Back To Ya

Back To Ya
Bab 2


__ADS_3

🍁🍁🍁


   Tristan meregangkan otot-ototnya setelah selesai berkutat dengan file-file dan laptop di hadapannya.


  Tristan melirik jam tangan. "Udah jam istirahat."


   Tok tok


   "Masuk!" ujar Tristan saat seseorang ngetuk pintu.


   Gea muncul dari balik pintu. "Permisi, Pak. Sudah jam istirahat. Bapak mau saya belikan sesuatu untuk makan siang?"


   "Nggak, makasih. Saya pesan sendiri saja," jawabnya.


   "Oh, kalo begitu, permisi, Pak," kata Gea dan kembali menutup pintu.


   Tristan mengambil ponsel, mengetik pesan dan mengirimkannya pada Kauki.


   Setelah itu Tristan beranjak dari kursi, dia pun memutuskan keluar menuju kantin.


   Sesampainya di kantin, Tristan tertegun. Ternyata Maura juga lagi duduk makan siang sama temen-temennya.


   Maura yang ngeliat Tristan, batal menyuapkan makanannya, gadis itu menunduk saat matanya beradu dengan mata dingin Tristan.


   Lelaki tampan itu mendengus jengah dan kembali menuju ruangannya. Dia malas makan di kantin kalau ada Maura.


   "Maura, kamu kenapa?" tanya temannya membuat Maura tersentak.


   "Eng-nggak apa-apa kok, gak apa-apa," ujarnya dan tersenyum tipis.


   "Kenapa kamu jadi dingin sama aku, Tristan? Apa kamu masih menyimpan benci sama aku?" batin Maura. Mendadak nafsu makannya berkurang terganti dengan perasaan bersalah.


   Tristan mengumpat di tiap langkahnya menuju ruangannya. Dia terus mengutuk Maura.


   Gadis yang dulu pernah menyakiti hatinya, yang menyia-nyiakan kesetiaan Tristan. Sebenarnya Tristan bisa menolak gadis itu bekerja di kantornya, tapi dia nggak tega.


   "Benci boleh, tapi jangan jadi jahat." Nasehat Kauki yang selalu mengingatkan Tristan agar tidak menjadi orang yang kejam sekalipun pada orang yang udah menyakitinya.


   Tristan membuang napas dan memutuskan untuk memesan makanan lewat aplikasi online saja.


🍁🍁🍁


   'Dek, jangan lupa makan siang.'


   Kauki membaca pesan Tristan kemudian tersenyum lebar, senang karena Tristan selalu ngasih dia perhatian walaupun tengah sibuk.


   "Woy, kamoh kenapa senyum-senyum? Dapet chat dari siapa, sih? Dari pacar, ya?" tanya Cia beruntun.


  Menatap Cia jengah, Kauki pun menjawab, "Kakak gue ngingetin makan."


   Mulut Cia membentuk huruf 'O' mendengar jawaban Kauki. Cewek itu pun ngelirik Viral yang lagi rempong motong basonya.


   "Langsung makan aja napa sih, Ral! Orang basonya juga kecil-kecil, kok!"


   "Sus suka-suka g-gue lah!" sahut Viral judes. Cowok ganteng yang punya penyakit gagap itu pun kembali memotong basonya yang segede menel menjadi lebih kecil.


   Cia cuma mendengus dan ngelanjutin acara makannya.


   "Pulang sekolah kita ke mall yuk," ajak Alpha tiba-tiba.


   "Yu-yuk! Yuk!" Viral semangat. Semangat karena mall tempat ciwi-ciwi cantik bergentayangan.


   "Ayo aja. Akoh juga sekalian mau ngevlog," timpal Cia.


   "Nah, bagus tuh, Ci. Gue juga mau ngajak Thoriq, nah nanti kalian ngevlognya barengan."


   Muka Cia mendadak asem denger nama Thoriq. "Dih. Ngapain sih ngajakin Thoriq? Nggak usahlah!"


   "Ya Thoriq kan sahabat gue."


   "Kalo gitu akoh nggak ikut!"


   "Ah, elo mah nggak asik."


