
Hai perkenalkan namaku Kevin Enzilio Bramasta. Daddyku bernama Albert Bramasta. Mommyku bernama Caroline Adelvia Abraham.
Aku sekolah di SMA NUSA BANGSA. Kelas XI IPA 3. Saat ini aku memiliki kekasih yang bernama Meca Anjelista. Tetapi karena statusku sebagai putra mahkota Bramasta,membuatku tak leluasa mengakui keberadaan Meca. Pernah beberapa waktu yang lalu saat aku dan Meca menghabiskan waktu bersama. Kami terjebak dalam pertempuran dengan musuh Bramasta. Dan saat itu aku tertembak dan Meca hampir dilecehkan. Aku bahkan sempat koma.
Sejak saat itu aku dan Meca hanya saling diam dan bersikap seolah tak saling kenal.
Aku hanya bisa memperhatikannya dari jauh.
Beberapa hari ini salah satu adikku mengalami pembulyan di sekolah. Setelah di selidiki ternyata pelakunya saudara tiri Meca.
Aku sangat ingin membalas perbuatan gadis itu tapi tak ingin berurusan dengan Meca. Jadi aku hanya menyuruh saudariku yang lain mengurus gadis itu.
Pada hari ini aku dan keluargaku akhirnya dipertemukan dengan keluarga gadis yang bernama Clara tersebut. Tampaknya Meca punya dendam juga dengan saudara satu ayahnya itu. Aku hanya diam saja mendengar Meca mendebat ayahnya. Dia sangat tegas, sampai Meca memutuskan menarik sahamnya dari Aldero Corp.
Sebelum dia fokus pada ayahnya yang mendapat pengaduan dari Clara, kalo meca juga menbully saudaraku. Tentu saja aku tak percaya. Karena Meca sangat mengenal anggota Bramasta.
Kami sempat beradu tatap sebelum Meca fokus ke ayahnya. Sampai dengan tegas Meca menantang papanya untuk menarik saham jika dia tak terbukti tak bersalah.
Meca meminta kepala sekolah untuk menyuruh orang memeriksa rekaman cctv lokasi kejadian.
Dan benar saja, Meca memenangkan perselisihan dengan papanya dan berimbas pada perusahaan milik sang papa. Meca juga meminta pengacaranya dan sang mama ikut andil dalam masalah ini.
Yah, inilah yang aku suka dari Meca. Dia gadis yang berani dan pantang menyerah. Setslah kejadian di ruang kepala sekolah itu, aku akhirnya memutuskan untuk kembali mendekati Meca secara terang terangan.
Aku memutuskan membawa Meca ke apartemet yang pernah menjadi saksi keberutalan musuh Bramasta. Membuat Meca tidak mau masuk ke dalam apartemet tersebut. Karena aku paksa,akhirnya Meca pingsan.
Aku memutuskan membawa Meca ke Psikiater untuk menghilangkan traumanya.
tadinya Meca mau karena merasa jika Psikiater itu tempat orang tidak waras. Tapi setelah meyakinkannya ,akhirnya dia setuju.
Dalam beberapa minggu ini,aku beberapa kali menemani Meca konsultasi. Dan akhir akhir ini dia cukup tenang, tapi tak tau kalo di ajak kembali ke apartemenku. Karena pemicu traumanya adalah apsrtemen.
Saat ini aku tau kalo Meca sedang bimbang. Karena keluarganya yang semakin berantakan. Papanya sudah mulai bertindak kasar kepada sang mama. Karena itu untuk pelampiasannnya Meca menyuruh anggotanya membully sang adik tiri.
__ADS_1
Aku memaklumi sifat Meca, memangnya siapa yang tahan diabaikan apalagi oleh sosok seorang ayah hanya demi putrinya yang lain.
Semua orang melihatnya sangat kuat dan tegar tapi sebenarnya dia rapuh. Oleh karena itu aku tak bisa meninggalkannya. Apalagi darah Meca mengalir juga di tubuhku sejak kejadian aku tertembak waktu itu.
bagiku Meca bukan hanya pacar tapi sudah aku tetapkan sebagai pendampingku di massa depan.
Hari ini aku melihatnya lagi sedang memperhatikan anggotanya membully Clara. Aku pikir hal itu pantas di dapatkan oleh Clara karena gadis itu terlalu banyak tingkah.
Normal pov
Aku berjanji untuk mengantarkannya ke rumah besar. Yang merupakan rumah dari tetua keluarga pihak sang ibu. Keluarga Wijaya, sepanjang perjalanan kami terdiam. Aku melihat Meca sangat tegang.
