
Kauki masih terisak di kamarnya ketika bel rumahnya berbunyi tanda ada tamu. Dengan langkah gontai Kauki pun membuka pintu.
Kauki pikir itu Tristan, tapi ternyata yang datang malah Viral yang berniat nganterin buku Kauki.
"Ha-hai, Kau..ki?" Viral langsung menunjukkan muka bingungnya ngeliat muka Kauki yang basah karena air mata. "E-elo ken-kenapa, Ki?"
"Viraal.." isak Kauki.
Viral bingung tapi langsung membawa Kauki ke pelukannya, mengusap punggung gadis itu.
"Ke-kenapa? A-ada yang nya-nyakitin lo?"
"Viral.. orangtua gue meninggal.." jawab Kauki diiringi tangisan.
Viral terkesiap, terkejut. Baru tadi siang Kauki ngomongin orangtuanya yang mau pulang, tapi sekarang justru kabar duka yang diterimanya.
Cowok tampan namun berpenyakit gagap itu ngerasa iba. Kauki pasti ngerasa terpukul, apalagi Kauki ini anak bungsu, ditambah kapasitas buat ketemu orangtuanya juga terbatas, gak kayak Viral yang bisa ketemu orangtuanya tiap hari.
"Sa-sabar ya, Ki." Viral mengelus punggung Kauki, ngasih kekuatan untuk sahabat baiknya itu.
Viral sama Kauki emang gak sedeket Alpha, tapi Viral selalu jadi tempat curhat Kauki dan para sahabatnya. Meskipun punya kekurangan, Viral adalah pendengar yang baik. Selalu ada saat sahabatnya butuh.
Gak lama Tristan dateng, Kauki langsung berhambur ke pelukan kakaknya. Tangis Kauki kembali pecah, Tristan pun udah gak bisa nahan air matanya lagi.
Viral cuma bisa memandangi keduanya dengan mata basah. Sebagai seorang sahabat Viral ikut ngerasain sedih yang dialami Kauki dan Tristan.
"Kita kemasin baju sekarang ya, Kakak tadi udah pesen tiket ke Spanyol, kita berangkat hari ini juga."
Kauki ngangguk dan masuk ke kamarnya buat ngemasin baju diikuti Tristan. Sementara Viral gak langsung pergi, dia mau nunggu sampe Kauki berangkat.
"Viral, makasih ya udah minjemin gue bahu. Elo sahabat gue yang paling baik," ucap Kauki pada Viral setelah selesai mengemasi barang-barangnya.
Viral tersenyum tulus. "I-iya. Ya-yang tabah ya, K-Ki."
Kauki tersenyum kemudian memeluk Viral sejenak, kemudian masuk ke mobil menuju bandara.
Viral membuang nafas berat, kemudian melempar pandangannya ke rumah Alpha. Cowok berjambul itu heran kenapa Alpha gak muncul saat Kauki lagi kena musibah gini?
Tapi saat Viral ngetuk pintu rumah Alpha, yang keluar malah pembantunya.
"Maaf, Den Viral, tapi Den Alpha-nya lagi nginep di rumah Neneknya."
Viral cuma bisa mengangguk paham, dia mau ngabarin Alpha lewat chat, tapi Viral lupa bawa hp. Cowok itu pun memutuskan untuk pulang.
πππ
Hari itu mendadak terasa kelam buat Kauki dan Tristan. Semua tampak memakai pakaian serba hitam di pemakaman orangtua Kauki.
Kauki yang memakai dress hitam selutut tampak histeris ngeliat kedua orangtuanya dalam peti. Maminya tampak cantik dengan gaun putih, sedangkan daddynya sangat tampan dengan jas. Tapi wajah cantik dan tampan itu pucat, tak bernyawa.
"Mami.. Daddy.. Wake up! I know you were just asleep.. Please wake up!" Kauki menjerit dalam pelukan tante Becky yang juga banjir air mata.
Tangisan Kauki membuat yang lain ikut berkaca-kaca, terlebih Tristan yang tak kuasa nahan air matanya. Dia masih tak bisa menyangka kalau orangtuanya udah gak ada.
Tristan emang berharap ketemu dengan kedua orangtuanya, tapi bukan dalam keadaan tak bernyawa seperti ini.
