
"WHAT? KAK TRISTAN MECAT KAK MAURA?"
Tristan hanya mengangguk menjawab Kauki sedangkan gadis itu tampak syok.
Kauki tadinya ke kantor Tristan selain buat mengunjungi sang kakak tapi juga pengen liat keadaan Maura.
Tapi Kauki heran karena yang duduk di depan ruangan Tristan bukan Maura melainkan orang lain. Saat bertanya pada kakaknya, Kauki dibuat terkejut saat Tristan mengaku bahwa lelaki itu telah memecat Maura.
"Tapi kenapa?"
"Karena dia udah bikin kamu celaka."
"What?!" Kauki geleng-geleng kepala, nggak habis pikir sama Tristan. "Kak, bukan dia yang bikin Kauki celaka, tapi para penculik itu yang mukulin Kauki. Lagian Kak Maura diculik kan bukan kemauan Kak Maura, itu kecelakaan!"
"Tetep aja Kakak nggak mau kamu deket-deket sama Maura. Kakak nggak mau kamu dalam bahaya kalo terus berteman sama dia."
"Tapi kasian Kak Maura, dia pasti kesusahan nyari kerja di Jakarta."
"Perusahaan di Jakarta bukan cuma satu, Kakak yakin masih banyak perusahaan yang mau nerima dia."
Kauki mendengus. "Sekarang Kauki tau sifat egois Kauki nurun dari siapa."
"Maksud kamu? Kauki, Kakak tuh begini karena nggak mau kamu celaka untuk kesekian kalinya. Kakak khawatir sama kamu. Pokoknya kamu nggak boleh temenan lagi sama dia."
"Ya udah, kalo gitu Kauki bakalan mogok makan kecuali Kak Tristan bawa kak Maura kerja lagi di sini."
"Kauki, jangan bikin Kakak marah ya."
"Nggak mau? Ya udah, Kauki bakalan mogok makan biar kena penyakit lambung terus dirawat!" tandas Kauki ngambil tas selempangnya lalu melengos pergi dari ruang kerja sang kakak.
"Kauki... Kauki..!"
Kauki mengacuhkan panggilan Tristan, saat di depan ruangan Tristan dia ketemu lagi sama wanita yang gantiin Maura, Mawar.
Wanita itu tersenyum ramah pada Kauki.
"Nona.."
Kauki mengangguk pelan tapi matanya mengamati wajah Mawar, membuat wanita berambut curly itu bingung.
"Ada yang bisa saya bantu, Nona?"
"Oh enggak. Kamu.. saya cuma ngerasa pernah ngeliat kamu, tapi.. Ah udahlah." Kauki berlalu dari hadapan Mawar.
Mawar melihat punggung Kauki yang semakin menjauh dengan bingung. "Aneh."
🍁🍁🍁
"Kauki, elo kenapa diem mulu?" Alpha bertanya saat Kauki masuk ke mobilnya selepas keluar dari kantor Tristan.
"Gak apa-apa."
"Oh iya, Maura gimana keadaannya, Ki? Elo tadi ketemu dia kan?"
"Eng.. Sebenernya, Maura.. udah dipecat sejak tiga hari yang lalu."
"Hah? Dipecat?" Kauki ngangguk. "Kenapa? Kinerja Maura menurun?"
Kauki menggeleng. "Bukan."
"Terus?"
"Kak Tristan mecat kak Maura karena dia pikir, kak Maura penyebab kecelakaan gue kemarin."
Alpha terperangah, dia males kalo bahas musibah kemarin. Karena itu mengingatkan Alpha pada rasa bersalah, rasa bersalah karena nggak bisa menjaga Kauki.
"Kakak lo ada benernya juga."
"Enggak, Alpha, kan bukan kak Maura yang bikin gue kritis kemaren, justru dia korban utama di sini."
Alpha mengangguk.
"Tapi, Al.." Kauki menggantung ucapannya.
"Apa?"
"Waktu gue ngeliat penggantinya kak Maura, gue kayak nggak asing deh sama mukanya."
"Maksud lo, lo pernah liat di mana?"
Kauki mencoba mengingat-ngigat wajah wanita tadi. Dan setelah itu, Kauki menjentikkan jarinya.
"Ah!"
"Apa, apa?"