   Selama temen-temennya ngomongin rencana pulang sekolah nanti, fokus Kauki cuma terarah ke seorang cowok yang duduk di pojok kantin.


   Kauki jadi penasaran sama Nando. Anak baru itu kayaknya tipe cowok yang tertutup. Buktinya dia lebih suka makan sendiri ketimbang gabung sama banyak orang.


  


   "U-udah ng-nggak usah ng-ngajak cewek ce-cewek, Al. En-ntar ki kita malah di su-suruh ngangkat be-belanjaan mereka," dengus Viral. Karena tiap mereka ngemall, pasti dia, Thoriq dan Alpha selalu jadi babunya Kauki sama Cia.


   "Kalo lo, Ki? Lo mau ikut?" Alpha menoleh ke arah sohib kentalnya yang lagi bengong.


   "Ki, woy, Kauki!" Alpha merangkul bahu Kauki, bikin cewek berambut panjang itu tersentak.


   "Eh, iya. Kenapa, kenapa?"


   "Yee.. Elo ngelamun, ya? Daritadi kita ngomongin mall elonya diem aja," ujar Alpha.


   "Eng-gak.." Kauki ngaduk-ngaduk es teh manisnya sesekali ngelirik ke tempat Nando.


   "Jadi gimana? Elo mau ikut?"


   "Ikut? Ke mana?"


   Ketiga temennya berdecak seraya menghela napas. "Be-bengong mu-mulu, sih," kata Viral.


   "Ngemall, Ki. Elo mau ikut nggak?"


   "Males ah, Al. Gue mau di rumah aja."


   "Tuh, karena Kaukinya nggak ikut, akoh juga nggak mau ikut!" tegas Cia.


   "Yaaah, Kauki. Nanti di mall gue ngegandeng siapa dong?"


   Kauki natap Alpha aneh. "Gandeng aja mbak-mbak mall!"


   "Gue maunya ngegandeng elo." Alpha manyun seraya nyederin kepalanya di bahu sang sohib.


   Kauki berdecak dan mendorong pelan kepala Alpha. Cia sama Viral cuma geleng kepala, mereka udah biasa ngeliat Alpha yang tanpa malu manja-manja gitu ke Kauki.


   Mereka kembali ngomongin rencana pulang sekolah. Tapi cuma Alpha, Cia sama Viral yang ngobrol. Kauki cuma fokus sama satu hal, Nando.


   Nando mendongak dan melihat Kauki yang tengah memperhatikan. Dirinya kembali melempar senyuman manis ke arah Kauki.


   Deg!


   Damn! Kauki mengumpat saat lagi-lagi ketauan merhatiin Nando. Cewek itu menundukkan kepala, mukanya menampilkan rona merah alami. Gadis itu mengusap tengkuknya dan memakan baksonya dengan buru-buru, dia salting.


   "Kauki, ih, pelan-pelan makannya nanti kamoh keselek," tegur Cia ngingetin temannya.


   Kauki enggak nyaut, dia mengunyah makanannya dan kembali menatap Nando dari jauh. Sementara cowok berkacamata itu tengah asik menyantap makanannya.


   Cia curiga ngeliat gelagat Kauki. Gadis berhijab yang punya sifat kepo akut itu pun mengikuti arah pandang Kauki.


   Nando? Batin Cia.


   "Kauki, kamoh ngapain merhatiin anak baru itu?" tepuk Cia pada Kauki.


   "Hah? Si-siapa? Eng-enggak!" Kauki gelagapan, mendadak penyakit gagap Viral nular ke dirinya.


   "Halah.. ngaku deh. Jangan-jangan kamoh naksir ya sama anak baru itu? Hayoo.." goda Cia sembari nunjuk-nunjuk muka Kauki yang kini memerah karena kepergok merhatiin Nando.


   "Apaan sih, Cia! Kenal aja nggak, udah naksir!"


   "Ya kan siapa tau aja. Nando kan ganteng walaupun keliatannya cupu."


   "Nggak, kok." Kauki berkilah, tapi Cia terus menggodanya dengan tatapan jail.


   "Ciee.. Kauki curi-curi pandang sama anak baru, ciee.."


