Back To Ya

Back To Ya
Bab 5


__ADS_3

"Maura, tolong antarkan berkas ini ke ruang pak Tristan. Saya ada keperluan."


"Mm.. Baik, Bu."


Maura beranjak menuju ruangan Tristan dengan jantung berdegup. Dari banyaknya karyawan yang lain, kenapa harus dia yang disuruh?! Pikirnya.


Ting!


Pintu lift terbuka, Maura kini berada di depan pintu bertuliskan 'Tristan Kenta Julio'. Gadis berparas ayu itu menarik napas dalam-dalam.


"Huuh.. Tenang, Maura, kamu cuma perlu nganterin berkas ini, setelah itu pergi." Maura menenangkan dirinya.


Setelah merasa siap, gadis bersurai hitam itu mengetuk pintu.


"MASUK!"


DEG!


Maura meringis saat mendengar seruan Tristan. Gadis itu meraih knop pintu, dan membukanya. Dilihatnya Tristan tengah sibuk menatap laptopnya, tak meliriknya sama sekali.


"Mm.. Permisi, Pak. Sa-saya mau nganterin berkas."


Tristan yang tadinya fokus pada laptop sontak melempar kepalanya saat mendengar suara yang tak asing. Keningnya berkerut gak suka, Maura yang menyadari itu kembali meringis.


"Oh. Taruh saja di meja," sahut Tristan datar.


"Ba-baik, Pak."


Maura melangkah mendekati meja Tristan dan menyimpan berkas itu. Dia terus menunduk, tak berani menatap Tristan.


Tristan mengernyit ketika Maura tak kunjung pergi.


"Ada lagi?" tanyanya bikin Maura tersentak.


"Em.. Ti-tidak. Ka-kalau begitu saya permisi."


Maura membungkukan badannya sopan kemudian berbalik. Namun sial, high heels-nya patah menyebabkan Maura keseleo dan terjatuh.


Duk!


"Aw, aduh!" jerit Maura mengaduh.


Tristan menegakkan badannya mendengar Maura.


"Kamu nggak apa-apa?"


Sejenak Maura tertegun mendengar nada khawatir Tristan. Tapi.. apa iya?


"Nggak apa-apa, Pak."


Maura mencoba bangkit, tapi kakinya sakit. Gadis itu cuma bisa meringis.


Tristan membuang nafas. "Butuh bantuan?" tanyanya datar.


"Eh, gak usah, Pak. Saya bisa berdiri sendiri kok."


Tapi Maura gak kunjung bangkit, gadis berambut sebahu itu kembali mengaduh, membuat Tristan mendengus jengah.


"Kalo butuh bantuan, bilang aja!"


"Eh, eh.. Pak, Pak Tristan?" Maura gelagapan saat Tristan menggendongnya.


"Diam!" potong Tristan dengan nada dingin.


Maura manut saat Tristan membawanya ke klinik. Dalam gendongan Tristan, diam-diam Maura melirik wajah dingin Tristan lalu tersenyum dalam hati, merasa senang karena Tristan masih perhatian padanya.


🍁🍁🍁


"Huh, akhirnya selesai juga," ujar Kauki ngerasa lega setelah mengikuti upacara bersama murid lainnya.


Alpha ngeliat Kauki yang jalan ke jalur yang berbeda. "Eh, lo mau ke mana?"


"Toilet."


"Mau gue temenin?" Alpha tersenyum jahil.


"Apaan sih. Gak usah!" sahut Kauki ketus dan ninggalin Alpha yang terkekeh sambil geleng kepala.


"Becanda, Ki.."


Cowok itu pun melanjutkan langkahnya menuju kelas.


Tanpa sepengetahuan Kauki, tiga cewek mengikutinya.


Kauki mencuci tangannya di wastafel. Gak sadar kalo di belakangnya udah berdiri tiga siswi yang menatapnya dengan angkuh.


"HEH!"


"hah heh, duh.. Banguun bangun makan nasi ama garem." Kauki latah lalu berbalik. "Ih apaan sih lu, ngagetin aja."


"Elo girlfriend-nya Alpha?!" sentak cewek itu gak peduli sama latahnya Kauki.


"Ng.. Gue ini anak perempuan, dan gue temennya Alpha. So, yeah, i'm his girl-friend," jawab Kauki.