"Itu cewek yang kemaren ada di tempat penculikan Maura!" cetus Kauki.
"Tapi kenapa?"
Kauki kembali berpikir, mencoba mencari penjelasan yang masuk akal tentang kasus kemarin.
"Mungkin nggak sih, Al, ini ada hubungannya sama kerjaan mereka?" Kauki menerka-nerka.
"Maksud lo.. perempuan itu nyewa penculik buat nyingkirin Maura, karena dia ngiri sama Maura? Kayak yang di sinetron-sinetron." Alpha ikut mikir.
"Bisa jadi, karena kalo dipikir-pikir, posisi kak Maura di kantor kan penting--sebagai asisten bos, dan perempuan itu nyingkirin kak Maura, biar bisa gantiin posisi kak Maura. Gimana menurut lo?"
"Iya.. iya lo bener, Ki. Kalo gitu kita harus urus kasus ini ke polisi."
"Tapi kita kan nggak punya bukti." Kauki lesu.
"Iya juga, sih."
Kauki menarik nafas dan menyenderkan punggungnya ke dada kursi. Matanya ngeliat-liat kantor Tristan yang berdiri menjulang.
Kauki menegakkan duduknya saat ngeliat sesuatu yang menempel di atas pintu masuk.
"CCTV kantor!" cetus Kauki.
"Apa, Ki?"
"Itu, Alpha. Kita bisa liat lewat rekaman CCTV."
"Oh iya. Ya udah, kita ke ruang CCTV sekarang."
"Yuk!"
Mereka masuk ke kantor, lebih tepatnya di ruang CCTV, di sana ada dua security yang lagi jaga.
"Nona Kauki.." Dua security itu langsung bangun saat ngeliat adik dari bos.
"Pak, saya mau liat rekaman CCTV dong."
"Buat apa, Non?"
"Dua minggu yang lalu, ada karyawan yang diculik di depan kantor," jelas Kauki bikin dua satpam itu kaget, pasalnya mereka nggak tau kalo ada penculikan.
"Baik, Non."
Security itu nyari rekaman yang Kauki minta, dan untungnya kesimpen. Di sana mereka bisa ngeliat Maura yang dibekap sama dua orang pria berbadan besar, gak lama kemudian, sebuah mobil menghampiri mereka dan dua penculik itu langsung masukin Maura ke mobil lalu pergi.
Kauki, Alpha dan dua security itu mengamati dengan seksama, sayangnya para penculik itu make topeng. Tapi untungnya cctv berhasil nagkep nomor plat mobil itu.
"B 1045 glp." Kauki membaca plat nomor mobil penculik itu. "Alpha, sekarang juga kita harus lapor polisi. Kita cari yang punya mobil dengan plat nomor ini buat kita masukin ke penjara," ucap Kauki.
Alpha mengangguk menyetujui, Kauki meminta rekaman itu buat ditunjukkan pada polisi nantinya.
🍁🍁🍁
Ini udah seminggu Kauki ngediemin Tristan, di rumah pun Kauki cuma melengos saat ngeliat kakaknya. Kauki ngebuktiin ancamannya, gadis itu jarang makan, hal itu membuat Tristan khawatir.
Kauki cuek aja waktu ngajak Alpha main ke rumahnya, meskipun dia tau Tristan masih marah sama Alpha.
"Aku tuh udah baikan sama Alpha, dan kalo Kak Tristan terus musuhin Alpha, aku nggak mau ngeliat Kak Tristan lagi. Aku mau tinggal di rumah bunda Mia aja!" Kauki kembali mengancam membuat Tristan hanya menghela napas, ngalah.
Kalo Kauki pindah ke rumah Alpha, Tristan gak bisa ngawasin adeknya. Walaupun rumah Alpha di sebelah.
"Huufh.." Kauki menjatuhkan dirinya di sofa, menaruh tas sekolahnya di lantai.
"Udah seminggu, kok belum ada kabar dari polisi, ya?" gumam Kauki.
Kauki dan Alpha udah ngelaporin kasus kemarin. Berbekal rekaman cctv kantor, polisi pun mencari keberadaan para penculik itu.
Gadis keturunan Spanyol Jepang itu memejamkan mata, capek banget abis sekolah.
Seet..
Kauki bergidig saat ngerasa sesuatu seperti bulu menggesek kakinya. Membuat Kauki menegakkan duduknya dan melihat ke bawah.
