Back To Ya

Back To Ya
Bab 24


__ADS_3

Pergi meninggalkan tanda tanya, pulang membuat semua orang terkejut. Siapakah dia?


****


Tristan dan Maura melambaikan tangan ketika mobil berwarna putih itu memberi klakson dan mulai meninggalkan rumahnya.


Maura menyikut Tristan. "Perempuan tadi temennya Kauki?"


Tristan mengangguk pelan.


"Kok Kauki gak bilang ke aku ya kalo punya temen baru."


"Emang Kauki suka cerita sama kamu?"


"Iyalah. Kauki tuh sering curhat sama aku," kata Maura.


"Aku yang Kakaknya aja jarang dicurhatin."


Maura terkekeh ngeliat muka Tristan yang lucu ketika cemberut.


"Mungkin kamu gak penting," ledeknya.


Tristan tersenyum. "Gak apa-apa, deh. Asalkan aku penting buat kamu," ucapnya seraya memainkan alis.


"Gombal!"


šŸšŸšŸ


Kauki dan Alpha memasuki rumah Kauki sembari menggeret tas carriernya. Wajah cantik dan ganteng itu tampak lelah, ya iyalah, abis mendaki gunung tertinggi di pulau Jawa gimana gak capek.


Meoww..


Suara imut dari Ferguso membuat keduanya menoleh. Gadis berlesung pipi itu tersenyum cerah saat ngeliat Ferguso berlari kecil ke arahnya.


"Hei... How are you?"


Ferguso masuk ke pelukan dan terus mencoba mencium Kauki, mulutnya terus mengeong seolah memanggil 'mommy.. Mommy!'


Kauki terkekeh mendapat serangan menggemaskan dari Ferguso.


"Ehem. Sama Mommy doang kangennya? Sama Daddy enggak?" celetuk Alpha.


Kauki mendelik. "Dih, Daddy? Sori, elo bukan Daddynya Ferguso. Ya kan, Fer?"


Di luar dugaan, Ferguso justru malah melompat dan berpindah ke pelukan Alpha. Kauki melongo sedangkan cowok itu tersenyum menang.


"See? Kayaknya Ferguso udah bisa menerima gue sebagai Daddy-nya yang baru."


Kauki cuma mengangkat bahu. Baguslah kalo emang udah akrab.


Ting tung


Bel rumah Kauki berbunyi. Keduanya saling pandang kemudian melangkah menuju ruang depan.


Ceklek.


"Hal---o.." Sapaan Kauki terhenti ketika ngeliat tamu yang datang.


Gak cuma Kauki, Alpha pun ikut terkejut ngeliat sosok gadis yang beberapa bulan mereka temui di rumah sakit.


"Lalu..na?" Kauki menyebut nama gadis di depannya dengan perasaan campur aduk.


Laluna tersenyum. "Hai, Kauki. Long time no see," ucapnya.


"Mm.. Lun, elo ke sini bareng siapa?" tanya Alpha.


Jujur, ngeliat keberadaan Laluna, bikin Alpha takut sendiri. Alpha takut Laluna datang bersama Nando, dan kalo lelaki itu kembali, udah bisa dipastikan dirinya akan gagal mendapatkan Kauki.


Bukan berarti Alpha gak seneng ketemu Nando, tapi Alpha cuma takut. Takut kalo seandainya Kauki balik ke pelukan Nando.


Dan kalo itu terjadi, bagaimana dengan dirinya?


"Gue ke sini sama-"


"Hai, Kauki."


Alpha dan Kauki sama-sama tercengang dengan kedatangan lelaki berkacamata di depan mereka.


Lelaki itu yang enam bulan pergi dan kini kembali dengan senyum menawan.


"Viral!" desis Alpha dan Kauki bersamaan. Dan ya, lelaki berkacamata itu adalah Viral.


Viral tersenyum melihat kekagetan di wajah kedua sahabatnya. Dilepasnya kacamata yang beberapa minggu ini nangkring di hidung mancungnya karena minus yang baru-baru ini dideritanya.


Kegiatan Viral yang gak lepas dari gadget membuat mata lelaki itu minus. Tapi itu gak penting, yang penting sekarang adalah meminta penjelasan sebanyak-banyaknya dari lelaki itu.


