
Kauki meringis nyeri ketika menerima suapan dari bunda Mia. Ini udah hampir seminggu Kauki di rumah sakit, dengan bunda Mia sebagai perawatnya.
Wanita paruh baya itu heboh saat mendengar Kauki masuk rumah sakit. Bunda Mia jejeritan ngeliat banyak luka di wajah Kauki, padahal saat itu kondisi Kauki udah rada mendingan.
"Udah ah, Bunda."
"Sedikit lagi, Sayang."
"Mm.. Udah, enek," rengek Kauki yang emang udah ngerasa enek.
Bunda Mia menghela nafas pasrah.
"Kauki kan baru makan tiga suap. Emang kenyang?"
"Makanannya gak enak, Bunda, tawar."
"Ya namanya juga makanan rumah sakit."
"Kauki nggak suka di sini, Bun. Bau obat." Kauki mengernyit gak nyaman, rumah sakit adalah tempat yang paling dia benci di seluruh dunia.
Bunda mengelus rambut panjang Kauki yang tersisir rapi.
"Sabar ya, Sayang. Kata dokter besok kan Kauki udah boleh pulang," hibur bunda.
"Bundaa.."
"Apa, Sayang?"
"Aku kangen bakso sekolah."
"Makanya cepet sembuh biar bisa sekolah terus makan bakso lagi."
"Tapi kan Kauki udah sembuh, Bun."
"Nggak, Kauki belum boleh sekolah sebelum luka-luka di muka Kauki ilang. Emang Kauki mau, ke sekolah dengan muka bonyok kayak gitu?" Bunda menunjuk muka Kauki yang penuh luka lebam. Ya walau pun lukanya udah agak pudar.
Kauki cuma bisa manyun, dia beneran kangen sama sekolah. Kangen Cia, Viral, Nando, Al.. ehh, nggak deng, dia kan lagi marah sama Alpha.
"Oh iya, Alpha kok gak pernah ke sini sih, Ki?" tanya bunda polos.
Bunda belum tau masalah Kauki sama Alpha. Kauki nggak mau kalo bunda Mia ikut nyalahin Alpha. Sekesel-keselnya Kauki sama Alpha, dia masih punya rasa kasian.
"Em.. sibuk kali, Bun, sama tugas sekolah."
"Nah iya, ngomong-ngomong sekolah, Alpha tuh kayak nggak semangat gitu deh, Ki, ke sekolah. Makan juga jarang, maunya di kamaaar mulu. Mungkin karena kamu nggak ada kali ya, jadi nggak semangat, kamu kan kembarannya," kekeh bunda.
Kauki cuma tersenyum paksa. Sebenernya males kalo ngomongin Alpha. Dia masih kesel sama Alpha.
Pintu terbuka memunculkan Nando, Kauki tersenyum cerah sedangkan bunda yang gak kenal Nando mengerutkan keningnya.
"Hai, Kauki.."
"Hai, Nando. Sini masuk."
Nando masuk dengan bingkisan buah.
"Halo, Tante.." Nando menyapa bunda Mia dan menyalimi wanita itu dengan sopan.
"Halo," balas bunda bingung. "Siapa, ya?"
"Saya Nando, temennya Kauki."
"Oh.. kirain pacarnya Kauki," kata bunda kemudian melirik Kauki.
"Apa deh, Bunda."
Bunda terkekeh. "Saya Mia, Bundanya Alpha."
"Oh.. Saya kira bundanya Kauki."
"Hehe.. Kauki udah kayak anak saya, kok. Emang kalo bundanya Kauki kenapa? Mau minta restu, ya?" goda bunda merangkul Kauki yang menunjukkan muka jengahnya.
Nando cuma senyum kikuk sambil garuk-garuk. Malu.
"Ya udah, Bunda keluar dulu ya, Nak. Nanti ke sini lagi."
"Iya, Bun."
"Nak Nando, jagain Kauki ya."
"Iya, Tante."
Bunda Mia senyum kemudian membiarkan dua remaja itu sendiri.
"Gimana keadaan kamu, Ki?"
"Aku udah mendingan kok." Kauki ngasih senyum sehatnya.
"Tadi Cia nitip salam buat kamu, dia minta maaf karena belum bisa jenguk kamu."