Matanya membelalak saat seekor kucing di lantai, berjalan mengitari kakinya.

"Oh my God.. How cuteee.." seru Kauki kemudian mengangkat kucing lucu itu ke gendongannya.
Kucing itu berjenis british shorthair, berbulu abu-abu, tampak nyaman dalam gendongan Kauki, mata abu-abunya terpejam saat Kauki mengelus bulu-bulu lembutnya.
"Miaauu..."
"Uluh uluh.. lucu banget sih, kucing siapa sih ini, hmm? Kucing siapa?" gemes Kauki, kemudian tersadar. "Eh, iya. Ini kucing siapa ya kok ada di rumah gue?" mukanya berubah bingung.
"Kucing kamu," ucap Tristan yang muncul dari pintu. "Itu kucing buat kamu."
"Kak Tristan.." gumam Kauki. Alisnya lalu mengerut menyadari sesuatu. "Ini bukan sogokan, kan?"
Tristan duduk di sofa. "Bisa dibilang begitu."
Mendengar itu Kauki kontan menaruh kucing itu di lantai, gadis itu berbalik memunggungi Tristan, melipat kedua tangannya.
Tristan menghela napas. "Dek-"
"Aku gak terpengaruh sama sogokan Kak Tristan," sela Kauki.
"Yakin?" Tristan membawa kucing yang baru dia adopsi ke lengannya. "Kucingnya kan lucu."
"Aku nggak bakalan berenti ngambek sama Kak Tristan kecuali Kakak nerima kak Maura lagi buat kerja di kantor."
"Kauki, Kakak kan udah ngejelasin ke kamu kalo-"
"Penjelasan Kakak nggak masuk akal. Kak Maura tuh baik, dia udah nganggep aku kayak adeknya sendiri."
"Kalo dia kayak gitu nggak mungkin kamu dibiarin celaka."
"Udah aku bilang itu semua musibah. Nggak ada yang bisa nyegah," sela Kauki.
"Kakak cuma khawatir sama kamu-"
"Khawatir sama aku atau karena Kakak inget rasa benci Kakak sama kak Maura?"
Skak matt!
Perkataan Kauki membuat Tristan tercekat. Sebagian hatinya membenarkan ucapan Kauki, tapi sebagiannya lagi mengelak.
"Nggak! Kakak khawatir sama kamu," sanggah Tristan. "Lupain aja. Kakak tetep sama pendirian Kakak."
"Kakak nggak bisa berenti egois, bahkan buat aku?"
Diem, cuma itu yang bisa Tristan lakukan.
Kauki menatap Tristan dengan permohonan di dalam matanya.
"Kak, udahlah, lupain dendam Kakak. Lupan yang udah-udah. Kak Maura udah mengakui kesalahannya, dia udah ngelakuin apapun buat dapet maaf dari Kakak. Kak Tristan tega?"
Mata bening Kauki yang memohon padanya membuat Tristan mengingat wajah sendu Maura. Mata dari gadis yang pernah dicintainya dulu saat menatapnya, penuh penyesalan.
__ADS_1
Membuang napas pasrah, Tristan menatap adiknya. Omongan Kauki yang ada benernya. Tristan harus bisa ngelupain dendamnya terhadap Maura, berdamai dengan luka lamanya agar menerima maaf dari Maura.
Selain itu, Tristan tau dia nggak pernah bisa menang saat Kauki ngeluarin jurus andalannya, jurus tatapan anak tiri.
"Fine! Besok juga, Kakak bakal telpon dia dan minta dia buat kembali ke kantor," putus Tristan mengembangkan senyum lebar di bibir Kauki, memunculkan satu lesung pipi yang membuatnya terlihat manis.
"Wuhuuu.. Thank you my handsome Brother. You know, you're great when you defeat your selfish," ujar Kauki memeluk Tristan.
Tristan tersenyum dan mengacak rambut adiknya. "Iya. Ya udah, jadi mau dikasih nama siapa nih si lucunya?"
"Em.. Ferguso!"
🍁🍁🍁
Sore menjelang maghrib, Alpha lompat ke balkon kamar Kauki, dilihatnya gadis bersurai coklat panjang itu tengah fokus belajar.
"Kauki"
"Hm?"