"Hey, sohib-sohibku, kangen ya sama aku?" Viral memeluk sahabatnya satu persatu sedangkan yang dipeluk menatapnya cengo.


"Kalian berdua kenapa bisa bareng?" tanya Alpha.


Bukannya menjawab, Laluna dan Viral malah saling pandang dan melempar senyuman. Membuat kerutan di kening Alpha.


Mata Kauki malah bergerak mencari seseorang yang dirindukannya.


"Mm.. Ral, Lun, Nando mana?"


Viral menarik nafas berat sedangkan Laluna menunduk sedih.


"Kauki, kedatangan gue sama Laluna ke sini untuk ngejelasin semuanya, Ki," ucapnya.


šŸšŸšŸ


Alpha menuangkan minuman ke dalam gelas sementara otaknya berkelana. Sedangkan Kauki tengah sibuk berbincang dengan Viral dam Laluna.


Pasrah, seandainya Nando kembali Alpha cuma bisa pasrah. Mungkin Kauki bukan jodohnya.


Yang harus Alpha lakuin sekarang adalah menegarkan hatinya.


Asal lo bahagia, Ki. Batin Alpha.


Setelah empat gelas minuman siap, Alpha membawanya menuju ruang tamu di mana Kauki bersama dua tamunya berada.


"Nando meninggal, Ki."


Deg.


Langkah Alpha terhenti, nafasnya tercekat. Apa? Apa kata Viral tadi?


Dengan mata berembun Kauki menggeleng, terkekeh menanggapi ucapan Viral yang dianggapnya lelucon.


"Becanda lo nggak lucu, Ral."


Viral menatap Kauki sendu, Laluna yang duduk di sampingnya memalingkan wajahnya yang berair.


Kemudian kekehan Kauki hilang, gadis itu menatap Viral tajam. "Gak lucu, Ral!"


"Gue nggak becanda. Nando udah pergi, Ki."


Pikiran Viral melayang ke kejadian itu, kejadian yang menyakiti semua orang.


6 bulan yang lalu.


Hari ini gereja penuh dengan sanak keluarga Nando dan Laluna. Hari ini, hari di mana upacara pernikahan Nando dan Laluna dilaksanakan.


Di kursi gereja, di antara tamu lainnya, Viral duduk manis dengan hati teriris.


Nando hanya memasang wajah datar saat Laluna berjalan didampingi sang ayah menuju ke arahnya.


Di antara semua yang berada di gereja ini, hanya Tuhan yang tau betapa retaknya hati Nando karena harus menikahi gadis yang tak dicintainya.


Dalam bayangan Nando, bukan Laluna yang melangkah ke arahnya, melainkan Kauki. Kauki-nya yang tampak cantik dengan gaun pengantin dan senyum manisnya yang penuh cinta.


Nando tersenyum samar, lelaki itu mengulurkan tangan saat Kauki mendekat. Sayangnya ketika Nando hendak meraih tangan gadis itu, wajah Kauki malah berubah menjadi Laluna dan senyum itu luntur dari wajah Nando.


Sementara Laluna, tidak ada yang tau jika selama melangkah ke arah Nando, Laluna sekuat tenaga menahan rasa sakit di tubuhnya. Penyakitnya semakin parah dan Laluna yakin jika ini hari terakhirnya.


Namun ketika dirinya mengulurkan tangan pada Nando, tiba-tiba rasa nyeri menyerang hingga Laluna memekik dan tumbang.


"AKH!"


Viral berteriak, "LALUNA!"


Semua keluarganya panik, terlebih Viral yang langsung bangkit dari kursinya, berlari menghampiri Laluna.


Nando terkesiap ngeliat keberadaan Viral. Tapi Nando tau ini bukan saat yang tepat untuk bertanya. Mereka pun segera membopong Laluna menuju rumah sakit.


Dan dengan begitu, pernikahan pun batal.


----


"Tidak ada cara lain, pasien harus segera mendapatkan donor hati, kalau tidak.." Dokter menggeleng tanda menyerah.


Seluruh keluarga Laluna terisak, terlebih mama Laluna yang merasa terpukul. Tubuhnya lemas seperti kehilangan tulang.


Nando hanya dapat terdiam dengan wajah menyesal. Dia merasa bersalah karena tidak bisa melakukan apapun untuk Laluna.


