Back To Ya

Back To Ya
Bab 16


__ADS_3

Sebuah taksi online berhenti di depan rumah Maura, memunculkan Kauki yang membawa bingkisan buah-buahan.


Semalem Kauki dapat kabar dari kakaknya kalo Maura sakit sepulangnya dari Ausy. Dan gadis itu pun berniat menjenguk Maura.


Kauki tiba di teras rumah Maura, gadis itu hampir mengetuk pintu tapi urung karena ngeliat tubuh lelaki yang memunggunginya, keliatan kayak lagi nyium Maura.


"Iew.. Alpha.." Kauki bergidik mengira bahwa cowok yang ciuman sama Maura adalah Alpha.


Kauki berbalik hendak pergi, tapi saat itu juga dirinya ngeliat Alpha turun dari mobilnya.


"Loh?!"


Kauki cengo. Kalo itu Alpha, terus yang ciuman sama Maura tadi siapa?


Secepat kilat gadis itu kembali nongol ke kaca, matanya membulat syok. saat wajah lelaki di depan Maura terlihat.


"Kak Tristan?!"


Alpha mengangkat alisnya ngeliat Kauki berdiri sambil ngintip-ngintip di depan jendela.


"Kauki?"


Kauki tersentak, matanya membelalak saat Alpha berdiri di depannya. Alpha pasti mau jengukin Maura, tapi Kauki bingung, masa iya dia ngebiarin Alpha ngeliat Maura lagi selingkuh. Sama kakaknya pula! Kan kasian Alpha.


"Eh, Alpha.. hehe.. Lo ngapain di sini?"


Alpha agak heran ngeliat Kauki senyum-senyum padanya, Kauki udah gak marah sama gue? Pikirnya. Tapi kalo udah, ya syukur. Batinnya senang.


Alpha tersenyum. "Gue mau jenguk Maura."


Tuh kan!


"Aa Em.. Kak Maura ya?"


"Iya."


"Dia nggak ada."


"Ke mana?"


"I dunno."


"Oh.. Terus, itu lo bawa buah-buahan buat siapa?"


"Buat Kak Maura."


"Mauranya ada?"


"Iih.. Udah dibilang gak ada!"


"Ke mana?"


"Em.. Ng.. She.. She went to the office."


"It's sunday."


"She's fishing."


"No, she's not."


"She's playing the snow."


"It's summer, Kauki. Lagian di Indonesia mana ada salju." Alpha menatap Kauki penuh selidik. "Ada yang lo sembunyiin dari gue, ya?"


"Nope!" jawab Kauki cepet.


"Kalo gitu biarin gue masuk dan mastiin keberadaan Maura-"


"NO!" Kauki langsung pasang badan di depan pintu, ngehalangin Alpha. "Da-dari pada lo masuk, mending peluk gue."


"Ha?" Alpha nahan senyum. Itu penawaran yang menarik, tapi Alpha pengen masuk. Dia tau Kauki lagi nyembunyiin sesuatu. "Oke, kita pelukan setelah gue jenguk Maura."


"NO, Alpha! Sebegitu pentingnya Kak Maura sampe lo nolak pelukan gue?"


Alis Alpha bertaut, "Elo kenapa, sih? Bukannya lo lagi marah sama gue, ya?"


Mendengar ucapan Alpha, Kauki langsung inget. Cewek itu meringis. Kauki ****!


"Mmm.."


"Kauki? Jawab jujur, Maura ke mana?"


"Eee.. She went to the mall."


"Tapi dia lagi sakit, Kauki."


"Oke, oke! Dia lagi berjemur di pantai."


"Kauki.."


"Dia lagi dagang cimin."


"No."


"She's died!" Kauki kehabisan alasan.


"What?"


"She's cheating on you!!"


Ups! Kauki langsung nutup mulutnya karena keceplosan. Sedangkan Alpha udah bersiap membuka pintu, tapi sebelum itu terjadi, Kauki buru-buru naro bingkisan buahnya di meja lalu menerjang cowok itu hingga keduanya terjatuh di lantai.


"Akh!"


"Aww!"


Kauki dan Alpha terpaku saat mata mereka bertemu, nafas mereka tersengal. Hingga mata Alpha berpindah ke satu titik, Alpha meneguk ludahnya seret.


"Kauki."


"Ya?"


"Belahan dada lo keliatan."

__ADS_1


Terkesiap. Mata Kauki membulat, dia ngeliat ke bagian dadanya kemudian ke arah Alpha.


Plak!


Kauki segera bangun dan ngebenerin bajunya. Dia hari ini emang pake baju yang agak terbuka.