"Aku ngerti kok, dia udah jadi youtuber terkenal di Indonesia, pasti sibuk ngurusin ini itu buat karirnya."
"Oh iya, Viral juga katanya mau ke sini. Temen-temen kamu itu kangen banget sama kamu."
"Terus?"
"Terus?" Nando mengerutkan keningnya.
"Iya, terus, ada lagi nggak yang kangen sama aku?"
"Mm.. siapa?"
"Ya siapa gitu," Kauki muter matanya. "Kalo kamu, kangen juga nggak sama aku?"
Nando mengulum senyum. "Nggak."
Kauki terkekeh. Nando menatap Kauki, seperti ingin menyampaikan sesuatu, tapi cowok beralis tebal itu tampak ragu.
"Kenapa, Nan?"
"Em.. ada salam juga dari Alpha."
Wajah Kauki langsung berubah datar saat Nando menyebut nama yang tak ingin didengarnya.
"Ki, aku kasian deh sama Alpha, dia kayaknya nyesel banget. Alpha jarang ke kantin, dia lebih banyak ngabisin waktunya buat ngelamun di ruang musik. Alpha.. kayak gak punya nyawa, beda saat kamu ada di samping dia. Gak di samping kamu beberapa hari aja udah kayak zombie, apa lagi lebih dari itu. Kayaknya bener kata Alpha, dia gak bisa hidup tanpa kamu."
"Dia bisa hidup tanpa aku, Nan," sela Kauki. "Kalo dia nggak bisa hidup tanpa aku, mungkin sekarang dia udah mati. Udah ah, jangan bahas dia, gak penting."
Hening sejenak, melihat raut tak suka di wajah Kauki membuat Nando merasa bersalah.
"Tapi... aku juga bisa sih hidup tanpa kamu," ujar Nando membuat Kauki menoleh, menatap cowok itu.
"Aku tau."
"Aku bisa hidup tanpa kamu, Kauki. Tapi aku nggak mau.. kalo hidup tanpa kamu," ucap Nando dengan mata menyorot langsung ke manik boneka Kauki.
Kauki terpaku, sudut bibirnya berkedut hingga kemudian membentuk senyuman. Sebuah senyum malu-malu.
Kauki memalingkan wajahnya supaya Nando tak melihat pipi merahnya.
"Kamu ke sini mau jenguk aku apa mau ngegombal?"
"Bukan keduanya."
"Terus?"
"Aku ke sini buat jagain bidadari yang Tuhan kirim buat aku."
"Apaan, sih!"
Nando terkekeh melihat Kauki yang menenggelamkan wajahnya di bantal, melihat Kauki yang tersipu, adalah hal menyenangkan bagi Nando.
πππ
Found you when your heart was broke
I filled your cup until it overflowed
Took it so far to keep you close
I was afraid to leave you on your own
Lagu 'without me' milik Halsey mengalun lembut di kamar bernuansa hitam milik Alpha.
Lelaki berdarah Jerman itu menatap langit-langit, memutar memori beberapa waktu ke belakang.
Kauki, sahabat yang selalu ada buatnya, yang selalu siap bahu saat Alpha butuh. Sahabat yang saat ini kecewa berat padanya.
I said I'd catch you if you fall (fall)
"Kauki, ini kenapa?" tanya Alpha nyentuh pelan luka Kauki. Lebam akibat tonjokan preman yang hampir ngerampok Maura waktu lalu.
"Aduh! Jangan dipegang, sakit!"
"Ya maap."
"Kenapa lo ninggalin gue?" dengus Kauki nahan kesel.
"Sori, Kauki. Gue khawatir sama Maura."
"Iya gue ngerti, tapi bukan berarti lo bisa ninggalin gue gitu aja. Gue emang bisa bela diri, tapi lo harusnya bantuin gue tadi."
"Kauki, gue minta maaf," ucap Alpha. Dia ngerasa bersalah banget apalagi ngeliat luka Kauki. Saat Kauki meringis megangin lukanya, Alpha ikut meringis, seolah bisa ngerasain sakitnya.
Kauki menghela nafas, gak tega juga ngeliat muka nyesel Alpha. Dia emang kesel, tapi dia nggak mau Alpha ngerasa bersalah.
Kauki tersenyum tipis."Ya udah gak apa-apa. Gue ngerti kok. Orang kalo jatuh cinta pasti lupa segalanya."
