
BALADA PERJAKA TUA episode 41 dengan judul THE GLEAMEYES. oleh Author COKRO.
selamat menikmati.
**************************""*******************
HP musuhnya berkurang banyak dari semua serangan itu dan sekarang berada di area merah.
Aku menggunakan semua tenaga di tubuhku untuk melakukan tebasan horizontal kearah kiri terakhir dari combo 7-hit .
Pedangnya mengenai leher tengkorak itu, menciptakan garis bersinar yang terang.
Tulangnya patah dengan suara menggeretak dan kepala tengkorak itu mental keudara, tubuhnya jatuh ke tanah seperti sebuah boneka yang terputus tali yang menopangnya.
“Kita menang!!”
Angela menepuk pundakku dimana pedangku berada.
Kami membiarkan pembagian itemnya untuk nanti dan mulai berjalan lagi.
Hingga sekarang, kami telah melawan monster empat kali tapi kami menang hampir tanpa ada damage yang mengenai kami.
Karena gaya bertarung Angela banyak menggunakan tusukan sedangkan gaya bertarungku adalah untuk menggabungkan skill-skill besar, itu membuat AI monsternya menjadi tegang dalam hal algoritma, bukan kemampuan proses CPU yang sebenarnya dan membuat skill kami menjadi cocok.
Mungkin level kami juga tidak berbeda
terlalu jauh.
Kami berjalan berhati-hati melewati gang megah yang dikelilingi oleh tiang tiang.
Tidak ada kemungkinan untuk diserang tiba-tiba dengan kemampuan scan ku, Tapi gema dari langkah kaki kami terus membuatku khawatir.
Di labyrinth ini tidak terdapat sumber cahaya, tapi lingkungan di sekeliling kami mengeluarkan cahaya redup yang misterius, jadi kami bisa melihat dengan baik.
Aku dengan hati-hati memeriksa gang yang memantulkan cahaya biru yang lembut.
Di lantai bawah labyrinthnya terbuat dari batu kapur berwarna coklat kemerahan.
Tapi ketika kami naik ke atas, lingkungannya terbuat dari sejenis batu yang mengeluarkan cahaya biru.
Tiang-tiangnya terukir dengan gambar yang menakjubkan tetapi membuat merinding, dan genangan air yang dangkal mengalir dibawah kaki kami, menutupi lantainya.
Kau bisa bilang kalau suasananya menjadi .
Di peta tidak ada lagi banyak tempat kosong.
Jika tebakanku benar maka area di depan mungkin adalah-
Di ujung gang, sepasang pintu berwarna abu-abu kebiruan berdiri menanti kedatangan kami.
Pahatan di pintu itu mirip dengan yang ada di tiang-tiang.
Bahkan jika semua ini hanyalah dunia yang terbuat dari data, aura yang aneh terasa keluar dari pintu itu.
__ADS_1
“…apakah, itu…”
“Mungkin…? Itu adalah ruangan boss.”
Angela memegang lengan mantelku dengan erat.
“Apa yang harus kita lakukan…? Hanya melihat saja tidak apa-apa kan?”
Kebalikan dengan apa yang dia katakan, suaranya terdengar tidak tenang.
Bahkan jika dia adalah seorang top class swords- woman, sepertinya dia masih menganggap hal-hal seperti ini menakutkan.
Yah, itu wajar saja, sungguh.
Akupun juga merasa takut.
“…Yah, untuk jaga-jaga ayo siapkan item teleportasi.”
“Ya.”
Angela mengangguk dan mengeluarkan sebuah kristal biru dari kantungnya.
Aku juga menyiapkan itemku.
“Siap…? Aku akan membukanya…”
Dengan tangan kananku yang dipegang erat oleh Angela, Aku menyentuh pintu besi itu, dan tangan kiriku menggenggam crystal.
Jika ini adalah dunia nyata, telapak tangan ku pasti sudah dibanjiri oleh keringat sekarang.
Ketika itu mulai bergerak, kedua pintu itu terbuka dengan begitu cepat hingga kami berdua kaget.