"Saya bersedia mendonorkan hati saya untuk Laluna." Suara lantang Viral membuat semua mata menatap ke arahnya.


"Viral?"


Viral menghampiri mama Laluna.


"Tante, saya mau menyerahkan hati saya untuk Laluna. Saya cinta sama Laluna. Ijinkan saya melakukan ini untuk Laluna."


Mama Laluna mengusap wajah Viral lalu mengangguk dengan wajah basah. "Iya, tentu kamu boleh melakukannya. Terima kasih sudah mencintai Laluna."


Viral mengangguk dengan nafas sesak. Ini pertama kalinya dia berhadapan dengan mama Laluna, orang yang sudah Viral anggap sebagai ibu mertuanya. Yang sayangnya bukan.


"Mari, sebelum melakukan donor, anda harus melakukan pemeriksaan terlebih dahulu."


Viral kembali mengangguk, dia ikhlas melakukannya yang penting Laluna sembuh.


Namun saat hendak masuk ke ruang pemeriksaan, Nando menahannya.

__ADS_1


"Jangan, Ral."


"Please, cuma ini yang bisa gue lakuin buat Laluna."


"Kamu cinta Laluna? Kamu harus ada di sampingnya."


"Tapi dia mencintai lo, Nan."


"Tapi aku gak mencintai Laluna. Buat apa aku sama Laluna kalau aku gak bisa ngasih dia cinta. Seharusnya kamu yang melakukan itu, Ral."


"Tapi dia mencintai lo." Suara Viral melirih.


Nando menghela nafas, dia pernah berpisah bersama gadis yang dicintainya dan itu rasanya sakit.


Nando gak mau Viral mengalami hal yang sama.


I could lie and say like it like that


Like it like that..


"Biar aku yang mendonorkan hati aku buat Laluna," putusnya.


Viral menatap Nando kaget, lalu menggeleng. "Nggak, Nando, jangan. Biar gue aja."


"Aku lebih baik mati daripada hidup dengan cinta karena terpaksa. Itu lebih menyiksa, Viral."


"Tapi Laluna gak cinta sama gue." Viral kembali menunduk.


"Cinta itu ada karena terbiasa, dan kamu harus terus di sampingnya. Cuma itu. Laluna gadis yang butuh perhatian, maka berikan dia hal itu supaya dia jatuh cinta sama kamu"


Viral memandang Nando ragu, lelaki berkacamata itu mengangguk meyakinkan.


Dengan berat hati Viral mundur dan membiarkan Nando masuk untuk melakukan pemeriksaan.


Sebelumnya, Nando berbalik dan melihat Viral dengan mata berkaca-kaca.


"Ral, seandainya aku gak bisa bertahan, tolong bilangin sama Kauki, bahwa aku mencintainya. Bahkan kalau aku mati, cintaku akan terus hidup buat dia," tuturnya lalu masuk buat diperiksa sebelum melakukan transplantasi hati.


Besoknya, transplantasi hati itu berjalan lancar, hati Nando ternyata cocok dan mampu hidup di tubuh Laluna.


Sayangnya, Nando tidak bisa bertahan. Namun meski begitu, lelaki itu pergi dengan senyum damai.


Air mata Viral jatuh ketika Nando memberinya amanah berupa surat, dan surat itu untuk Alpha.


Hati Viral campur aduk. Viral bersyukur karena Nando memberinya kesempatan untuk bersama Laluna, sekaligus sedih karena Nando harus meninggalkan seluruh dunia.


Laluna menangis histeris saat tau Nando telah tiada, namun Viral terus memeluknya dan menenangkannya.


Awalnya Laluna berontak, namun ternyata Viral mampu membuatnya tenang.


Dua bulan setelahnya Laluna menjadi pendiam. Sembuh, tapi menjadi pendiam.


Tapi kehadiran Viral mampu membuat Laluna bangkit dari kesedihan dan Viral yang penuh perhatian perlahan mampu menggantikan nama Nando di hatinya.


Hening, hanya ada isak tangis Kauki dan Laluna yang saling bersahutan. Isak tangis dari dua gadis yang mencintai Nando.


Alpha mengusap bahu Kauki yang menangis di pelukannya.


Bukan hanya dua gadis itu, Alpha dan Viral pun menangis. Tangis kehilangan.


Tiba-tiba Kauki melepaskan diri dari Alpha, lalu berlari menuju kamarnya.