"Tapi gara-gara gue, lo jadi luka."
"Gak apa-apa, Alpha. Gue cuma luka, gak mati ini kan," ujar Kauki memaksakan senyum. "Udah sekarang lo pulang sana. Gue mau istirahat."
And if they laugh, then **** 'em all
"Badan lo panas!"
"Gue nggak apa-apa."
"Enggak, lo pasti demam. Ayo, sekarang juga lo harus pulang. Lo nggak bisa belajar kalo sakit begini, Ki."
"Peduli lo?"
"Ya iyalah gue peduli. Lo kan sahabat gue."
"Kalo lo peduli, lo nggak bakal biarin gue nunggu lo sampe keujanan kemaren. Kalo lo sahabat gue, lo nggak bakal lupain gue cuma karena Maura!"
Alpha memejamkan matanya, ya Tuhan... gue emang kejam! Maki Alpha dalam hati.
And then I got you off your knees
Kauki yang selalu ngasih Alpha semangat di saat dia mulai pesimis.
"Ki, menurut lo Maura mau nggak ya sama gue? Usia gue sama dia aja terpaut 9 taun. Gue takut cuma dianggep bocah sama dia."
"Yang terpenting lo harus dapetin hatinya dulu. Karena kalo Kak Maura udah cinta sama lo, usia gak jadi masalah. Yang penting sekarang lo semangat berusaha." Kauki nepuk pundak Alpha, ngasih semangat lewat senyum manisnya.
Ngeliat senyum Kauki membuat Alpha semangat.
"Lo bener, gue harus bikin dia buta karena cinta yang gue kasih."
"Gitu dong."
Put you right back on your feet
Just so you could take advantage of me
Kauki yang rela ngorbanin apapun demi kepentingan Alpha. Tenaga, usaha, dan waktu yang berharga. Semua Kauki kasih demi sahabatnya.
"Ki, lo hadapin penculik itu, ya?"
Kauki terbelalak, "Apa? Terus apa gunanya lo di sini?"
"Gue nanti bakal bawa Kak Maura keluar dari sini, dan-"
"Dan lo bakal ninggalin gue, gitu?" tanya Kauki tajam.
Tell me, how's it feel sittin' up there?
Feeling so high, but too far away to hold me
__ADS_1
BUGH!
Bayangan saat Kauki terjatuh akibat pukulan penculik ikut lewat dalam ingatan Alpha. Membuat Alpha meringis karena merasa bersalah.
"Uhuk.. Help me.."
Tatapan sayu Kauki saat merintih meminta tolong, wajah lebamnya, darah di wajah gadis itu, kembali berputar di pikiran Alpha. Dan itu bikin Alpha gak bisa nahan tangisnya.
You know I'm the one who put you up there
Name in the sky, does it ever get lonely?
Thinking you could live without me
Thinking you could live without me
You know, I'm the one who put you up there
I don't know why
Alpha terisak pelan namun pilu.
Alpha sadar apa yang dilakukannya sangat keterlaluan. Gak seharusnya dia membiarkan Kauki terluka hanya untuk kepentingannya.
Tapi bukan berarti Alpha melakukannya dengan sengaja. Dia bahkan gak tau kalau Kauki akan berakhir celaka setiap membantunya. Nggak sama sekali!
Alpha cuma jatuh cinta, apa itu salah? Tapi kalo dia tau dengan dia jatuh cinta sama dengan menyakiti Kauki, Alpha mending gak jatuh cinta sama sekali.
Thinking you could live without me
Live without me
Baby, I'm the one who put you up there
I don't know why
"Gue nggak bisa hidup tanpa lo, Ki. Tanpa lo gue bahkan gak bisa berdiri di atas kaki gue," lirihnya sebelum lelap menenggelamkannya.
πππ
Beberapa hari kemudian, Kauki akhirnya bisa tersenyum gembira bisa keluar dari rumah sakit. Kauki udah balik jadi gadis yang ceria sekarang.
Hari ini Kauki udah bisa berangkat sekolah, meski pun lebam di wajahnya belum hilang sepenuhnya, tapi Kauki berhasil nutupin itu semua dengan make upnya.
Kauki udah nggak bisa nunggu buat sekolah, walau Tristan menyuruhnya istirahat di rumah, Kauki tetep kekeuh dan alhasil sekarang dia berdiri di depan cermin dengan seragam sekolahnya.
