langsung menunduk membuat Maura ngerasa bersalah.


"Maaf, Pak. Saya gak bermaksud-"


"Sini, Maura."


"Eh, gimana, Pak?"


"Saya bilang sini," titah Tristan datar.


Maura manut walau hatinya ketar-ketir. Sebenernya dia takut, apa Tristan marah atas pertanyaannya?


Maura mendekati pria itu dengan kepala menunduk.


Grep!


Tanpa diduga, tanpa dinyana, Maura membelalakan matanya saat tiba-tiba Tristan memeluknya, erat, hangat.


"Eng-, Pak Tris-"


"Biarkan seperti ini, tolong.. saya butuh sandaran," sela Tristan pelan, dagunya ada di Puncak kepala Maura, karena wanita itu hanya setinggi dagunya.



Maura cuma bisa terdiam, helaan nafas masing-masing mengisi keheningan ruangan Tristan.


Jujur, sebenernya Maura senang. Akhirnya setelah lima tahun dia bisa ngerasain lagi pelukan Tristan. Dan rasanya masih sama, nyaman.


Dan Tristan pun ngerasain hal yang sama. Dia pikir, setelah kejadian menyakitkan yang Maura perbuat, membuat perasaan nyaman itu hilang. Tapi ternyata enggak. Tristan justru ngerasain itu lagi, dan di pelukan wanita yang sama.


"Bapak yang sabar ya, saya yakin Tuhan menempatkan kedua orangtua Bapak di tempat yang Indah, di samping Tuhan. Semua ini cuma ujian agar Bapak dan Kauki lebih kuat," tutur Maura mengusap lembut punggung tegap Tristan, membuat Tristan rileks.


"Makasih, Maura."


Maura mengangguk, ia memejamkan mata, berharap waktu berhenti saat ini juga. Cuma dia dan Tristan. Tapi Maura sadar udah punya Alpha. Seketika Maura ngerasa jahat.


Tapi Maura gak bisa memungkiri, berada di pelukan Tristan, semuanya terasa tepat.


Sambil terus memeluk Tristan, Maura terus mengucap syukur dan maaf. Syukur karena kembali merasakan pelukan hangat Tristan, dan maaf untuk Alpha.


"Maaf, Alpha, tapi aku nyaman sama Tristan."


🍁🍁🍁


Motor vespa berwarna biru pastel itu berhenti di depan sebuah rumah, rumah itu gak terlalu besar ataupun terlalu kecil. Lebih mirip sekolah taman kanak-kanak.


Nando menoleh pada Kauki yang ngeliat rumah di depannya dengan kening berkerut.


"Ayo, Ki," ajak Nando.


"Nando." Kauki nahan tangan Nando tanpa melepas pandangannya dari rumah di depannya.


"Kenapa?"


"Kamu kenapa ngajak aku ke panti asuhan?"


Nando tersenyum, ternyata Kauki bingung, Nando sempet khawatir Kauki gak suka dia ajak ke tempat ini.


Nando emang sengaja bawa Kauki ke panti asuhan. Selain untuk membuat Kauki lupa pada kesedihannya, Nando juga mau nunjukkin sesuatu ke Kauki.


"Masuk dulu yuk, nanti aku jelasin."


Kauki cuma bisa manut saat Nando menggandeng lengannya lembut memasuki panti.


"Halo semuanya.."


"BABANG NANDOOO.."


"Heii.."


Kauki terperangah ketika sekumpulan bocah kecil, mulai dari umur 3 sampai 10 tahun berhamburan ke pelukan Nando.


"Babang, Babang Nando ke mana aja? Kok gak pernah main ke sini? Lita kangeeen.. banget sama Bang Nando," celoteh gadis kecil berumur 5 tahunan, Lita.


"Iya, Fano juga kangen sama Bang Nando," tambah Fano, bocah lelaki berusia 3 tahun dalam pangkuan Nando.


Nando terkekeh gemas.


"Bang Nando juga kangeeen.. banget sama tuyul-tuyulnya Babang yang lucu-lucu ini," gemas Nando menggelitiki anak-anak kecil di sekitarnya hingga membuat mereka terkikik dan menghindar.