   Viral ikut-ikutan menggoda Kauki dengan menoel-noel pipi Kauki. "Ci-ci ciee.."


   "Apaan sih lu gagaap.." dengus Kauki menepis telunjuk Viral yang ada di pipinya, dia jengah digodain para sahabatnya.


   "Terus kenapa lo merhatiin anak baru itu?" Kali ini Alpha yang kepo.


   "Ya gue penasaran aja, tuh cowok kayaknya misterius banget. Kalo gue ajak temenan mau nggak, ya?" Seulas senyum merekah di bibir Kauki.


   "Dih, ngapain sih Kauki. Nanti dia nganggep lo sok kenal. Lagian gak penting banget kenalan sama orang cupu."


   "Tapi gue kasian ngeliat dia sendiri mulu, Al. Bodo amat mau dia cupu sekalipun, gue tetep mau kenalan pokoknya!" Kauki beranjak dan ngeloyor gitu aja tanpa peduli para sohibnya memanggil.


   "Kauki terlalu ramah menurut gue," komentar Alpha merhatiin Kauki yang udah duduk di samping Nando dengan tatapan gak suka.


   "Ba-bagus dong. Da-dari pada terlalu ju-judes kayak Ci-Cia, en-entar gak punya te-temen," celetuk Viral yang baru selesai ngabisin kuah baksonya.


   "Yee.. Kamoh juga judes kali, Ral."


   Nando menoleh ketika ngerasa ada seseorang yang duduk di sebelahnya. Dilihatnya Kauki yang tersenyum manis ke arahnya.


   "Hai. Nando, ya?" Nando ngangguk. "Kita sekelas," ujar Kauki.


   Nando tersenyum. "Aku tau, kok."


   Kauki ngulurin tangannya. "Gue Kauki."


   Sembari membalas jabatan tangan Kauki, Nando kembali tersenyum.


  "Aku juga tau."


  Alis Kauki bertaut. "Tau dari mana? Kamu kan anak baru."


  "Dari omongan murid-murid di sini?"


   "Hah? Mereka ngomongin gue? Dih, dasar ya masih jadi pelajar udah jadi tukang gosip."


   "Kamu kan siswi populer di sini. Mereka ngomongin kamunya tentang hal positif, kok," kekeh Nando ngeliat raut kesal Kauki.


   "Oh, kalo ngomonginnya yang bagus-bagus sih gak apa-apa." Kauki nyengir. "Kok lo sendiri, sih? Gak mau gabung sama yang lain?"


   Nando menggeleng. "Aku lebih suka sendiri."


   "Berarti gue ngeganggu lo, dong?"


   "Nggak, kok. Aku malah seneng kalo kamu mau kenalan sama aku."


   Kauki menatap Nando kagum. Cowok di depannya ini sangat murah senyum ternyata, dikit-dikit senyum, apalagi kalo ngomong nadanya lembut gitu, bikin Kauki nyaman ada di samping Nando.


   "Aku udah selesai makannya. Eh, kamu mau ikut? Aku mau ke perpus." Nando berdiri dari kursi kantin.


   "Perpus?"


   Kauki masih pengen ngobrol sama Nando sebenernya, tapi kalo dia ikut ke perpus, pasti nanti mereka diem-dieman. Di perpus kan gak boleh berisik, lagian Kauki juga lagi males baca.

__ADS_1


   "Em.. Lain kali deh, Nan," jawab Kauki nyengir.


   "Kalo gitu aku duluan, ya."


   "Bye, Nando." Kauki ngasih senyum yang dibalas Nando. Cowok itu pun beranjak meninggalkan kantin dengan tatapan kagum Kauki yang terus mengiringi.


   "Udah ganteng, ramah, rajin pula. Duh.. Jadi pengen macarin," puji Kauki bertopang dagu.


  


   🍁🍁🍁


   Sepulang sekolah, Alpha, Viral, Cia sama Kauki akhirnya jadi ke mall. Awalnya Kauki nolak, Cia juga sempet nolak karena lagi males sebenernya. Tapi karena Alpha ngerengek terus sama Kauki, mau nggak mau cewek blasteran Jepang Spanyol itu pun nurutin kemauan sobat manjanya.


