
Dukung terus penulis biar terus berkembang, dengan cara , like, komen, rate , dan vote bila ada rejeki lebih boleh donasi....
-----------------_------------------------------------------------
Aku tersenyum pada diriku sendiri karena merasa tidak sabar dan frustasi pada saat yang sama dan mulai berjalan melewati jalur yang ada.
Saat ini, rumah tempat tinggal ku berada di kota terbesar di Puri Martonegaran, yaitu , yang lokasinya berada di lantai ke 50.
Yah, dari luasnya, Starting City lebih besar, tapi tempat itu sekarang sudah menjadi markas sepenuhnya, jadi berjalan di sekitar sana menjadi agak tidak nyaman.
Segera setelah aku keluar dari padang rumput yang mulai menggelap, sebuah hutan yang berisi pohon-pohon tua membentang di depanku.
Jika aku berjalan selama tiga puluh menit lewat sini, Aku akan sampai di dari lantai 74 dan bisa menggunakan disana untuk teleport ke Algade.
Aku bisa saja menggunakan satu dari instant teleportation item didalam inventory ku untuk kembali ke Algade kapanpun.
Tapi karena harganya sedikit mahal, Aku enggan menggunakannya kecuali jika aku sedang berada dalam situasi berbahaya.
Masih ada sedikit waktu hingga mataharinya menghilang sepenuhnya, jadi aku menolak godaan untuk kembali kerumah secepatnya dan akhirnya masuk kedalam hutan.
Sebagai catatan, ujung-ujung dari setiap lantai di Puri Martonegaran biasanya terbuka lebar langsung ke langit, kecuali bagian tiang penahannya.
__ADS_1
Pohon-pohon menjadi berwarna merah api karena terkena cahaya yang masuk melalui celah tersebut.
Kabut yang mengalir diantara cahaya matahari memantulkan cahaya dengan indahnya.
Suara kicau-an burung, yang sering terdengar disiang hari, menjadi sulit terdengar, karena suara batang pohon yang bergoyang-goyang karena tertiup angin yang kencang.
Aku tahu dengan jelas kalau aku bisa bertarung dengan monster di area ini meskipun aku mengantuk, tapi rasa takut yang datang bersamaan dengan kegelapan susah dihindari.
Sebuah perasaan yang mirip dengan ketika aku tersesat dan tidak bisa pulang waktu kecil menyelimutiku.
Tapi aku tidak membenci perasaan ini.
Aku kadang-kadang melupakan rasa takut ini ketika aku masih di dunia nyata.
Ketika aku sedang terpaku mengenang masa lalu, sebuah teriakan yang belum pernah kudengar sebelumnya memasuki telingaku.
Itu terdengar hanya sesaat, keras dan jelas seperti suara sebuah peluit.
Aku menghentikan langkahku dan mencari dengan seksama ke arah suaranya berasal.
Jika kau mendengar atau melihat sesuatu yang kau tidak pernah alami sebelumnya di dunia ini, itu bisa saja berarti kalau kau sangat beruntung atau bisa juga sebaliknya.
__ADS_1
Sebagai seorang solo player, Aku melatih skill ku.
Skill ini mencegah serangan tiba-tiba dan ketika kau sudah ahli menggunakannya, itu akan memberikan kemampuan tambahan pada si pemain untuk bisa mendeteksi monster yang sedang "bersembunyi."
Dengan itu, AKu bisa melihat seekor monster bersembunyi diantara batang pohon di jarak sepuluh meter dariku.
Monster itu tidak terlalu besar.
Monster itu mempunyai bulu hijau untuk berkamuflase diantara dedaunan dan mempunyai telinga yang lebih panjang dibandingkan tubuhnya.
Ketika aku berkonsentrasi kearahnya, secara automatis monster itu menjadi targetku dan sebuah cursor berwarna kuning muncul bersama dengan namanya.
bersambung...
_--------------------------------------------_
**kali ini penulis menulis dengan hati yg hancur penuh kemarahan dan kekecewaan yg begitu saja terlintas, dan seharian ini uring uringan, dan sampek nulis chapter ini selesai, belum ketemu apa yang aku marahin, aku keselin tadi,, mungkin terlalu banyak menghayal,,, karena memang penulis itu adalah seorang penghayal..
semoga tidak mempengaruhi hasil tulisan ini...
terima kasih..
__ADS_1
Ponorogo, 5 juli 2020**.