"Tristan," panggil paman Tadashi, adik dari sang daddy dari Jepang.
Tristan menoleh dengan pandangan kabur, lalu berhambur ke pelukan paman Tadashi.
"Sabar, Nak. Semua ini ujian dari Tuhan agar kamu dan Kauki menjadi anak yang kuat."
Tristan terisak, mencoba menguatkan hatinya. Pria itu melepas pelukannya dan menatap Kauki yang masih menangis keras di dekapan tante Becky.
Tristan menghampiri adiknya lalu membawa Kauki dalam dekapannya. Matanya menatap sayu pada kedua orangtuanya.
Tante Becky tak kuasa menahan tangis ngeliat dua keponakan tersayangnya bersedih. Wanita berkulit sawo matang itu mengusap bahu keduanya, memberi kekuatan sekaligus memberitahu bahwa mereka tidak sendiri.
Masih banyak yang menyayangi Kauki dan Tristan.
Hari itu, bumi seolah basah, bukan karena hujan, tapi karena air mata sanak keluarga Kauki yang kehilangan dua orang yang mereka sayangi.
πππ
Pagi ini Alpha melangkah seorang diri melewati koridor sekolah, dia tadinya mau berangkat bareng Kauki, tapi saat disamperin, rumah Kauki justru kosong.
Para pembantu Kauki pun pulang kampung, bikin Alpha bingung. Jadi Alpha berniat nemuin Kauki di sekolah.
"Ci, Kauki mana?" tanya Alpha pada Cia yang udah stay sama buku bacaannya
Cia ngerutin kening. "Mana akoh tau, kan kamoh yang rumahnya berdampingan sama Kauki."
"Gue udah nyari ke rumahnya, tapi gak ada siapa-siapa."
"Kak Tristan juga gak ada?"
"Gak ada, semuanya pergi gak tau ke mana."
Cia manggut-manggut, ikut bingung dengan salah satu teman dekatnya itu yang ngilang tiba-tiba.
"Coba deh tanya Nando, dia kan lagi deket sama Kauki, mungkin dia tau Kauki di mana."
"Deket?" Alpha malah salah fokus. "Tunggu, deket gimana maksud lo?" tanya Alpha duduk di kursi Kauki, tepat di sebelah bangkunya Cia sama Viral.
"Ya deket, masa gak tau sih. Mereka kan lagi pdkt. Hadeeh.. Akoh heran deh, kamoh sahabatnya tapi gak tau apa-apa tentang Kauki."
Omongan Cia bikin Alpha ngerasa kesentil. Iya juga, kenapa dia baru tau kalo Kauki lagi pdkt sama Nando?
"Eh, itu Nando. Hai, Nando.." sapa Cia saat Nando memasuki kelas.
"Hai, Cia.. Alpha.." balas Nando ngasih senyum ramahnya. "Oh iya, Kalian tau nggak Kauki ke mana?"
"Loh, baru aja kita mau nanya ke kamoh. Kamoh beneran gak tau Kauki di mana?"
"Aku nggak tau kok."
"Kauki nggak nge-chat kamoh atau apa gitu kalo dia lagi di mana?"
"Nggak. Nomornya gak aktif, Kak Tristan juga udah aku tanyain, tapi gak direspon," jelas Nando.
Cia menggigit kukunya, khawatir sama Kauki. Begitu pula Nando dan Alpha.
"Kalo Viral tau nggak ya Kauki di mana?"
"Nanti kalo Viralnya dateng, langsung akoh tanya deh."
"Mungkin dia lagi ke Jepang, atau mungkin ke Spanyol ngunjungin sodaranya yang ada di sana." Alpha nyoba santai.
Nando sama Cia mengangguk.
"Semoga aja."
Bel masuk berbunyi, membuat ketiganya kembali ke tempat masing-masing. Cia yang awalnya mau nanyain Kauki ke Viral langsung berdecak kecewa.
Ternyata Viral gak masuk lantaran menghadiri pernikahan tantenya di luar kota.
πππ
Plaza de espana, Sevilla, Spanyol.
Kauki berdiri di jembatan plaza de espana dengan wajah datar, matanya yang memerah memandang kosong ke kolam di bawahnya.
Tristan sengaja membawa Kauki jalan-jalan ke salah satu tempat bersejarah itu biar adiknya itu dapat melupakan kesedihannya.
