
Enam bulan berlalu semenjak Nando pergi dari kehidupan Kauki. Gadis itu seolah kehilangan sisi cerianya, sekarang cuma ada Kauki yang pendiam dan cuek. Gak peduli sekitar.
Kelulusan SMA udah lewat seminggu yang lalu, dan Kauki belum bisa nentuin mau kuliah di indo atau di Spanyol.
Tapi kalo Kauki milih ke Spanyol juga ada yang ngelarang. Siapa lagi kalo bukan si sohib sok cool yang sering ngaku-ngaku kembaran Kauki, Alpha.
"Elo gak boleh ke Spanyol. Pokoknya elo gak boleh kuliah kalo kuliahnya di Spanyol. Elo gak boleh ninggalin gue, Ki. Kalo lo pergi, kita gak kembar lagi," tandas Alpha.
"Terserah," jawab Kauki dengan muka datarnya.
Jangankan mikirin kuliah, mikirin diri sendiri aja Kauki jarang. Pikiran Kauki selalu tertuju ke Nando yang jauh si Singapura sana.
Udah bahagiakah Nando dengan Laluna? Apa mereka udah nikah seperti keinginan Laluna? Apa Nando udah lupain Kauki?
Kauki bahkan ngelupain kesehatannya, hari-harinya cuma dia lewatin buat ngeliatin cincin pemberian Nando, terus ngelamun sampe nangis.
Tapi beruntung ada Alpha yang selalu ngingetin makan, minum vitamin, bahkan BAB juga Alpha selalu ngingetin Kauki.
"Jangan lupa BAB, Ki. Banyakin makan buah biar gak susah BAB. Soalnya kalo udah susah, rasanya sakit banget. Gue udah pernah ngalamin, percaya deh."
Kauki menatap Alpha males. "Iya gue percaya."
Orang waktu itu Kauki yang bantuin Alpha dari susah BAB-nya.
Astaga.. malah ngomongin BAB!
ššš
Sebenernya biarpun keliatan ceria, Alpha juga lagi galau. Galau karena udah nyoba ribuan cara buat masuk ke hatinya Kauki, tapi ketika mata Kauki menatapnya, Alpha masih belum ngeliat cinta di dalamnya.
Pintu hati Kauki seolah terkunci rapat, dan kuncinya ada di Nando.
Alpha juga sedih ngeliat perubahan Kauki. Dulu, sahabatnya itu tipe gadis periang, rame, kocak. Sekarang, jarang senyum, pendiem, kalo ngomong pun gak lebih dari sepuluh kata.
Enam bulan Alpha kehilangan sosok Kauki. Raganya emang ada, tapi jiwa gadis itu seolah ikut Nando ke Singapura.
Telolet.. Telolet..
Bunyi hp Alpha membuat cowok itu berdecak karena keganggu. Dengan malas Alpha mengangkat telpon.
"Halo!"
"Wett! Judes amat, Bro."
Alpha ngeliat layar hpnya, ternyata yang nelpon si Thoriq gledeg.
"Oh elo. Ada apaan, nyet?"
"Nyat nyet nyat nyet, ayam penyet?"
"Bukan. Monyet."
Thoriq manyun di rumahnya. "Sembarangan."
"Ada apaan nelpon?" tanya Alpha seraya membaringkan tubuhnya di kasur.
"Tadinya gue mau ngajakin lo hiking bareng, tapi karena elonya udah ngatain gue monyet, ya udah gak jadi," kata Thoriq dengan nada kesel.
Mendengar kata 'hiking', Alpha langsung terduduk.
"Ha? Hiking?"
"Hm!"
Alpha terdiam sebentar. Kauki kan suka banget naik gunung. Nah, mungkin ini bisa jadi cara Alpha buat ngembaliin cerianya Kauki.
"Eh, gue ikut, dong."
"Gak! Tadi lo udah ngehina gue soalnya."
"Ya elaah.. ngambekan lo kayak cewek PMS. Boleh lah, ya."
Thoriq berdecak. "Ya udah, tapi bilang dulu kalo gue ganteng."
Alpha melengos males.
"Lo ganteng." Tapi gantengan gue, batin Alpha.
"Bilang yang keras."
"ELO GANTENG!"
Sambil nutup mulut lebarnya, Thoriq nahan tawa. "Elo-nya siapa?"
"Ya elo, THORIQ GLEDEG."
"Coba ulang sekali lagi. Yang lengkap!" kata Thoriq makin ngeselin.
Kalo bukan temen udah gue gesper nih orang. Batin Alpha kesel.
"Al? Lo masih hidup, kan?"
"Lo ngedoain gue mati?" dengus Alpha.
