
Kebencian ini membelengguku untuk meresapi setetes cinta dari makhluk yang bernama Ayah.
Markas Black,semuanya sedang tegang. Karena merasakan aura sang ketua yang berbeda dari biasanya. Sekarang lebih ke aura membunuh yang dominan.
Tak ada yang berani bersuara,semuanya diam membisu. Quen mereka kali ini adalah sosok yang benar benar tak bisa diajak bercanda.
" gw mau kalian mengerjai Clara sampe dia hera. Buat dia bosan untuk hidup. Terserah apa yang kalian lakukan,gw enggak perduli. Yang pasti gw hanya tau beres "ujar Megan datar.
" Tapi quen,loe yakin sama perintah loe. Seperti apa yang harus kita lakuin. Apa dia boleh jadi mainan kita " celetuk Raja.
" Lakukan! Gw mau dia jadi ****** yang sebenarnya. Jangan lupa videonya ok " ujar Megan tenang.
" Ok! Kita paham kok Quen "jawab Raka.
" Mmm! Gw mau loe semua, kirim videony ke rumah bokap gw. Biar dia tau seberapa jalangnya anak kesayangan dia " ujar Megan sambil menyeringai keja.
" Siap quen! Loe tenang aja,dijamin kita akan main bersih "ujar Bara.
" Ok! Kalo gitu meting finish,gw balik
dulu "ujar Megan sambil beranjak pergi.
Aku pun pulang ke rumah. Entah kenapa har dingin sekali. Apalagi seingatku mama hari ini sidang dengan pria sialan itu. Moga saja tak ada apa apa.
Sepanjang jalan menuju ke rumah,aku gelisah. Memikirkan keadaan rumah,sampai di rumah terdengar keributan.
Pergiii
Pergi kalian dari sini
deggg
Suara my moom. dengan siapa mama di rumah. Gegas aku masuk ke dalam rumah. Setiap pijakan,dadaku berdegub kencang.
Sampai di dalam rumah, ternyata lagi lagi ****** dari pria sialan yang tak lain papaku. Dia ternyata datang meneror mama untuk menandatangani surat pemindah tanganan beberapa aset mama. Sialan
Saat dia mau menjambak ,aku langsung menangkap tangannya dan mencengkramnya kuat. Cari mati loe bicht.
__ADS_1
Aku hempaskan tangannya kasar sampai dia terhuyung dan jatuh di sofa. Anaknya langsung meradang dan menghampiriku dengan emosi yang membuncah.
" Bangsat loe anak sialan, berani loe kasar sama nyokap gw hah " ujarnya emosi.
" Berani! Kenapa? Loe pikir gw takut sama anak ****** kayak loe hah" ujarku dingin.
" Sialan! Mati aja loe,bangsat " umpatnya kesal sambil berusaha menjambak rambutku.
Aku langsung menangkap tangannya dan menghempaskannya kasar. Aku rasakan nyeri di tanganku karena kukunya yang tajam. brengsek loe bicht,
Aku benar benar emosi dibuatnya. Karena emosi,aku akhirnya menyeret Clara keluar dari rumahku dengan menjambak rambutnya. Aku abaikan rontaannya,begitu juga umpatan dari gundik papa.
Sesampainya di teras aku langsung menghempaskan Clara.
" Loe! Mending cabut selagi gw masih waras karena kalo gw udah menggila,gw pastiin loe cuma tinggal nama " ujarku dingin.
" Siapa loe bucht! Berani ngancem gw,loe itu cuma anak buangan yang enggak di anggap papa. Jadi enggak usah sok sama gw. Loe itu sama nyokap loe enggak pantas di sini tau enggak. Dasar sampah " ujar Clara mengejekku.
" hahaha! Loe pikir,rumah ini punya bokap loe. Bangun woooi. Ini rumah nyokap gw, kapan bokap loe beli rumah kayak gini hah! Apalagi nyokap loe, enggak bakalan sanggup deh belinya. Ya kali, nyokap loe mampu,secara selama ini kan nyokap loe cuma ngandenin selangkangannya aja buat dampingin bokap. Jadi uang dari mana dia beli rumah ini " ujarku remeh.