Dihampirinya gadis itu, lalu mendekapnya. Tangis Kauki kembali membuncah. Mereka berpelukan dengan hati yang sama-sama kelabu.
Kauki yang memakai jaket hitam dan celana panjang hitam, serta Tristan yang juga memakai pakaian serba hitam, seolah menggambarkan suasana hati mereka tengah bermuram durja.
"Sst.. Dek, iklasin mereka ya."
"Ki..ta udah gak punya siapa-siapa lagi, Kak.."
"Kata siapa? Kan ada Tia Becky,Β Tia Flower, uncle Tadashi, Tio Juan, kita tuh punya banyak saudara, Kauki, kita nggak sendiri." hibur Tristan. "Belum lagi temen-temen kamu. Alpha, Cia, Viral, Thoriq, Ferguso, sama siapa tuh yang sering ngajak kamu jalan? Nando? Iya, Nando. Mereka semua sayang sama kamu."
Kauki masih sesenggukan, dia merasa terguncang, gadis berdarah Jepang Spanyol itu masih gak bisa menerima bahwa dua orang tercintanya diambil Tuhan.
Gak jauh beda dari Kauki, Tristan pun sebenernya ngerasa terpukul. Tapi Tristan cuma bisa mendem kesedihannya, dia harus tetap tegar supaya adiknya kuat. Dikecupnya Puncak kepala Kauki yang tertutup beanie.
Karena kematian gak bisa dicegah, seberapapun banyak air mata, gak akan mengubah semuanya. Tristan sama Kauki cuma bisa berdoa, supaya orangtua mereka ditempatkan di tempat yang indah, di samping Tuhan.
I'm faded.. So lost..
I'm faded..
πππ
Maura duduk di tempat kerjanya sambil sesekali mendongak ketika ada orang yang lewat. Gadis itu tampak gelisah, menunggu seseorang yang gak kunjung datang.
__ADS_1
"Pagi, Maura."
Maura mendongak dan membuang nafas kecewa saat melihat seseorang yang menyapanya ternyata Miko, asisten Tristan.
"Pagi, Pak Miko."
Miko mengerutkan keningnya ngeliat wajah suram Maura.
"Kamu kenapa? Kayak gak semangat gitu?"
"Ah, enggak apa-apa kok." elak Maura dengan senyuman. "Oh iya, Pak. Ngomong-ngomong Pak Tristan ke mana ya? Kok saya belum liat."
"Tristan lagi ke Spanyol, jadi hari ini gak masuk."
"Ke Spanyol? Ngapain?"
Kali ini muka Miko yang keliatan sedih. "Orangtuanya meninggal."
Deg.
Maura mematung. "Orangtua Pak Tristan meninggal?"
"Iya." Miko tersenyum kecil namun sedih ketika membayangkan Tristan yang saat ini berduka.
Maura menutup mulutnya, gak nyangka. Hatinya ikut sedih saat tau bosnya ketimpa musibah.
"Saya ke ruangan Tristan dulu ya, mau nyari file yang belum sempat diselesain."
Maura cuma mengangguk, dirinya masih kaget atas berita duka yang menimpa Tristan.
Pasti Tristan terpukul banget sekarang. Apalagi Kauki, pasti lagi nangis sesenggukan sekarang. Pikir Maura ngerasa iba.
Dan selama ngerjain tugasnya, MauraΒ kurang fokus. Pikirannya melayang pada Tristan dan Kauki yang pasti lagi sibuk menata hati mereka yang hancur karena kehilangan.
πππ
Esok harinya jam 9 siang, Bunda Mia udah duduk di teras rumah Tristan. Wanita itu bolak-balik bangun duduk cuma buat ngecek gerbang.
Hingga akhirnya yang ditunggu datang, bunda Mia langsung mengulas senyum.
Tristan keluar lebih dulu, kemudian menggandeng Kauki yang tampak lemas.
"Tristan.. Kauki.."
Tristan dan Kauki menoleh, Tristan memberi senyum pada bunda Mia, sedangkan Kauki cuma diam. Seolah buat senyum aja dia gak ada tenaga.
Ngeliat wajah datar Kauki, bunda Mia menghela napas, dihampirinya Kauki lalu dibawanya ke dalam pelukan hangat.
