
BALADA PERJAKA TUA episode 48 dengan judul Old Virgin Ballad Guild. oleh Author COKRO.
selamat menikmati.
*************************************"**"****
Sesaat setelah aku meminum habis teh di poci teh yang ada di hadapanku, dan Agil menyelesaikan pemeriksaan item-item ku, aku mendengar suara langkah kaki berlari menaiki tangga. Kemudian, pintunya dengan cepat terbuka.
“Hey, Angela…”
Aku hampir saja mengatakan "Kau terlambat" tapi aku menghentikannya. Angela mengenakan seragamnya seperti biasa, tapi wajahnya pucat dan matanya menunjukkan rasa khawatir.
Dia menaruh kedua tangannya di depan dadanya, menggigit bibirmnya dua atau tiga kali, dan kemudian berkata:
“Apa yang harus kita lakukan. Damar…”
Dia memaksakan untuk mengeluarkan suara yang hampir terdengar seperti tangisan. “Sesuatu.. yang buruk telah terjadi.”
Setelah meminum sedikit teh yang baru dimasak, wajah Angela sedikit kembali cerah dan dia mulai menjelaskan dengan sedikit ragu. Agil turun kembali ke lantai pertama setelah menyadari suasananya.
“Kemarin…setelah aku kembali ke markas di Grandum, aku melaporkan semua yang terjadi pada ketua guild. Kemudian aku mengatakan kalau aku ingin mengambil cuti dari guild dan kembali kerumah… Kupikir, aku akan mendapat izin selama pertemuan pagi rutinitas guild…”
Angela, yang duduk di depanku, menurunkan matanya dan menggenggam dengan erat gelas teh nya sebelum melanjutkan pembicaraan.
“Ketua…berkata kalau aku bisa mengambil istirahat sejenak dari guild. Tapi ada satu syarat… Dia bilang kalau…dia ingin bertarung…dengan Damar…”
“Apa…?” Aku tidak dapat mengerti apa yang dia maksudkan selama beberapa saat. Bertarung…apa itu maksudnya sebuah duel ? Apa hubungannya duel dengan Angela mengambil cuti? Ketika aku menanyakannya…
“Aku juga tidak tahu..”
Angela menggelengkan kepalanya sambil melihat ke arah lantai. “Aku sudah mencoba mengatakan padanya kalau tidak ada artinya melakukan hal itu… tapi dia tidak mau mendengarkan perkataanku…”
“Tapi…ini menyulitkan. Kalau orang itu tiba-tiba menyampaikan persyaratan seperti ini…” Aku bergumam saat wajah dari ketua guild itu terbayang di pikiranku.
__ADS_1
“Aku tahu. Ketua biasanya membiarkan kami saat kami merencanakan strategi untuk menyelesaikan sebuah lantai, apalagi kegiatan guild sehari-hari. Tapi aku tidak tahu kenapa kali ini dia…”
Meski ketua BPT punya kharisma yang luar biasa, yang menarik kekaguman bukan hanya dari seluruh anggota guildnya tapi juga hampir semua orang orang yang berada di garis depan, dia tidak pernah memberikan instruksi ataupun perintah.
Aku bertarung disampingnya beberapa kali dalam pertarungan melawan boss dan aku juga mengagumi kemampuannnya untuk
mempertahankan barisan tanpa berkata apapun.
Pria seperti itu mengajukan keberatan dengan memberikan syarat untuk melakukan duel denganku, sebenarnya apa maksudnya ini?
Meski aku benar-benar kebingungan, aku berbicara untuk menenangkan Angela
“…yah, ayo ke Grandum dulu. Aku akan mencoba berbicara langsung dengannya.”
“Ya… Maaf. Aku selalu membuatmu repot…”Aku senang melakukan apapun, karena kau adalah…”
Angela melihat kearahku dengan berharap ketika aku berhenti ditengah kalimatku.
“…partnerku yang penting.” Angela mencibir dengan rasa tidak puas, tapi kemudian dia menunjukkan senyuman yang hangat.
Namanya adalah Heathcliff. Sebelum «Dual Blades» milikku diketahui secara luas, dia dikenal sebagai satu-satunya pengguna unique skill diantara enam ribu player di Puri Martonegaran (Martonegaran castle).
