
Sepanjang perjalanan pulang aku dan Kevin hanya diam saja. Aku pikir Kevin akan mengantarku pulang ke rumah tapi ternyata dia membawaku ke tempat yang paling aku hindari, apartementnya.
Degggg
Aku merasakan dadaku sesak, rasanya tubuhku gemetar. No,tempat ini adalah tempat yang jadi mimpi buruk bagiku. Dilecehkan dan aku hampir kehilangan Kevin di sini.
" Ngapain ke sini " tanyaku lemah.
" Loe harus melawan ketakutan loe bab. Karena kita akan sering kesini " ujar Kevin datar.
" No thanks! Gw enggak mau ke tempat yang mengingatkan gw tentang kejadian gw hampir kehilangan keperawanan dan di gilir oleh bajingan yang merupakan musuh Bramasta " ujarku dingin.
" Gw enggak terima penolakan jadi turun " ujar Kevin datar.
" Enggak mau Vin " akhirnya aku merengek pada Kevin.
" Loe harus mau Mec, gw enggak suka loe jadi lemah " ujar Kevin tajam.
" Loe cewek gw. Sampe kapan pun loe cewek gw jadi jangan lemah ngerti. Sekarang turun " ujar Kevin kesal.
Setengah menyeretku Kevin berhasil membawaku ke dalam apartemen. Aku melamgkah dengan kaki gemetar dan tangan yang berkeringat dingin.
Masih ingat aku dengan kejadian itu. Hari itu aku dan Kevin kami berstatus pacaran.
Flashback on
Kejadiannya 1tahun yang lalu. Saat aku dan kevin kelas X. Kami baru 2 bulan pacaran. Hari itu Kevin membawaku ke Apartemennya.
Kami memasuki apartemen itu tampa ada curiga sedikit pun. Meskipun terkadang Kevin bersikap waspada.
Setelah memasuki lift menuju lantai kamar milik Kevin berada. Saat kami keluar dari dalam lift suasana entak kenapa mendadak terasa mencekam. Sampai suara pistol bersahutan. Aku sangat syok, Kevin berusaha melindungiku di belakang tubuh kekarnya. Dia ikut mengeluarkan pistol dan menembak musuh yang mendekat pada kami.
Tapi tiba tiba ada yang menarikku dari belakangku. Dua orang pria menodongku dengan pistolnya.
" Waw! Ternyata tuan muda Bramasta punya selera yang enggak main main soal cewek. Bener bener mantap " ujar pria itu yang terdengar menjijikan di telingaku.
" Aku hanya bisa menatap Kevin dengan air mata telah membanjiri wajahku. Dan ketakutan saat pria itu mengelus lenganku.
" Kevin " panggilku lemah.
" Bangsat! Jauhkan tangan loe dari tubuh cewek gw anj**g " umpat Kevin marah.
" Jauhkan! kenapa harus dijauhkan kalo gadis ini sangat menggai**hkan bodoh " ujar pria yang bernama Arnol mengesalkan.
" Loe jauhkan tangan loe dari cewek gw ata loe akan menyesal nanti " ujar Kevin dingin.
" gw enggak akan menyesal setelah menci**pi gadis dari tuan muda Bramasta " ujar pria itu mengejek Kevin.
" Loe yakin enggak menyesal " ujar Kevin sambil menyeringai kejam. Lalu dia melempar pisau lipat kecil yang dia simpan di saku jaketnya.
__ADS_1
Jllebb
"aaaah sialan " umpat orang itu sambil memegangi dadanya yang terkena pisau.
" Serang sekarang! Lumpuhkan Bramasta, jangan kasih ampun " komando arnol
Bugg
Dooor
Dooor
brakk.
Aku benar benar ketakutan karena menyasikan Kevin di keroyok banyak orang.
Sedangkan aku di pegangi oleh pria Bang**t ini.
" Sialan! Aku harus bebas dan bantu Kevin" gumamku dalam hati " Saat aku sedang melamunkan cara melepaskan diri pria bajingan itu merobek bajuku, membuatku berontak dan menendang masa depan pria tersebut.
Buggg
" ****** sialan! Beraninya kau menendangnya brengsek Iss " umpat pria itu sambil meringis kesakitan dan akhirnya aku terlepas darinya. Lalu menghampiri Kevin sambil membawa pistol.
Aku berusaha membantu Kevin sampai bantuan dari keluarga Bramasta datang mengambil alih pertarungan. Tapi saat itu secara tak terduga ada yang menembakkan pinstolnya ke arah Kevin,
Dooor
huuk huk
Semuanya terjadi begitu saja. Dan aku langsung memangku Kevin.