"Ki, gue barusan dapet telpon Pak polisi, mereka bilang, mereka udah nemuin pelaku penculikan Maura."
Kauki sontak menghadap sahabatnya. "Yang bener?"
"Beneran."
"Thank God," lega Kauki. "Kalo gitu, besok juga kita ke kantor kak Tristan buat nangkep pelaku utamanya."
Alpha mengangguk, perhatiannya teralih pada Ferguso-kucing baru Kauki yang berada di kasur memainkan bola benang.
"Kucing siapa tuh, Ki?"
"Kucing gue." Kauki senyum gemes ngeliat Ferguso.
"Sejak kapan lu punya kucing?"
"Sejak tadi, Kak Tristan ngasih ini sebagai sogokan supaya gue nggak ngambek sama dia."
Alpha terkekeh. "Sampe segitunya. Kayaknya kakak lo nggak bisa deh didiemin elo."
"Ya sama kayak lo, gue diemin langsung demam," sindir Kauki.
"Gue demam karena gue kecapekan," sanggah Alpha nahan rasa malunya.
Kauki cuma tersenyum miring, lalu kembali sibuk pada bukunya.
🍁🍁🍁
Besoknya, Maura udah berdiri di depan kantor Tristan. Tadi malem dia dapet telpon dari Tristan, lelaki itu meminta Maura datang ke kantor, enggak tau ada perlu apa.
Maura yang penasaran pun mengikuti saja.
"Em.. Pak Tristannya ada?"
Mawar terkejut ketika ngeliat Maura. "Mm.. Ada. Kamu.. ngapain ke sini lagi? Kamu kan udah dipecat sama pak Tristan."
"Saya juga nggak tau, pak Tristan yang manggil saya ke sini."
Mawar manggut-manggut dengan muka heran, agak was-was juga, jangan-jangan Maura mau disuruh kerja lagi sama Tristan.
"Pak Tristannya sibuk?"
"Nggak."
"Saya boleh ketemu pak Tristan, kan?"
Mawar awalnya mau bilang nggak, tapi Kauki keburu dateng nyapa Maura.
"Kak Maura!"
"Kauki." Maura tersenyum sumringah kemudian keduanya berpelukan seperti sudah berabad tak bertemu.
"Ya ampun.. kangen banget sama kamu, Ki."
"Ehehe.. Aku emang ngangenin," canda Kauki. "Kak Maura mau ketemu kak Tristan? Masuk aja, kakakku udah nungguin daritadi."
"Em.. Tapi sama kamu ya, Ki."
"Kenapa?"
"Takuut.."
Kauki terkekeh ngeliat muka gelisah-nya Maura. Cewek itu mengangguk lalu merangkul Maura memasuki ruangan Tristan.
"Kak, nih Kak Maura-nya udah dateng."
"Oh, silahkan duduk," ujar Tristan diangguki Maura.
Gadis berambut hitam itu duduk tepat berhadapan dengan Tristan. Tristan ngelirik Kauki yang cuma berdiri di belakang Maura.
"Kamu nggak keluar?"
"Ngusir, nih?" Kauki manyun.
"Bukan ngusir, tapi Kakak mau ngomong empat mata sama Maura."
Entah kenapa Maura agak merona, saat mendengar kalimat 'empat mata' yang Tristan ucapkan. Gadis itu juga senang karena setelah sekian lama akhirnya Tristan mau menyebut namanya. Bukan lagi 'dia'.
Kauki muter mata. "Ya udah iya. Kak Maura, aku keluar dulu ya. Kalo Kak Tristan galak, lempar aja komputer atau file-file yang ada ke kepala Kak Tristan."
Maura terkekeh kecil mendengar candaan Kauki. Sementara Tristan menatap adiknya tajam.
"Kauki.."
"Iya iya! Hehe.. Daah Kak Maura."
"Iya.."
Kauki keluar dari ruangan kakaknya, sekarang cuma ada Tristan dan Maura. Sejenak keheningan menguasai hingga akhirnya Tristan buka suara.
"Em.. baik."
Tristan menggaruk hidungnya, entah kenapa dirinya merasa canggung. Mungkin karena sekarang dia udah bisa nerima Maura kembali setelah kemarin cuma bersikap dingin pada mantan pacarnya ini.
