
BALADA PERJAKA TUA episode 43 dengan judul Guild Fuurinkazan, Angela dan Puri Martonegaran Liberation Army. oleh Author COKRO.
selamat menikmati.
**********************************************
Mata si pemegang katana itu melebar ketika dia melihat Angela, yang sudah berdiri setelah membereskan barang-barangnya.
“Ah-, …kalian mungkin sudah pernah bertemu beberapa kali selama pertarungan melawan boss, tapi aku akan memperkenalkan kalian lagi.
Pria ini adalah Klein dari guild , dan ini Angela dari .”
Angela mengangguk perlahan ketika aku memperkenalkannya, tapi Klein hanya berdiri disana, dengan mata dan mulutnya yang terbuka lebar.
“Hey, katakan sesuatu. Apa kau sedang lag?”
Setelah aku menyikutnya dari samping, Klein akhirnya menutup mulutnya dan memperkenalkan dirinya sesopan mungkin.
“H-Hello!!!!! Aku adalah orang yang di- di- dipanggil Klein! Bujangan! Dua puluh empat tahun!”
Ketika Klein mengatakan sesuatu yang bodoh dalam kebingungannya, aku menyikutnya lagi, dengan tenaga yang lebih kuat kali ini.
Tapi bahkan sebelum Klein selesai berbicara, anggota party nya sudah mendesak dan mulai memperkenalkan diri mereka.
Mereka bilang semua anggota dari telah mengenal satu sama lain bahkan sebelum Prahara Dunia Pedang Online dimulai.
Klein telah melindungi dan membimbing mereka semua, tanpa kehilangan satupun anggota, hingga mereka semua menjadi player yang mampu berada di garis depan.
Dia mampu menopang beban yang telah kuhindari karena takut dua tahun yang lalu—dihari death game ini dimulai.
Mengabaikan kebencian terhadap diriku yang telah menempel dengan erat didalam hatiku, Aku mulai berbicara kepada Angela,
“…yah, mereka bukan orang yang jahat, jika kau mengabaikan wajah jelek ketuanya.”
Kali ini, Klein menginjak kakiku sekeras yang dia bisa. Melihat hal ini, Angela mulai tertawa, tidak bisa menahan lebih lama lagi. Klein tersenyum malu, tapi kemudian dia kembali sadar dan bertanya padaku dengan suara yang terisi dengan niat membunuh.
“B-B-Bagaimana ini bisa terjadi Damar!?”
Ketika aku berdiri disana tanpa jawaban dipikiranku, Angela menjawabnya untukku dengan suara yang jelas:
“Senang bertemu denganmu. Aku memutuskan untuk membuat party dengannya selama beberapa waktu. Kuharap aku bisa akrab denganmu.”
Aku terkejut dengan apa yang kudengar. Ketika aku berpikir ‘Eh!? Ini bukan hanya untuk hari ini!?’, Klein dan party nya membuat expresi yang berganti ganti antara kemarahan dan depresi.
Akhirnya, Klein melirik kearahku dengan penuh amarah dimatanya dan menggeram sambil menggertakkan giginya.
“Daaaaaaamar, kau sialan…”
Aku menggoyangkan bahuku dan berpikir kalau ini akan sulit untuk keluar dari masalah. Lalu…
Suara langkah kaki terdengar dari pintu yang baru saja dilewati oleh Fuurinkazan.
Angela menegang mendengar suara yang terdengar seragam, lalu menarik tanganku dan berbisik.
“Damar, itu !”
Aku segera mengalihkan pandanganku ke arah pintu masuk, dan benar, unit yang bersenjata lengkap yang kami lihat di hutan terlihat dalam pandanganku.
Klein mengangkat tangannya dan membawa kelima temannya mendekati tembok.
__ADS_1
Grup yang masuk kedalam ruangan ini, masih dalam formasi berbaris dua, tetapi sudah tidak seteratur saat mereka berada di hutan.
Langkah kaku mereka berat, dan ekspresi dibalik helm mereka terlihat lelah.
Mereka berhenti di tembok yang berlawanan dari kami di dalam safe area.
Pria yang berada didepan memberi perintah “Bubar,” sesaat sebelum kesebelas orang lainnya terduduk di lantai.