Kauki yang jadi penonton cuma bisa melongo, dia heran sekaligus takjub sama Nando yang ternyata akrab sama anak kecil.


"Eh, liat deh, Bang Nando ngajak siapa," tunjuk Nando pada Kauki yang terdiam bak patung pancoran.


Semua bocah lucu itu langsung melempar pandangan mereka ke arah Kauki, dan belasan mata polos itu memandang gadis itu dengan mulut terbuka.



Kauki melambaikan tangannya ragu, kemudian menyapa, "Em.. hai, kids.."


Lita terkesiap, "Bidadariii.."


"Bukan bidadali, tapi belbii!!" sanggah Icell melontarkan pendapatnya.


"Enggak, itu ibu peli!"


Nando menahan tawanya mendengar ucapan Fano.


"Ibu peri, Fano, bukan peli."


"Tapi Fano belum bisa ngomong 'R', Bang Nando."


"Nah itu bisa."


"Itu contoh," elak Fano membuat kekehan Nando.


Dalam sekejap bocah-bocah itu berpindah tempat ke hadapan Kauki, sedangkan Kauki sendiri tampak bingung.


Kauki menunduk saat ada yang menarik-narik celana pendeknya. Dilihatnya seorang bocah lelaki berusia 4 tahun.


"Hai Kakak cantik, namaku Fedro, aku yang paling ganteng di sini."


"Woooo!!" Sorakan tak setuju langsung menggema saat bocah bernama Fedro itu mengenalkan diri. Kauki agak kaget tapi ngerasa geli juga.


Gadis itu berjongkok menyamakan posisi Fedro.


"Nama Kakak, Kauki, tapi kamu bisa panggil Kak Uki."


Fedro tersenyum menyembulkan kedua lesung pipinya. "Hai, Kak Uki. Kakak cantik, cocok deh sama Fedro."


"Huuuu.."


Nando tertawa geli ngeliat tingkah genit Fedro ke Kauki. Di antara anak cowok yang lain, Fedro emang yang paling centil. Mungkin belasan tahun kemudian, Fedro bakal jadi perayu ulung. Pikir Nando.


Sementara Kauki yang digombalin Fedro cuma bisa terkekeh geli. Gimana gak geli, digombalin sama bocah 4 tahun. Kauki jadi penasaran, Fedro ngegombal gini siapa yang ngajarin coba?


"Kak Uki, aku Lita, Kakak cantik deh kayak berbinya Lita." Lita menunjukkan boneka barbienya.


Kauki tersenyum lembut. "Makasih.. Lita juga cantik," balasnya mebuat Lita tersenyum lebar.


Tak butuh waktu lama, Kauki bisa akrab dengan para bocah lucu itu. Membuat Nando takjub, belum ada satu jam, anak-anak itu seolah udah kenal lama sama Kauki.


Fano, si gembul yang susah diajak akrab bahkan gak mau lepas dari pangkuan Kauki. Tapi Nando bersyukur, Kauki bisa menerima para sahabat kecilnya dengan baik.


---


Kauki memandang deretan box bayi di depannya dengan wajah bingung. Setelah susah payah membujuk Fano biar bisa lepas dari Kauki, Nando mengajak Kauki ke sebuah ruangan.


Dan ruangan itu berisi puluhan box bayi.


"Nando, ini ruangan apa?"

__ADS_1


"Ini ruangan khusus bayi-bayi."


"Oh.." Kauki mendekati salah satu box bayi dan menemukan seorang bayi mungil tengah bermain dengan mainan gigitannya. "Eh, yang ini bayinya bangun, Nan," ujar Kauki ngasih tau.


Nando menghampiri Kauki dan tersenyum ngeliat bayi itu menatap Kauki dengan gerakan seolah minta digendong.


"Kayaknya dia pengen digendong deh, Ki."


"Masa, sih?" Kauki mengangkat bayi berusia delapan bulanan itu ke gendongannya. "Adududuh.. berat juga ya ternyata. Hai.."