Sambil menggenggam tangannya aku berkata,
" Kenapa tegang sekali hmm! Semuanya pasti baik aja by. Loe pasti bisa mengatasi masalah yang diciptakan oleh bokap. Loe harus tetap tenang ok " ujarku menyemangati.
" Hmm! Aku hanya takut papa memutar balikkan fakta dan menuduh mama. Padahal dia penjahatnya " jawab Meca.
" Ya! Kita lihat nanti " jawab Meca malas.
Setelah itu kami hanya diam dengan pemikiran masing masing. Setelah sampai di tempat tetua Wijaya. Kami melihat di depan teras sudah ramai orang. Terlihat jelas tetua yang sedang murka.
Aku dan Meca saling pandang. Aku pun menyuruhnya untuk pergi ke tempat keluarganya berkumpul.
" No! Aku mau kamu tinggal dan ikut denganku kesana " ujar Meca pelan.
" Ok! Ayo kesana " ujarku sambil merangkulnya.
Kamipun melangkah menuju ke rumah besar dengan langkah pelan. Semakin dekat kami ke sana semakin terdengar makian dari nenek Wijaya.
Sesampainya di sana kami berdua hanya diam dan menyapa sang nenek dengan sungkan.
" Kamu pikir, kamu siapa hah! Beraninya kamu mempermainkan putri kami. Kamu tampa kami tak akan jadi apa apa. Bagainama kamu memelihara gundik dengan sesuka hati dengan memberinya makan dari bantuan yang diberikan Wijaya Group. Keterlaluan " maki sang nenek.
__ADS_1
" Maafkan aku ma! Aku khilaf dan berjanji akan memperbaiki semuanya " ujar papa Meca.
" No oma! Aku tidak mau oma memberi kesempatan lagi pada tuan Aldero yang terhormat ini. Karena aku lelah hidup sebagai anak yang punya ayah tapi seperti anak yatim " celetuk Meca tak sabar.
mendengar ucapan sang cucu dan keponakan membuat yang lainnya bungkam.
" Aku sudah menarik sahamku dari Aldero Corp. Tak sudi aku membiarkan simpanan dan anaknya menikmati uang kita oma. Aku ingin lihat seperti apa tuan Aldero memberi makan istri muda dan anak kesayangannya setelah ini " ujar Meca dingin.
" Apppa! Kamu menarik sahammu kak, kapan " tanya om Leon adik ke 3 sang mama.
" Sudah hampir sebulan. Malas saja dia membiarkan gundiknya foya foya sementara aku dan mama tak sepenser pun mendapat nafkah darinya. Jadi buat apa aku tetap mendukung perusahaannya " ujar Meca datar.
" Yah! Kamu benar kak. Om dukung kamu " jawab om Aldo menyemangati.
" Thanks om " balasku.
" Yah karena kamu sudah memutuskan ya nenek pun hanya mendukung saja " ujar nenek. Lalu diikuti yang lainnya.
" Thanks semua. Lagian perpisahan mama dan tuan Aldero memang harus terjadi karena aku tak ingin mama lebih menderita lagi. Apa kalian semua tau, terakhir kali tuan Aldero dan gundiknya datang ke rumah menemui mamaku untuk memaksa mama menandatangani surat peralihan kekayaan mama dan beberapa usaha atas nama gundik tuan Aldero " ujarku datar.
Bugg
Bugggh
Tampa di cegah paman Leon langsung memukul papa. Tak ada yang mencegahnya, semuanya hanya diam. Sekalipun om Leon tak maju memukul papa pasti om Aldo yang mukul papa. Karena memang papa itu sangat keterlaluan sekali.
Di hanya memikirkan gundiknya tampa memikirkan mama yang selama ini telah mendukung usahanya tampa papa sadari.
Begitupun aku yang sudah mendukung papa dengan menanam saham di perusahaannya supaya perusahaan papa suksek dan berkembang tapi apa yang di lakukan papa. Dia menganggapku hanya bayangan yang tak pernah terlihat. Di matanya hanya ada Amelia dan Clara.
" Bukankah papa sangat mencintai istri muda papa dan anak kedua papa. Aku ingin lihat bagaimana cara mereka berdua mendukung papa supaya perusahaan papa semakin maju dan berkembang " ujarku sambil menatap remeh Amelia dan Clara.
"cih gundik yang bisanya mengangkang ini saja di pertahankan mati matian. Aku ingin lihat saat papa tak lagi punya apa apa. Apa dia masih biss setia pada papa " umpatku dalam hati.
__ADS_1