Kauki sudah rapi dengan seragam putih abunya, rambut yang diikat dua seperti biasa.
οΏΌ
Sesekali menatap cermin dengan senyum manis, seneng karena pada akhirnya bisa sekolah lagi.
Kauki terdiam, merasa ada yang memperhatikan. Gadis bersurai coklat keemasan itu menolehkan kepala ke samping.
Dan bener aja, di sana ada Alpha yang tengah menatapnya dengan ekspresi tak terbaca. Cowok itu mengenakan seragam yang sama sepertinya, bersiap ke sekolah.
Balkon kamar Kauki dan Alpha terbilang deket, tinggal loncat, baik Alpha maupun Kauki bisa langsung berpindah ke balkon sesama.
"Huh!" Kauki mendengus, matanya berputar malas, mood-nya mendadak buruk ngeliat muka Alpha.
Alpha memberi senyum tapi Kauki malah melengos. Gadis itu mencoba cuek, dia mengambil tas gendong di meja belajar, merasa selesai dengan persiapannya, Kauki melangkah keluar kamar dengan membanting pintu.
Alpha? Cuma bisa menghela napas. Dia tau Kauki masih marah. Alpha tersenyum kecut.
Wajar Kauki marah, gue udah keterlaluan. Batinnya.
πππ
"Maaf, Pak. Bapak manggil saya?" tanya Maura sopan setelah Tristan memanggilnya lewat telpon.
"Ya. Ada yang ingin saya sampaikan pada kamu."
"Em.. Apa itu, Pak."
Tristan menatap Maura sejenak, kemudian berkata. "Kamu saya pecat."
Deg!
Serasa dihantam benda keras. Dada Maura rasanya sesak.
"A-apa, Pak?"
"Kurang jelas? Kamu.. saya.. pecat!"
"Ta-tapi kenapa, Pak?" Maura merasa tak melakukan kesalahan apa pun, lalu kenapa Tristan memecatnya?
"Karena kamu sudah membuat Kauki celaka. Penculikan kamu kemarin, mengakibatkan Kauki kritis di rumah sakit. Dan saya minta, kamu jauhi adik saya, karena saya nggak mau hal kemarin terulang kembali pada adik saya," ucap Tristan tanpa menatap Maura.
Biarin. Biarin aja Maura nganggep dia egois atau apa. Tristan cuma nggak mau Kauki celaka untuk kesekian kalinya. Dan itu gara-gara mantan pacarnya ini.
"Pak.. tapi semua itu kan musibah. Saya juga nggak berharap hal kemarin terjadi."
"Ya, dan karena itulah saya berjaga-jaga mulai dari sekarang."
"Dengan menjauhkan saya dari Kauki? Pak, tolong jangan lakukan itu. Saya bisa terima kalau Bapak memecat saya, tapi saya nggak bisa jika harus menjauhi Kauki, dia sudah seperti adik bagi saya."
"Kalau kamu menganggap Kauki adik kamu, seharusnya kamu yang menjaga dia, bukan dia yang menjaga kamu."
Maura terdiam, ya, memang benar yang dibilang Tristan. seharusnya Maura yang menjaga Kauki, bukan malah sebaliknya. Tapi kemarin adalah kecelakaan dan Maura tidak bisa mencegah.
"Saya juga ingin memberitahu siapa yang akan menggantikan posisi kamu."
Maura menatap Tristan penuh tanya, lelaki itu sudah menyiapkan pengganti? Siapa? Batin Maura bertanya-tanya.
"MASUUK.." seru Tristan kemudian pintu terbuka.
Maura menoleh dan terdiam saat seorang wanita berambut curly masuk.
"Ini Mawar, dia yang akan menggantikan kamu."
Mawar tersenyum, ada seringai di mata wanita itu saat menatap Maura.
"Dan kamu, kamu tidak perlu khawatir, saya akan kirim gaji bulan ini. Sekarang keluar dan jangan pernah muncul di depan saya lagi," ucap Tristan tegas dan itu sukses menyakiti hati Maura.
Terbukti dari mata Maura yang berkaca-kaca, air matanya siap tumpah detik itu juga.
Sebelum meninggalkan ruangan, Maura berbalik dan menatap Tristan tajam.