   Dari awal pergi sampe ke mall Cia ngomel mulu, karena ternyata Viral dengan seenak jidat ngajakin Thoriq buat ikut.


   "Ciaa.. manyun mulu, nih. Minta Bang Thor cium, ya?" Thoriq mepetin Cia mulu selama mereka masuk mall.


   Cia menatap Thoriq jutek. "Iih.. Jauh-jauh sana! Heran deh ya, ini bukan malam jumat, tapi akoh ketempelan lo mulu!"


   "Ahaha.. ketempelan? Berarti gue setan, dong?" Bukannya tersinggung, Thoriq malah ketawa.


   Kauki terkekeh pelan ngeliat Cia yang selalu ngejudesin Thoriq tapi cowok berkulit sawo matang itu gak nyerah berusaha. Sekarang mereka ada di toko yang ngejual baju-baju anak muda. Alpha sama Viral sibuk milih-milih baju buat mereka.


   "Ki, ini bagus gak?" Alpha menghampiri Kauki sambil nunjukin beberapa baju.


   "Em.. bagus. Tapi ini kayaknya kekecilan deh, Al, di badan lo. Lo tanyain ke mbaknya dulu sana yang buat ukuran lo."


   "Iya, deh."


   "Ka-Kauki, i-ini cocok, gak?" giliran Viral yang minta pendapat Kauki.


   "Cocok kok, Ral."


   "I-ini?" Viral nunjukin tiga t-shirt berbeda warna ke Kauki.


   "Cocok."


   "Jadi co-cokan yang ma-mana?"


   "Em.. Yang biru bagus. Yang kuning juga bagus, cerah gitu keliatannya kalo lo pake."


   Viral ngeliat baju biru dan kuning di tangannya. Kemudian ngeliat baju putih di tangan yang satunya.


   "Em.. ya-yang pu-putih aja, deh," putusnya bikin Kauki mendengus.


   "Yee.. tau gitu ngapain nanya pendapat gue coba!"


   Viral nyengir lantas pergi ke ruang ganti.


    "Nih, bawain baju-baju akoh," judes Cia nyerahin baju-baju yang udah dipilihnya ke tangan Thoriq.


   Thoriq menerima dengan senang hati. "Baik, ratuku," ucapnya bak asisten ratu.


   "Sekarang, bawa baju-baju akoh ke ruang ganti. Akoh mau nyobain bajunya," perintah Cia bak seorang ratu dan mendahului Thoriq ke ruang ganti.


   "Ashiaap, ratuku!" seru Thoriq mengekori Cia.


   Cia udah ada di ruang ganti, dia langsung melempar tatapan tajamnya saat Thoriq ikut masuk.


   "Elo! Ngapain ikut masuk?"


   "Lah, kan katanya disuruh ikut."


   "Iih.. Maksud akoh tuh ikut sampe depan aja, jangan ikut masuk."


   "Tapi kalo lu butuh gue gimana?"


   "Enggak. Udah sini bajunya!" Cia ngerampas baju-baju di tangan Thoriq. "Sekarang lo balik badan," perintahnya.


   Thoriq nurut, dia muterin badan. Tapi dia muter sampe balik lagi ke arah Cia. Cia menatapnya jengah.


   "Apa?" tanya Thoriq polos.


   "Akoh kan udah bilang, balik badan!"


   "Ini udah."


   "Huh! Tutup mata!"


   Thoriq kembali manut, dia nutup mukanya, tapi jari-jarinya dibiarkan terbuka. Cia mendengus males.


   "Apa?"


   Cia melengos dan menyipitkan matanya ke arah Thoriq. Thoriq pun ngikutin nyipitin matanya. Cia makin menyipitkan mata, begitu pun Thoriq, terus aja gitu sampe Cia dan Thoriq sama-sama merem.


   Cia mendengus sebal. "Bisa gak sih lo keluar dan ngelakuin hal lainnya?"


   "Yang pengen gue lakuin sekarang cuma deket-deket sama lo."