"Sayang.. Kamu yang sabar ya. Mami sama Daddy pasti udah tenang di sana," ucap bunda tak henti mengelus rambut gadis itu.
Bunda Mia udah tau kabar kematian orangtua Kauki dari Tristan. Kaget pasti, gak cuma itu, bunda Mia juga sedih kehilangan sahabat karibnya. Maminya Kauki merupakan sahabatnya di bangku kuliah.
Kauki nggak nyaut, gadis itu langsung masuk rumah meninggalkan Tristan dan Bunda Mia yang menatapnya sendu.
"Tristan, kamu kuat kan, Nak?"
Tristan tersenyum pada bunda dari sahabat adiknya itu. Wanita yang sudah dia anggap ibu keduanya.
"Iya, Bunda. Makasih."
"Bunda ke dalam ya, nyusul Kauki. Kasian, pasti Kauki tertekan banget."
Tristan kembali mengangguk membiarkan bunda Mia menyusul Kauki.
Sedangkan gadis bermanik coklat terang itu duduk di dekat jendela dengan kaki yang ditekuk, menatap ke luar dengan pandangan kosong.
'Meooow..'
Suara Ferguso mengalihkan perhatian Kauki, gadis itu langsung membawa hewan bertubuh mungil itu ke pangkuannya, mengelus bulu abu-abunya.
"Hey.. how are you?" Kauki mengajak kucingnya berkomunikasi. "Maaf ya, kemarin gak ngajak Ferguso ke Spanyol."
'Meoong..'
"Tadinya Kauki mau ngajakin Ferguso ketemu Mami sama Daddy.." Muka Kauki berubah sendu. "Tapi sayang, Mami sama Daddy meninggal sebelum Kauki ngenalin kalian, Ferguso."
Kauki kembali menangis, Ferguso yang seakan tau mommy-nya bersedih mencoba meraih wajah Kauki, mengelus dengan tangan mungilnya.
"You know, Ferguso, they're so kind, the best parents in the world. You'll like them, Ferguso. But, they're gone."
"I miss them so much.." Suara Kauki bergetar karena tangisannya.
Bunda Mia yang ngeliat itu ikut merasa sesak. Dia sedih ngeliat Kauki kayak gini, biasanya Kauki selalu ceria di depannya, tapi sekarang, yang ada cuma Kauki yang rapuh.
"Sayang.."
Kauki mendongak dan mendapati bunda Mia di sampingnya.
"Jangan sedih dong, Nak.. Bunda ikutan sedih liatnya."
"I'm fine, Bunda."
"No! Jangan bilang kamu baik-baik aja kalau kenyataannya berbanding terbalik dengan apa yang kamu rasa."
Kauki kembali terisak, bunda langsung memeluknya.
"Kenapa mereka pergi ninggalin Kauki, Bunda.. Kauki bahkan belum jadi apa-apa, Kauki belum bikin mereka bangga sama Kauki."
"Nggak, Kauki udah banyak bikin Mami sama Daddy bangga. Buktinya, Kauki selalu dapat nilai tinggi di sekolah. Kauki jadi anak yang mandiri, baik, mereka bangga sama Kauki."
"Tapi Kauki belum sukses kayak Kak Tristan.. Terus nanti yang nganterin Kauki di atas altar siapa kalo nggak ada Daddy.."
"Sst.. Sayang, udah ya.. Kasian Mami sama Daddy kalo kamu nangis terus. Ada Kak Tristan, ada Bunda, kamu gak sendiri."
"Tapi Kauki udah gak bisa meluk Mami lagi.."
"Kauki bisa peluk Bunda, Bunda sayang kamu sama kayak Mami. Jangan sedih lagi ya."
Tristan menyaksikan itu dengan perasaan sesak. Mulai hari ini, dia janji bakal ngejaga adiknya seperti menjaga nyawanya sendiri.
πππ
Besoknya Kauki udah mulai masuk sekolah, walau pun masih diselimuti rasa sedih, Kauki ngerasa gak enak ninggalin sekolah lama-lama.
Selama kelas 12 ini Kauki udah banyak absen. Mulai dari sakit lah, dirawatlah, dan sekarang, musibah. Bisa dipastikan di buku rapor Kauki banyak catatan absennya, dan Kauki gak mau itu terjadi.