"Kamu pasti bingung kenapa saya minta kamu ke sini. Benar?"
Maura mengangguk.
"Jadi, setelah berpikir cukup lama akhirnya saya menyadari, kalau keputusan saya memecat kamu adalah tindakan yang salah. Untuk itu, saya meminta kamu, dengan amat sangat meminta kamu untuk kembali bekerja di sini. Bagaimana?"
Maura melongo, masih nggak nyangka Tristan minta dia kembali ke perusahaan.
"Bagaimana, Maura?" ulang Tristan karena Maura nggak kunjung menjawab.
"Eh, um.. sa-saya mau, Pak," terima Maura langsung membuat Tristan tersenyum lega. "Lalu.. Apa posisi saya, Pak?"
Tristan tersenyum, senyum pertamanya pada Maura setelah sekian lama.
"Kamu tetap jadi asisten saya."
"Lalu Mawar?"
Brakk
Pintu terbuka keras, muncul Mawar dengan Kauki di belakangnya.
"Pak Tristan, saya nggak mau ya posisi saya digantikan Maura. Pak, saya ini kan sudah bekerja cukup lama, kenapa Maura yang hanya mahasiswi magang bisa langsung naik jabatan? Ini nggak adil!"
Tristan menatap Kauki tapi adiknya itu malah mengendikkan bahu.
"Pertama saya ingin mengingatkan kamu tentang sopan santun, siapa yang nyuruh kamu masuk? Saya sedang ngomong penting dengan Maura!" omel Tristan.
"Untuk yang tadi itu saya minta maaf, Pak, tapi saya nggak terima kalau Bapak bikin Maura naik pangkat secepat itu," balas Mawar menggebu.
"Ini kantor saya, jadi saya berhak untuk memutuskan."
"Ya tapi kenapa secepat itu? Jangan-jangan.. Maura ngasih Bapak sesuatu sampai Bapak dengan mudah menaikkan posisinya."
Gak cuma Maura, Tristan dan Kauki membelalak mendengar ucapan Mawar. Secara nggak langsung perempuan itu nuduh Maura yang enggak-enggak.
"Eh, eh, jaga ya omongannya, kak Maura nggak kayak gitu!" sewot Kauki.
"Mawar, saya tidak suka kamu ngomong begitu, kalau kamu tidak tau apa-apa jangan asal menuduh!" timpal Tristan.
"Tapi, Pak-"
"Itu dia pelakunya, Pak." Tiba-tiba Alpha dateng degan tiga orang polisi di belakangnya.
Tristan dan Maura bangkit dari kursi dengan wajah kaget, begitu pun Mawar yang tampak terkejut sekaligus panik.
Dua polisi langsung menangkap Mawar membuat perempuan itu panik.
"Apa-apaan ini? Saya salah apa?"
"Saudari Mawar, Anda kami tangkap atas laporan Nona Kauki atas kasus penculikan yang anda lakukan pada saudari Maura," kata pak polisi membuat Maura dan Tristan terbelalak.
"Jadi.. jadi kamu yang nyulik Maura?!" sentak Tristan, Maura hanya diam menutup mulutnya, tampak syok.
Ternyata selama ini rekan kerjanya adalah musuh dalam selimut.
"Pak Tristan.. Pak, tolong dengerin penjelasan saya, ini pasti salah paham. Bukan saya pelakunya, Pak!" Mawar terus meronta dalam cekalan polisi.
Beberapa karyawan yang kebetulan lewat mengerubungi pintu ruangan Tristan.
"Mau ngelak apa lagi, sih? Buktinya udah ada kok. Dasar!" celetuk Alpha menatap jengah Mawar.
"Sudah, sudah. Pak polisi, bawa perempuan ini ke penjara, dan hukum seberat-beratnya," kata Tristan.
"Baik, Pak. Kami permisi," balas pak polisi kemudian berlalu dengan membawa Mawar.
"Pak, tapi saya nggak salah, Pak! Lepasin saya, saya mohon. Pak Tristan!!"
Seluruh pegawai Tristan memandang Mawar dengan tatapan kaget. Gak nyangka, Mawar yang keliatannya karyawan rajin di kantor ternyata seorang penjahat.
"Sukurin!"
"Gak nyangka ya."
"Dia baik loh padahal."
"Padahal dia karyawan teladan."