Aku dan Angela berdiri disitu menahan napas kami ketika pintu besar itu berhenti bergerak dengan suara benturan keras dan menunjukkan kami apa yang ada didalam.
"Atau itulah yang kami pikir; didalam sangat gelap.
Cahaya yang menyinari gang tempat kami berada sepertinya tidak mencapai ujung dari ruangan itu.
Kegelapan dingin yang tebal tidak menunjukkan apapun seberapa kerasnya kami mencoba melihatnya.
“…”
Segera setelah aku membuka mulutku, sepasang api biru keputihan terlihat menyala jauh di dalam ruangan, lalu pasangan api lainnya muncul dan muncul.
Whoooooosh… dengan suara yang terus terdengar itu, sebuah jalan kecil menuju tengah ruangan terbentuk dalam sekejap mata.
Diujungnya, sebuah pilar api terbentuk, dan ruangan persegi itu dipenuhi dengan cahaya biru.
Ruangannya cukup luas.
Sepertinya semua tempat kosong dipeta termasuk kedalam ruangan ini.
Angela menempel ke tangan kananku seperti untuk menahan kegelisahannya, tapi aku tidak memiliki ruangan yang cukup dikepalaku untuk menikmati perasaan ini.
__ADS_1
Itu karena, dibalik pilar api itu, sebuah tubuh yang besar mulai muncul.
Tubuh yang besar itu dilapisi dengan otot-otot yang menonjol.
Kulit nya berwarna biru gelap dan kepala yang berada diatas dadanya yang besar itu bukanlah kepala manusia, tapi kepala kambing gunung.
Ada dua tandung yang meliuk yang menempel di kedua sisi kepalanya.
Matanya yang terlihat seperti terbakar oleh api biru terang, tertuju kearah kami.
Tubuh bagian bawahnya dilapisi oleh bulu berwarna biru laut dan tidak terlihat terlalu jelas di balik apinya, tapi itu terlihat kalau itu adalah bulu binatang.
Simpelnya, monster itu adalah demon (setan) dilihat dari manapun.
Ada jarak yang cukup jauh diantara bagian tengah ruangan dan pintu masuknya.
Meski begitu, kami berdiri membatu di tempat ini tidak bisa menggerakkan satu ototpun.
Dari semua monster yang kami lawan hingga sekarang, ini adalah pertama kalinya ada yang berbentuk demon.
Itu adalah sesuatu yang sudah terbiasa kulihat karena banyak sekali game RPG yang telah kumainkan.
Tapi sekarang aku benar-benar melihatnya, aku tidak bisa menahan ketakutan yang keluar dari dalam tubuhku.
Aku perlahan-lahan memfokuskan mataku dan membaca kata-kata yang muncul: .
Itu tidak salah lagi adalah boss di lantai ini.
Kata "The" di depan namanya adalah buktinya.
Gleameyes—yang matanya memancarkan cahaya.
Ketika aku memikirkan hal itu, demon biru itu tiba-tiba mulai menggoyangkan hidungnya yang panjang dan mulai berteriak.
Api biru yang muncul mengguncang ruangannya dengan kasar dan menggetarkan lantai ruangannya.
Napasnya yang berapi keluar dari hidung dan mulutnya ketika dia mengangkat pedangnya.
Lalu demon biru itu mulai menerjang lurus kearah kami dengan kecepatan yang tidak bisa dipercaya—membuat lantainya berguncang—tanpa memberikan kami waktu untuk bisa berpikir.
“Ahhhhhhhhhhhhhhh!”
“Kyaaaaaaaaaaaaaa!”
Sambil berteriak bersamaan, kami berbalik seratus delapan puluh derajat dan berlari secepat yang kami bisa.
Kami tahu secara teori kalau boss tidak bisa
keluar dari ruangannya, tapi kami tidak tahan berada disana.
Mempercayakan tubuh kami kepada dexterity stats yang telah kami latih hingga sekarang, kami berlari seperti angin melewati gang yang ada.
bersambung
__ADS_1
****************************************
ikuti karya lainya LEGENDA PONOROGO, & GUSKU SUAMIKU.