
"Huuhh.."
Viral menjatuhkan tubuh lelahnya di atas kasur. Pikirannya menerawang, mengingat kejadian di rumah sakit.
Cowok berkulit putih itu gak pernah nyangka kalau Laluna sakit parah. Padahal selama ini Laluna udah cerita banyak, tapi ternyata gak semuanya. Dan kenyataan bahwa Laluna mengidap sakit langsung meluluh lantakkan hatinya. Hancur seketika.
Viral baru pertama kali jatuh cinta, rasanya gak adil kalo dia harus kehilangan saat itu juga.
"Kenapa di saat gue udah menemukan gadis yang tepat, Tuhan malah mau ngambil dia dari gue? Bahkan sebelum gue berhasil milikin dia." Viral bermonolog dengan lirih mengingat usia Laluna yang (katanya) gak akan lama lagi.
Kalo cinta adalah pengorbanan, Viral rela menukar nyawanya demi Laluna.
ššš
Terpaku, Nando diam dalam duduknya sementara di depannya duduk mama Lita yang tengah memohon padanya.
"Tante mohon, Nando. Laluna membutuhkan kamu."
"Saya nggak bisa, Tante." Nando langsung menolak secara halus tapi tegas.
Setetes air mata kembali meluncur dari mata sendu mama Lita.
"Maaf, Tan, bukan Nando tega. Tapi Nando punya seseorang yang sudah mengisi hati Nando. Dan gadis itu yang nantinya Nando jadikan istri."
Mama Lita mengerti, tapi saat ini Laluna sangat membutuhkan Nando.
"Tapi Laluna sangat membutuhkan kamu, Nak. Ini permintaan terakhirnya."
Nando tercekat. Apa maksudnya permintaan terakhir?
ššš
'Kauki, ini Laluna. Bisa kita ketemuan?'
Kauki yang tengah duduk bersantai sambil mengelus bulu Ferguso di kasurnya mendengus saat mendapatkan pesan dari Laluna. Heran kenapa gadis itu bisa tau nomor ponselnya.
'Sorry, gue sibuk.' balas Kauki singkat.
Kauki kira Laluna berenti sampe di situ, ternyata cewek manis itu masih membalas pesannya.
'Plis Kauki. Gue pengen ngomong penting sama lo.'
Berdecak malas, Kauki membuang ponselnya ke atas kasur dan kembali mengelus bulu Ferguso.
Ponsel Kauki berbunyi tanda panggilan masuk, tapi gadis itu gak peduli. Dia tau kalo yang nelpon itu Laluna.
'Meoong..' (angkat telponnya, Mommy, berisik!)
"Biarin ajalah, Ferguso. Gak penting." kata Kauki ngebales meongan Ferguso.
Pada saat itu Alpha masuk, dia lewat balkon kayak biasa. Dahi Alpha berkerut saat denger hp Kauki terus bernyanyi.
"Ki, ada nelpon tuh."
"Bodo!"
Alpha makin bingung, cowok itu ngelirik hp Kauki, ternyata nomor gak dikenal.
"Emang siapa yang nelpon? Kok gak ada namanya."
"Laluna."
"Laluna? Dia tau nomor lo dari mana?"
Mengendikkan bahunya tak acuh, Kauki ngejawab Alpha. "Au'."
Alpha geleng-geleng kepala dan ngangkat panggilan Laluna.
"Halo?"
Kauki mendelik gak suka saat Alpha dengan seenak jidat ngangkat telpon Laluna.
"Ini Alpha, kembarannya Kauki," Alpha naik turunin alis ngeliat Kauki yang bermuka jutek. "Kenapa?"
"..."
Terlihat Alpha mengerutkan keningnya mendengar ucapan Laluna.
"Oh, iya. Nanti gue sampein ke Kauki."
"..."
"Oke, bye.."
Telpon tertutup meninggalkan wajah bingung Alpha. "Ki."
"Hm?"
"Laluna pengen ketemuan sama lo."
"Gue tau. Tapi gue gak mau."
"Tapi dia pengen ketemuan sama lo, di rumah sakit."
"Rumah sakit?" Alpha ngangguk, Kauki berdecak. "Ngapain sih."