Tanpa pemberitahuan, cewek bernama Kim itu memojokkan Kauki ke tembok lalu mencekiknya hingga Kauki terbatuk.


"Gue calon pacarnya Alpha! Dan lo cewek gatel, harus jauhin Alpha!"


"Gue gak punya penyakit gatel-gatel, kok," elak Kauki dengan suara tertahan.


"Ih, maksud Kim itu lo gatel kayak ulet keket, nempelin Alpha mulu!" jelas Nala, temennya Kim ketus.


"Tau ih, cantik-cantik o'on!" timpal Daniar, temen yang satunya.


"Haha.. Makasih, gue emang cantik." Kauki malah ketawa watados.


"Gue serius! Pokoknya lo harus jauhin Alpha, kalo nggak, elo bakal berhadapan sama gue."


"Berhadapan sama lo, maksudnya berantem?"


"Iya."


"Sama lo?"


"Iya!"


"Yakin?"


"Iya!"


"Sama lo?"


"Iih! Nyebelin banget sih lo!" Kim menggeram.


"Tapi kan di sekolah kita gak boleh berantem," jelas Kauki masang muka polos-polos ngocol.


"Gue nggak peduli."


"Lo nggak takut dihukum guru BP?"


"Gue bilang, gue gak peduli!"


Kim mencengkeram kuat bahu Kauki, sehingga cewek berdagu belah itu meringis.


"Mulai sekarang lo harus jauhin Alpha, atau.."


"Atau apa?"


"Atau lo bakal mati di tangan gue."


"Mati tuh di tangan Tuhan," celetuk Kauki yang justru bikin Kim makin naik pitam.


Gadis berambut ikal itu hendak mencekik Kauki, tapi Kauki dengan sigap menangkap lengan Kim dan memelintirnya ke belakang.


Kim menjerit, "AAW!"


"Kim!"


Kauki ngeliat Nala dan Daniar hendak membantu Kim, didorongnya tubuh Kim ke arah kedua gadis itu hingga menubruk mereka berdua.


BRUKK


Ketiga gadis itu terjatuh dan Kauki menjadikan kesempatan itu untuk kabur.


"KAUKI! JANGAN LARI!! Awh.."


Kauki terus berlari dan di depan UKS dirinya hampir menabrak bu Yati.


Kauki dan bu Yati sama-sama terkesiap.


"Kauki?"


"Ibu.."


Kauki ngerasa lega karena ketemu bu Yati. Bu Yati adalah guru BP di sekolahnya.

__ADS_1


"Kamu kenapa gak masuk kelas? Terus kenapa kamu lari-lari?"


"Jadi ginih.. saya.. tadi abis.. Huh.. Saya hampir dibunuh sama Kim, Bu." jelas Kauki dengan napas ngos-ngosan.


Bu Yati terbelalak. "Dibunuh?! Sama Kim?"


"Iya, Bu. Jadi tadi saya lagi di toilet, terus Kim sama dua temennya dateng dan Kim nyekek saya, Bu. Nih liat, merah kan?"


Bu Yati ngeliat leher Kauki yang emang sedikit memerah kayak bekas cekikan.


"Kamu gak bohong?"


"Ya ampun, Bu.. ngapain saya bohong sama guru. Dosa, Bu, dosaa."


"KAUKIII.."


Kauki dan bu Yati sama-sama menoleh mendengar suara Kim.


"I-itu Kimnya, Bu. Eh, tapi Ibu ngumpet aja di situ, nanti Ibu liat dan denger sendiri deh kata-kata bijak dari mulut Kim biar Ibu percaya kalo saya gak bohong." Kauki mendorong lembut bu Yati masuk ke ruang UKS.


Meski bingung tapi bu Yati tetep nurut dan mencoba mengamati yang akan terjadi berikutnya.


"HEH ******!" Kim membalikkan tubuh Kauki kasar, "Berani-beraninya lo ngelawan gue! Lo tau semua yang ada di sini untuk takut sama gue. Dan lo cewek sialan, gue bakal bikin perhitungan sama lo!"


"Perhitungan? Maksudnya, lo mau belajar matematika bareng gue?" celetuk Kauki dengan senyum ngeselinnya. Kim dan kedua temennya menggeram emosi.


"ELOO-"


"KIM!"