" Sialan loe bicht. Lama lama mulut loe enggak sekolah, gw akan laporin ke bokap. Awas aja loe " ujar Clara geram.
loe " ujarku sambil menyeringai licik.
Gluuk
Aku lihat Clara sangat ketakutan dan kesulitan menelan ludahnya. Belum lagi wajahnya yang pucat karena tante Amelia melotot mendengar ucapanku.
Wooow! Sepertinya gw tau apa yang bisa bikin Clar mati gaya.
Aku pun meninggalkan mereka berdua. Aku dengar samar samar tante Amelia mengintrogasi putrinya. Menanyakan kebenaran ucapanku.
Keren! Lanjut bicht,gw mau tau apa yang loe lakuin kalo tau anak loe enggak jauh beda sama loe sialan.
Saat aku mau masuk ke rumah,aku lihat mereka sudah pergi dengan mobilnya.
Baru di gertak saja sudah ribut kayak begitu. Apalagi kalo tau anaknya jadi piala bergilir.
__ADS_1
Boom
Meledak kali yah emosinya. Hahaha
serah deh .
Aku pun melangkah ke dalam rumah,kulihat mama sedang bersandar di sofa sambil memejamkan mata.
Aku pun duduk di sebelahnya. Aku tau mama tak tidur,
" Kenapa enggak ngabarin aku kalo mereka datang. Kalo aku enggak pulang, pasti mereka akan berbuat semaunya sama mama. Mama enggak kasihan sama aku karena aku akan merasa bersalah banget kalo sampe terjadi apa apa sama mama " ujarku kesal.
" Maaf nak! Mama hanya tak mau kamu khawatir sama mama. Dan akhirnya kamu kenapa napa di jalan " ujar mama pelan.
" Hah! Serah mamalah tapi yang pasti mama harus dengerin aku kali ini. Aku enggak mau di bantah. Aku akan nenpatin orang buat menjaga rumah ini. Karena aku enggak mau kecolongan lagi. Gimana kalo mereka berhasil dapetin tanda tangan mama. Kita bakalan kehilangan semuanya. Tau enggak sih ma " ujarku sambil menahan emosi.
" Mama ikut kamu aja kalo gitu Meg,kamu yang urus karena semua ini punya kamu nanti kalo mama udah enggak ada " ujar mama pelan.
" Enggak usah ngomong kayak gitu. Aku tau umur itu kita enggak tau tapi mama enggak bisa sesantai itu ngomongnya. Seolah olah mama akan tinggalin aku sebentar lagi. Aku enggak suka " ujarku ketus.
" Sorry dear! Kalo gitu bantu mama ke kamar,mama mau istirahat. Enggak perlu panggil Dokter,mama baik baik aja kok " ujar mama pelan.
" Tapi! Aku enggak bisa tenang kalo mama belum di periksa Dokter. Aku cuma antisipasi aja moom. Aku mau mama jangan mempersulit aku " ujarku sambil memapah mama ke kamar.
"Ya sudahlah Meg! Mama ikut apa kata kamu aja "ujar mama lirih.
" Sebaiknya mama tinggal di rumah besar,karena aku khawatir mama kenapa napa. Please moom " ujarku pelan.
" Iya udahlah Meg! Mungkin selama mama dan papa kamu belum selesai sidang. Kita tinggal di rumah besar. Tapi enggak pa pa kamu dari sana ke sekolah kan jauh " tanya mama.
" Enggak pa pa! Aku tinggal di base camp aja " jawab Megan.
" Ya terserah kamu aja. kalo ada apa apa kabarin mama ya " pinta mama.
" Iya! Kalo gitu aku siapin dulu semua keperluan buat di rumah besar " ujar Megan sambil mengambil koper sang mama.
" Ok Meg! Makasih ya, kalo gitu mama istirahat dulu " ujar mama sambil menejamkan mata.
__ADS_1
" Mmm! Ya " jawab Megan pelan.
Sialan loe Amelia,gw pastiin kalo gw akan membantai anak loe sialan