ļæ¼


Alpha ngelus pipinya yang kena tabok Kauki, lalu ikut bangun dan ngebenerin penampilannya.


"Eh, tadi lo bilang apa? Maura selingkuh?"


Kauki menggeleng keras, "E-enggak! Enggak!"


"Minggir, Ki, gue mau masuk." Nada bicara Alpha mulai datar.


"Alpha, no!"


"Kauki, kalo lo nggak nyembunyiin sesuatu, elo pasti ngebiarin gue masuk."


"What do you mean, i'm not hiding anything-- whoaa.." Kauki dengan santainya menyandarkan lengannya ke pintu, tapi ternyata pintu gak kekunci.


Gadis itu hampir jatuh ke lantai kalo aja Alpha gak segera menahan tubuhnya.


Dan hal itu kontan membuat kedua orang di dalam tampak terkejut dan melepas pelukan mereka. Kauki menutup mulutnya, terkesiap.


"Oh my God.." cicitnya.


Alpha masih mematung, sedangkan Maura tersentak.


"A-Alpha.."


"Maura.. Kak Tristan.."


Alpha segera berbalik untuk meminta penjelasan sama Kauki, Jadi ini yang lo sembunyiin dari gue?! Tadinya mau ngomong gitu, tapi yang ada cuma bingkisan buah Kauki di lantai, Kaukinya ngilang.


"Get well soon, Kak Maura!!" teriak Kauki sambil ngibrit, dia nggak mau terlibat dalam masalah setelah ini.


Lelaki berdarah Jerman itu menatap Maura dengan tampang datar, meminta penjelasan.


Maura menghela napas, dia ngeliat ke Tristan yang tampak bingung. Mungkin sudah waktunya. Batin Maura.


"Alpha.. Aku bisa jelasin."


Alpha mengangguk dengan wajah santainya. Agak heran juga sama dirinya sendiri. Waktu ngeliat Tristan dan Maura, entah kenapa rasanya biasa aja. Hatinya baik-baik aja. Aneh!


Harusnya dia sakit hati, heloo Maura nyelingkuhin lo, man! Tapi ini adem ayem aja berasa di pantai.


"Aku sebenernya masih cinta sama Tristan. Aku tau aku salah, harusnya aku bilang ini juga sama kamu, Tristan. Aku sama Alpha sebenernya.. pacaran."


"Apa?" Tristan kaget, dia baru tau hal ini.


Pria itu hendak membuka suara, tapi Maura buru-buru menjelaskan.


"Tapi.. ternyata aku gak cinta sama Alpha. Aku emang nyaman sama Alpha, tapi cuma sebagai kakak ke adiknya." Maura menarik nafas. "Aku tau aku jahat tapi aku gak bisa ngebohongin hati aku. Aku masih sayang sama kamu, Tristan," ucapnya membuat Tristan tertegun.


Gadis berambut hitam sebahu itu kembali menatap Alpha penuh sesal.


Alpha manggut-manggut, dia bisa ngerti perasaan Maura. Gak apa-apa, toh Alpha pun gak sakit hati dengernya. Maura mungkin jahat tapi gadis itu udah jujur ke dia. Dan Alpha menghargai itu.


"Kak Maura, gue ke sini juga sebenernya mau ngomongin hubungan kita."


"Aku tau kamu mau ngomong apa, Al. Kamu mau kita putus, kan? Karena kamu juga gak cinta kan sama aku," sela Maura tersenyum.


"Iya. Tadinya gue pikir ini cinta, tapi ternyata, cuma rasa kagum. Gue sadar selama ini gue gak melakukan perjuangan apa pun buat dapetin lo. Gak ada perjuangan, gak ada cinta, kan?"


Maura mengangguk dan tersenyum, merasa lega karena Alpha tak mencintainya.


"Jadi sekarang kita putus kan?"


Maura terkekeh. "Iya, kita putus."


Alpha tersenyum, biasanya putus cinta bikin orang sedih, tapi Alpha justru ngerasa lega. Begitu pun Maura.


Kemudian dia menoleh pada Tristan yang mengerutkan wajahnya. Sepertinya lelaki itu masih belum mengerti dengan apa yang terjadi. Tristan butuh banyak penjelasan dari Maura.


Wanita itu menarik nafas, masalahnya belum selesai dengan Tristan.


Alpha sadar dua manusia di depannya butuh waktu berdua untuk nyelesain masalah. Jadi dia berniat undur diri dari situasi yang lumayan canggung ini.


"Ya udah, kalo gitu gue balik ya. Oh iya, anggap aja kemarin kita gak jadian, karena gak ada cinta, gak ada hubungan," kata Alpha dibarengi senyum. "Oh, satu lagi. Get well soon and longlast ya kalian berdua."