Kemampuan ekstra miliknya menggunakan kombinasi dari sebuah pedang dan perisai, yang keduanya berbentuk salib, dan membiarkannya mengubah antara menyerang dan bertahan dengan bebas. Itu dinamakan «Holy Sword».
Aku telah melihatnya dengan mata kepalaku sendiri selama beberapa kali, dan menyadari kalau aspek yang paling menonjol dari skill itu adalah kekuatan bertahannya yang sangat hebat.
Rumor mengatakan kalau tidak ada seorangpun yang pernah melihat HP nya masuk ke zona kuning. Selama pertarungan melawan boss di lantai 50 yang menyebabkan kematian banyak player, dia mampu menahan barisan sendirian selama lebih dari sepuluh menit.
Hal itu masih menjadi topik pembicaraan yang populer hingga sekarang. Tidak ada senjata yang bisa menembus perisai berbentuk salib milik Heathcliff.
Ini adalah salah satu pendapat yang diakui oleh sebagian besar orang di Martonegaran castle ( Puri Martonegaran ).
Ketika aku sampai di lantai 55 dengan Angela, aku merasakan rasa tegang yang tidak bisa dijelaskan. Tentu saja, Aku tidak ada keinginan untuk beradu pedang dengan Heathcliff.
__ADS_1
Hanya ingin memintanya untuk mengabulkan permintaan Angela untuk cuti sementara dari guild; hanya itu tujuanku.
Grandum, merupakan tempat tinggal di lantai 55, yang dijuluki «Kota Besi». Ini karena Grandum, tidak seperti kota-kota lainnya yang terbuat dari batu, hampir seluruhnya terdiri dari menara raksasa yang terbuat dari besi hitam yang mengkilap. karena kotanya memiliki banyak sekali blacksmith, populasi playernya lumayan tinggi.
Tetapi, karena tidak ada pohon atau penghijauan di sekeliling jalan, itu memunculkan perasaan kalau kota ini dingin sekali saat angin musim dingin berhembus.
Kami datang melalui gerbang plaza dan melangkah sepanjang jalan yang terbuat dari lempengan besi yang ditempelkan dengan paku. Langkah kaki Angela terlihat berat; mungkin itu karena dia takut dengan apa yang akan terjadi nanti.
Kami berjalan diantara menara-menara besi selama sekitar sepuluh menit hingga sebuah menara yang lebih besar berdiri dihadapan kami.
Tombak besi menonjol keluar diatas gerbang yang sangat besar, dimana bendera putih dengan salib merah berkibar diantara angin yang dingin. Itu adalah markas dari guild Old Virgin Ballad (Balada Perjaka Tua).
Angela berhenti didepanku. Dia melihat keatas menara selama beberapa saat dan berkata:
“Sebelumnya, markas kami adalah sebuah rumah kecil di desa yang berada dipinggir lantai 39 . Semua orang selalu protes kalau itu terlalu kecil dan ramai. Aku tidak menentang perluasan guild…tapi kota ini terlalu dingin, dan aku tidak menyukainya…”
“Ayo cepat selesaikan hal ini; lalu kita bisa mencari sesuatu yang hangat untuk dimakan.”
“Kau selalu berbicara tentang makanan.” Angela tersenyum dan menggerakkan tangan kirinya untuk menggenggam jari jari tangan kananku dengan lembut.
Dia sama sekali tidak melihat kearahku, yang kebingungan karena kelakuannya, dan berdiri seperti itu selama beberapa detik.
"Baiklah, pengisian selesai!” Lalu dia melepaskan tanganku dan mulai berjalan menuju menara itu dengan langkah yang panjang. Aku buru-buru mengikutinya dari belakang.
Setelah menaiki tangga, kami mencapai dua buah gerbang yang terbuka lebar, meski ada seorang penjaga dengan armor berat dan sebuah tombak yang lumayan panjang di kedua sisi.
Angela berjalan mendekati mereka, hak dari sepatunya berbunyi setiap kali menyentuh lantai. Saat dia mendekati mereka, kedua penjaga itu memberi hormat dengan mengangkat tombak mereka dari atas tanah.
bersambung.
***********************"**"""
ikuti Gusku Suamiku, Legenda Ponorogo dan The King's Wasted Princess.
__ADS_1