Balada Perjaka Tua (Old Virgin Ballad Guild).

Balada Perjaka Tua (Old Virgin Ballad Guild).
ch. 44. Anti-Crystal Area


__ADS_3

BALADA PERJAKA TUA episode 44 dengan judul Anti-Crystal Area oleh Author COKRO.


selamat menikmati.


**************************************


"Mereka tidak begitu bodoh hingga mau menantang bossnya kan…?”


Angela terlihat khawatir juga. Ada sesuatu didalam suara Cobert yang menunjukkan suatu kecerobohan.


“…apa kita harus memeriksa apa yang mereka lakukan…?”


Ketika aku berkata hal ini, bukan hanya Klein dan Angela, tapi bahkan kelima anggota yang lain juga setuju.…dan mereka bilang kalau aku terlalu baik…


Aku memikirkan hal ini dengan senyuman pahit. Tapi, aku sudah membuat keputusan. Aku tidak akan bisa tidur malam ini jika kami meninggalkan Labyrinth sekarang dan mendengar kalau mereka tidak kembali dari sini.


Ketika aku dengan cepat memeriksa equipmentku dan mulai berjalan, sebuah suara memasuki telingaku Aku bisa mendengar kalau Klein berbisik ke Angela dibelakangku.


Aku memikirkan apakah dia masih belum puas menerima sikutan dariku ketika aku mendengar isi pembicaraan mereka yang mengejutkanku.


“Ah—Angela-san, bagaimana mengatakannya yah…dia itu, Damar, tolong baik baik lah terhadapnya. Bahkan jika dia tidak terlalu bagus dalam menggunakan kata-katanya, tidak terlalu lucu, dan seorang penggila bertarung yang bodoh.”


Aku menerjang mundur dan menarik bandana Klein sekeras yang aku bisa.


“A-apa yang kau bicarakan!?”


“T-Tapi.”


Si pemegang katana itu menarik kepalanya dan menggaruk jenggotnya.


“Itu cukup aneh jika kau membuat party dengan seseorang. Bahkan jika kau jatuh cinta pada Angela, itu adalah kemajuan yang sangat besar untukmu. Makanya aku-”


“A-Aku tidak jatuh cinta padanya!”


Aku memprotesnya. Tapi entah kenapa, Klein, anggota partynya, dan bahkan Angela melihat kearahku dengan sebuah senyuman diwajah mereka. Aku tidak bisa melakukan apapun kecuali diam, berbalik dan terus berjalan. Lalu aku mendengar Angela menyatakan:


“Serahkan dia padaku!”


Aku berlari menuju jalan yang menuju ke lantai berikutnya sambil membuat suara berisik dengan sepatuku.


*********************

__ADS_1


Keberuntungan tidak memihak pada kami, kami bertemu dengan sekelompok Lizardman di tengah jalan. Saat kami semua sampai di lantai teratas Labyrinth, sudah tiga puluh menit berlalu dan kami masih belum bisa mengejar para anggota The Army.


“Mungkin mereka sudah menggunakan kristal mereka untuk kabur?”


Klein berkata dengan bercanda, tapi tidak ada satupun dari kami yang mempercayai kalau mereka akan melakukannya. Sebagai hasilnya, tanpa sadar kami mempercepat langkah kami.


Ketika kami sudah setengah jalan, sebuah suara yang membuat rasa khawatir kami menjadi sungguhan bergema di dinding. Kami semua segera berhenti untuk mendengarkan.


“Ahhhh…”


Suara yang samar terdengar itu, tidak salah lagi, sebuah teriakan. Tapi itu bukanlah teriakan monster. Kami semua melihat satu sama lain dan mulai berlari dengan cepat.


Karena kami memiliki dexterity yang tinggi, Angela dan aku berlari lebih cepat dibanding dengan yang lainnya, dan sebuah perbedaan jarak dengan cepat terbuka diantara kami dan grup Klein.


Tapi ini bukanlah saat dimana kami bisa mengkhawatirkan hal itu. Kami berlari seperti angin melewati koridor yang bersinar biru berkebalikan dengan arah kami berlari tadi.


Dengan segera, dua pintu besar tadi terlihat di pandangan kami. Mereka sudah terbuka, dan kami bisa melihat api biru berkelap kelip serta sebuah bayangan besar bergerak perlahan didalam. Kami juga mendengar banyak suara teriakan dan logam yang berbenturan.


“Tidak…!”