"Alpha," panggil Viral. "Nando nitipin ini ke gue sebelum dia pergi."


Dengan dahi berkerut, Alpha mengambil surat berwarna putih itu dari Viral.


"Ini apa?"


"Ucapan terakhir Nando buat lo."


Alpha menunduk, Nando membuat surat untuknya? Tapi apa alasannya?


"Gue sama Laluna pergi dulu. Tolong lo jaga Kauki, karena Nando mengandalkan lo."


Viral menepuk pundak Alpha pelan, lalu merangkul Laluna yang masih terisak.


Setelah keduanya pergi, Alpha membuka surat dari Nando.


Hei, Alpha. Kalau surat ini sudah sampai ke tangan kamu, itu artinya aku udah pergi. Pergi jauh.


Aku tau kamu bingung, kenapa aku harus bikin surat untuk kamu? Tenang Alpha, ini bukan surat cinta kok haha..


Ada hal pengen aku omongin ke kamu. Seharusnya aku bilang ini secara langsung, tapi aku gak bisa.


Kenapa? Karena yang mau aku sampaikan ke kamu ini adalah hal yang menyakitkan buatku.


Aku, menyerahkan Kauki ke kamu. Ya, menyerahkan gadis yang kucintai untuk lelaki lain adalah hal yang menyakitkan.


Tapi aku rela, karena kamu sahabatku sekarang.


Aku mau kamu jagain Kauki. Tolong gantikan aku di hatinya.


Aku sempat ragu karena Kauki bilang, kamu itu gak bisa diandelin. Apalagi kamu sempat nyakitin dia.


Tapi akhir-akhir ini aku menyadari sesuatu, Alpha. Bahwa kamu mencintai Kauki.


Jadi karena itulah aku yakin kamu akan menjaga Kauki.


Tolong, jangan sakiti dia. Untuk alasan apapun, jangan sakiti Kauki.


Anggap aja ini permintaan terakhirku sebagai sahabat kamu, Alpha. Maaf kalau selama ini aku punya salah sama kamu. Dan maaf kalau permintaanku ini membebani kamu.


Sayangi Kauki seperti sesuatu yang berharga. Dan cintailah Kauki seolah kamu mencintai dirimu sendiri.


Sayangi dan cintai Kauki seolah besok kamu akan mati.


- Nando.


Alpha meneteskan air matanya tepat setelah dirinya selesai membaca surat Nando.


Tanpa Nando suruh pun Alpha akan dengan sepenuh hati menyayangi Kauki.


Dan tanpa dititah Nando pun Alpha akan menjaga Kauki seperti nyawanya sendiri.


Karena sekarang Kauki bukan hanya sahabat kecilnya, tetapi juga orang yang Alpha cintai.


šŸšŸšŸ


Maura dan Tristan baru pulang dari tempat mereka memesan kue pernikahan.


Saat melihat pintu terbuka, Tristan panik, Tristan pikir ada maling. Tapi kepanikannya lenyap kala mendapati Alpha di ruang tamu.


"Alpha, kamu udah balik? Kauki mana?"


Sebelum menjawab, Alpha menghapus wajah basahnya. Seketika Tristan dan Maura sadar kalau Alpha menangis.


"Alpha, kamu nangis?"


Alpha diam, lalu mengangguk menjawab pertanyaan Maura.


Tristan terkekeh. "Cowok kok nangis," ledeknya mendapat sikutan dari Maura.


Maura bertanya. "Kamu kenapa nangis, Alpha?"


Alpha membuang nafas berat. "Kalian kenal kan sama pacarnya Kauki yang namanya Nando?"


Tristan dan Maura mengangguk.


"Yang nembak Kauki di panti asuhan itu, kan?" tebak Maura.


"Ya."


"Kenapa emangnya?" Tristan bertanya bingung.


"Nando... meninggal," ungkap Alpha yang membuat kedua sejoli itu melebarkan mata mereka.


"Jadi, pacar Kauki meninggal?" tanya Maura tercekat. Wanita itu menutup mulutnya syok.


"Yang bener kamu, Alpha." Tristan mencoba memastikan berita yang didengarnya.


Alpha cuma mengangguk lemas.


"Kasian Kauki. Terus sekarang Kaukinya di mana?"