"Ki, menurut gue gak ada salahnya lo turutin Laluna."
"Tapi gue males."
"Ya daripada penasaran."
"Kalo dia punya rencana buruk gimana?"
Kali ini Alpha yang berdecak. "Gue temenin, nanti lo gue jagain, jadi dia gak bisa macem-macem sama lo." katanya lalu merangkul Kauki menuju tempat yang udah dijanjikan Laluna.
Kauki nyinyir. "Nembak cewek aja lo minta gue wakilin, sok-sokan mau ngelindungin gue."
Skakmat!
Alpha malah cengengesan tanpa dosa. Lah iya juga yaa. Haha..
ššš
Mereka tiba di rumah sakit lima belas menit kemudian, Alpha langsung nanya ke susternya.
"Maaf, Sus, apa ada teman saya yang namanya Laluna ke sini?"
"Ada, Mas. Pasien di ruang mawar VIP lantai tiga."
"Pasien?"
Dua wajah yang nyaris mirip itu mengangkat alis masing-masing. Mereka kira Laluna ke sini karena lagi jenguk seseorang. Tapi kalo Laluna pasien, berarti cewek itu lagi sakit?
"Iya, pasien."
Dengan membawa rasa bingung Alpha dan Kauki pun menuju lantai tiga, tempat di mana (katanya) Laluna dirawat.
Mereka akhirnya sampe di depan pintu kamar Laluna.
"Alpha, kita masuk nih?"
"Mm.." Alpha ngangguk lalu membuka pintu perlahan dan mendapati Laluna yang duduk bersandar di ranjang pasien.
Laluna yang ngeliat kedatangan Kauki langsung memberi senyumnya, senyum lemah.
"Kauki, masuk, Ki." katanya.
Ngeliat Kauki yang diam membeku, Alpha langsung narik lengan gadis itu mendekati Laluna.
Kauki mematung ngeliat banyak selang yang menempel di tubuh Laluna. Wajah Laluna juga tampak pucat, tubuhnya kurus.
"Mm.. Laluna, lo sakit apa?"
"Sakit parah." jawab Laluna gak menghiraukan tatapan bingung Alpha. Dirinya ngeliat Kauki yang terheran-heran.
"Gue tau lo pasti bingung kenapa gue ngajak ketemuan ke sini. Gue cuma.. mau minta satu hal sama lo, Ki. Sebelum gue pergi."
"Pergi ke mana?" Kauki menatap Laluna minta penjelasan.
"Ke tempat yang jauh dari sini."
Agak heran dengan omongan Laluna yang menurutnya aneh, tapi Kauki cuma mengendikkan bahunya.
__ADS_1
"Apa?"
"Gue pengen lo lepasin Nando buat gue."
Deg.
"Gak." tolak Kauki langsung.
"Walaupun itu permintaan terakhir gue?"
Rasa bingung semakin keliatan jelas di wajah Kauki. "Maksud lo?"
Laluna menunduk, kemudian menatap Kauki dengan mata berembun.
"Gue sakit, Ki, kenker hati stadium tiga." lirih Laluna membuat dua orang di depannya menganga.
"Dokter bilang, waktu gue gak panjang lagi. Dan sebelum gue mati, gue pengen Nando ada di samping gue."
Kauki membisu, dia nggak mau ngelepasin Nando. Tapi ngeliat Laluna yang seperti ini, bikin Kauki dilema.
"Ki?" Alpha menyentuh pundak Kauki, respon gadis itu malah berlari ke luar ruangan.
Alpha ngeliat Laluna sejenak, "eh.. gue susul Kauki dulu." ujarnya kemudian menyusul Kauki. Meninggalkan Laluna yang terisak, dia tau Kauki gak secepat itu mau ngelepasin Nando.
Laluna tau permintaannya ini terlalu mendadak, tapi Laluna udah gak punya banyak waktu lagi.
"Kauki." panggil Alpha saat ngeliat Kauki duduk dengan tangan menutupi wajahnya.
"Kauki.." panggil Alpha lagi dan Kauki memperlihatkan wajah basahnya.
