BAD BOY AND BAD GIRL

BAD BOY AND BAD GIRL
BAD BOY AND BAD GIRL


__ADS_3

Kejadian itu terus menghantuiku. Aku benar benar lelah dengan trauma ini.


Normal pov


Rasanya kaki ini seperti jeli setiap melangkah menelusuri lorong apartemen yang menjadi saksi dimana Kevin tertembak dan aku panik melihat darah di mana mana.


Bahkan semuanya seperti film yang diputar di bioskop. Terasa nyata dan membayang di setiap aku menatap titik yang menjadi tempat kejadian saat itu.


Aku seperti mendengar suaraku sendiri yang panik dan ketakutan. Pistol yang berbunyi bersahutan. Memanggil minta tolong karena kondisi Kevin yang sedang tak sadar karena terkena tembakan.


Membuatku pusing dan kepalaku berat. Sehingga saat aku tak sanggup lagi dan semuanya gelap.


Entah berapa lama aku tak sadarkan diri. Saat sadar yang aku lihat adalah Kevin yang sedang terlelap di sampingku.


Aku perhatikan ruangan di mana aku tidur. Kamar Kevin, jadi juga aku berada di tempat ini.


Hah, rasanya ada yang mengganjal membuatku sesak dan sulit bernafas. Aku juga kesulitan menelan ludahku. Entahlah, rasanya ada yang tak bisa di katakan dengan rangkaian kata.


Takut, itu yang pasti. Bunyi tembakan, darah dan kepanikanku. Semuanya berputar seperti kaset kusut.berulang ulang dan terus berulang. Membuatku akhirnya menutup mata dan telinga.


Greep


Aku rasakan pelukan Kevin,yang berusaha menenangkanku.


" semuanya akan baik baik aja bab! Loe jangan terlalu memikirkan kejadian itu. Loe harus bisa lawan semuanya,lawan trauma loe. Gw enggak mau kita bubar hanya karena loe masih takut " ujar Kevin meyakinkanku.


" Tapi Vin! Ngomong tuh gampang tapi yang jalanin tuh gw. Loe enggak tau sih gimana rasanya. Semuanya seperti kayak kaset rusak tau nggak. Membayang trus bergantian di mata gw. Dari pistol bersahutan, loe yang kena tembak dan gw dilecehkan tu bajingan. Semuanya enggak bisa hilang Vin. Enggak bisa " ujarku kesal, entah pada siapa.


" Gw mau loe ke Psikiater yang udah gw siapin buat menghilangkan trauma loe bab" ujar Kevin.


" Tapi Vin! Gw enggak gila yah. Harus loe bawa ke Psikiater segala" ujar Meca sewot.


Cteek


" Memangnya yang ke Psikiater itu gila " ujar Kevin kesal.


" Ih sakit Vin! Tapi gw tetap enggak mau ke sana " ujarku merajuk.


" Harus! Enggak ada penolakan " ujar Kevin.


" Enggak ada! loe aja sana konsul " ujar Meca sewot.


"Loe nurut atau kita bikin baby sekarang " ujar Kevin sambil menyeringai licik.

__ADS_1


" Dih apaan! Ancamannya enak di elo apes di gw Vin " ujarku kesal.


" Haa. Haa ! Mana ada apes di loe, yang ada sama enak kali " ujar Kevin jahil.


"Iss dahlah gw mau pulang aja tapi pinjam masker buat nutup mat gw. Harus nuntun gw Vin " ujar Meca pada Kevin.


" Hah! Makanya ikut gw konsul biarloe bebas kemana aja tampa takut. Ngerti " ujar Kevin kesal karena kekeras kepalaanku.


" Tapi Vin! Gw takut gimana dong" ujarku cemas.


" Gw temenin sampe loe siap dan setiap jadwal konsul gimana? "ujar Kevin memberikan penawaran pada Meca.


" Mang bisa! Makhluk super duper sibuk kayak kamu ada waktu buat aku " ujar Meca tak percaya.


" Yang pasti kamu bisa mempercayai ucapanku " ujar Kevin meyakinkanku.


" Iya udah deh kalo gitu. Gw ikut loe Vin tapi janji ya temenin, gw enggak mau sendiri " ujar Meca.


" Iya janji bab! Dah katanya mau pulang atau nginep sini aja. Ntar aku bilangin orangku suruh siapin baju ganti buat kita. Gimana ? " ujar Kevin.


" Gw balik aja deh Vin! Hari ini ada pertemuan di rumah besar. Membahas masalah papa dan mama. Jadi gw harus ke sana " ujarku sendu.


" loe ok bab! Kalo bonyok cerai loe gimana " tanya Kevin khawatir.