Kim dan dua temennya tersentak saat bu Yati keluar dari tempat persembunyiannya. Seketika badan mereka gemetar melihat muka serem bu Yati. Tentu, karena muka bu Yati itu mirip valak kalo lagi marah.


"I-Ibu Yati.."


"Jadi benar yang dibilang Kauki dan murid-murid di sini? Kalian sering mem-bully murid-murid? Keterlaluan!" Bu Yati memandang tajam ketiga gadis di depannya seolah apel yang siap dipanah.


"Kalian mau sok jadi jagoan di sini?!" bentak bu Yati menggelegar.


Kauki memejamkan mata, dia ikut ngerasa merinding walau bukan dia yang dibentak.


Sementara muka Kim dan dua temennya udah pucat pasi.


"Eng.. Aa.. I-itu.." Kim gelagapan, mau ngelak tapi udah ketauan. Daniar sama Nala cuma bisa sembunyi di balik tubuh bos mereka.


"Sekarang kalian ikut saya ke ruang BP, kalian akan saya hukum seberat-beratnya!"


Kauki memandang Kim dan dua temannya, entah kenapa dia ngerasa bersalah. Sebelum bu Yati membawa mereka, Kauki buru-buru mencegah.


"Em.. Bu Yati!"


"Kenapa?"


"Sa-saya sebenernya tadi hampir matahin tangan Kim."


Bu Yati mengerutkan kening. "Kenapa kamu melakukan itu?"


"Ya soalnya Kim mau nyiksa saya, ya udah saya lawan."


"Kamu melakukan hal yang wajar kok, Kauki. Jadi kamu tidak akan saya hukum."


"Tapi, Bu, bagaimana pun saya udah melanggar salah satu peraturan sekolah. Saya juga udah nyakitin Kim, hukum saya ya, Bu, please.." Kauki ngeliat Kim CS. "Kim maafin gue ya tadi udah bikin tangan lo sakit," ucapnya tulus.


Kim tertegun, ngerasa tersentuh sekaligus ngerasa bersalah. Tapi karena gengsi, cewek angkuh itu pun cuma mengangguk kaku.


Bu Yati terdiam sejenak.


"Ya sudah, kamu saya hukum lari keliling lapangan sebanyak lima kali. Setelah itu kamu masuk kelas," suruh bu Yati.


Kauki tersenyum sumringah memunculkan satu lesung pipi.


"Oke deh kalo gitu." Kauki mencium tangan bu Yati kemudian ngacir menuju lapangan sementara bu Yati ke ruang BP untuk menghukum tiga siswi di belakangnya.


Gak jauh dari sana, Nando menyaksikan semuanya. Dia tadinya mau ke perpustakaan buat ngambil buku paket, tapi Nando sengaja berhenti dan mengamati kejadian barusan.


Dan ngeliat sikap Kauki tadi bikinΒ  Nando ngerasa kagum terhadap gadis berambut panjang itu. Dilihatnya Kauki yang tengah berlari di lapangan. Seulas senyum terukir di bibir cowok manis itu.


Gak lama kemudian Nando melangkahkan kakinya menuju kantin, berniat ngasih hadiah atas kebaikan Kauki.


Sementara itu, Kauki baru aja menyelasaikan hukumannya. Gadis berdarah Jepang Spanyol itu duduk di kursi panjang yang ada di lorong sekolah, mengusap keringat yang membanjiri seragam sekolahnya.


"Eh!"


Kauki tersentak ketika botol minuman muncul di depan mukanya. Dia mendongak dan mendapati Nando yang tersenyum padanya.


"Nando?"


"Buat gue?"


"Iya."


Kauki menerimanya ragu-ragu. "Thanks," ucapnya kemudian membuka minuman dari Nando.


Sambil menempatkan diri di samping Kauki, Nando membuka percakapan.


"Kamu kenapa malah minta dihukum?"


Kauki mengerutkan kening. "Kok lo tau?"


Nando menunduk agak malu. "Maaf, tadi aku nguping pembicaraan kamu sama bu Yati."


"Oh.." Kauki manggut-manggut. "Gue cuma.. gimana ya, gue emang ngelakuin hal yang wajar-melindungi diri dari bully-an Kim. Tapi menurut gue, gue tetep salah, karena selain udah bikin tangan Kim sakit, gue juga ngelanggar peraturan sekolah-berantem di sekolah. Dan karena gue nggak mau ngerasa bersalah, jadi ya udah, gue minta hukuman aja."