Alpha segera membawa Kauki ke pelukannya, mengusap bahu sahabatnya memberi kekuatan. Alpha tau, Kauki berada dalam pilihan yang sulit sekarang.
"Gue harus apa, Alpha? Kenapa Laluna harus sakit parah? Kenapa?" tangis Kauki.
Alpha diam tak menjawab, dia bingung. Kauki sahabatnya, dan Alpha mendukung apapun keputusan Kauki.
Tapi ada Laluna yang sakit parah, dan gadis itu butuh Nando, sangat. Alpha bingung mau mihak yang mana.
"Mungkin sebaiknya lo lepasin Nando, Ki."
Kauki menatap Alpha gak setuju, kemudian menggeleng. "Gue nggak bisa."
"Tapi Laluna lebih butuh Nando, Ki. Ini permintaan pertama dan terakhirnya ke elo."
"Kalo gue ngelepasin Nando, apa dia bakal mati setelahnya? Apa ini bener-bener permintaan terakhirnya? Kalo ternyata dia sembuh, apa dia bakal balikin Nando ke gue?"
"Elo maunya dia mati?"
Kauki diam, dia gak sejahat itulah.
"Kauki, gue ngerti perasaan lo. Pasti gak mudah ngelepasin seseorang yang kita cinta. Tapi mungkin Tuhan punya alasan dibalik ini semua."
"Gue gak tau, gue cinta banget sama Nando, Al. Dia cowok terbaik yang pernah gue punya." lirih Kauki.
"Gue tau ini sulit, tapi, cinta gak harus memiliki. Berkorban, itu yang harus lo lakuin saat ini. Bukan gue mau ngomporin lo biar pisah sama Nando, tapi sebagai manusia yang punya hati, gak mungkin kan lo ngebiarin Laluna sedih di sisa hidupnya. Gue tau elo, Ki, elo gak akan sejahat itu."
Kauki termenung. Bener, emang bener yang dibilang Alpha. Tapi Kauki ngerasa, bahwa semua ini terlalu cepat. Dia dan Nando bahkan baru memulai, apa iya harus berakhir secepat ini?
"Gue nggak tau. Gue butuh waktu, Al."
"Ya udah, sekarang kita masuk lagi, siapa tau Laluna mau berubah pikiran." ajak Alpha menuntun Kauki untuk kembali memasuki kamar rawat Laluna.
Tapi begitu mereka masuk, ranjang pasien kosong.
"Laluna mana?" heran Alpha.
Huekk!
Belum lama Alpha melontarkan pertanyaannya, saat itu juga mereka dibuat kaget dengan suara orang muntah di toilet.
Dengan segera Kauki dan Alpha menuju toilet.
"Laluna!"
Kauki dan Alpha tersentak ngeliat Laluna terduduk lemas di bawah wastafel, dan yang lebih mengagetkannya lagi, ternyata gadis itu baru memuntahkan darah. Dan darah itu berceceran di sekitar wastafel, bahkan sampai mengotori baju rumah sakit yang Laluna pakai.
Kauki segera merangkul Laluna menuju ranjang pasien sementara Alpha memanggil dokter.
ššš
Sedari tadi mama Nando juga membujuk anaknya bikin Nando makin bingung.
"Nak, mungkin sebaiknya kamu turuti kemauan Laluna."
"Tapi Nando gak mau pisah sama Kauki, Ma."
Mama Nando jadi ikutan galau, di satu sisi dia gak tega sama mamanya Laluna. Di sisi lain mama Nando juga gak tega kalo harus maksa anaknya.
Jawaban tegas Nando membuat hati mama Lita teriris. Air matanya mengalir deras membayangkan wajah sedih Laluna karena dirinya gagal membujuk Nando.
Suara ponsel mama Lita menginterupsi keterdiaman di ruangan itu.
"Halo, Dok?" Mama Lita menegang mendengar jawaban orang yang menelponnya. "Ba-baik, Dok. Saya segera ke sana."
"Kenapa, Mbak?" tanya mama Nando ngeliat muka panik mama Lita.
"Tadi dokter bilang kalo Laluna pingsan setelah muntah darah. Sekarang dia masuk ICU." seru mama Lita panik.