"Oh iya, karena saya bukan pegawai lagi di sini, itu artinya Bapak bukan bos saya lagi, anda sudah tidak berhak mengatur saya termasuk untuk tetap bersahabat dengan Kauki."
Brakk
Pintu tertutup keras.
Tristan memejamkan matanya seraya membuang napas. Sebenarnya dia nggak tega memecat Maura, tapi ini sudah menjadi keputusannya. Dia cuma ingin menjaga Kauki dari orang-orang yang membuat adiknya itu dalam bahaya.
Dan Maura, adalah salah satu hal yang membuat Kauki celaka. Meski pun itu secara nggak langsung.
Mawar? Wanita itu tersenyum puas. Puas karena tujuannya telah tercapai-naik jabatan.
Sebenarnya Mawar-lah yang menghasut Tristan untuk memecat Maura. Memberi cerita bohong tentang Maura. Dan Tristan yang masih menyimpan rasa benci pada sang mantan pun dengan mudah mempercayai ucapannya.
πππ
Kauki melangkah tergesa-gesa, di belakangnya ada Alpha yang mengejar seraya memanggil namanya.
"Ki.. Kauki, please, berenti dulu. Gue pengen ngomong sama lo."
Kauki nggak nyaut, dia terus jalan menghindari Alpha. Males rasanya harus ketemu Alpha.
Kauki bahkan pindah tempat duduk di samping Nando. Dapet tugas kelompok pun minta pisah dari Alpha.
Sreet..
Alpha berhasil meraih tangan Kauki. Kauki hendak menolak tapi dia keburu tersentak. Kauki kaget karena telapak tangan Alpha dingin.
"Kauki.." Suara Alpha serak karena kecapean ngejar Kauki.
Kauki tak bergeming, dia udah nggak bisa kabur karena sekarang mereka udah di ujung sekolah, di depan ruang musik.
Akhirnya Kauki cuma bisa pasrah ketika berhadapan dengan Alpha.
οΏΌ
"Ki.. Lo masih marah sama gue?"
Nggak ada sahutan dari Kauki membuat Alpha menghela napas.
Tanpa permisi, Alpha memeluk tubuh gadis itu dari belakang. Lembut tapi cukup bikin Kauki mematung.
"Kauki.. sampe kapan kita gini terus? Gue kangen sama lo. Maafin gue, Ki, please.."
Suara bass Alpha melemah, bikin Kauki nggak tega. Tapi lagi-lagi ego Kauki menang, Kauki meyentak pelukan itu hingga terlepas.
"Maaf.. maaf! Gue bosen denger lo ngomong maaf tapi lo ulang terus kesalahan lo. Lo pikir gue ini apa sih, Alpha? Elo anggep gue ini apa?"
"Elo lebih dari sahabat buat gue, Ki. Lo keluarga, saudara, elo hal paling berharga buat gue."
Kauki terkekeh sinis. "Berharga? Kalo gue berharga, elo gak akan numbalin gue buat kepentingan hati lo."
Ucapan Kauki bikin hati Alpha tercubit.
"Gue tau, gue emang bodoh, pengecut," lirih Alpha, dia lalu menatap Kauki sendu. "Tapi, Ki, apa gue salah kalo gue jatuh cinta?"
"Elo nggak salah kalo lo jatuh cinta, Al. Yang salah itu cara lo buat dapetin orang yang lo suka. Kalo lo bener-bener suka sama Kak Maura, harusnya lo pake cara yang nggak ngorbanin siapa pun."
"Gue nggak bermaksud ngorbanin siapa pun, Ki, sumpah. Oke, gue ngaku gue salah, sesalah-salahnya." Alpha nyerah, "Tapi, Ki. Bisa kan kita balik lagi kayak dulu? Gue dan elo, saudara kembar gak sedarah. Sahabat yang gak terpisahkan? Please, Ki. Kasih gue kesempatan, please jangan menghindar dari gue, kita perbaiki persahabatan kita seperti semula."
"Memperbaiki? Kita?" Kauki terkekeh sinis. "Satu-satunya hal yang harus diperbaiki di sini itu elo, Alpha. Bukan kita," tandas Kauki.
Pada saat itu bel berbunyi, mengalihkan perhatian Kauki. Gadis itu membuang nafas sejenak kemudian melengos meninggalkan Alpha yang diam seribu bahasa.