Sembari tersenyum, Nando menjelaskan. "Dia namanya Teguh, pengurus panti nemuin dia di dekat sungai, dalam kardus."


Kauki tercekat. "Maksudnya, Teguh dibuang?"


Nando menganggukkan kepalanya, mata Kauki langsung berkaca-kaca. Ditatapnya Teguh, batita itu tengah menatap Kauki dengan mata beningnya yang polos, kemudian tertawa khas bayi.


"Bayi selucu ini dibuang?" lirih Kauki menatap Teguh yang sibuk memainkan rambut panjangnya.


"Iya. Waktu itu Teguh baru lahir, masih merah karena darah. Mungkin orangtuanya ngebuang dia karena.. Teguh lahir dari hubungan terlarang."


"********.." Kata makian itu refleks keluar dari mulut Kauki. Dia gak bisa bayangin, ada orang yang dengan teganya ngebuang bayi yang gak berdosa.


"Ya, mereka emang ********. Mencicipi nikmat sesaat, abis itu membuang hasil perbuatan mereka sendiri. Mereka emang sampah."


Kauki mengangguk setuju, bahkan lebih dari sampah, batin Kauki menambahkan. Gadis itu memeluk Teguh dalam pelukan hangatnya, bayi itu gak menolak, malah tampak nyaman.


"Kamu yang kuat ya, Dek. Orangtua kamu pasti nyesel ngebuang harta seberharga kamu," ucap Kauki, suaranya tercekat karena tangis.


Kemudian terdengar suara tangis dari box di samping Nando, membuat lelaki itu mengambil seorang bayi yang masih berumur 3 bulanan.


"Nah, kalo si gembul ini namanya Rachel!" seru Nando menimang Rachel yang mulai tenang dari tangisnya.


"Apa nasib Rachel.. sama kayak Teguh?"


Nando menggeleng, tapi raut wajahnya tetap sedih.


"Rachel lahir dari hubungan yang sah. Sayangnya, Ibunya Rachel meninggal setelah ngelahirin Rachel. Ayahnya yang nitipin dia di sini. Waktu kita mau nyari ayahnya lagi, ternyata Ayah Rachel meninggal karena bunuh diri, beliau depresi karena istrinya meninggal. Ditambah mereka berasal dari keluarga kurang mampu."


"Ya Tuhan..." Kauki mengusap kaki mungil Rachel dengan perasaan pedih.


Kenapa bayi-bayi sekecil Rachel dan Teguh harus mengalami nasib malang begini? Ini gak adil buat Kauki, terlalu berat buat seorang bayi.


"Kauki, aku tau kamu sedih ditinggal pergi orangtua kamu. Tapi liat sisi baiknya, Ki, kamu sempat merasakan kasih sayang mereka walaupun sekejap. Tapi liat bayi-bayi ini, Ki, jangankan ngerasain kasih sayang, ngeliat wajah orangtua mereka aja, mereka gak sempat."


Kauki nangis denger penuturan Nando barusan, gadis itu mengangguk, dia setuju. Memang dia terpukul, bahkan pengen protes ke Tuhan karena Tuhan udah ngambil orangtuanya.


Tapi di sini, di panti asuhan ini, dan mungkin banyak panti asuhan lainnya, masih banyak anak-anak yang gak seberuntung Kauki, yang bisa ngerasain pelukan hangat orangtua, kasih sayang.


Bayi-bayi ini gak seberuntung Kauki yang bisa tumbuh dan berkembang dengan didikan orangtua.


Membayangkan nasib anak-anak panti bikin dada Kauki sesak. Sekarang Kauki tau bahwa dia bukan orang paling malang di dunia ini.


Sambil terus bersimbah air mata, Kauki memeluk dan mengusap satu persatu bayi-bayi malang itu dengan perasaan pilu. Kauki berdoa supaya mereka semua tumbuh bahagia dan sukses di masa depan.


-----


Kauki mengukir senyumnya ketika Lita memintanya menguncirkan rambutnya.


Dan kini gadis cantik itu duduk mengepang rambut Lita sesuai permintaan anak itu.


"Nah, udah selesai!" seru Kauki.