"Di kamar," sahut Alpha lemah.


Tanpa babibu Maura langsung berlari menuju kamar Kauki. Karena Maura yakin Kauki tengah bersedih di sana.


Sementara Tristan terdiam. Mengingat pertemuannya dengan Nando.


Tristan emang gak terlalu mengenal Nando, tapi melihat sikap sopan Nando, dan tatapan tulus lelaki itu pada adiknya, membuat Tristan yakin bahwa Nando adalah lelaki yang tepat untuk sang adik.


Jangan lupa pada keberanian Nando meminta Kauki langsung di depan Tristan. Itu menambah keyakinan Tristan pada pemuda berkacamata itu.


Itulah alasan Tristan memberi izin sepenuhnya pada Nando untuk menjaga adiknya. Yang naasnya, lelaki itu malah pergi secepat ini.


šŸšŸšŸ


Maura memeluk Kauki yang sesenggukan. Wajah gadis itu basah sepenuhnya karena air mata. Hidungnya memerah, isakan terus keluar dari mulut gadis itu.


"Yang sabar ya, Kauki."


"Aku salah apa sama Tuhan, Kak? Kenapa Tuhan selalu ngambil orang-orang yang aku sayang?" Kauki terisak. "Pertama orangtua aku, terus Nando. Apa mungkin Tuhan benci sama aku? Makanya dia ngambil satu persatu orang-orang yang aku sayang."


"Sst.. Kauki, kita gak boleh berprasangka buruk apalagi sama Tuhan. Tuhan melakukan semua ini karena dia mau kamu jadi gadis yang lebih kuat. Tuhan sayang sama kamu, kalau Tuhan benci kamu, ngapain Tuhan repot-repot nyiptain kamu ke dunia?" tutur Maura dengan nada lembutnya. Sesekali menyeka air mata yang mengalir dari mata Kauki.


"Kalo Tuhan sayang sama aku, kenapa dia selalu mempermainkan perasaan aku? Sebentar-sebentar dia ngasih aku kebahagiaan, tapi gak lama kemudian dia ambil kebahagiaan itu. Apa sih maunya Tuhan itu!"


"Ya, Tuhan memang suka mempermainkan perasaan kita. Memberi luka, tapi dia juga yang menyembuhkan luka. Setiap permainan ada untuk menemukan pemenang, begitupun Tuhan. Mempermainkan hambanya, agar mereka bisa menjadi pemenang.


Kauki, kamu boleh kecewa pada Tuhan, tapi jangan membenci-Nya. Tuhan itu baik, kamu harus percaya, Tuhan pasti sudah menempatkan Nando di tempat yang seharusnya. Jadi ikhlaskan dia ya."


Kauki tak menjawab, gadis itu membenarkan ucapan Maura. Tapi Kauki masih belum menerima kalau Nando sudah meninggalkannya, gadis itu kembali dengan tangis pilunya. Lagi, dia harus kehilangan orang terkasihnya.

__ADS_1


Dari ambang pintu, Tristan dan Alpha menyaksikan itu dengan hati pilu.


"Kak," panggil Alpha. "Aku mau minta ijin buat bawa Kauki ke Singapura besok."


"Ngapain?"


"Aku sama Kauki mau mengunjungi Nando di tempat peristirahatan terakhirnya."


Tristan mengangguk. "Kakak ikut. Untuk mengucapkan salam perpisahan."


Bagaimana pun Nando sudah Tristan anggap adik. Siapapun yang menyayangi Kauki akan Tristan anggap saudara.


šŸšŸšŸ


Dan besoknya mereka berempat berangkat ke Singapura. Bersama Cia dan juga Thoriq yang ingin ikut.


Cia ikut menangis karena semasa hidup Nando selalu baik kepadanya, kepada semua orang.


Don't you know i'm not good for you?


I've learn to lose you can't afford to..


Kauki menatap tumpukan tanah dengan papan salib bertuliskan nama Nando di depannya dengan kosong. Sekosong hatinya sekarang.


Hati Kauki kosong, karena pemiliknya telah pergi. Meninggalkan hampa yang menyesakkan dada.


Tanpa bisa dicegah air mata itu kembali meluncur bebas dari mata indahnya, tepat mengenai kuburan Nando.