"Ya abis diem aja. Ayo buruan bilang, kalo nggak, gue gak ngijinin lo ikut."
Alpha buang napas keras. "THORIQ GANTENG SEJABODETABEK! PUAS LO!"
Di rumahnya, Thoriq ketawa keras-keras mendengar suara ketus Alpha.
"Haha.. iya iya, elo gue ajakin juga." ucap Thoriq di sela tawanya.
Senyum mengembang di bibir tipis Alpha. "Boleh ngajak Kauki juga, nggak?"
"Boleh dong, gue juga mau ngajak Cia. Makin rame makin bagus."
"Sip lah kalo gitu. Jadi kapan kita berangkat?"
"Lusa."
"Oke, Bro. Makasih udah ngajak gue."
"Ashiaap!"
ššš
Dan besoknya Alpha sibuk mohon-mohon ke Kauki. Tapi karena Kauki-nya masih dalam kondisi galau berkepanjangan, cewek itu dengan nada datarnya nolak ajakan Alpha.
Berulang kali Alpha ngebujuk, Kauki tetap kekeuh pada jawabannya.
Yang bikin Kauki kesel, apapun yang Kauki lakuin, selalu ada Alpha yang memohon biar dia ikut muncak.
Kauki mau makan, Alpha ikut makan.
__ADS_1
Kauki mau ngambil cemilan di kulkas, lalu tersentak ngeliat cowok itu ada di dalem kulkas. Kauki mendengus dan ngambil ciki serta susu kotak.
"No, Alpha!"
Brukk!
Pintu kulkas ditutup Kauki, tanpa peduli sama Alpha yang masih di dalem kulkas.
Ketika Kauki ngasih makan Ferguso, Alpha ikut ngantri di sisi Ferguso, dengan muka memohon.
Kauki muter mata. "I still won't go, Alpha," ujarnya nyuap satu biji makanan Ferguso ke mulut Alpha.
"Yaah, Kauki.." manyun Alpha seraya mengunyah makanan Ferguso tanpa sadar.
Dan setelah menyadari bahwa dirinya makan makanan kucing, Alpha langsung lari ke toilet.
"Huek.. Cuh cuh cuh!"
Dan terakhir, saat Kauki lagi sibuk ngelamunin Nando, Alpha lagi-lagi tanpa putus asa Alpha kembali membujuk Kauki.
"Ayolah, Ki.. kita udah lama loh gak hiking bareng. Gue aja udah lupa kapan terakhir kita naik gunung."
Kauki berdecak jengah. "Ya itu karena kita gak pernah hiking bareng!"
Alpha cengar-cengir. "Oh iya, ya.." sahutnya ****.
"Makanya, taun ini kita harus naik gunung bareng. Mumpung masih musim kemarau, bentar lagi udah mau musim ujan."
"Enggak, Alpha. Gue males."
"Kauki.."
"Enggak."
"Kaukiii.."
"Gak."
"Ayolah, Kii.."
"Alpha, stop!"
"I'm not gonna stop until you say yes!"
"Gue bahkan belum siap-siap-"
Klontang..
Tepat setelah Kauki ngasih alasannya, dari pojok kamar, sebuah termos portable jatuh dari atas tas carrier.
Tas gunung Kauki yang ternyata udah Alpha siapin lengkap dengan alat-alat buat hiking. Karena Alpha tau, Kauki bakal ngasih alasan 'belum siap-siap'.
Kauki melongo, lalu natap Alpha dnegan tampang datar nahan kesel. "Can you explain it?"
Alpha malah nyengir tanpa dosa.
"Gue baik, kan? Jadi besok kita tinggal pergi. Horee!!"
Dan Kauki cuma bisa mendengus saat Alpha loncat-loncat kegirangan karena pada akhirnya, Kauki udah gak bisa nolak lagi. Dan mereka bisa muncak bareng deh.
ššš
Besoknya Kauki, Alpha, Thoriq sama Cia udah ada di stasiun pasar senen, nunggu kereta jurusan ke Malang.
Sedari tadi Kauki mengangkat alisnya heran ngeliat Cia yang keliatan manja banget sama Thoriq. Karena jauh sebelumnya kan Cia ke Thoriq udah kayak ngeliat kecoa terbang, menghindar. Tapi ini?
Bahkan di dalam kereta pun, keduanya pun duduk berdampingan. Aneh, pikir Kauki.
"Diem aja, lo gak mabok kereta kan, Ki." Pertanyaan Alpha membuat perhatian Kauki teralih.
Kauki menggeleng.
"Eh, Al. Cia kok tumben mau deket-deket Thoriq?"
"Elo gak tau?"
"Tau apa?"
"Mereka udah jadian, Ki," kata Alpha, Kauki cengo.
