Balada Perjaka Tua (Old Virgin Ballad Guild).

Balada Perjaka Tua (Old Virgin Ballad Guild).
ch. 45. Ambil Alih


__ADS_3

BALADA PERJAKA TUA episode 45 dengan judul Ambil Alih. oleh Author COKRO.


selamat menikmati.


*********************************************


“Serbu-!”


Dua dari sepuluh orang telah kehilangan hampir seluruh HP mereka dan berbaring di lantai. Kedelapan orang lainnya berbaris empat-empat dengan Cobert ditengahnya, yang memimpin penyerbuan dengan pedangnya yang terangkat tinggi.


“Jangan-!!”


Tapi suaraku tidak mencapai mereka. Itu adalah serangan yang sia-sia. Jika mereka berlari menerjang bersamaan, mereka tidak akan bisa menggunakan sword skills mereka dengan benar dan hanya akan menambah kekacauan. Mereka harus bertarung secara bertahan, bergantian satu-satu untuk memberikan damage, dan dengan cepat melakukan switching ke anggota yang selanjutnya.


Demon itu berdiri dengan tegak dan mengeluarkan auman yang mengguncangkan lantai sebelum menghembuskan api yang sangat terang. Sepertinya apinya dihitung sebagai serangan yang memberikan damage, dan mereka berdelapan melambat ketika api biru itu menyelimuti mereka. Sang demon mengambil kesempatan itu dan mengayunkan pedang besarnya.


Tubuh seseorang terpental ke udara, terbang melewati kepala sang demon, dan kemudian terjatuh dengan keras ke tanah didepan kami.


Itu adalah Cobert. HPnya telah menghilang sepenuhnya. Dengan ekspresi yang sepertinya tidak mengerti situasi, dia perlahan menggerakkan mulutnya.


-Ini mustahil. Ucapnya tanpa bersuara. Lalu, dengan sebuah sound effect yang mengerikan yang menusuk jiwa kami, tubuhnya pecah menjadi sebuah pusaran yang terbuat dari polygon. Disampingku, Angela mengeluarkan teriakan singkat melihat kematiannya yang sia-sia.


Dengan pemimpin mereka yang telah tiada, anggota The Army segera menjadi ribut. Mereka berlari kesana kemari sambil berteriak. Semua HP mereka sudah dibawah setengahnya.


“Tidak…tidak…tidak lagi…”Ketika aku mendengar suara Angela yang menegang, Aku melirik kesamping kearahnya. Aku segera mencoba untuk menarik tangannya... Tapi aku terlambat.


“Tidak-!!” Dengan teriakan ini, Angela berlari seperti angin. Dia mengeluarkan rapier nya dan menerjang kearah The Gleameyes seperti kilatan cahaya.


“Angela!!"


Aku berteriak. Tanpa ada pilihan lain, aku menarik pedangku dan mengikutinya.


“Eh, apa boleh buat!!”


Klein dan party nya kemudian berteriak dan mengikuti kami.


Serangan ceroboh Angela mengenai punggung demon itu ketika perhatiannya mengarah ke anggota The Army. Tapi HPnya hampir tidak berkurang sama sekali.


The Gleameyes itu mengaum, kemudian berbalik kebelakang dan mengayunkan zanbato miliknya kebawah. Angela segera melangkah kesamping untuk menghindar, tapi dia tidak bisa menghindar sepenuhnya dan terjatuh karena guncangannya. Serangan kedua mengarah kepadanya tanpa menunggunya bersiap-siap.


“Angela-!!” Aku merasa tubuhku mendingin karena takut ketika aku berdiri mencegah diantara Angela dan pedang itu. Pedangku tepat waktu menahan serangannya.

__ADS_1


Lalu, aku merasakan efek benturan itu diseluruh tubuhku saat guncangannya


mengenaiku.


Saat percikan keluar dari kedua pedang, pedang demon itu mengenai lantai hanya beberapa cm dari Angela. Pedangnya membuat sebuah lubang besar dilantai dengan sound effect yang seperti ledakan.


“Mundur!”


Aku berteriak dan bersiap untuk serangan selanjutnya. Pedangnya datang


kearahku berkali kali dengan tenaga yang kuat seperti kalau itu akan mencabut nyawaku dengan satu serangan. Tidak ada satupun celah bagiku untuk melakukan counterattack.


Teknik The Gleameyes berdasar kepada two-handed sword skill. Tapi mereka agak sedikit diubah, yang membuat mereka sulit untuk dibaca. Aku berkonsentrasi penuh untuk bertahan dengan menghindar dan menangkis. Tapi serangan-serangannya sangat kuat dan mengurangi HP ku setiap


ayunannya.


“Argh!!”


Akhirnya, satu dari serangannya mengenai tubuhku dengan tepat. Aku


merasakan efek benturan yang mengejutkan- ku, dan HP ku berkurang banyak.