Lita langsung bangkit dan menghampiri kaca. Senyum lebar terukir di bibir mungilnya.


"Waah.. Lita jadi kayak princess Elsa!" seru Lita bahagia.


Kauki ikut bahagia ngeliatnya. Apa lagi saat anak perempuan yang lain ikut meminta hal serupa padanya. Jujur Kauki kerepotan, tapi Kauki ikhlas menurutinya.


Dari kejauhan Nando menyaksikan itu dengan senyum haru. Sambil nemenin anak-anak cowok main polisi-polisian, pandangan Nando gak pernah lepas dari sosok Kauki. Kauki seperti malaikat yang membawa kebahagiaan buat anak-anak panti.


"Bang Nando, angkat tangan!"


Nando tersentak waktu Fedro nyodorin pistol di depan mukanya.


"Bang Nando harus masuk penjara!"


"Loh loh, salah saya apa, Pak Polisi?" Nando bertingkah seolah maling yang ketangkep basah.


"Salah Babang karena udah ngeliatin Kak Uki."


"Loh emangnya kenapa?" Nando ngerutin keningnya.


"Gak boleh, Kak Uki kan punya Fedro. Pokoknya Bang Nando harus dihukum penjara selama 1 hari."


"Aduh, jangan dong, Pak. Saya belum lulus sekolah." Nando pura-pura masang tampang ngenesnya.


"Yaah.."


"Ahahaha.."


Gelak tawa anak-anak panti menggema saat ngeliat Nando ditarik-tarik dan dikurung dalam tenda kecil, tenda yang biasa jadi mainan kalo anak-anak lagi main kemah-kemahan.


Kauki yang ngeliat itu ikut tergelak dan geleng-geleng kepala, kemudian kembali pada kegiatannya mengepang rambut anak-anak cewek.


"Kak Uki pinter ya nguncir rambut," puji Lita, keliatannya anak itu sangat puas setelah dibikin cantik sama Kauki.


"Hehe, makasih. Kak Uki bisa nguncir rambut karena diajarin mendiang Maminya Kak Uki."


"Waah.. Icel juga mau punya Mama kayak Maminya Kak Uki. Tapi sayang, Icel gak punya Mama."


"Lita juga gak punya Mama. Kita semua yang di sini gak punya Mama, Kak. Padahal, Lita pengen deh bisa dikuncirin Mama, dimasakin Mama, dinina-boboin Mama.."


Raut wajah Kauki berubah sedih mendengar celotehan Lita dan kawan-kawannya.


Tuhan.. anak-anak ini begitu mendambakan sosok mama tapi gak bisa mewujudkannya. Batin Kauki prihatin.


Hati Kauki ikut nyeri saat ngeliat raut sedih mereka.


"Kalian bisa manggil Kak Uki Mama kok," hibur Kauki dengan menahan air matanya.


"Beneran?" Bola mata Lita berbinar.


Kauki ngangguk. "Iya, kucing Kak Uki juga manggil Kakak Mommy. Hehe Kak Uki bisa jadi Mama siapa aja."


"Waah.. Asiiik.. Kita punya Mama. Mama Ukiii.."


Tangis sedih yang sedari tadi Kauki tahan kemudian berubah menjadi tangis haru. Begitu Lita, Icel serta teman-temannya memeluknya, Kauki ngerasa hatinya menghangat.


Nando ikut tersenyum ngeliatnya, kemudian ikut bergabung bersama mereka, begitu pun Fano, Fedro dan anak-anak laki-laki yang tadinya sibuk bermain polisi-polisian.


"Tapi... kalo ada Mama, harus ada Papa dong," celetuk Nando dibalas anggukan setuju Lita, Fano dan kawan-kawan.


"Kalo gitu, Bang Nando yang jadi Papanya!" cetus Fedro disambut sorak bahagia teman-temannya.


Semburat merah menghiasi pipi Kauki saat mendengar ucapan Fedro. Hal itu bikin Nando terkekeh.


"Horee.. Mama Uki.. Papa Nando..!!" sorak Fano heboh menggoyang-goyangkan tubuh gembulnya, bocah lucu itu menarik Nando agar duduk di samping Kauki, membuat Kauki semakin salah tingkah. Nando cuma bisa garuk-garuk kepala.