Angela berteriak dengan nada sedih dan mempercepat larinya. Aku mengikuti dengan dekat dibelakang. Kaki kami hanya sedikit menyentuh lantai, seperti kalau kami terbang di udara.


Ketika kami sudah berada di dekat pintu, Angela dan aku dengan cepat mengurangi kecepatan kami. Percikan keluar dari sepatu kami, dan kami berhasil berhenti tepat di depan pintu masuk.


“Hey! Apa kalian baik-baik saja!?”


Aku berteriak dan mencondongkan tubuhku kedepan agar bisa melihat lebih jelas. Di dalam—terlihat seperti neraka.


Api putih kebiruan menyala diseluruh lantai. Sebuah bayangan besar berdiri tepat ditengah semua ini, tubuhnya bersinar seperti terbuat dari logam.


Itu adalah sang demon biru: The Gleameyes.


Saat The Gleameyes mengayun pedang yang berukuran sangat besar miliknya yang mirip dengan zanbato ke sekitarnya, sebuah napas api keluar dari mulutnya.


Damage yang diterimanya masih belum mencapai sepertiga HPnya. Di baliknya, terdapat sekumpulan bayangan, ukuran mereka sangat kecil dibandingkan sang demon. Mereka adalah grup The Army, dan anggota mereka sibuk berlarian untuk menyelamatkan nyawa mereka sendiri.


Mereka tidak sanggup berpikir lagi untuk berbicara. Aku memeriksa jumlah mereka dan segera menyadari kalau dua dari mereka menghilang.


Bagus kalau mereka telah lari dengan menggunakan teleport item, tapi-.


Ketika aku memikirkannya, salah satu dari mereka terkena sisi dari zanbato dan terpental ke udara. HPnya telah memasuki zona merah. Aku tidak tahu kenapa bisa jadi seperti ini, tapi demon itu sekarang berada diantara anggota The Army dan pintu keluar, dan sebagai hasilnya mereka tidak bisa kabur. Aku berteriak kearah player yang terjatuh.

__ADS_1


“Apa yang kau lakukan!? Cepat gunakan teleport item!”


Pria itu melihat kearahku. Wajahnya memantulkan warna kebiruan dari api di sekelilingnya dan penuh dengan keputus asaan. Lalu dia berteriak kearahku


"Itu tidak berguna…! K-kristal nya tidak bekerja!!”


“Wha…”


Aku tidak bisa mengatakan apapun. Apakah itu berarti kalau ruangan ini adalah ? Itu adalah sebuah jebakan langka yang muncul di dungeon beberapa kali, tapi itu tidak pernah muncul di ruangan boss hingga sekarang.


“Bagaimana itu bisa…!”


Angela bernapas dengan cepat. Di situasi ini kami tidak bisa menerjang begitu saja untuk menyelamatkan mereka. Kemudian, seorang player di balik demon itu mengeraskan suaranya dan berteriak.


“Apa yang kau katakan!! Kata melarikan diri tidak berlaku bagi The Liberation Army!! Lawan!! Kubilang lawan!!”


Itu tidak salah lagi adalah suara Cobert.


“Kau brengsek!”


Aku berteriak. Bukti kalau dua orang telah menghilang didalam area tanpa kristal —itu berarti mereka telah mati, telah menghilang dari dunia ini untuk selamanya. Itu adalah hal yang harus dihindari apapun yang terjadi, dan si bodoh ini masih mengatakan hal seperti itu? Aku merasakan darahku mendidih karena amarah.


Lalu Klein dan party nya tiba.


“Hey, apa yang terjadi!?”


Aku dengan cepat memberitahu situasi ini pada- nya. Ketika dia mendengarnya, ekspresi Klein menjadi gelap.


“Apa…apa tidak ada sesuatupun yang bisa kita lakukan…?”


Kita mungkin bisa berlari kedalam dan membuka jalan keluar bagi mereka. Tapi karena kami tidak bisa menggunakan kristal diruangan ini, kami tidak bisa mengabaikan kemungkinan kalau salah satu dari kami bisa mati.


Kami tidak mempunyai cukup orang untuk melawan. Ketika aku susah payah memikirkan jalan keluarnya, Cobert entah bagaimana berhasil membuat para anggotanya berbaris lagi dan berteriak.


bersambung..


********************************


ikuti Gusku suamiku, Legenda Ponorogo dan yang terbaru The king's wasted princess.


__ADS_1


__ADS_2