Cuitan para karyawan memenuhi kantor, mereka pun kembali bekerja saat atasan mereka memerintah.
Maura masih terdiam, dia lega sekaligus tidak menyangka. Maura selalu berbuat baik di kantor, tapi ternyata orang baik pun masih bisa punya musuh.
"Kak Maura nggak apa-apa?"
Maura ngasih senyum ke arah Kauki. "Nggak apa-apa, Ki, Kakak cuma kaget sama yang barusan terjadi."
"Kakak tenang aja, sekarang udah nggak ada yang jahat sama Kak Muara lagi," kata Alpha yang modus deket-deket Maura.
Melihat kejadian tadi membuat Tristan merasa bersalah pada Maura. Dia janji mulai sekarang gak akan memandang sinis mantannya lagi.
"Maura, saya minta maaf kalau kemarin-kemarin sikap saya tidak menyenangkan pada kamu. Saya merasa bersalah sudah memecat kamu tanpa berpikir panjang."
"Nggak apa-apa, Pak. Saya mengerti."
"Nah, karena sekarang Maura udah balik kerja, gimana kalo kita rayain dengan makan-makan!" seru Kauki mendapat anggukan antusias Alpha.
"Setuju!"
"Tapi, Kauki. Ini kan masih jam kerja," kata Maura merasa nggak enak.
"Tinggal satu jam lagi kok, Kak Maura. Kak Tristan, kita makan-makan sekarang ya." Kauki beralih memohon ke kakaknya.
__ADS_1
"Ya udah iya," pasrah Tristan disambut seruan girang Kauki dan Alpha.
🍁🍁🍁
Alpha masuk ke kamarnya dengan muka sumringah. Hari ini dia super seneng karena bisa makan dinner bareng Maura, ya walaupun ada Tristan dan Kauki juga.
Drrrt..
Hpnya bunyi tanda pesan masuk. Mata Alpha melebar saat ngeliat nama orang yang mengiringinya chat.
From : Maura
Alpha, makasih ya kamu udah nyari orang yang nyulik aku. Kamu sama Kauki emang bener-bener pahlawan.
Alpha senyum-senyum sendiri. "Gue dibilang pahlawan!" pekiknya girang.
Segera dibalasnya chat Maura.
'Iya sama-sama. Lain kali kalo Kak Maura butuh bantuan panggil aku aja. Aku 24 jam on buat kak Maura 😉'
Di rumahnya, Maura cuma tersenyum ngeliat emot Alpha.
'Makasih Alpha 😊' balas chat Maura dengan emot senyum.
Alpha ikut senyum ngeliat emot Maura. Cowok itu pun mengambil handuk, bersiap untuk mandi.
🍁🍁🍁
Sebulan sudah sejak Maura kembali ke kantor, Alpha makin sering mepetin Maura tiap kali ada kesempatan. Tapi kali ini dia berusaha sendiri, dia nggak mau ngelibatin Kauki. Alpha nggak mau Kauki celaka lagi.
Dan Maura juga merespon dengan baik setiap perlakuan Alpha. Hubungannya dengan Tristan juga sudah membaik, walau Tristan gak bersikap dingin lagi ke Maura, tapi Tristan seolah hanya menganggap Maura teman, membuat Maura pasrah karena merasa tak ada lagi harapan untuk kembali bersama.
Lagipula, Maura sudah merasa nyaman dengan Alpha, sebab lelaki itu selalu ada untuknya, mau mendengar setiap curhatannya, bahkan mau menemaninya belanja.
Maura pun gak menolak lagi jika Alpha mengajaknya jalan atau makan bersama. Dan setiap Alpha menghubunginya, entah lewat telpon atau pesan, Maura merespon dengan cepat.
Hal itu tentu membuat Alpha beranggapan kalau Maura sudah membuka hati untuknya.
Jadi sabtu ini Alpha dateng ke rumah Kauki, dan menyampaikan niatnya buat nembak Maura.
"Ki, menurut lo Kak Maura udah ada rasa belum sama gue?"
"Mungkin. Soalnya kak Maura sekarang kalo lagi chat atau telponan sama gue, dia selalu nyelipin nama lo."
Muka Alpha sumringah. "Maura sering ngomongin gue?"
Kauki cuma ngangguk sambil ngelus bulu Ferguso yang tampak manja padanya.