Setelah itu Alpha pergi, dengan perasaan yang lega.


Dan soal Maura dan Tristan ke depannya Alpha udah lepas tangan. Gak mau tau.


šŸšŸšŸ


"Kauki, stop!"


Alpha terus ngejar Kauki di lorong sekolah, sedangkan gadis itu semakin mempercepat langkahnya.


"Kauki.."


"Apa sih, Alpha. Lo mau nanyain kejadian kemarin? Sumpah, gue nggak tau kalo Kak Tristan dan Kak Maura punya hubungan di belakang lo. Gak tau!"


"Kauki, i won't talking about em."


"Terus apa?"


"This is about us."


Kauki menghentikan langkahnya, tanpa mau menoleh.


"There's nothing going on between us," ucap Kauki datar lalu melanjutkan langkahnya memasuki kelas.


Pada saat itu Nando udah nunggu di ambang pintu kelas, lelaki itu tersenyum menyambut Kauki, tapi kemudian alisnya berkerut ngeliat Kauki melewatinya begitu aja, ditambah tampang masam sang pacar.


Kemudian Nando paham apa yang bikin Kauki be-te. Dilihatnya Alpha yang menatap Kauki dengan muka sendu. Nando jadi gak tega.


Dihampirinya sahabat dari pacarnya itu. Menepuk pundak Alpha pelan.


"Sabar ya, Alpha. Kauki mungkin masih butuh waktu buat maafin kamu," ucap Nando.

__ADS_1


Alpha menatap Nando takjub. "Elo.. gak benci sama gue juga?"


"Benci?" Nando tersenyum heran. "Kenapa harus benci sama kamu?"


"Ya Kauki pasti udah cerita banyak hal termasuk gue. Elo pasti juga sepemikiran sama Kauki, kan?"


Nando tersenyum kemudian menggeleng. "Kauki emang udah cerita banyak hal termasuk kelakuan kamu. Tapi saat Kauki cerita, aku cuma bisa jadi pendengar. Dan tugas pendengar cuma ngasih saran, bukan mencampuri. Aku gak berhak ikut campur urusan Kauki walaupun dia pacar aku, Alpha. Cuma Kauki yang berhak atas hatinya," tutur Nando membuat Alpha terpegun.


Pantesan Kauki jatuh cinta sama Nando. Pikir Alpha. Tadinya Alpha nganggep remeh Nando.


Pasalnya Nando cuma cowok berkacamata biasa. Walau pun berotak cerdas dan jadi kesayangan guru, tapi Nando gak sepopuler dirinya yang berwajah tampan dan dipuja-puja banyak cewek.


Tapi ternyata, ada hati yang lembut di balik penampilan cupu Nando. Coba liat gaya bicaranya aja pake aku-kamu dan itu dilantunkan dengan nada lembut walau pun ngomongnya ke Alpha. Seolah takut perkataannya menyakiti lawan bicaranya.


Nando adalah kebalikan Alpha. Ada sedikit rasa malu dalam diri Alpha.


Wajar kalo Nando bisa meluluhkan hati Kauki yang sekeras batu.


Tunggu.. mungkin Nando juga bisa bantu dia buat baikan sama Kauki. Alpha gak bermaksud manfaatin kebaikan Nando loh, dia cuma pengen hubungan dia dan Kauki se-akrab dulu.


Dan menurut Alpha, Nando orang yang tepat dijadiin mediator buat me-mediasi dirinya dan Kauki.


"Nando, gue boleh minta tolong?"


"Minta tolong apa?"


"Tolong lo bujuk Kauki. Sumpah demi Tuhan, gue nyesel banget sama apa yang selama ini gue lakuin. Kauki mungkin menganggap penyesalan gue palsu. Tapi lo harus percaya kalo gue bener-bener menyesali perbuatan gue."


"Aku percaya kamu nyesal. Aku bisa liat dari mata kamu."


"Jadi?"


Nando diam sejenak sebelum akhirnya tersenyum.


"Aku usahain ya, Alpha," ucapnya membuat Alpha tersenyum cerah.


"Makasih, Nando. Gue tau sekarang kenapa Kauki jatuh cinta sama lo," kata Alpha tulus namun ada rasa nyeri saat mengucapkannya.


Nando tersenyum menepuk bahu Alpha. "Kamu sahabat Kauki, Alpha, yang berarti sahabat aku juga."


šŸšŸšŸ


Kauki yang tadinya lagi telungkup di atas meja langsung mendongak saat seseorang mengelus rambutnya.


Dilihatnya Nando tersenyum lembut ke arahnya, senyum yang selalu Kauki suka.