" Gw ok kok! Santai aja lagi, lagian gw yang nyaranin mama buat cerai sama papa. Buat apa masih berstatus sebagai suami istri tapi papa seolah lupa kalo kami ada. Dia sibuk sama istri keduanya dan anak keduanya " ujar Meca sendu.


" Gw udah siapin mental gw buat hadapin hari . Gw pikir ini lebih baik dari pada gw punya bokap tapi tak pernah ada buat gw " ujar Meca sendu.


Kevin langsung memeluk gadisnya erat. Semua orang tak tau seperti apa hubungan mereka berdua tapi yang jelas pada akhirnya Kevin akan memilih Meca jika dia ingin pulang. Karena Meca adalah rumahnya.


Meskipun hubungan mereka seperti bayangan yang tak pernah bisa di perlihatkan secara nyata mengingat musuh Bramasta yang ada di mana mana. Takutnya mereka kembali menjadikan Meca sebagai kelemahannya.


Setelah bersiap mereka pun keluar dari kamar apartemen Kevin dengan Meca yang matanya di tutup oleh masker sampai lobby apartement.


Tersenyum lega, akhirnya Meca pun melepas maskernya. Lalu menggandeng tangan Kevin mesra.


" Di masa depan gw harap loe akan selalu menggandeng tangan gw mesra kayak gini bab" celetuk Kevin.


Membuatku tersadar dan bergegas melepaskan gandenganku tapi malah di tahan oleh Kevin.


" Jangan di lepas dong bab! Baru juga ngerasain asiknya di gandeng mesra pacar udah di lepas aja gandengannya " ujar Kevin membuatku tersipu malu.


" Iss enggak lucu ya! Lagian tumben seorang Kevin Enzilio Bramasta yang terkenal dingin bisa ngegombal juga " ujarku menutupi rasa gugupku.

__ADS_1


" Dih meskipun gw dingin tapi liat dulu dengan siapa gw dingin dan dengan siapa gw hangat. Masa sama pacar gw dingin juga " ujar Kevin sambil mengedipkan mata jahil.


" Ih udah ah! Aku pulang sendiri aja dari pada di godain terus sama kamu " ujar Meca ngambek.


" Eh iya iya! Janji deh enggak godain lagi. Gw anter pulang ya bab! " ujar Kevin sambil menggandeng Meca ke mobilnya.


Sesampainya di rumah akupun turun dari mobil tapi aku melihat ada mobil papa di halaman rumah.


Degg


" Ada apa ini! " Tanyaku dalam hati.


Kevin pun melihat ke arah yang aku pandang lalu menepuk bahuku.


" Dah sana masuk! Aku tunggu di sini kalo ada yang berbahaya di dalam kamu tinggal keluar manggil aku " ujar Kevin memberi semangat.


" Janji enggak kemana mana " tanyaku memastikan.


" Iya aku janji " ujae Kevin lalu menyuruhku masuk.


Aku melangkah ke dalam rumah dengan hati yang berdebar. Semakin ke dalam aku mendengar pertengkaran kedua orang tuaku.


Prang


degg


Aku percepat langkah kakiku. Di dalam sana aku menatap nanar seorang pria yang merupakan ayah kandungku sedang mengamuk dan memaksa mamaku menyerahkan beberapa aset milik kami padanya di bantu wanita yang merupakan istri kedua papaku.


Grepp


Aku langsung menahan tangan dari wanita kedua papaku yang hampir menempel di pipi mamaku.


aku genggam lengannya dengan kuat membuat dia meringis.


" Iss lepas anak sialan! Kurang ajar kamu sama orang tua " ujarnya marah sambil meringis.


" Saya bisa sopan tapi bisa juga kurang ajar tante, tergantung bagaimana sikap orang yang saya hadapi. Sekarang saya bersikap kasar dan kurang ajar karena anda berani menurunkan tangan anda pada mama saya. Anda pikir anda siapa hah. Jangan karena anda jadi prioritas papa saya anda jadi ngelunjak " ujarku dingin.


" Meca! Apa apaan kamu. Jangan kurang ajar sama istri papa. Dia itu juga mama kamu " ujar papa geram.


Akupun melepaskan pegangan pada tante Amel kasar membuatnya terjatuh di sofa.


" kenapa! Enggak suka, kalo enggak suka jangan pernah bawa dia ke rumah ini lagi atau seluruh dunia tau semurahan apa wanita kedua papa " ujarku dingin mengancam papa.

__ADS_1


Aku bereskan dokumen yang ada di atas meja. Licik, papa memaksa mama melepas dan mengalihkan asetnya ke tante Amelia.


" Enggak akan pernah terjadi " ujarku sambil merobek dokumen itu.


__ADS_2