"Ki, menurut lo, kalo gue nembak dia sekarang, dia mau nggak?"
Kauki diem sejenak, kemudian mengendikkan bahu.
"Nggak tau."
"Kok nggak tau sih?"
"Ya lo kalo mau tau tanya aja sama kak Mauranya, jangan sama gue. Aneh lo," balas Kauki sewot.
"Ki, menurut lo, apa nggak terlalu cepet kalo gue nembak Maura sekarang?"
"Nyoba apa salahnya sih, Alpha."
"Gue takut Maura nolak gue." Alpha pesimis bikin Kauki nggak tega.
"Kalo menurut gue ya, mendingan kecepetan daripada kelamaan. Kan siapa tau kalo kak Maura lagi nunggu lo tembak."
Alpha mencerna ucapan Kauki, bener, mending kecepetan daripada kelamaan. Entar kalo Maura kelamaan nunggu, bisa-bisa nyari yang lain.
"Kalo gitu, gue harus nembak Maura sekarang!" cetusnya dibalas senyum Kauki.
"Nah gitu dong, semangat. Kalo pun nantinya lo ditolak, seenggaknya kan lo pernah nyoba."
"Gue bakal nembak Maura, Ki."
"Bagus. Lebih cepet lebih baik."
"Tapi, Ki.." Alpha ngegantung ucapannya, menghadap Kauki dengan muka melas. "Wakilin gue ya."
Kauki cengo sejenak, sedetik kemudian ngedorong muka melasnya Alpha.
"What the ****, Alpha! Elo mau nembak apa ngabil buku rapor, minta diwakilin?" Kauki natap Alpha aneh.
"Ki, gue pasti nggak bisa ngomong apa-apa di depan Maura. Tuh.. tuh liat, badan gue udah gemeteran."
Kauki berdecak. "Nggak, Alpha. Elo pasti berani. Selingkuh aja lo berani, elo kan bukan kali ini aja nembak cewek."
"Tapi kali ini beda, Ki."
"Nggak, pokoknya enggak!"
"Kaukiii.."
"Nggak!"
Alpha nunjukkin muka ratapan anak tirinya, Kauki tetap mempertahankan muka tegasnya.
"Kauki.. Hiks.." Alpha pura-pura narik ingus seolah-olah lagi nangis.
"Nggak."
"Pleasee.."
"No!"
Tapi Kauki sekarang malah berdiri di depan Maura, dengan Alpha yang berdiri di belakangnya.
"Kak Maura, mau nggak jadi pacar Alpha?"
Maura menganga, ini Kauki yang nembak dia atau Alpha?
"Ng.. gimana ya."
"Kak Maura, Alpha tuh cowok bertanggung jawab. Walaupun umurnya terpaut jauh dari lo, tapi dia bisa kok jadi kayak yang lo idam-idamkan. Gimana? Mau kan pacaran sama Alpha?"
Sesekali Kauki menyikut Alpha, tapi cowok itu cuma diem kayak patung, Alpha gugup beneran.
Sedangkan Maura, dia sebenernya agak seneng saat tau Alpha menyatakan perasaannya, walaupun lewat Kauki. Tapi Maura masih bingung.
Alpha ngumpet di belakang Kauki, sesekali memainkan rambut Kauki yang terurai saking gugupnya. Alpha meraih helaian rambut Kauki buat nutupin mukanya saat Maura menatapnya.
"Mm.. I-iya."
Kauki dan Alpha saling pandang. "Apa tadi?"
"Iya. Aku mau," jawab Maura diiringi senyuman.
Alpha dan Kauki saling pandang, lagi. Kemudian berpelukan dan bersorak.
"She say yes, Brooo.."
"Gue diterima, Ki!"
"Haha.. Selamat bro-ku."
Maura terkekeh dan geleng-geleng kepala ngeliat kelakuan dua sohib itu. Ikut seneng.
Kauki melepas pelukannya. "Eh, kok gue yang dipeluk sih? Peluk Kak Maura dong, kan dia udah jadi pacar lo sekarang." Kauki ngelirik Maura yang tampak merona.
Alpha salah tingkah bikin Kauki gemes sendiri. Dengan tidak sabar diraihnya tangan Alpha dan Maura, kemudian disatukan untuk menggenggam satu sama lain.