"Nando.." Kauki menyebut nama lelaki itu dengan penuh kerinduan. "Aku pernah ngerelain kamu pergi. Tapi bukan begini 'pergi' yang aku maksud. Bukan, Nando."


Kauki menarik nafas dalam-dalam, mencoba meredakan tangisnya.


"Kamu pernah bilang, kamu ingin jadi penyempurna hidup aku. Pengen jadi alasanku tersenyum, tertawa, alasan aku bahagia. Tapi kamu malah pergi. Sekarang aku udah gak punya alasan untuk itu semua, Nan.


Kamu bilang, kamu mau melangkah bersama aku di atas altar nanti, menjadi pendamping aku. Tapi mana? Kamu gak menepatinya, Nan, kamu ingkar dari itu semua."


Kauki menutup wajahnya, menangis di sana. Dirinya sulit bernafas, dadanya terlalu sesak.


"Sekarang aku harus gimana, Nan? Harus gimana aku tanpa kamu?" Suara Kauki tertelan tangisan.


Usapan di rambutnya membuat Kauki mendongak, dilihatnya Alpha di sampingnya, tersenyum tipis.


"Hai, Nando. Akhirnya kita ketemu lagi, gue seneng bisa ketemu lo," ucap Alpha, lalu wajahnya berubah sendu. "Tapi gue gak senang dengan keadaan lo sekarang. Harusnya lo berdiri di depan gue, meluk gue seperti saudara."


Alpha melirik Kauki yang menangis dalam diam.


"Lo tau, Nando? Cewek lo, si Kauki ini nangis terus tanpa henti. Bahkan dari enam bulan yang lalu. Gue gak tau gimana caranya buat bikin dia senyum, Nan, bisa lo kasih saran ke gue biar si jelek ini senyum lagi? Karena elo satu-satunya orang yang bisa bikin dia senyum."


Ucapan Alpha membuat Kauki tertegun, gadis itu menoleh menatap lelaki itu dengan mata berkabut.


Sadar kalau selama ini ada Alpha yang selalu berusaha membuatnya ceria.


Yang peduli padanya.


Yang selalu siap bahu ketika dia butuh.


Alpha. Sahabat kecilnya.


Kauki mendadak merasa bersalah. Sejak jadian dengan Nando, Kauki memang selalu mengabaikan Alpha.


"Kauki, Alpha." Kedua anak manusia itu menoleh bersamaan.


Dilihatnya Laluna dan Viral.


"Mamanya Nando mau ketemu sama lo, Ki."


šŸšŸšŸ


Laluna menuntun Kauki saat memasuki rumah Nando.


"Tante Anna," ujar Laluna saat melihat wanita paruh baya berdiri di depan foto Nando yang dicetak besar.


Wanita itu menoleh dan tersenyum mendapati dua gadis cantik di depannya. Senyumnya melebar saat menatap Kauki.


"Kauki," sapanya lalu membawa gadis itu ke dekapannya. "Apa kabar, Sayang?"


Kauki tersenyum kaku. "Baik, Tante."


"Kamu makin cantik."


"Iya ya, Tante. Kauki cantik banget sampe-sampe Nando rela mati ketimbang nikah sama aku," canda Laluna terkekeh getir.


"Laluna.." tegur Anna lembut.


"Kauki, sebelum pergi, Nando punya sesuatu buat kamu."


"Apa?"


"Sebentar ya, Tante ambil dulu."


Mama Nando berlalu meninggalkan dua gadis yang pernah mengisi hati putranya.


Sejenak keduanya dikuasai rasa canggung.


Laluna melirik Kauki lalu membuang nafas. Dan rupanya itu menarik perhatian Kauki.


"Lo kenapa?"


"Tiba-tiba gue sesek nafas."


Kauki mengerutkan keningnya gak ngerti.


"Lo tau, semenjak kenal lo, gue jadi susah bernafas. Gue pikir itu karena rasa benci, tapi ternyata, karena rasa bersalah."


Kauki diam, bingung mau jawab apa.


"Maafin gue ya, Kauki, gara-gara gue lo harus kehilangan Nando. Seandainya gue nggak egois, mungkin kalian (lo dan Nando) masih sama-sama. Seharusnya gue gak hadir di antara kalian. Gue memang perusak, gue orang jahat," ucap Laluna dengan senyum getir.