"Ah, yang bener lo? Kok gue nggak tau?"
"Serius. Sebulan yang lalu loh mereka jadian," ujar Alpha. "Nih ya, mereka bahkan mau nikah muda beberapa bulan lagi," sambung Alpha yang sontak bikin Kauki menganga.
"Kok gue nggak tau?" gumam Kauki masih terdengar di telinga Alpha.
"Ya elonya sih, sibuk sama dunia galau lo," kata Alpha hati-hati, Kauki meringis ngerasa bersalah.
Cuma karena kegalauannya, Kauki sampe gak tau berita tentang temen-temennya.
Kauki bahkan baru sadar kalo bulan depan kakaknya mau nikah. Astaga.. banyak banget berita penting yang dia lewatin akhir-akhir ini.
Alpha yang tau Kauki ngerasa bersalah langsung ngusap bahu sohibnya itu.
"Udah gak usah dipikirin, tujuan kita sekarang kan mau refreshing. Jadi jangan mikirin apapun yang bikin pusing."
Kauki tersenyum tipis mengiyakan omongan Alpha. "Iya, lo bener."
"Gue mau tidur dulu ya."
Kauki cuma ngangguk dan ngeliat pemandangan dari luar jendela kereta. Tersenyum lembut saat angin menerpa wajah cantiknya.
Gadis berdagu belah itu mengernyit saat ngerasain sesuatu yang berat menimpa bahunya. Kauki menoleh dan mendapati Alpha yang nyenderin kepala di bahunya.
"Gue minjem bahu lo ya, Ki. Ngantuk," pinta Alpha dengan mata tertutup.
Rasanya nyaman banget nyender di bahu Kauki gini, bikin Alpha rileks dan pengen tidur.
"Boleh nyender, tapi jangan ngiler," kata Kauki.
Alpha kontan membuka kedua matanya, ngeliat Kauki dengan pipi menggembung.
"Enak aja. Gue nggak pernah ngiler ya kalo tidur!" protesnya gak terima.
"Mana lo tau, lo kan tidur."
"Emang lo tau?" Alpha mengangkat alis. "Oh iya, kita kan dulu sering tidur bareng," sambung Alpha sebelum Kauki ngebales ucapannya.
Dan ucapan Alpha bikin pipi Kauki merona. Emang sih mereka waktu kecil sering tidur bareng. Tapi karena sekarang mereka udah pada gede, kata 'tidur bareng' ini jadi agak sensitif buat Kauki.
"Sembarangan aja."
"Loh kenapa? Emang bener kan, kita sering bobo bareng. Gue nginep di rumah lo."
__ADS_1
"Hm." Kauki berdehem menganggapi.
"Kauki, iiih, jangan cuekin gue."
"Berisik. Molor lu sana!"
Alpha terkekeh ngeliat Kauki yang salah tingkah.
ššš
Setelah hampir 15 jam perjalanan, Alpha cs pun sampe di Malang. Dan mereka nyewa motor buat sampe ke ranupane.
Sesampainya di sana mereka bikin SIMAKSI atau Surat Izin Masuk Kawasan Konservasi, mengikuti briefing selama setengah jam yang bikin Thoriq ngantuk gak ketulungan.
Selama briefing mereka dijelasin aturan, larangan, sebagainya.
Tapi mereka dapat satu masalah, yaitu lupa bawa surat keterangan dokter. Sebenernya cuma Thoriq sama Cia. Kauki sama Alpha udah bikin sehari sebelumnya.
"Terus sekarang kita gimana, nih?" kata Cia lemes karena gak melengkapi persyaratan naik gunung.
Kauki ngangkat bahu, sedangkan Thoriq sama Alpha menghela nafas.
"Balik lagi ke Jakarta mungkin."
Alpha langsung ngelempar tatapan protesnya ke Thoriq. "Enak aja lu. Kita udah capek-capek nyampe ke sini, masa iya mau balik lagi. Gak bisa!"
"Lah terus gimana?"
"Ya elo berdua balik lagi sana ke Tumpang, bikin surat keterangan dokter di sana."
"Yaah.. tapi dari sini ke Tumpang kan hampir dua jam, Al. Bolak-balik empat jam."
"Bodo amat, salah lo gak bawa surat keterangan dokter. Pokoknya kita harus jadi ke muncak!" Alpha kekeuh.
"Kalian ke Tumpang, Gue sama Kauki nunggu di kaldera bromo, kita bakalan bikin tenda, kita nge-camp di sana. Gimana?" sambung Alpha ngasih usul.
Mau nggak mau Cia sama Thoriq ngangguk menyetujui, Kauki cuma ngendikin bahu, dia ngikut temen-temennya aja.