"Kauki.." Dari arah belakang Cia dan Viral mengejarnya.
Dua mahluk yang merupakan sahabat baik Kauki itu langsung berhambur dalam pelukan gadis itu.
"Hiks.. Kenapa kamoh gak bilang kalo orangtua kamoh meninggal?"
Kauki tersentak, kemudian menatap Viral yang garuk-garuk kepala.
"Ma-maaf, Kauki," ucap Viral gak enak. Kauki emang sempet minta Viral buat tutup mulut tentang kabar dukanya.
"Kauki.. kenapa nyembunyiin hal ini dari akoh, kamoh gak nganggep akoh sahabat? Huhuu.."
"Bukan begitu, Ci. Gue cuma nggak mau lo ikut sedih."
"Tapi akoh kan sahabat kamoh juga, huhu.."
"Maaf, Cia."
"Iya gak apa-apa. Kamoh yang tabah ya, Kauki.. masih ada akoh, Viral dan yang lainnya yang sayang sama kamoh," tutur Cia tanpa melepas pelukannya.
Kauki terharu, mau nggak mau mata indah itu kembali mengeluarkan kristal bening. Dia langsung meluk Cia dan Viral.
"Makasih ya. Gue nggak tau harus lari ke siapa kalo nggak ada kalian."
"Ja-jangan sungkan, Ki. Ki-kita sahabat sel-selamanya."
Kauki menganggukkan kepalanya, kemudian merangkul Viral dan Cia bersamaan.
"Gue sayang kalian, guys.."
"Kita juga sayang kamoh, Kauki." balas Cia diikuti anggukan Viral.
"Kauki?" Alpha tiba-tiba datang di antara keharuan itu.
Kauki ngelepas pelukannya dan menatap Alpha yang berdiri dengan muka bingung.
"Lo ke mana aja? Kenapa baru muncul?"
"Ng.. Gue abis dari Spanyol."
"Ngapain?"
__ADS_1
"Mm.."
"Udah nanti aja ceritanya, sekarang ada hal penting yang mau gue omongin ke lo."
Belum sempat Kauki bertanya, Alpha udah narik gadis itu agak jauh dari Cia dan Viral.
"Elo mau ngomongin apa?"
Alpha menarik napas sejenak. "Ini soal Maura."
"Kenapa Maura?"
"Maura cemburu sama lo, Ki."
"Cemburu?"
Alpha ngangguk. "Iya, dia pikir persahabatan kita ini lebih kayak orang pacaran, terlalu deket. Gue nggak mau Maura salah paham."
Alis Kauki mengernyit, "Maksud lo?"
"Gue mau lo jaga jarak dari gue."
Deg.
Kauki ngerasa dadanya kembali sesak. Alpha ini.. belum lama bikin Kauki nyesek sekarang udah bikin sakit lagi.
"Gue nggak mau Maura ngira kita lebih dari sahabat. Apa lagi lo gak pernah nolak kalo gue peluk, atau pun cium. Gue takut Maura ngira lo cewek gampangan, Ki. Gue nggak mau cuma karena terlalu deket sama lo, hubungan gue sama Maura jadi rusak. Lo gak mau kan jadi PHO?"
Alpha ngucapinnya dengan hati-hati, tapi entah kenapa malah bikin Kauki sakit hati.
"Maksud lo, gue perusak hubungan kalian? Apa tadi? Maura mikir gue cewek gampangan yang mau aja lo peluk, lo cium. Maura atau lo yang berpikir kayak gitu?"
Tersinggung, jelas. Secara gak langsung Alpha bilang kalo Kauki bawa dampak buruk ke hubungannya.
"Kalo gue berniat ngerusak hubungan lo, ngapain gue bikin kalian jadian? Dan lo bilang gue gampangan? Come on, Alpha, apa gak ada kata-kata yang lebih nyakitin lagi dari ini? Gak sekalian lo sebut gue *******, pelakor, ******, *****!" marah Kauki.
Alpha tercekat saat denger nada tinggi Kauki. Dia gak bermaksud bikin Kauki marah atau apa pun, dia cuma mau Kauki sedikit jaga jarak dari dia, supaya Maura gak cemburu lagi. Pikirnya.