   "Balik badan!"


   "Tapi-"


   "Akoh bilang balik badan!" bentak Cia.


   "Oke, oke!!" Thoriq ngangkat kedua tangan tanda nyerah lalu balik badan. Cia langsung menendang bokong cowok itu hingga terpental keluar.


   "Buset, ratuku gak bisa selow dikit apa sama raja?"


  


   Alpha lagi milih-milih baju, matanya gak sengaja nangkap sosok Maura ngelewatin toko yang mereka kunjungi.


   Dihampirinya Kauki dengan tergesa. "Kauki! Kaukiii!" serunya.


   "Apaan sih, Alpha? Berisik!"


   "Maura, Ki. Ada Maura di sini!"


   "Mana?"


   "Tadi, tadi dia lewat. Ayo kejar, yuk!"


   "Emang yang lo liat beneran Maura? Salah liat kali lu."


   "Nggak. Gue yakin banget itu Maura. Udah yuk kejar, keburu ilang nanti."


   "Ya udah, yuk."


   Mereka pun keluar dari toko baju dan ngejar Maura. Keduanya celingak-celinguk nyari keberadaan Maura.


   "Itu!" seru Kauki nunjuk Maura yang memasuki sebuah tempat makan. "Dia mau makan kayaknya, Al."


   "Ya udah ayo kita ikut masuk," kata Alpha dan mereka pun ikut masuk ke tempat makan itu.


   Mereka ngeliat Maura lagi duduk sendiri sambil mainin hp. Alpha menatap kagum sosok yang disukainya itu dari jauh.


   "Gilaaa, calon pacar gue kok makin bening aja sih, Ki," gumamnya.


   Kauki yang denger itu cuma senyum, Alpha emang naksir berat sama Maura. Dan cowok itu juga minta Kauki buat bantuin PDKT sama Maura.


   "Samperin gih kalo suka mah," ucap Kauki ngedorong pelan Alpha biar mau ke tempat Maura.


   "Ha? Gak mau, gue grogi."


   "Ya elah, Alpha." Kauki mendengus dan membuka tas, dia ngambil handsfree bluetooth yang selalu dia bawa.


   "Nih, lo pake ini, nanti pura-puranya gue ke toilet, terus ngasih aba-aba ke lo dari jauh."


   "Cerdas banget lo, Ki," puji Alpha sembari memakai handsfree-nya Kauki.


   "Ya iyalah, gue kan keturunan CEO. Udah ayo ikut gue." Kauki narik tangan Alpha untuk menghampiri meja Maura.


   "Hai, Kak Maura," sapa Kauki bikin Maura mendongak.


   "Kauki," Maura senyum ramah ngeliat adik dari mantannya, kemudian bangkit untuk memeluk gadis itu erat, "Em.. Kangen banget. Kamu apa kabar?"


   "Baik, Kak. Kak Maura ke sini sama siapa?"


   "Sendirian aja kok, Ki. Kebetulan temen-temen Kakak lagi pada lembur," jelas Maura dengan senyum manisnya.


   Maura sama Kauki ini emang udah akrab sejak Tristan dan Maura masih jadian. Karena Tristan selalu ngajak Maura main ke rumah buat nemenin Kauki. Tapi setelah putus dari kakaknya, Maura dan Kauki jarang ketemu. Meskipun begitu dua gadis cantik itu udah janji bakal terus jadi sahabat.


   "Yaah, sayang banget orang cantik sendiri" canda Kauki ditanggapi kekehan Maura. "Eh iya, kenalin ini temen aku, namanya Alpha. Dia mau kenalan sama Kak Maura katanya," ucapnya menarik Alpha yang berdiri kaku kayak pantung pancoran.


   "Oh, hai.. Aku Maura," ucap Maura mengulurkan tangannya.


   Alpha diam mematung, terpaku ngeliat senyum manis Maura. Kauki mendengus dan menyenggol Alpha.


   "Elo jangan norak, kayak baru kali ini aja ngeliat cewek cantik!" bisik Kauki.


   "Eh, oh, emm.. Gu-gue Alpha," kata Alpha membalas jabatan tangan Maura dengan gemetar.