"Tapi kamu kan cuma melindungi diri kamu dari bully-annya Kim. Kamu nggak salah."


"Tapi gue tetep salah karena nyakitin Kim. Dan gue enggak bisa tidur nyenyak kalo enggak minta hukuman tadi," jelas Kauki bijak.


Mendengar jawaban Kauki, Nando makin kagum pada gadis di depannya, ternyata selain ramah, Kauki juga orang yang bertanggung jawab.


"Hati kamu secantik paras kamu," puji Nando tulus tanpa ragu.


Kauki mengulum senyum, merasa tersipu dengan pujian Nando. Ditambah tatapan kagum Nando bikin Kauki salah tingkah.


"Gue cuma mengamalkan apa yang orangtua gue ajarkan," ujar Kauki. "Oh iya, elo kok enggak masuk?"


"Aku tadinya mau ke perpus, Pak Dimas nyuruh aku ngambil buku."


"Sama gue aja kalo gitu."


"Eh, nggak usah. Kamu balik ke kelas aja duluan, kan kamu habis dihukum, pasti capek."


"Udah nggak apa-apa. Lagian lo kan juga udah ngasih gue aer minum." Kauki mengangkat botol minumnya sambil tersenyum lebar.


Nando gak bisa nolak ketika Kauki udah narik tangannya buat berdiri.


"Ya udah, deh."


Dan keduanya pergi ke perpustakaan buat ngambil buku sambil ngobrol.


🍁🍁🍁


Maura hanya bisa terdiam membeku saat Tristan memijit kakinya. Sebenernya Maura deg-degan setengah mati, dia seneng, tapi begitu ngeliat tatapan tajam Tristan Maura langsung takut.


Tatapan Tristan seolah mengingatkan Maura atas kesalahannya pada pria itu. Membuat Maura merasa bersalah.


"Sudah selesai. Saya mau kembali ke ruangan saya. Kalau kaki kamu masih sakit, lebih baik kamu pulang saja," ucap Tristan hendak beranjak.


"Tristan!" sergah Maura. Sadar kalau dirinya gak sopan, Maura segera meralat, "M-maksud saya, Pak Tristan. Terima kasih sudah menolong saya."


Tristan tak langsung membalas, tatapannya datar-datar aja. Dan tanpa mengucapkan apapun, pria jangkung itu melenggang pergi begitu saja.


Maura tertunduk, helaan napas berat keluar dari mulutnya.


"Ternyata kamu masih benci sama aku, Tristan."


Maura kira, sikap Tristan tadi bentuk perhatian dari pria itu. Tapi ternyata dia salah.


"Maafin aku, Tristan, aku memang wanita yang bodoh," gumam Maura lirih.


🍁🍁🍁


Kauki sama Alpha lagi nyanyiin lagu favorit mereka, 'Pillowtalk' milik Zayn Malik. Mereka nyanyi sambil main piano milik Kauki.


"So we'll piss off the neighbours..


In the place that feels the tears,


the place to lose your fears..


Yeah, reckless behavior.


A place that is so pure, so dirty and raw.


In the bed all day, bed all day, bed all day.."


Di lirik berikutnya, Alpha dan Kauki nyebutin kata yang berbeda.

__ADS_1


Alpha 'Fuc*in you' sedangkan Kauki, 'Lovin you'.


Menyadari itu, keduanya saling melempar pandangan, abis itu nyanyi lagi. Tapi kali ini liriknya ketuker. Alpha nyebut 'Lovin you' sementara Kauki 'Fuc*in you'.


"Ih, Alpha! Yang bener, dong!" dengus Kauki sewot.


"Ya elo kenapa 'lovin you'?"


"Karena kalo 'fuckin you' terlalu vulgar. Kita kan masih sekolah."


"Tapi di lagu orinya kan 'fuckin you'." Alpha gak mau kalah.


Alpha dan Kauki saling memicingkan mata, makin memicing sampe mata keduanya merem. Sedetik kemudian mereka saling ngacak-ngacak rambut satu sama lain


Tristan yang baru pulang kerja, cuma bisa berdecak jengah ngeliat itu, "KALIAN KALO MAU GELUD PINDAH PLANET DULU SANA!!"