Alpha memandang kepergian Kauki sendu. Bener kata Kauki, bukan persahabatan mereka yang harus diperbaiki, melainkan diri Alpha sendiri.
"Maafin gue.." ucap Alpha lemah.
Cowok itu meringis ketika kembali merasa sakit di kepalanya. Sebenernya Alpha kurang enak badan dari semalem, tapi Alpha maksa buat sekolah dan nemuin Kauki.
Kalo di rumah agak susah buat ketemu Kauki, karena Tristan yang masih marah sama Alpha melarang cowok itu berdekatan dengan Kauki, walau cuma satu senti.
"Mmh.." Alpha kembali meringis saat rasa pusing di kepalanya makin menjadi. Tapi Alpha mencoba bertahan.
πππ
Tapi besoknya, Alpha beneran tumbang. Cowok itu terserang demam tinggi, dan sekarang Alpha tengah berbaring meringkuk di atas kasurnya dengan selimut menutupi seluruh tubuh.
Bunda Mia yang ngeliat anaknya masih tiduran awalnya ngomel-ngomel. Tapi begitu tau kalo ternyata Alpha sakit, wanita itu kontan panik dan segera memanggil dokter pribadinya.
"Gimana kondisi Alpha, Dok?"
"Alpha terserang demam tinggi, tubuhnya lemas karena kekurangan asupan. Tensi darahnya juga menurun."
"Alpha emang jarang makan akhir-akhir ini."
"Ini resep obatnya. Usahakan supaya Alpha mengkonsumsi makanan bervitamin dan jangan terlalu capek. Dan kalau panasnya belum turun, lebih baik dibawa ke rumah sakit."
"Iya, makasih, Dok."
Setelah dokter pergi, bunda masih panik, karena suhu badan Alpha masih panas.
"Bundaa.." panggil Alpha lirih.
"Kenapa, Sayang?"
"Kepala Alpha sakit."
Duh, bunda bingung sendiri, dia mau beli obat buat Alpha, tapi masa iya ninggalin Alpha sendiri. Mau nyuruh supir, supirnya kan lagi libur karena weekend. Tapi kalo nggak beli, Alpha gak bisa minum obat dong.
"Bun.."
"Iya?"
"Kauki... suruh ke sini."
Nah! Bener juga. Seru bunda dalam hati. Bunda mengangguk lalu menelpon Kauki.
Bunda menunggu dengan kalut sambil sesekali mengusap kepala Alpha.
"Halo?"
__ADS_1
Bunda lega saat panggilannya diangkat. "Halo, Kauki. Bisa ke rumah Bunda, Nak?"
"Kenapa, Bunda?"
"Alpha sakit."
πππ
Deg.
"Alpha sakit?"
"Iya, Sayang."
Gimana nih? Gue kan lagi marah sama Alpha. Masa iya gue nyamperin ke sana. Pikir Kauki.
"Em.. tapi, Bun. Kauki lagi di rumah temen."
"Tolong dong, Sayang. Bunda mau beli obat Alpha, sebentar aja," pinta bunda Mia memelas, Kauki jadi gak bisa nolak.
Kauki berdecak gak ikhlas, kemudian menjawab.
"I..ya, Bunda."
Di rumahnya, Bunda tersenyum lega.
"Makasih, Nak. Bunda tunggu ya, Sayang."
Kauki menutup telponnya dengan muka melas. Cia yang berada di sampingnya langsung bertanya.
"Kenapa, Ki?"
"Bundanya Alpha nyuruh gue ke rumahnya."
"Emang ada apa?"
"Alpha sakit."
"Sakit?" Cia membelalak. "Ya udah, sekarang kamoh ke sana, kasian pasti bundanya Alpha lagi repot."
"Gak apa-apa, nih?"
"Nggak apa-apa. Lagian videonya kan tinggal diedit aja," ujar Cia, mereka emang abis syuting videoΒ buat kontennya Cia.
"Ya udah, gue balik ya. Maaf nih gak bisa bantu."
"Ya ampun, Kauki, kamoh kan udah bantu akoh syuting tadi," kata Cia dengan senyuman.
πππ
Ting tung!
Bel rumah Alpha berbunyi, bunda Mia yang lagi nyuapin Alpha langsung menghentikan aktivitasnya.