   Muka Maura mendadak kisut saat ngerasain tangan Alpha yang dingin.


   "Tangan kamu dingin. Kamu sakit?"


   Alpha menggeleng cepat dan menarik tangannya. Gak kuat salaman lama-lama sama gebetan.


   Kauki nahan tawa ngeliat muka gugup Alpha yang kayak nahan boker.


   "Eh, gue ke toilet dulu, ya. Kalian ngobrol aja dulu." Kauki langsung ngacir ninggalin Alpha dan Maura berdua.


   Kauki sebenernya cuma berdiri di depan toilet, merhatiin dari jauh.


   Alpha ngelirik Maura, sementara Maura ngeliat cowok itu dengan canggung.


   "Ya udah, duduk," kata Maura sembari duduk di kursi.


   Alpha mengikuti Maura dan duduk dengan gelisah nunggu arahan Kauki. Akhirnya selama beberapa menit, Alpha sama Maura cuma diem-dieman.


   'Halo, Alpha! Alpha lo denger gue?'


   Ah, akhirnyaa.. desah Alpha dalam hati saat suara Kauki terdengar.


   Alpha menunduk nutupin mulutnya dan ngomong sama Kauki melalui microphone handsfree. "Iya, gue denger. Gue harus gimana?"


   "Lo ajak ngobrol lah."


   "Ngobrolnya gimana?"


   Kauki berdecak. "Lo tanyain ke dia, 'lagi sibuk apa?'. Jangan lupa, usahain lo tatap mata Maura tiap kali kalian ngobrol."


   "Oh, oke." Alpha menatap Maura. "Em.. lagi sibuk apa, Kak?"

__ADS_1


   Maura yang tadinya fokus ke hp gak terlalu mendengar pertanyaan Alpha.


   "Apa?" tanya Maura.


   "Itu, anu, Kak Maura lagi sibuk apa sekarang?"


   "Oh.. aku lagi sibuk kerja aja sekarang. Kemaren itu aku baru aja diterima kerja di perusahaannya Tristan," jelas Maura.


   "Oh.." Alpha manggut-manggut doang.


   Kauki menepuk jidat. "Singkat bet jawaban lu, Alpha! Bikin nyesek aja."


   "Ya gue harus gimana lagi, Ki? Gue bingung harus ngomong apa."


   Maura ngeliat tingkah Alpha yang menurutnya aneh bisik-bisik sambil nutupin mulut. "Kamu ngomong sama siapa?" tanyanya bikin Alpha gelagapan.


   "Hah? Eh, i-ini. Ada semut ngegigit kaki gue. Gila! Sakit banget.."


   "Oh, kirain kenapa."


   Alpha cuma nyengir, dan kembali ngomong sama Kauki. "Kauki, gue harus apa lagi?"


   "Lo puji dia."


   "Gimana?"


   "Em... Ah, 'mata lo indah'."


   Alpha tersenyum malu. "Ya ampun, Kauki, makasih. Lo baik banget, sih.."


   "BUKAN GITU! MAKSUD GUE, ELO YANG NGOMONG GITU KE MAURA!" ralat Kauki agak ngebentak, bikin Alpha terlonjak.


  "Ya maap."


   Maura ngeliat Alpha lagi. "Kamu kenapa?"


   "Eh, nggak. Nggak apa-apa."


   Maura manggut-manggut ragu, agak takut sama sahabat Kauki ini. Menurutnya, Alpha ini aneh.


   "Em.. Kak." Maura memberi tatapan bertanya pada Alpha. "Ng.. Mata lo indah," ucap Alpha tepat di mata indah Maura.


   Maura tertegun, agak tersipu dengan pujian Alpha. "Hm, makasih," ucapnya.


   Kauki terkekeh ngeliat Maura yang agak salting setelah dipuji Alpha. Sambil ngasih arahan ke Alpha, Kauki ngebuka bungkus permen.


   "Kauki.."


   "Lo bilang lagi ke dia, 'kak Maura, you're so beautiful like-"


   "Ng.. Kak Maura, you're so beautiful like.." Alpha ngegantungin ucapannya seperti arahan Kauki.