"Kauki, gue gak bermaksud-"
"Tapi dari omongan lo udah jelas, Alpha, elo gak perlu basa-basi, gue udah tau poinnya. Elo mau bilang kalo kehadiran gue berpengaruh buruk buat hubungan lo sama Maura, kan!"
Alpha menggeleng cepat, nggak, bukan begitu.
"Nggak, Kauki. Nggak gitu-"
"Elo mau gue ngejauh dari lo? Oke, gue bakal ngejauh dari lo, sampe lo gak bisa ngeliat gue lagi!" ucap Kauki emosi.
Kauki pikir, Alpha bakal meluk dia, ngasih ketenangan buat dia yang lagi sedih, kayak yang dilakukan Cia dan Viral. Tapi cowok itu malah bikin luka hati Kauki bertambah lebar dengan ucapan cowok itu.
"Gini cara lo berterimakasih ke gue yang udah mempersatukan kalian? Thanks, Alpha, sekarang gue tau rasanya gak dihargai itu kayak gimana," ucap Kauki penuh penekanan, kemudian berlalu dari hadapan Alpha dengan membawa kepingan hatinya yang hancur karena ulah sahabatnya itu.
Cia sama Viral yang sedari tadi cuma nonton menghampiri Alpha.
"Iih.. Alpha, kamoh jahat banget sih, Kauki tuh lagi berduka, kamoh malah bikin hatinya luka," omel Cia kesel.
"Tet-tet-tau!" timpal Viral yang ikut kesel.
"Kauki berduka? Berduka karena apa?"
Pertanyaan polos Alpha bikin Cia dan Viral saling pandang dengan muka bingung.
"Serius kamoh gak tau?"
Alpha cuma menggeleng, dia emang gak tau apa-apa kan?
Cia nepuk jidat, sementara Viral menggeram kesal.
"O-ORANG TUA KAUKI, ME-MENINGGAL!"
"APA?!"
Berasa disamber gledek, Alpha langsung disengat rasa bersalah. Cowok itu mengusap wajahnya frustasi.
"Ya ampun, Kauki.. Maafin gue.." desisnya pelan.
Tanpa banyak mikir, Alpha langsung lari nyari keberadaan Kauki.
---
Kauki ternyata duduk di kursi beton di depan ruang musik, gadis itu kembali menangis.
Kenapa coba, kenapa Alpha harus ngomong kayak tadi? Bilang Kauki pho lah, bilang Kauki gampangan. Emang sih, selama ini kalo Alpha meluk atau pun cium Kauki, Kauki gak pernah nolak, ralat, bukan gak nolak, lebih tepatnya, gak sempat nolak.
Karena Alpha tuh gak pernah minta izin, makanya Kauki gak sempet nolak. Dan apa tadi kata Alpha? Dia PHO? Gak masuk akal!
Kalo Kauki PHO, ngapain dia bantuin Alpha sampe bisa jadian sama Maura kayak sekarang? Bahkan Kauki udah ngerelain dirinya masuk rumah sakit buat kepentingan pdkt Alpha. Coba pikir, PHO-nya di mana?
"Gue udah ngorbanin semuanya buat Alpha, tapi dia malah nyakitin gue dengan kata-katanya," gumam Kauki lalu menggelengkan kepalanya ngerasa miris.
Kauki nggak sadar kalo Nando udah duduk di sampingnya. Menatapnya dengan pandangan iba.
"Kauki.." Nando nyentuh pelan bahu Kauki.
Gadis bersurai cokelat itu langsung ngehapus air matanya.
"Eh, Nando. Hai.." sapa Kauki mencoba ceria seperti biasa.
Tapi Nando gak ngebales senyum palsunya Kauki, Nando malah langsung narik Kauki ke pelukannya.
"Jangan tutupi kesedihan kamu, Kauki, aku udah tau semuanya. Kamu yang sabar ya. Kamu harus bisa mengikhlaskan kepergian mereka. Karena mereka udah bahagia di samping Tuhan."
Nando ngomongnya lembut banget, sampe Kauki luluh dan melepas air mata yang di tahannya.
"Sst.. Gak apa-apa, keluarin semuanya, Ki, keluarin sampe kamu bener-bener ngerasa plong."