Kauki terkekeh haru, tapi kemudian pipinya memerah saat Nando menatapnya. Cowok itu sebenernya gak kalah salting dari Kauki.


Ah, bahagia itu sederhana ternyata.


🍁🍁🍁


Alpha mondar-mandir di kamarnya. Dia gak nafsu makan, males ke mana-mana, pikirannya selalu tertuju pada Kauki.


Bahkan chat dari Maura pun Alpha cuekin. Alpha buka hp cuma buat liat balasan Kauki, tapi pesan yang dia kirim, semuanya no respon. Huft..


Sumpah demi Tuhan, Alpha nyesel dengan ucapannya tadi ke Kauki. Dia udah bikin sahabat kecilnya menjauh cuma karena pacar yang belum terlalu dikenalnya.


"Maafin gue, Ki. Gue nyesel, gue nggak mau jauh lagi dari lo. Gue nggak bermaksud bikin lo pergi."


Cowok berwajah tampan itu meraih hpnya, mencoba menghubungi Kauki. Tapi berkali-kali dia mencoba, gak ada respon sama sekali.


Kloningan Al Ghazali itu pun segera beranjak menuju balkon, kemudian nyebrang ke balkon Kauki. Dia mengetuk-ngetuk kaca kamar Kauki, tapi gak ada jawaban.


Alpha menggeser pintu balkon dan masuk ke kamar Kauki, tapi saat berhasil masuk, kamar itu kosong.


Alpha kembali ke kamarnya lalu mengacak rambutnya frustasi. "Lo di mana, Ki?"


Ada rasa takut dalam diri Alpha mengingat ucapan Kauki.


"Elo mau gue ngejauh dari lo? Oke, gue bakal ngejauh dari lo, sampe lo gak bisa ngeliat gue lagi!"


Alpha menggeleng keras, dia nggak mau Kauki menjauh. Alpha nggak mau Kauki musuhin dia lagi. Nggak lagi!


🍁🍁🍁


Udah seminggu Kauki jauhin Alpha, gadis bermanik coklat terang itu bahkan pindah kamar karena gak mau kamarnya deket sama kamar Alpha. Dia males bertatap muka sama Alpha.


Di sekolah pun Kauki terus menghindar, mereka satu kelas tapi seolah jauh. Kauki pindah ke kursi belakang, sebangku sama Nando.


Di rumah pun Alpha kesulitan menemui Kauki. Sebab setelah pulang sekolah, Kauki langsung ikut Nando ke panti, dan kembali ke rumah setelah Tristan pulang.


Dan selama seminggu ini hubungan Kauki dengan Nando jadi semakin dekat. Begitu pun Kauki yang makin akrab dengan anak-anak panti serta pengurus panti.

__ADS_1


Kauki sering bawain mainan baru yang disambut bahagia sama anak-anak. Kebahagiaan Lita, Fano, dan kawan-kawan kecilnya seolah menjadi pelepas penat Kauki setelah melewati ruwetnya pelajaran sekolah.


Ada yang beda sama hati Kauki. Akhir-akhir ini Kauki jadi sering tersipu kalo deket-deket Nando.


Dan Nando, lelaki itu sebenernya lagi kebingungan buat nembak Kauki. Nando udah gak bisa nahan perasaannya lagi, dia pengen milikin Kauki segera.


Tapi, Nando gak tau gimana caranya vroh! Ini lebih sulit ketimbang nyelesain materi Hipotesis Riemann.


Eh, enggak deng!


"Nando!"


Nando tersentak dari lamunannya. "Eh, iya? Kenapa?"


"Itu Icha nangis malah bengong!" seru Kauki sambil nenangin salah satu bayi di gendongannya.


Nando terkesiap lalu mengalihkan perhatiannya pada Icha di depannya. Balita berumur 7 bulan itu tengah menangis keras.


"Eh, aduh... Cup cup cup, maafin Bang Nando ya, udah nyuekin Icha."