Teriakan Tristan bikin dua mahluk kembar tapi gak sedarah itu menoleh. Lantas nyengir berjamaah.


"Ya maap," sahut Alpha. Kauki cuma mencet-mencet tuts pianonya kikuk ngeliat tatapan tajam sang Kakak.


Tristan mendengus pelan kemudian melangkah menuju kamarnya.


"Kak Tristan lagi mens ya, Ki?"


"Iya kali."


"Jadi gimana nih duet kita? Jadi lanjut?"


"Enggak ah, gue capek. Lo pulang gih, udah hampir malem juga."


"Gue mau nginep aja."


"Terserah. Tapi jangan tidur di kamar gue!" ketus Kauki masih inget tragedi petasan akibat ulah Alpha.


Alpha nyengir saat tau isi pikiran Kauki. "Ya udah, gue pulang dulu, mau ngasih tau bunda kalo nginep di sini."


"Hm."


Alpha pergi ke rumahnya sedangkan Kauki menuju kamar Tristan.


🍁🍁🍁


Tristan merebahkan diri ke kasur, meregangkan otot. Cowok itu membuang napas panjang, mengingat kejadian di kantor tadi, membuat ingatan Tristan terlempar jauh ke peristiwa lima tahun yang lalu.


Peristiwa menyakitkan yang membuat Tristan menyimpan benci pada Maura.


5 tahun yang lalu


Hari ini tepat hari jadi Tristan dan Maura yang ke 3, keduanya sudah menjalani hubungan sejak SMA.


Namun setelah lulus SMA, Tristan terpaksa meninggalkan Maura untuk studinya di Spanyol.Β Meskipun begitu, Maura tak keberatan kalau mereka harus LDR.


Dan selama beberapa tahun, akhirnya Tristan pun dapat menyelesaikan studinya.


Tristan merahasiakan kepulangannya untuk membuat kejutan. Tristan berniat melamar Maura.


Dengan membawa bunga dan kotak cincin, Tristan pun datang ke rumah Maura.


Tapi betapa hancurnya perasaan Tristan saat mendapati Maura yang bersandar manja di pelukan orang lain.


"MAURA!"


Maura tersentak, begitu pun cowok yang tadi dipeluknya.


"T-Tristan.." desisnya.


"Are you cheating on me?"


"Tristan, aku bisa jelasin-"


"Jadi begini kelakuan kamu selama kita jauh?"


"Oke, oke, aku ngaku!" Maura mengangkat kedua tangannya menyerah, "Iya, aku emang selingkuh. Aku ngelakuin ini karena aku nggak kuat LDR-an sama kamu, Tristan. Aku butuh seseorang buat aku peluk, aku butuh seseorang buat selalu nemenin aku. Dan dua tahun dengan jarak yang jauh bikin aku gak kuat."


"Tapi kenapa harus selingkuh, Maura!"


"Karena aku tau kamu juga selingkuh. Dua tahun di Spanyol bukannya gak mungkin kan kamu nggak selingkuh. Di sana banyak cewek-cewek cantik dan sexy. Mustahil kamu gak tergoda!"


"Apa? Heh, kamu jangan nuduh aku untuk menutupi kesalahan kamu. Kamu liat ini," Tristan menunjukkan kotak berisi cincin, "Ini bukti keseriusan aku. Kalo aku tergoda sama perempuan lain di sana, mana mungkin aku balik ke sini dan ngasih ini semua ke kamu!"


Maura tercengang melihat cincin berlian itu, cincin yang diberikan untuknya. Tadinya.


"Tadinya aku ke sini untuk meminta kamu jadi yang terakhir. Tapi malah ini yang aku dapat."


"Tristan.."


"Kalo kamu mau kita selesai. Fine, kita selesai!" cetus Tristan final.


Maura membeku, tapi matanya berkaca-kaca, cowok di sampingnya juga cuma bisa terdiam.


Maura ngerasa abis ditampar. Sadar kalau yang dia lakukan ini salah. Rasa menyesal langsung menyergap hatinya, membuat dadanya sesak.


"Tristan..."


"Semoga kamu bahagia," ucap Tristan untuk terakhir kali, sebelum melenggang pergi meninggalkan Maura yang terdiam seribu bahasa.