Kauki terisak dipelukan Nando. Sedangkan lelaki itu terus mengusap punggungnya dengan lembut. Nando udah tau hal yang menimpa Kauki.
Nando ikut sedih, dia mengurungkan niatnya buat nyatain perasaannya. Waktunya gak tepat. Pikir Nando.
Pada saat itu Alpha ngeliat adegan itu, cowok itu mematung, gak tau kenapa rasanya gak suka ada saat Nando meluk Kauki.
"Kauki.."
Pelukan itu terlepas, Kauki mendongak menatap Alpha dengan wajah penuh air mata, bikin Alpha kembali tersengat rasa bersalah.
"Mau apa lagi lo?"
"Kauki, maafin gue. Gue nggak bermaksud nyakitin lo."
"Gue maafin, sekarang lo pergi," kata Kauki datar.
Tapi Alpha malah menggeleng. Menolak usiran Kauki.
"Ki, kenapa lo gak bilang kalo orangtua lo meninggal?"
Kauki ngelirik Alpha sinis. "Peduli lo?"
"Kauki, jelas lah gue peduli, gue sahabat lo, Ki."
"Sahabat? Haha lucu ya, elo sahabat gue, tapi lo orang terakhir yang tau berita ini. Kalo lo sahabat gue, TERUS KE MANA LO SAAT GUE BUTUH LO!" Suara Kauki meninggi penuh emosi, nafasnya tersengal disela-sela isak tangis, ini pertama kalinya Kauki ngebentak Alpha.
"LO TAU, WAKTU ITU GUE NELPON LO BUAT NGASIH TAU KABAR INI, tapi apa jawaban lo? 'curhatnya lain kali aja, Ki, gue capek abis nganter Maura jalan', dan sekarang lo malah nanya kenapa gue gak ngasih tau lo."
Hati Alpha mencelos, dia ngerasa kecewa sama dirinya sendiri. Alpha kecewa udah bikin Kauki sedih buat yang kesekian kali.
Mendadak hening, cuma ada suara isakan Kauki. Nando gak berani buka suara, dia gak mau ikut campur, cowok itu cuma bisa menghela napas napas seraya mengusap bahu Kauki biar tenang. Sedangkan Alpha, cowok itu cuma bisa menatap Kauki penuh penyesalan. Dia nggak tau harus ngomong apa.
"Alpha, gue gak pernah nuntut lo ini itu, gue cuma minta bahu lo buat jadi sandaran, apa itu sulit?" Suara Kauki melemah, "Gue tau sekarang udah ada Maura yang jadi prioritas lo. Gue terima, asal lo gak lupain gue. Tapi lo malah minta gue ngejauh dari lo."
Alpha hendak membuka suara, tapi Kauki udah nggak mau denger apapun dari mulut cowok itu.
"Ki-"
"Udahlah, Alpha. Gue capek, kalo lo emang mau kita menjauh, it's ok." Kauki meraih lengan Nando, mengajaknya pergi. Kauki muak ngeliat muka Alpha.
Sebelum bener-bener pergi Kauki sempat ngomong, "Sebaiknya lo cari tau dulu apa arti sahabat yang sebenarnya, sebelum lo nyebut diri lo seorang sahabat."
Ketika Kauki pergi, seperti ada potongan yang hilang dari hati Alpha. Lelaki berwajah cool itu cuma bisa memandang Kauki yang pergi bersama Nando dengan sendu.
Saat itu juga air mata Alpha jatuh tanpa bisa dicegah. Dia sadar sekarang, ucapan Kauki bikin Alpha sadar kalo dia bukan sahabat yang baik.
Ngeliat tangisan Kauki, Alpha sadar udah nyakitin gadis itu terlalu sering. Mungkin gadis itu sekarang membencinya.
"Maafin gue, Ki. Gue emang ******, gue **** nyia-nyiain sahabat sebaik lo. Gue gak mau kehilangan lo, Ki," lirih Alpha.
Dan yang bisa Alpha lakuin sekarang cuma mengumpati dirinya. Menyesali perbuatannya, tapi itu gak merubah apapun. Seandainya waktu bisa diulang, Alpha pengen semua balik kayak dulu, saat dirinya dan Kauki deket tanpa satu pun yang bisa memisahkan.
__ADS_1
πππ