Ketakutan akan kematian membuat


tubuhku menggigil. Aku bahkan tidak bisa lagi mencoba untuk kabur. Hanya ada satu hal yang bisa kulakukan. Aku harus melawannya dengan semua yang kupunya sebagai seorang damage dealer.


“Angela! Klein! Berikan aku sepuluh detik!” Aku berteriak dan mengayunkan pedangku dengan keras untuk menangkis serangan musuh dan membuat sebuah break point. Lalu aku melompat kesamping dan berguling. Klein segera menggantikan posisiku dan menahan demon itu dengan katananya.


Tapi katana Klein dan rapier Angela adalah senjata yang mengandalkan kecepatan jadi mereka kekurangan berat. Aku sadar kalau itu tidak mudah bagi mereka untuk menahan zanbato demon itu. Sambil berbaring di lantai, aku membuka menu dengan tangan kiriku.


Aku tidak boleh membuat kesalahan sedikitpun sekarang. Dengan jantungku yang berdetak dengan kencang, aku mulai menggerakkan jari tangan kananku. Aku membuka item list ku, mengambil sesuatu didalamnya, dan mengequip nya di tempat kosong di profil equipment ku. Lalu aku membuka skill window dan mengganti weapon skill ku.


Setelah menyelesaikan semua itu, aku menyentuh tombol OK dan menutup windownya. Aku memastikan berat tambahan dipunggungku, kemudian mengangkat kepalaku dan berteriak:


“Aku selesai!!”


Aku melihat Klein terkena serangan sekali, dan HP nya berkurang saat dia melangkah mundur. Biasanya, dia bisa menggunakan crystal untuk menyembuhkan dirinya, tapi itu tidak bisa dilakukan di ruangan ini.


Sekarang, Angela sedang bertarung dengan demon itu, dan dalam beberapa detik saja HP nya telah berkurang lebih dari setengah dan berubah kuning.


Setelah dia mendengarku, Angela mengangguk tanpa melihat kearahku dan mengeluarkan teriakan pendek sebelum melakukan skill menusuk.

__ADS_1


“Yaaaa!”


Sebuah melayang diudara dan mengenai senjata The Gleameyes, membuat


percikan keluar dari pedangnya. Saat terdengar sebuah suara keras, jarak


diantara Angela dan demon itu melebar.


“Switch!!” Aku tidak melewatkan kesempatan itu dan menerjang lurus kearah musuhku. Demon itu dengan cepat sadar dari effect stun dan mengangkat pedangnya tinggi di udara. Dengan pedang ditangan kananku, aku menangkis pedang demon itu yang turun bersamaan dengan jejak pedang yang seperti api.


Lalu aku menggapai punggungku dengan tangan kiriku dan menggenggam pegangan pedang baru. Aku menarik pedangku dan menusuknya dengan satu gerakan lancar. HP demon itu terlihat berkurang saat serangan telak pertama mengenai tubuhnya


“Kwuaaaaa!”


Demon itu mengaum dengan amarah dan mencoba melakukan serangan


menebas kebawah lagi. Kali ini, aku menyilangkan kedua pedangku dan


menangkisnya sepenuhnya. Saat posturnya tidak seimbang, aku mencoba untuk menghentikan gaya bertahanku dan melakukan sebuah combo attack.


Tangan kananku menebas dengan horizontal kearah perut demon itu. Pedang ditangan kiriku segera mengikuti untuk menebas secara vertikal ke tubuhnya.


Kanan, kiri, lalu kanan lagi. Aku mengayunkan pedangku seakan saraf di kepalaku memasuki keadaan sangat cepat. Suara dari logam yang beradu terdengar keras satu demi satu ketika api-api putih berkelap-kelip di udara.


Ini adalah extra skill yang telah kusembunyikan, , dan teknik yang kugunakan adalah sword skill tingkat tingginya yang disebut , sebuah combo serangan 16-hit.


“Ahhhhh!!”


Tanpa memperhatikan beberapa serangan yang berhasil ditahan oleh pedang demon itu, aku terus berteriak saat aku terus menyerang tanpa henti dengan pedangku.


Mataku memanas, dan penglihatanku hanya melihat demon itu. Meskipun pedang demon itu masih mengenai tubuhku beberapa kali, benturannya terasa seperti itu terjadi di dunia lain yang jauh. Sementara itu, adrenaline terus mengalir diseluruh tubuhku, dan gelombang otakku meningkat setiap kali pedangku mengenai sasaran.


Lebih, lebih cepat. Ritme seranganku sudah melampaui dua kali kecepatan normalnya, tapi itu masih terasa sangat lambat dihadapan indra ku yang dipercepat. Aku meneruskan seranganku dengan kecepatan yang sepertinya telah melebihi bantuan sistemnya.


**bersambung


****************"*"*********************"""""***


ikuti Gusku Suamiku, Legenda Ponorogo, dan The king's Wasted Princess**.


__ADS_1


__ADS_2