"Udah sana, kalian harus ngerayain hari jadi kalian. Langgeng ya," ucap Kauki.
Alpha ngajak Maura pergi, tapi sebelumnya dia ngasih senyum lebarnya ke Kauki seolah berterima kasih.
"Bye, Kauki."
"Bye, guys.. Have fun with your new relationship.." seru Kauki membalas lambaian tangan Alpha dan Maura.
Gadis itu mengukir senyum lebar, ikut seneng karena pada akhirnya Alpha berhasil bersatu sama Maura. Setelah melewati semua kejadian buruk.
"Gue emang makcomblang yang hebat!" Kauki ngasih jempol ke dirinya.
Gak lama kemudian Kauki terdiam, dia baru inget kalo dia ke taman berangkat sama Alpha. Tapi Alpha-nya sama Maura sekarang, dia ditinggal.
Kauki tersenyum, nahan rasa nyesek karena untuk kesekian kali Alpha ninggalin dia buat Maura.
Tapi Kauki menggeleng, dia nggak boleh egois. Ya udahlah, toh Alpha udah jadian sama Maura. Biarin kali ini Alpha ninggalin gue buat Maura, untuk terakhir kalinya. Pikirnya.
"Terus gue balik ama siapa, jirr?" Kauki nepuk jidatnya.
Dengan segera dia ngambil ponselnya buat manggil ojol. Tapi baru aja Kauki buka aplikasi ojolnya, tiba-tiba Nando muncul dengan vespa biru pastelnya.
"Kauki?"
"Nando? Hai.." Kauki ngasih senyum manis pada cowok yang cukup dekat dengannya akhir-akhir ini.
"Kamu ngapain di sini?"
"Oh, gue tadi ada urusan sebentar. Ini juga mau pulang kok."
"Sama siapa?"
"Em.. Tadinya sih mau sama Alpha, tapi Alpha-nya udah pergi sama Maura."
Nando menatap Kauki kasian, gemes juga, cewek ini apa gak punya rasa kesel? Kauki harusnya kesel karena lagi-lagi Alpha tinggalin buat cewek pujaannya. Pikir Nando.
Iya, Nando udah tau cukup banyak tentang Alpha dan Maura. Kauki yang cerita.
Nando sempat kesel dan geram juga, Kauki kok bisa sabar banget sih temenan sama Alpha? Kauki terlalu baik kalo menurut Nando.
Tapi Nando ngerasa kagum karena Kauki ini meskipun direpotin terus sama Alpha (kadang juga dilupain), tapi Kauki tetep sabar menghadapi Alpha. Bener-bener sahabat sejati, batin Nando.
Dan itu bikin Nando makin sayang sama Kauki.
"Ya udah, kamu pulang sama aku aja. Eh tapi, aku mau ajak kamu jalan-jalan dulu, mau nggak? Mumpung masih sore."
Mata Kauki berbinar, kebetulan dia juga lagi bingung mau ngapain. Tristan lagi ke reuni temen smpnya, dan di rumah Kauki nggak ada temen. Ferguso pun lagi dipinjem sama bunda Mia ke arisan.
"Mau, mau banget!"
Nando terkekeh ngeliat muka antusias Kauki, terlihat menggemaskan di matanya.
Kauki segera menaiki motor Nando saat lelaki itu menyuruhnya. Dan mereka pun meninggalkan taman dengan perasaan gembira.
Dari kejauhan, di dalam mobilnya Alpha ngeliat itu semua, dia belum pergi sebab Maura lagi telponan dulu sama tantenya.
Kening Alpha mengkerut ngeliat Kauki yang keliatan seneng banget diajak Nando.
"Sejak kapan mereka deket?" gumamnya nggak sadar kalo Maura udah duduk di jok sampingnya.
"Alpha?"
Alpha tersentak. "Eh, iya?"
"Kenapa?"
"Eng, enggak. Gak papa," jawab Alpha.
"Ya udah, yuk jalan," ajak Maura dengan senyum, Alpha ikut tersenyum pada pacar barunya itu.
Tapi mata Alpha sesekali ngeliat kepergian Kauki dan Nando yang makin menjauh.
Dia harus nanya ke Kauki, ada hubungan apa Kauki sama Nando?
🍁🍁🍁
__ADS_1