   "Like what?" tanya Maura bertopang dagu dan natap Alpha dengan senyum.


   "Likee.. likee.."


   Sementara di tempatnya, Kauki sibuk nyari tempat sampah buat ngebuang bungkus permen karetnya. "Gosh! Where is the recycle bin?" gumamnya yang didenger Alpha.


   Tapi Alpha cuma bisa nangkep dua kata. "Youre beautiful like.. recycle bin!" serunya.


   Kauki yang denger itu menutup mulutnya. "Ya ampun.." desisnya.


   Maura menganga, alisnya menukik tanda kalo dirinya tersinggung. "Apa kamu bilang? Aku cantik kayak tempat sampah?!"


   "Eh," Alpha tersadar dari ucapannya tadi. "Eh, bu-bukan, maksud guee.. gue.. nyari tong sampah di mana. Gue mau buang.." Gelagapan Alpha merogoh celananya berharap nemu sampah. "Gue mau buang bungkus permen."


   Wajah Maura agak melunak, walaupun alisnya masih menukik. "Oh.. tuh tong sampah," tunjuknya ke arah tong sampah di pojokan.


   "Hehe.. Gue buang ini dulu, ya?" Alpha bangkit buat ke tempat sampah.


   "Kauki lo gimana, sih!" omelnya.


   Kauki nutup kepalanya pake hoodie jaketnya. "Gue nggak bermaksud ngomong gitu, Bro, tadi itu gue lagi nyari tong sampah. Lagian elu ngapain ngomong gitu ke kak Maura?"


   "Gue kan meng-copy paste apapun yang lo omongin."


   "Ya harusnya lo bisa nyaring omongan gue dong, jangan asal copas terus lo lempar gitu aja ke Maura!"


   "Terus sekarang gue harus gimana? Gue susah gerak kalo udah di depan Maura."


   "Gini, lo balik lagi, pesen makanan, nanti lo makan sambil ngobrol-ngobrol lagi," titah Kauki.


   "Ngobrolin apa?"


   Kauki muter mata. "Apa aja, ih, Alpha. Kayak gak pernah pdkt ama cewek aja, sih!"


   "Ya udah iya. Gue pesen makanan dulu." Alpha manggil pelayan dan mesen steak ayam, abis itu balik lagi ke tempat Maura dan ngobrol ringan dengan gadis itu.


   Gak lama kemudian pesenan Alpha dateng, Maura ngeliat pesenan Alpha lantas nyeletuk.


   "Kamu suka steak ayam juga?"


   Alpha menaikan alisnya, sebenernya dia nggak suka. Tadi cuma asal pesen aja.


   "I-iya. Kenapa emang?"


   "Steak ayam itu makanan favorit aku, Al," kata Maura.


   Alpha cuma manggut-manggut, otaknya menyimpan informasi penting ini buat dia pake kalo nge-date sama Maura di lain waktu.


   "Oh, ya? Waah.. Berarti kita sama dong. Jangan-jangan kita jodoh," seru Alpha yang disambut kekehan Maura.


   Alpha senyum ngeliat kekehan Maura. Mulai sekarang dia masukin steak ayam ke daftar makanan favoritnya.


   "Bisa bae lu modusnya, botol micin," kekeh Kauki. Dia tau kalo Alpha sebenernya gak suka steak.


   "Berisik!" sahut Alpha, Kauki semakin terkekeh.


   Alpha mulai motong steaknya, sesekali dia ngelirik Maura yang lagi makan.


   Cowok itu menatap Maura, terpukau dengan kecantikan gadis berambut hitam itu. Cewek cantik mah lagi makan aja tetep cantik. Pikirnya.


   Alpha motong steak tapi matanya gak pernah lepas menatap kagum Maura. Dan karena dia gak fokus, bukannya steak tapi malah jari tangan yang keiris.


   "Aduh!" Alpha berjengit saat ngerasa sakit di jarinya. Dia menunduk, begitu pun Maura yang kaget denger Alpha mengaduh.


   "Kenapa, Al?"