Mama Nando ikut cemas, diliriknya Nando yang terdiam membeku.
"Kalo gitu kita harus ke rumah sakit sekarang."
ššš
Sesampainya di sana, mereka mendapati dua remaja berdiri di depan ruangan Laluna dengan wajah panik.
Terlebih Nando yang terpaku ngeliat keberadaan sang kekasih dan juga Alpha.
"Maaf, kalian siapa?" tanya mama Lita halus.
"Saya Alpha, Tante, ini Kauki. Kami temannya Laluna." Alpha menjawab, Kauki tersenyum kaku sebab ada mama Nando dan mama Laluna.
"Oh.. Terimakasih ya sudah jenguk Laluna." ucap mama Lita diangguki Alpha.
Pintu terbuka menampakkan dokter yang barusan menangani Laluna.
"Dokter, bagaimana keadaan Laluna?"
Dokter itu membuang nafas sejenak, tampak ragu. "Kondisi pasien.. semakin memburuk. Pasien kritis."
Jawaban dokter membuat tangis mama Lita pecah.
"Kanker hati yang diderita Laluna juga sudah memasuki stadium empat, kanker yang dideritanya sudah menyebar ke seluruh organ tubuh, harus segera ditangani." jelas dokter hati-hati, takut menambah kesedihan keluarga Laluna.
Penjelasan dokter menghancurkan hati beberapa orang di sana, terlebih hati lelaki berambut jambul yang bersandar di balik tembok. Viral.
Viral tadinya mau jenguk Laluna, tapi niatnya urung karena ada banyak orang di sana. Bunga di tangannya jatuh seketika saat dokter memberitahu kondisi Laluna.
Viral udah gak bisa mendeskripsikan perasaannya. Dia sedih, takut, cemas, semua jadi satu. Viral gak siap kalo harus kehilangan Laluna.
"Pasien harus secepatnya mendapat donor hati."
Viral tertegun. Donor hati?
Tubuh mama Lita lemas seketika mengetahui kondisi anaknya. Wanita itu cuma bisa menangis. Mama Nando yang gak tega langsung mengusap bahu ibu dari mantan pacar anaknya itu.
"Saran saya, Laluna dibawa ke singapura saja. Karena di sana fasilitasnya lebih lengkap dari yang di sini. Perawatannya pun lebih intensif. Jujur kami sudah tidak sanggup menangani Laluna." ujar dokter ngasih saran.
Alpha ngeliat Kauki kemudian Nando. Dua-duanya sama-sama diam mematung.
Nando merangkul Kauki yang terdiam kemudian membawa gadisnya ke taman rumah sakit.
Keduanya sampai di taman dan Nando mengajak Kauki duduk di salah satu kursi yang tersedia.
Lelaki berkacamata itu menatap nanar Kauki yang berwajah sendu. Nando meraih dagu Kauki, mengarahkan gadis itu agar mau menatapnya. Dan saat mata mereka bertemu, Nando bisa ngeliat sorot bingung, kecewa, sedih secara bersamaan.
Menghela nafas, Nando mendekap tubuh Kauki erat. Kauki pun mengeratkan pelukan mereka. Seolah tau bahwa perpisahan semakin dekat.
Kauki terisak, "Aku harus apa, Nan? Aku mau kita terus bertahan tapi.. tapi Laluna butuh kamu."
Nando mengangguk, dia tau kalo cepat atau lambat Kauki bakalan tau hal ini.
"Aku tau kamu bimbang, ini semua salah aku, harusnya aku gak masuk ke kehidupan kamu, Ki."
__ADS_1
Kauki menggeleng membantah ucapan Nando. Menurut Kauki, keberadaan Nando bukanlah sebuah kesalahan. Pertemuan mereka, dan keputusan mereka untuk menjalin kasih bukan sebuah kesalahan.
"Kamu gak salah, Nando, gak ada yang perlu disalahkan."
"Tapi aku udah nyakitin kamu. Harusnya kamu gak jatuh cinta sama cowok kayak aku."