"Bentar ya, Al. Bunda mau ngebukain pintu dulu. Siapa tau itu Kauki," pamit bunda yang mendapat anggukan lemah Alpha.
Kauki cuma berdiri di depan pintu. Agak nyesel karena menyetujui permintaan bunda buat ke sini. Mau balik ke rumah ragu. Kasian juga kalo dia nggak dateng, bunda pasti kerepotan. Tapi... Kauki tuh males ketemu Alpha!
"Eh, Kauki.."
Saking sibuk mikir, Kauki nggak sadar kalo pintu udah dibuka sama bunda Mia. Kauki tersenyum tipis membalas sapaan bunda.
"Masuk yuk, Alpha udah nungguin kamu dari tadi," ucap bunda.
Kauki nggak bisa nolak saat bunda Mia narik tangannya buat masuk, Kauki dibawa ke kamar Alpha dan sesampainya di sana, Kauki bisa ngeliat sohib oroknya tengah dibencinya itu meringkuk di balik selimut.
"Alpha, liat nih Bunda bawa siapa."
Alpha membuka matanya perlahan, kemudian tersenyum saat ngeliat Kauki.
"Hai, Alpha," sapa Kauki seolah nggak ada masalah di antara mereka.
"Hai, Ki," balas Alpha dengan senyum lega, karena dia pikir Kauki udah nggak marah sama dia.
"Kalian Bunda tinggal dulu sebentar ya, Bunda mau ke apotek beli obatnya Alpha. Kauki, jagain Alpha dulu ya, Sayang."
Kauki ngangguk. "Iya, Bun."
Alpha yang tadinya seneng langsung sedih, karena dia pikir Kauki udah nggak marah. Tapi semua itu berubah ketika bunda pamit, senyum ramah di wajah Kauki luntur seketika.
"Kauki.." Kauki ngelirik Alpha. "Duduk sini," ajak Alpha menepuk tempat kosong di sampingnya.
Tapi Kauki malah duduk di tempat lain, Alpha cuma bisa menghela napas, Kauki masih marah.
Setelah itu cuma ada keheningan, Kauki males kalo harus ngomong duluan sedangkan Alpha bingung mau ngomong apa.
Kauki membuang napas, bosen diem-dieman terus.
"Sakit apa lo?"
Alpha lega saat Kauki buka suara.
"Cuma demam," jawabnya serak. "Kauki.."
Kauki nggak nyaut.
"Tolong ambilin minum, gue aus."
"Ambil sendiri."
Kauki ngeliatin Alpha yang susah payah ngambil minum, bikin Kauki nggak tega dan akhirnya bangkit buat ngebantu Alpha.
"Makasih." Alpha ngasih senyum tulusnya.
Kauki nyimpen gelas ke tempat semula saat Alpha menyerahkannya.
Grepp!
Tanpa diduga, Alpha bangkit dan memeluk Kauki. Gadis bermata coklat terang itu kaget, lalu mencoba melepaskan lengan Alpha di perutnya, wajah lelaki itu berada di ceruk lehernya.
"Alpha apaan sih!"
"Please, Ki.. Sebentar aja. Gue kangen sama lo," bisik Alpha.
Kauki membeku, jujur, dia juga kangen sama Alpha. Kauki kangen saat-saat bersama sohibnya ini. Kangen becanda bareng, curhat, seru-seruan, Kauki kangen itu.
Gak lama kemudian Kauki ngerasa sesuatu yang basah mengenai lehernya, gadis itu mengerutkan kening.
"Al..pha?"
Alpha gak menjawab, cowok itu terisak. Dia ngerasa sakit, bukan karena demam, Alpha sakit karena sikap dingin Kauki. Alpha nggak suka Kauki nyuekin dia, Alpha sedih karena Kauki ngejauhin dia.
"Gue tau gue salah, gue tau gue ****, gue nggak pantas jadi sahabat lo. Tapi, Ki, gue nggak bisa jauh dari lo, gue nggak tahan. Gue rela dibenci seluruh dunia asal jangan lo, Ki. Pleasee.. Maafin gue, Ki, maaf..." isak Alpha membuat Kauki kaget.
Kauki sebenernya cuma mau ngasih hukuman ke Alpha, supaya cowok itu nggak menyepelekannya. Dan ternyata cowok itu lebih dari sekedar sedih saat Kauki jauhin.