Nando melakukan berbagai cara buat nenangin Icha. Mulai dari nimang-nimang sampe main ciluk ba, tapi balita itu terus terisak.


Nando menggaruk kepalanya bingung. Kemudian senyum cerah terbit ketika otaknya mendapatkan ide.


Nando menyandarkan Icha di kereta bayi, kemudian mulai joget-joget.


"Ning nang, ning nang eu.. nang ning nang ning nang eu!"


Icha yang tadinya nangis kenceng jadi ketawa.


Nando terus bergoyang ria sampe gak sadar kalo Kauki dan anak-anak panti menatapnya cengo. Nando yang sadar suasana hening langsung menatap sekitar.


Seketika garuk-garuk kepalanya kikuk ketika mendapati semua orang menatapnya. "Ehehe.."


Kauki tersenyum kecil, tanpa diduga, gadis itu malah joged floss dance, ngikutin cara Nando dengan berjoget-joget riang buat nenangin bayi cowok di depannya. Membuat bayi itu tertawa.


Nando terkekeh dan dua remaja itu pun akhirnya menari bersama diiringi tepukan tangan anak-anak panti. Sesekali gelak tawa menggema membawa rasa bahagia di panti asuhan tersebut.


🍁🍁🍁


"Kauki.. Ki, plis dengerin gue dulu. Kauki!"


Alpha berjalan cepet ngikutin langkah Kauki yang terus menghindar darinya.


"Apaan sih, lepasin!" sentak Kauki melepas kasar cengkraman tangan Alpha.


"Kauki, we need to talk, please!"


Kauki berdecak lalu menatap Alpha malas. "Lo mau ngomong apa lagi, ha? Elo mau gue jauh dari lo kan? Atau lo mau ngatain gue PHO lagi, begitu?"


Alpha menggeleng keras, "Enggak, Ki. Kauki, tolong.. dengerin gue dulu."


"Apa lagi sih, Alpha, kalo lo mau kita jaga jarak, itu juga yang bakal lo dapatkan."


"Kauki, lo salah paham. Jaga jarak bukan berarti ngejauhin gue."


"Alpha elo **** atau gimana sih, gue nggak ngerti sama pemikiran lo. Jaga jarak itu ya ngejauh!"


"Nggak, Ki, nggak. Oke, maafin gue kalo kemarin gue keterlaluan ngomong."


"Gue capek denger lo minta maaf. Elo tuh selalu gitu, Alpha, ngelakuin kesalahan abis itu minta maaf, dan lo ngelakuin dua hal itu berulang-ulang. Gue bosen, Alpha, gue capek! Gue selalu maafin lo, bukan berarti lo bisa nyakitin gue terus. Gue udah ngelakuin ini itu buat lo, tapi balasan lo?"


Kauki mendengus sinis, kemudian menggelengkan kepalanya. Matanya berkaca-kaca mengingat setiap kesalahan Alpha padanya.


Alpha membalas tatapan tajam Kauki dengan mata yang juga berkaca-kaca. "Elo ngelakuin hal yang bener kok, Alpha. Elo ngelepasin gue buat cewek yang lo puja-puja, elo udah bener. Lupain aja gue, anggap aja kita gak saling kenal!" ucap Kauki tajam.


"Nggak, Ki, gue nggak mau. Elo tetep sahabat gue. Please, Ki, maafin gue."


"Stop, Alpha, stop! Lo gak perlu lagi bilang maaf. Karena berapa kalipun lo minta maaf, lo tau kan jawabannya apa," suara Kauki melirih.


Alpha menatap Kauki sendu sambil terus menahan Kauki, tapi gadis itu selalu menghindar. "Kauki, Kauki please-"


BRAKK


"Forgive me.." lirih Alpha ketika Kauki masuk ke mobil yang dipesan Kauki lewat aplikasi dan melaju meninggalkannya.


Alpha menghela nafas, mengacak rambutnya frustasi.


Save your advice cause i won't hear


You might be right but i don't care


There's a million reasons why i should give you up


But the heart wants what it wants..


🍁🍁🍁


Kauki mengusap air matanya yang lagi-lagi harus terbuang gara-gara Alpha.