Akhirnya dengan terpaksa Thoriq dan Cia pun balik ke Tumpang, sementara Kauki sama Alpha langsung menuju Mantigen buat bikin tenda.
ššš
Kauki menyeruput susu jahenya sedangkan Alpha sibuk nyeduh mie instan.
Mereka baru selesai bikin tenda, dan memutuskan untuk makan karena perut keroncongan.
Alpha ngasih satu mie cup yang dibuatnya ke Kauki.
"Thanks, Alpha."
Alpha ngagguk dan nempatin diri di samping Kauki. "Semoga kita dapet sunrise besok."
Kauki ngangguk. "Semoga."
"Kauki."
"Hm?"
"Elo... Emm.. apa kabar sama hati lo?" tanya Alpha pelan. Selama ini dia di samping Kauki terus, dan Alpha harus tau kondisi Kauki jauh ke dalam hati gadis itu.
"I'm fine, Alpha," jawab Kauki tersenyum tipis.
Alpha cuma mengangguk, dia tau hati Kauki belum sembuh sepenuhnya. Nando begitu berarti buat Kauki. Alpha tersenyum getir, sesulit ini nyingkirin Nando dari hati Kauki.
Tapi Alpha gak mau nyerah, dia yakin dia bisa gantiin posisi Nando. Yang harus dia lakuin sekarang adalah berjuang lebih keras.
Kauki membetulkan kupluknya, dan menggengam cangkir kuat-kuat saat udara dingin khas gunung menyapanya.
Kauki tersentak saat Alpha ngambil cangkir dan meletakkannya di bawah, kemudian menarik tangannya lembut.
"Kenapa? Elo kedinginan, ya?"
Alpha mengusap-usap tangan Kauki dengan tangannya, sambil meniup udara panas dari mulutnya.
Kauki? Cuma diam mematung dengan yang Alpha lakuin. Berusaha ngasih dia kehangatan.
Seketika Kauki sadar bahwa Alpha adalah cowok yang perhatian.
Alpha yang ngerasa diperhatiin langsung mendongak, dan saat itulah mata mereka bertemu.
Dalam gelap malam, Alpha bisa ngeliat warna mata Kauki. Alpha terpesona, mata Kauki ternyata lebih indah dari jarak sedekat ini.
Begitu pula Kauki, dia baru sadar kalo warna mata mereka hampir sama. Mata jernih Alpha menghipnotisnya.
Jarak itu semakin pupus saat Alpha memajukan wajahnya, Kauki hanya terdiam. Fokusnya tersedot penuh ke onyx tajam Alpha.
Saat hidung keduanya saling bersentuhan, Kauki tersentak dan menjauhkan diri. Salah tingkah, begitu juga Alpha yang menggaruk tengkuknya kikuk.
Apa barusan dia sama Alpha hampir ciuman? Jerit Kauki dalam hati. Tiba-tiba jantungnya berdebar menggila.
"Eh em ee.. Kauki, gu-gue baru inget kalo gue punya hadiah buat lo," kata Alpha mencoba menghilangkan kecanggungan sekaligus menekan sesuatu yang meletup di dadanya.
Kauki menatap Alpha penuh minat. "Apa?"
Alpha tersenyum misterius. "Rahasia."
"Ngapain ngasih tau gue kalo rahasia?"
"Haha.. niatnya kan biar lo semangat pas nanjak nanti. Pokonya kalo lo berhasil nyampe ke Puncak Semeru, gue bakal ngasih lo hadiah. Tapi kalo lo nggak berhasil, elo harus nyium gue. Gimana?" tantang Alpha diselipi iming-iming hadiah.
"Lo nantangin gue?"
Alpha mengendikkan bahu. "Bisa dibilang begitu. Gimana? Berani gak?"
Kauki tergiur sekaligus penasaran. "Oke!" Kauki ngeliat ke luar tenda dan memandang siluet puncak semeru di bawah sinar bulan.
"SEMERU, I'M COMING!" teriaknya membuat Alpha terkekeh.
"Berisik, Ki!"
"Biar gue semangat besok."
"Sini gue kasih semangat." Alpha monyongin bibirnya bikin gerakan nyium Kauki.
"Iiih.. Apaan sih, PERGI!"
Alpha nahan tawa ngeliat muka Kauki yang mengkerut geli atas tingkahya.
"Katanya butuh semangat. Sini gue kasih cium, ciuman gue bikin semangat berhari-hari," kata Alpha kemudian kembali mendekap Kauki, berusaha nyium cewek itu.
Kauki bergidik dan nahan muka Alpha pake telapak tangannya.
"IEWW ALPHAA.. GET AWAY FROM ME!"
__ADS_1
ššš