"Hei.. Aku barusan mau bilang selamat pagi, kamunya udah melengos. Kenapa sih?" tanya Nando menempatkan diri di samping Kauki.


"Hm.. maaf ya, aku lagi gak mood."


"Gak mood karena Alpha?"


Pertanyaan Nando tepat sasaran, Kauki langsung berwajah masam saat nama Alpha disebut.


"Kamu masih belum maafin dia?Ā  Kasian loh Alpha, dia beneran nyesel."


"Dia pantes nerima itu. Anggep aja hukuman buat dia."


"Jangan terlalu kejam ngasih pembalasan. Kita cuma manusia biasa, bukan hak kita membalas sesama."


"Coba kamu pikir, gimana rasanya kalo kamu yang di posisi Alpha?" tanya Nando membuat Kauki mendengus.


"Aku gak mau jadi dia!"


"Aku gak nawarin, aku tanya, gimana perasaan kamu kalo jadi Alpha?" Nando ngulang pertanyaannya. Menatap tepat di manik coklat terang Kauki.


Kauki terdiam, iya juga sih.. Kalo dia jadi Alpha, dia ngerasa nyesel sampe ke tulang. Kalo Kauki di posisi Alpha, dia pasti sedih dijauhin sahabat sendiri.


Sepintas ada rasa kasian, tapi kalo inget perbuatan Alpha padanya, Kauki kembali mengeraskan hati.


"Ya tapi dia tuh jahat sama aku, Nando. Kamu masih inget kan waktu aku dikeroyok para penculik itu? Dia ninggalin aku gitu aja. Aku udah bantuin dia buat dapetin cewek yang dia suka, aku rela demam, bonyok bahkan masuk rumah sakit!" ujar Kauki menggebu-gebu.


"Tapi apa? Dia malah ngeluarin kata-kata yang bikin aku sakit hati, padahal waktu itu aku lagi berduka kehilangan orangtuaku. Dia orang terakhir yang tau kabar duka itu, dan dia masih ngerasa pantas nyebut dirinya sahabat." Kauki geleng-geleng seolah mentertawakan kebodohan Alpha.


"Kauki.. mengungkit masa lalu gak bakal bikin masa depan kita jadi lebih baik. Kamu gak boleh gitu, aku gak suka cewek pendendam."


"Aku gak dendam, aku cuma kesel, sebel, kecewa, marah, benci, pokoknya dongkol sama dia."


"Nyimpan rasa benci pada seseorang dalam hati itu namanya dendam, Kauki. Dan dendam gak bikin derajat kita naik di mata Tuhan, sebaliknya, dendam cuma bikin hati kita jadi kotor dan Tuhan gak suka itu."


Kauki diam. Lagi-lagi membenarkan ucapan Nando.


"Soal kesalahan Alpha, maafin aja dia. Kalo kamu ngerasa dia keterlaluan, biar Tuhan yang balas perbuatan dia kemarin-kemarin."


"Tapi aku capek maafin dia. Dia tuh dimaafin terus bikin ulah lagi. Terus aja gitu sampe aku ngerasa **** maafin dia terus."


"Memaafkan kesalahan orang itu bukan berarti kita '****', Sayang. Itu berarti kamu baik hati, dan aku suka kalo Kauki-ku ini mau berbaik hati membuka pintu maaf buat sahabat baiknya."


Kauki membuang nafas, pusing mikirin Alpha.


"Aku butuh waktu, Nando," lirihnya.


"Kamu boleh gunakan waktu selama apapun. Tapi kamu jangan nyesel, di saat nanti kamu sadar bahwa kamu butuh Alpha, dan saat kamu berbalik, Alpha udah gak ada."


Ucapan Nando membuat Kauki dilema. Nando ada benernya tapi hati Kauki masih belum bisa maafin Alpha.


Kauki butuh waktu. Tapi gak tau sampe kapan.


Ditatapnya Nando dalam, menghela napas, cowoknya ini bener-bener berhati baik. Kauki yakin dirinya gak salah pilih.


"Kenapa kamu baik banget sih, Sayang? Akunya jadi makin cinta."


Nando terkekeh. "Kamu maunya aku jahat?"


"Enggak, kamu jadi baik aja. Soalnya kalo jahat bukan Nando, tapi Alpha."


"Hmm dasar." Nando mengacak gemas rambut Kauki, membuat gadis itu merengek karena rambutnya jadi berantakan.


Dari ambang pintu, mata tajam Alpha tampak sendu menyaksikan kemesraan Kauki dan Nando.


Dadanya sesak tapi.. dia siapa? Cuma sahabat yang nyakitin Kauki berkali-kali.


šŸšŸšŸ

__ADS_1


__ADS_2