Dia sebenernya gak mau jauhin Alpha, tapi Kauki capek. Alpha emang sahabatnya, tapi bukan berarti lelaki itu bisa seenak jidat menggores luka di hatinya.


Kauki sayang Alpha, tapi bukan berarti dia gak bisa benci sama cowok itu. Kauki punya titik jenuh dan dia ada di titik itu. Kauki udah gak bisa sabar lagi buat Alpha.


And every second was like torture


Hell over trip, no more so 


Finding a way to let go


Baby, baby no I can't escape


🍁🍁🍁


Brukk!


Alpha melempar asal tas sekolahnya, dia gagal dapet maaf dari Kauki. Gadis itu kayaknya udah terlalu sakit karena ulahnya.


Salahin Alpha, yang buta karena cinta. Alpha buta, sampe gak bisa ngeliat Kauki yang nahan sakit hati mengorbankan waktu, tenaga dan perasaan cuma demi kepentingannya.


Drrt..


Ponsel Alpha berbunyi, lelaki itu segera melihat, siapa tau dari Kauki. Tapi Alpha menghela nafas kecewa karena yang didapatinya malah Maura yang nelpon.


"Halo."


"Alpha, kamu ke mana aja? Aku udah pulang kerja nih."


"Gue capek, Maura, lo cari taksi aja ya."


"Loh tapi-"


Telat, sebelum Maura berucap, Alpha langsung mematikan panggilan. Persetan sama Maura deh, yang Alpha mau sekarang cuma Kauki!


Kauki.. mengingat sahabatnya, muka Alpha langsung sendu.


"Kauki.."


"Alpha!"


Alpha tersentak ketika ngeliat bunda Mia tau-tau ada di kamarnya.


"Bunda, ngagetin aja."


"Kamunya kali yang ngelamun," balas bunda. "Eh iya, Al, Kauki kok jarang keliatan sih sekarang? Biasanya kan kalian bareng terus."


Mendengar pertanyaan bundanya bikin Alpha kembali membuang nafas. Alpha nggak mungkin bilang ke bunda kalo dia lagi dimusuhin sama Kauki.


"Em.. Kauki lagi sibuk."


"Sibuk apa?"


"Ya.. ya gak taulah. Tanya aja sendiri."


"Dih, kamu sama sohib sendiri masa gak tau."


"Lagian kenapa sih nanyain Kauki?"


"Gak apa-apa, Bunda cuma kangen aja sama Kauki."


Hmm.. Jangankan bunda, Alpha juga kangen kalik, bun.. Batin Alpha.


"Ya udah deh, Bunda mau ke rumah Bu Sinta dulu. Kamu kalo mau pergi, makan dulu, udah Bunda masakin ayam goreng sama sambel terasi tuh. Oh iya, nanti kalo ketemu Kauki, suruh main ke sini, bilangin; Bunda kangen masak bareng," pesan bunda sebelum pergi buat ngerumpi di rumah temannya.


Alpha berdecak, Kauki mana mau disuruh ke sini kalo ada dia. Bunda salah ngasih pesan, harusnya bilang aja ke orangnya langsung.


Cowok berhidung mancung itu mengambil figura di nakas, di mana foto Maura terpasang.


Di foto itu Maura senyum manis banget, tapi bukan itu tujuannya ngambil figura, bukan buat ngeliat foto Maura. Disingkirkannya foto Maura yang ternyata di belakangnya terdapat foto Kauki dan dirinya saat mengenakan kostum super mario.


Kostum yang dikasih tantenya Kauki, tante bunga namanya--tapi Kauki memanggilnya Tia Flower--di hari halloween.


Setetes air bening mengalir dari mata Alpha, kilasan memorinya bersama Kauki kembali berputar di otaknya.


"Kaukiii... Gue harus gimana supaya lo mau maafin gue? Gue kangen sama lo, gue kangen saat-saat kita bareng," gumam Alpha serak mengelus wajah Kauki di foto dengan lembut, seolah mengelus wajah Kauki secara langsung.

__ADS_1


🍁🍁🍁


__ADS_2