" Viin! Keviiin " panggilku panik.
" Viin " panggilku lagi.
" toooloong ba..wa Kevin ujarku panik.
sementara di lorong lantai apartemen tersebut masih terjadi baku hamtam dan suara pistol bersahutan dari kedua belah pihak.
" Tuan muda! Tuan muda bertahanlah. Kita ke rumah sakit sekarang. Ayo nona kita ke rumah sakit " ajak pemimpin pengawal keluarga Bramasta.
"Iya " jawabku sambil mengikuti dari belakang.
Aku berjalan dengan kaki yang gemetar.
Selama menuju ke rumah sakit rasanya dada ini sangat sesak. Melihat Kevin sudah tak sadarkan diri.
" Bisakah kecepatannya di tambah. Kevin sudah tak sadarkan diri paman " ujarku panik.
__ADS_1
" Ini sudah paling tingggi nona, kalo dipaksakan takutnya kita semua juga celaka " jawab paman tersebut yang aku tau namanya Andres.
Aku hanya diam saja mendengar ucapan paman Andres. Aku terus saja memeluk Kevin sambil berusaha membuatnya sadar.
" Vin.. Vin sadar! Loe enggak boleh tinggalin gw Vin. Loe pasti selamat, kita bentar lagi sampe di rumah sakit " ujarku sambil tergugu.
Sesampainya di rumah sakit. Pihak rumah sakit sudah siaga dengan brankar dan para dokter serta perawatnya.
Mereka langsung membawa Kevin ke ruang UGD. Aku benar benar tak berdaya lagi begitu Kevin masuk ke sana. Seperti ada yang mencekik leherku sehingga sulit rasanya bernapas. Sesak, aku tak hentinya mendo'akan Kevin.
Selama Kevin di UGD,aku sendirian karena paman Andreas kembali ke Apartemen untuk mengecek keadaan di sana. Tak lama kemudian baru keluarga Bramasta datang dengan wajah panik mereka. Aku melihat
Om Albert dan tante Caroline berjalan setengah berlaribke arahku. Mereka cukup mengenalku karena aku pernah pergi ke kediaman Bramasta beberapa kali.
" Honey! Kevin gimana keadaannya " tanya tante Caroline.
" Belum tau, Kevin kena tembak tante dan dia kayaknya kehilangan banyak darah.Sejak tadi belum ada Dokter atau perawat yang keluar " jawabku pelan.
" ya sayang! Kamu tenang ya. Kevin itu anak yang kuat jadi dia pasti melewati ini semua. Kita harus mendoakan Kevin ok " hibur tante Caroline.
" Aku takut banget tante. Kejadianya cepat banget tau tau dah terdengar aja bunyi pistol dan Kevin berusaha lindungi akubtapi karena kekurangan orang. Sempat di tahan oleh mereka tante. Mereka hampir melecehkan aku " ujarku lirih.
" Udah! Kamu tenang. Kita fokus pada Kevin dulu. Om janji akan balas mereka karena sudah membuat kamu dan kevin celaka " ujar om Albert menenangkanku.
Akhirnya kami hanya diam saja sambil menunggu Dokter keluar. 1 jam kemudian baru Dokter keluar.
Gegas kami mengampiri Docter tersebut.
" Bagainama keadaan Kevin Dok " tanya tante Caroline.
" Kami sudah mengeluarkan pelurunya tapi pasien kehilangan banyak darah. Saat ini masih kritis " ujar Dokter Bram, nama Dokter tersebut.
" Berapa darah yang di butuhkan Dok? tanya Om Albert.
" Kira kira 2 kantong darah segera, karena pasien masih kritis " jawab Dokter Bram.
" Apa golongan darah Kevin Dok " tanyaku.
"Golongan darahnya A+ " ujar Dokter Bram.
"Kebetulan darah saya A+ Dok. Jadi dimana saya bisa mendonorkan darah saya buat Kevin " ujarku pada Dokter Bram.
" Silahkan ikut dengan perawat Ulya untuk mendonor darah " ujar Dokter Bram.
Akhirnya aku pun ikut dengan perawat tersebut .
1 minggu Kevin tak sadarkan diri. Aku dan yang lainnya sangat cemas menunggunya sadar.
Saat Kevin sadar aku memutuskan untuk tak lagi terang terangan berhubungan dengan Kevin.
__ADS_1
Karena trauma itu terus menghantuiku.