Kauki terdiam, kesan pertama mereka saat bertemu memang tidak baik. Tapi Kauki tau Laluna adalah gadis yang baik. Kalo nggak, gak mungkin Nando pernah menaruh hati pada gadis berambut hitam panjang di depannya ini.


Mengusap bahu Laluna, Kauki berkata, "Gak ada yang perlu disalahin di sini. Semua udah jadi rencana Tuhan. Gue juga pernah egois, dan saat jadi egois gue nggak bisa menjadi baik. Kita jahat ketika egois, Lun. Semua udah terjadi, gue bersyukur ketemu lo. Karena lo gue bisa belajar untuk merelakan."


Laluna tercenung, pantesan Nando mati-matian mempertahankan Kauki, karena gadis ini sama baiknya sama Nando. Gadis berhati besar, Nando benar, Kauki malaikat berwujud manusia.


"Thanks, Kauki," ujar Laluna memeluk Kauki yang dibalas gadis itu.


Sekarang hatinya plong, tidak ada lagi persaingan, tidak ada perselisihan, sekarang Kauki dan Laluna adalah teman.


"Gue keluar dulu ya, nemenin sahabat-sahabat lo," pamit Laluna yang diangguki Kauki.


Pada saat itu mama Nando muncul dengan sebuah kotak di tangan dan seekor kucing oren yang mengikutinya.


Kucing oren yang memang mengenali Kauki pun langsung menghampiri dan mengusap-usapkan kepalanya di kaki gadis itu.


"Eh? Udah akrab rupanya," kata mama Nando kaget ngeliat kemanjaan Peach pada Kauki.


Kauki tersenyum tipis. "Kebetulan Nando sering bawa Peach kalo kita lagi jalan bareng."


"Pantesan." Mama Nando tersenyum paham. "Oh iya, Nak. Ini, Nando nitipin ini sebelum dia pergi."


Kauki menatap mama Nando bingung kemudian menerima kotak berukuran sedang itu.


"Bukalah, Nak."


Awalnya ragu, tapi Kauki menurut. Dibukanya kotak itu, dan sepucuk surat langsung menyapanya.


"Itu surat yang ditulis Nando setelah dia selesai melakukan donor hati." Ada kesedihan saat mama Nando mengucapkannya.


Menatap mama Nando sebentar, Kauki lalu membaca isi surat itu.


Teruntuk kamu pemilik hatiku.


Maafkan aku yang tak bisa menepati janjiku.


Maaf tidak bisa mendampingimu lagi


Maaf karena harus meninggalkanmu secepat ini.


Seharusnya, sekarang aku resmi menjadi suami orang. Tapi aku bersyukur itu tidak terjadi.


Karena Kauki, kalau aku tidak bisa menikah denganmu, maka aku tidak mau menikah dengan siapapun.


Kalau aku tidak bisa hidup bersama kamu, maka aku lebih memilih mati.


Kauki, harus kamu tau. Meskipun aku mati, cintaku selalu hidup untukmu.


Gadisku, jangan lagi teteskan air matamu untukku, untuk alasan apapun.


Sudah cukup, terlalu banyak air yang mengalir dari mata indahmu. Jadi tolong, jangan menangis lagi.


Berjanjilah setelah ini kamu hanya akan tersenyum, tidak ada lagi tangis, tidak ada lagi luka.


Karena kamu hidup, untuk bahagia.


Salam penuh cinta, dari aku yang selalu mencintaimu.


- Nando.


Tangis Kauki kembali pecah, gadis itu menutup mulutnya menahan isakan. Dipeluknya Peach, dan mahluk berbulu oranye itu membalas dengan mengusap-usap kepalanya di pipi Kauki.


Mama Nando tak sanggup menahan tangisnya, wanita itu memeluk Kauki. Ikut merasakan kehilangan yang sama.


"Nak, Nando mungkin sudah tiada, tapi cintanya abadi untuk kamu."


Kauki mengangguk-angguk di sela tangisnya.


"Aku tau, Tante, aku tau."


Kauki menatap foto besar yang terpajang apik di dinding, di sana Nando tersenyum manis.


"Aku janji, Nando, aku gak akan nangis lagi. Kamu benar, aku hidup, untuk bahagia."


I could lie and say like it like that

__ADS_1


Like it like.. That..


šŸšŸšŸ


__ADS_2