   "Ja-jari gue, Ki. Jari gue... HUEEE.. JARI GUE KEIRIS PISAU!!" Alpha menjerit bikin Maura dan pengunjung lain melihat ke arahnya, kaget.


   Kauki ngeliat dari arah toilet, dia menutup mulutnya ngeliat Alpha yang megangin jarinya sambil... mewek!


   "Huahua, Kaukiii.. Sakit jari gue, Kiii!!" pekik Alpha manggil-manggil Kauki.


   "Alamak!" pekik Kauki ngeliat Alpha yang lagi meratapi jarinya.


   Muka Maura mengkerut menatap Alpha dengan aneh. Dia ngerasa ilfeel sekaligus kaget saat tau Alpha yang keliatannya cool ternyata cengeng.


   Kauki segera berlari menuju sohibnya itu. Para pengunjung cuma bisa cengo ngeliat Alpha yang nangis jejeritan sambil megang tangannya yang berdarah.


   "Ya ampun, Alpha.. Kenapa bisa begini, sih?" Kauki mengajak Alpha berdiri, kemudian dirinya berbalik memposisikan diri buat menggendong Alpha, gendong belakang.


   "Kauki?"


   "It's fine, Kak Maura. Everything is fine!" Kauki membentuk jarinya bulat, mencoba meyakinkan Maura kalo semuanya baik-baik aja.


   Maura cuma mengangguk dengan muka bingung. Alpha masih nangis sembari tangannya melingkari leher Kauki.


   "Huaaa.."


   "Sst.. Alpha!" geram Kauki.


   Dengan cepat Kauki membawa Alpha pergi dari tempat itu dengan cara setengah ngegendong cowok itu dari belakang.


    Tentunya dengan perasaan malu.


    Sementara Maura? Cewek itu memijit pelipisnya, dia bener-bener bingung sama sahabat gantengnya Kauki.


   🍁🍁🍁


   "Huaa!!"


   "BERISIK, IH, ALPHA!" bentak Kauki.


   Keduanya kini ada di ruang tamu Kauki. Cewek itu membalut luka Alpha dengan plester luka, muka Kauki kisut, kesel sama kejadian di mall.


   "Elo tuh harusnya jangan gitu tadi, malu tau!" omel Kauki.


   "Tapi jari gue keiris.."


   "Tapi gara-gara lo jejeritan tadi, kak Maura jadi ilfeel sama lo!"


   Alpha diem walau masih sesenggukan. "Maura ilfeel sama gue?"


   "Iya. Lo tau tadi ekspresi dia waktu ngeliat lo mewek gimana?"


   Alpha menggeleng, ngusap ingusnya dengan mata menyorot polos ke arah Kauki.


   "Kayak gini nih." Kauki niruin muka jijiknya Maura.


   Alpha malah ketawa. "Kok kayaknya lebih aseman ekspresi lo, Ki?"


   "Malah ketawa lagi lu!" dengus Kauki.


   "Ya maap. Gue nggak bisa ngontrol diri kalo ada di deket Maura."


   "Iya gue paham. Tapi lain kali lo kontrol dong, nanti kalo kayak gitu terus, kak Maura malah ogah sama lo." Kauki masih aja ngomel.


   "Ki."


   "Hm?"


   "Bantuin gue, ya?"


   "Iya, pasti gue bantuin. Pokoknya gue bakal bantuin sampe lo jadian sama kak Maura."


   Alpha tersenyum, ngerasa beruntung punya sahabat kayak Kauki. Sahabat yang selalu ada saat dia butuh.


   "Gracias, amigaaa..!" Alpha meluk Kauki kenceng.


   "Iya. Tapi jangan kenceng-kenceng dong, ntar gue mati. ALPHA!" Kauki mendengus saat Alpha semakin mengeratkan pelukannya.


   Alpha cuma ketawa, dia malah makin kenceng meluk Kauki. Karena dia seneng, dia nyaman saat meluk Kauki kayak gini.


   Alpha berharap bisa gini seterusnya sama Kauki. Karena Alpha tanpa Kauki, udah kayak ikan tanpa air.

__ADS_1


🍁🍁🍁


__ADS_2