"Tristan.."


Sayup-sayup Tristan masih bisa mendengar panggilan Maura, tapi dia abaikan. Akhirnya pria itu pergi membawa kepingan hatinya yang hancur.


Tristan menggelengkan kepala, mengusir bayangan masa lalunya yang pahit itu.


Jujur, Tristan sedikit menyesali keputusannya menerima Maura di perusahaannya. Tapi semua udah terjadi.


Tristan menghela napas menyentuh dadanya. Di sana, di dalam hatinya, luka yang hampir kering kembali menganga karena pertemuannya dengan Maura.


🍁🍁🍁


Kauki memasuki kamar Tristan yang terbuka. Dilihatnya sang kakak tengah berbaring sambil ngeliat langit-langit.


Kauki tersenyum jahil, kemudian menjatuhkan diri di atas tubuh kakaknya.


"Aduh! Deek.." Tristan meringis sedangkan Kauki terkekeh dan bergeser ke samping.


"Kak Tristan ngapa, dah? Ngelamun mulu. Gak baik tau," ujar Kauki.


Tristan mengelus kepala adiknya, "Gak apa-apa, Kakak cuma capek."


Hening, Kauki anteng main game di hpnya sementara Tristan cuma mengamati adeknya yang kini sudah tumbuh menjadi gadis remaja.


"Kamu cepet banget gedenya sih, Dek. Perasaan baru kemarin Kakak nganterin kamu masuk TK."


Mendengar ucapan Tristan, Kauki jadi ikut mengenang. Walaupun dulu dia masih kecil, tapi Kauki inget banget, dari dulu emang Tristan yang selalu nemenin dia.


Ngasuh Kauki dari bayi, nemenin Kauki masuk sekolah, ngajarin Kauki banyak hal. Tristan bukan cuma kakak buat Kauki, tapi juga sosok ayah.


Dan perihal sosok ayah, daddy Kauki emang gak tinggal di Indonesia, beliau ngurus perusahaan mereka di Spanyol dengan ditemani mommy Kauki. Orangtua Kauki dan Tristan cuma pulang tiga kali setahun.


"Semua yang lahir itu pasti bakal tumbuh dan berkembang, Kak Tristan," sahut Kauki meletakkan hpnya.


"Iya, tapi kamu kecepatan gedenya."


"Terus Kakak maunya aku kecil terus gitu? Jadi bayi terus."


"Iya."


"Biar apa?"


"Biar bisa dipeluk kayak gini." Tristan meluk Kauki kenceng membuat adeknya itu memekik.


"Engap ih, Kak!" dengus Kauki, Tristan terkekeh.


Tristan bersyukur memiliki Kauki yang selalu bisa jadi obat penghilang rasa sakit dan lelahnya.


"Aduh aduuh.. Asik banget yang pelukan. Ikut dong.." Alpha dateng dan langsung menjatuhkan diri di tengah-tengah dua kakak beradik itu.


Tristan menjewer Alpha ketika cowok itu memeluk adeknya sedangkan posisi mereka ada di atas kasur.


"Modus aja lu bocah!"


"Apa sih, Kak. Gue kan udah biasa meluk Kauki. Dulu bukannya lo seneng ya ngeliat kita pelukan, kata lo kita kayak anak kembar," celetuk Alpha mendapat toyoran di kepalanya dari Kauki.


"Dulu itu kalian masih kecil, kalo sekarang kan beda. Udah tumbuh bulu-bulu sembrawut di ketek lo."


"Sembarangan!"


Kauki jengah ngedengerin ocehan Tristan serta Alpha. "Udah ah, gue mau balik ke kamar."


"Eh, gue ikut, Ki." Alpha hendak beranjak.


"Enak aja. Lo sama gue!" sergah Tristan mengapit Alpha di ketiaknya.


"Jangan peluk-peluk! Dasar Kak Tristan maho, manusia homo!"


Kauki cuma geleng kepala ngeliat tingkah abang dan sohibnya. Sementara Tristan tampak tertawa puas ngeliat muka tersiksa Alpha.

__ADS_1


Walaupun Alpha bukan adik kandungnya, tapi Alpha udah Tristan anggap adiknya sendiri.


🍁🍁🍁


__ADS_2