"Nando," sanggah Kauki. "Kamu lelaki paling baik yang pernah aku miliki. Aku gak nyesel mencintai kamu. Mungkin, aku yang kurang baik di sini, sehingga Tuhan misahin kita."
"Kamu layak, Ki. Kamu sangat layak di samping aku." sanggah Nando dnegan mata memerah.
"Terus kenapa harus Laluna yang menang? Kenapa bukan aku?"
Nando ikut meneteskan air mata yang sedari tadi ditahannya.
"Just go, Nando. Go and heal Laluna."
Nando menggeleng, menolak permintaan Kauki. Kauki pun sebenarnya merasa tak rela, tapi dia harus berkorban untuk kesembuhan Laluna.
"Promise me that you'll come back when it's done." Suara Kauki tertelan oleh tangisannya.
Hati Nando semakin sesak mendengarnya. Dipeluknya Kauki erat-erat.
Mereka menangis bersama, melepas semua rindu yang gak akan bisa mereka bagi di kemudian hari. Karena Kauki dan Nando tau, perpisahan semakin dekat menghampiri mereka.
"Sampai kapanpun kamu yang berkuasa di hatiku, Kauki, meski bukan kamu yang di samping mayatku nanti."
"Te amo, Nando."
"Yo tambien te amo, Kauki. Por siempre."
ššš
Alpha berdiri dan melihat adegan dua sejoli itu dengan mata berkabut. Hatinya bergejolak, sedih ngeliat Kauki kembali meneteskan air mata karena kehilangan cinta.
Tapi Alpha janji, ketika Nando pergi bersama Laluna, Alpha gak akan ngebiarin tangan Kauki kosong. Alpha akan menggenggam tangan itu dan mengisi jari-jari Kauki dengan jarinya.
Ketika hati Kauki sepi tak berpenghuni, Alpha berjanji akan mengisi dan menjaganya.
ššš
Hari ini Laluna dibawa ke Singapura untuk menjalani pengobatan yang lebih baik. Dan hari ini juga waktunya Nando meninggalkan separuh hatinya, Kauki.
Kauki dengan Alpha yang selalu di sampingnya mengantar kepergian Nando juga Laluna.
Sejak semalam Kauki dibantu Alpha terus menguatkan hatinya, mencoba mengikhlaskan Nando untuk Laluna. Walau gak dipungkiri ada rasa gak rela di hati Kauki.
Terlalu cepat, batin Kauki ketika mengingat waktu yang dia habiskan bersama Nando terasa begitu singkat.
Kedua tangan itu menggenggam erat satu sama lain. Baik Kauki maupun Nando gak berniat melepas genggaman itu. Mereka belum siap untuk berpisah.
Mama Nando menatap anaknya nanar, sebenernya dia nggak tega. Dihampirinya dua sejoli itu.
"Nando."
"Eh, Mama."
Mama Nando melirik Kauki dan tersenyum. "Ini pasti Kauki ya?"
Kauki mengangguk kikuk, baru kali ini dia berhadapan langsung dengan mama Nando.
Mama Nando kembali mengukir senyum, cantik sekali sampe Kauki mikir wanita di depannya ini lebih cocok jadi kakak Nando ketimbang mamanya.
"Cantik sekali kamu, Nak, pantesan Nando cinta mati." ujarnya membuat Kauki tersenyum kecil.
"Makasih, Tante."
"Sayang, maaf Tante gak bisa melakukan apapun untuk membantu mempertahankan hubungan kalian."
"Tante," Kauki membantah. "Ini bukan salah siapapun, Tuhan udah ngatur semuanya."
"Hati kamu terbuat dari apa sih, Nak? Kalo Tante jadi kamu, tante akan mempertahankan hubungan itu apapun yang terjadi." ucap mama Nando berkaca-kaca, ngerasa bersalah karena gak bisa ngelakuin apapun buat dua insan di depannya.
Gak lama kemudian pengumuman keberangkatan pesawat menuju singapur menggema, membuat Kauki dan Nando saling mengeratkan genggaman.
Hilang semua janji,semua mimpi,
Mimpi indah..
Hancur hati ini,melihat semua ini
Lenyap,telah lenyap kebahagiaan di hati
Ku hanya bisa menangisi semua ini
Hancur hati ini melihat kau telah pergi
Kauki menatap Nando nanar. "It's time, Nando. Just go."