"Alpha kok lo cengeng, sih?" Kauki nyoba ngelepas pelukan mereka, tapi susah. Alpha meluk dia kenceng, Kauki ngerasa dirinya bisa mateng karena nempel sama badan Alpha yang masih panas.
"Alpha, lepasin dulu, badan gue jadi ikutan panas ini woy!"
Alpha nggak ngedengerin omongan Kauki, cowok itu malah mengeratkan pelukannya.
"Al.. Gue nggak bakal maafin lo kalo lo terus meluk gue gini."
Setelah mendengar ucapan Kauki, Alpha langsung ngelepasin pelukannya. Kauki bisa ngeliat muka Alpha yang basah karena air mata.
"Elo beneran mau maafin gue kan, Ki?"
Kauki membuang napas. "Iya!"
Alpha langsung tersenyum lebar dengan muka sayunya. Maaf dari Kauki udah kayak obat manjur buat dia. Seketika bikin Alpha merasa sehat.
Dipeluknya Kauki, lagi.
"Makasih, Kauki, makasih.."
"Alpha, ya Tuhan.." suara Kauki tertahan akibat pelukan Alpha.
Alpha kontan melepas pelukannya saat denger napas Kauki yang ngos-ngosan.
"Sori, Kauki. Gue seneng."
"Seneng lo bikin gue sesek napas!"
"Hehe.. Nggak gitu."
Kauki cuma mendengus.
"Kauki.."
"Apa?"
"Jangan diemin gue lagi, jangan jauhin gue, dan jangan musuhin gue lagi," ucap Alpha serius.
"Asalkan lo nggak bikin gue kecewa, gue nggak bakal ngelakuin itu semua kok, Alpha. Gue cuma bales apa yang lo kasih. Lo kasih gue kebaikan, gue bales kebaikan. Lo ngecewain gue, itu juga yang bakal gue lakuin ke elo," tutur Kauki.
---
"Ki.."
"Hm?"
"Jangan maen hp terus, gue nggak mau dicuekin lagi," rengek Alpha.
Beberapa menit yang lalu mereka udah baikan, bikin Alpha lega luar biasa.
"Gue lagi bales pesannya Kak Tristan. Tidur gih sono, elo kan lagi sakit, harus banyak istirahat."
"Gue bakal tidur, asal nyanyiin."
Kauki ngelirik Alpha singkat. "Lo mau rumah lo ancur kalo gue nyanyi?"
"Enggak bakalan ancur, Kaukiii.. Udah ayo nyanyiin."
Kauki berdecak. "Nyanyi apa?" tanyanya gak ikhlas.
"Nina bobo."
"Ya udah lo tidur," ucap Kauki ngedorong Alpha supaya tiduran. Tapi Kauki ngedorongnya kekencengan.
Brukk!
Membuat Alpha meringis.
"Pelan-pelan dong, Ki."
"Sori." kata Kauki, cewek itu menarik napas sejenak, kemudian mulai bernyanyi. "Nina bobo.. Oh Nina bob-"
"Aaah.. Nggak mau, nama gue kan bukan Nina!" protes Alpha sembari bangun dari posisi tidurnya.
Kauki kembali mendengus dan mengubah lirik lagunya sesuai permintaan Alpha.
"Alpha bobo.. Oh Alpha bobo.." Alpha tersenyum girang lalu menyenderkan kepalanya di bahu Kauki dan mulai memejamkan mata.
"Bobolah bobo, selama-lamanya.."
Jreng!!
Mata Alpha langsung terbuka lagi, dia langsung memberi tatapan protes saat mendengar bait terakhir lagu yang Kauki nyanyiin.
"APA?"
"Apa?" beo Kauki watados.
"Lirik yang terakhir gak ngenakin banget, sih! Lo ngedoain gue mati?"
"Nggak."
"Lah itu buktinya, 'boboklah bobo selama-lamanya...',"
"Eh, mangkok soto, maksud gue 'bobok selama-lamanya' itu ya elo tidurnya yang lama, orang sakit kan harus banyak istirahat. Negatif thinking mulu lo sama gue."
"Ya abis makna dari lirik lo tadi kayak ngedoain gue mati."
"Ya sebenarnya sih iya juga, ahaha."
"Kaukiiii!!!"
πππ
__ADS_1