Nando malah menggeleng, memeluk Kauki seolah tak mau melepaskan. Mata yang telah kering kini kembali basah karena air mata, Nando menangis. Begitu pun dengan Kauki.
Mama Nando ikut meneteskan air matanya. Tak kuat melihat itu semua, mama Nando menyingkir setelah sebelumnya mengelus rambut Kauki.
Alpha mengalihkan pandangannya, matanya ikut basah. Dia pernah ngeliat sepasang kekasih berpisah di film, tapi kali ini dia ngeliat langsung. Dan rasanya lebih menyedihkan.
Nando merogoh saku celananya, mengeluarkan kotak beludru berwarna merah. Dia membuka kotak itu dan menunjukkan cincin pemberian ibunya. Yang akan Nando kasih ke calon istrinya.
Tapi bagi Nando, Kauki calon istrinya meski nyatanya mereka harus berpisah sekarang.
"Harusnya, aku masangin ini di pernikahan kita. Bukan perpisahan kita."
Nando memasangkan cincin itu di jari manis Kauki dengan tangan bergetar. Kemudian mengecupnya dalam.
Air mata Kauki semakin deras. Dia pernah membayangkan Nando memasangkan cincin di jarinya, tapi ketika mereka menikah, bukan berpisah.
Langit menjadi gelap berkelabu
Menyelimuti hatiku,mengubah seluruh hidupku
Mengapa semua jadi begini,perpisahan yang terjadi
Di antara kita berdua,
Nando melepas pelukan mereka dan menatap Kauki dengan mata merahnya. "Aku pergi. Kamu jangan sedih, suatu hari nanti, kamu pasti bakal dapet lelaki yang lebih baik dari aku."
Kauki mengangguk, memejamkan matanya, hatinya semakin sesak. Perpisahan itu sudah datang.
Gadis bermata coklat terang itu menyentuh pipi Nando. "Kamu juga, jaga Laluna baik-baik. Beri dia cinta sampai Laluna tenggelam dalam kebahagiaan."
Nando mengangguk, memeluk Kauki sekali lagi. Kemudian melepasnya dengan berat hati. Lelaki itu mundur perlahan, menatap Kauki, menyerap kenangannya bersama gadis itu, gadis yang mencuri sebagian hatinya. Yang sekarang harus ditinggalkannya.
Kauki melambaikan tangannya, mencoba tersenyum meyakinkan saat Nando mulai ragu.
Dan saat lelaki itu berbalik untuk pergi, pertahanan Kauki hancur. Gadis itu membekap mulutnya, menagis kuat.
Alpha segera menangkap tubuh Kauki, mendekapnya, memberi ketenangan sekaligus memberitahu Kauki bahwa dia gak sendiri.
"Kuatkan hati lo, Ki."
"Dia pergi, Alpha. Gue.. gue gak tau harus apa setelahnya.." lirih Kauki nyaris tanpa suara, begitu menyayat hati Alpha.
"Sst.. Setiap ada pertemuan, pasti ada perpisahan."
"Tapi ini terlalu cepet, Alpha.." isak Kauki. "Terlalu cepet.."
Alpha memejamkan matanya, ikut meneteskan air matanya. Perasaannya campur aduk antara senang dan sedih.
Senang karena Kauki sudah tak ada yang memiliki, dan sedih karena kehilangan sahabat sebaik Nando.
Alpha janji ini air mata terakhir yang Kauki buang. Setelah itu, cuma ada kebahagiaan.
ššš
Nando duduk di kursi pesawat, matanya terus mengeluarkan air mata, lelaki itu menangis dalam diam.
Mama Nando yang ngeliat itu ikut merasa sakit, wanita itu membawa Nando ke pelukannya. Memberi ketenangan lewat pelukan seorang ibu.
"Yang kuat ya, Nak."
"Nando cinta Kauki, Ma.."
"Mama tau, Nak.. Mama tau."
Ku akan menanti sebuah keajaiban
__ADS_1
Yang membuat kita bisa bersama kembali..
ššš