Pria itu kemudian berjalan kearah kami tanpa melihat sekalipun kearah mereka.
Sekarang jika kulihat dengan jelas, equipment nya agak berbeda dari yang lain.
Armornya memiliki qualitas yang sangat tinggi, dan sebuah lambang yang berbentuk Puri Martonegaran yang terukir didadanya—sesuatu yang tidak dimiliki oleh kesebelas orang lainnya.
Dia berhenti didepan kami dan melepaskan helmnya.
Dia agak tinggi dan terlihat berumur tiga puluhan lebih.
Dia memiliki wajah yang tajam, rambut yang sangat pendek, sepasang mata tajam dibawah alisnya yang tebal, dan mulut yang tertutup rapat.
Dia melihat kearah kami semua dengan matanya, dan mulai berbicara padaku yang berada paling depan diantara kami.
“Aku adalah Letnan Kolonel Cobert dari Puri Martonegaran Liberation Army.”
Apa-apaan itu? awalnya adalah nama yang digunakan orang untuk mengejek mereka.
Kapan itu menjadi nama resmi mereka? dan ? Merasa jengkel, aku menjawab dengan singkat:
“Damar, Solo.”
Dia mengangguk dan bertanya dengan angkuh:
“Apa kau sudah memetakan area sekitar sini?”
“Hmm. Kalau begitu kuharap kau akan memberikan map data nya kepada kami.”
Aku terkejut akan sikapnya.
Tapi Klein, yang berada dibelakangku, sudah
menjadi marah.
“Apa? Memberikannya padamu!? Kau sialan, apa kau tahu betapa sulitnya memetakan area!?”
Dia berteriak dengan suara serak. Peta-peta dari area yang belum terjamah adalah informasi yang penting.
Mereka juga bisa dijual kepada para pemburu harta, yang mencari kotak harta yang masih terkunci, dengan harga tinggi.
Ketika dia mendengar suara Klein, orang the army itu menaikan salah satu alisnya dan mengumumkan dengan keras.
“Kami bertarung untuk kebebasan para player seperti kalian.”
Dia memajukan dagunya kedepan dan melanjutkan.
“Itu adalah tugas kalian untuk bekerja sama dengan kami!”
-Kata angkuh sangat cocok untuk sikapnya itu.
The Army bahkan sudah lebih dari setahun tidak berada di garis depan.
__ADS_1
“Tunggu sebentar, bagaimana bisa kau…”
“Kau, kau brengsek…”
Angela dan Klein, yang berdiri disampingku, keduanya melangkah kedepan dengan suara yang penuh kemarahan.
Aku melebarkan tanganku untuk menghentikan mereka.
“Tidak apa-apa. Lagipula aku berniat untuk menyebarkannya saat kita kembali ke kota.”
“Hey, hey! Kau itu terlalu baik Damar!”
“Aku tidak berencana untuk menjual petanya.”
Sambil mengatakan hal itu, aku membuka trade window dan mengirimkan informasinya ke pria yang menyebut dirinya sebagai Lieutenant Colonel Cobert.
Dia mengambilnya tanpa ada perubahan di ekspresinya dan berkata:
“Terima kasih atas kerjasama mu.”
Dia menjawab dengan suara yang tidak menunjukkan rasa terima kasih sedikitpun, dan kemudian berbalik.
Aku berkata padanya sebelum dia pergi:
“Sedikit saran dariku, lebih baik kau tidak menyerang boss itu.”
Cobert melihat kebelakang.
“…itu hal yang harus kuputuskan sendiri.”
“Kami baru saja memeriksa ruang bossnya. Itu bukanlah sesuatu yang bisa kau kalahkan hanya dengan orang sebanyak ini. Selain itu, orang-orangmu juga semuanya terlihat agak lelah.”
“…Orang-orangku tidak selemah itu hingga bisa kelelahan oleh sesuatu seperti ini!”
Cobert menekankan kata "orang-orangku" saat dia menjawab dengan jengkel.
Tapi orang-orang yang duduk dilantai tidak terlihat setuju.
“Bangun kalian sampah tidak berguna!”
Mendengar perintah Cobert, mereka berdiri dengan terhuyung-huyung dan membentuk dua baris.
Cobert bahkan tidak melihat kearah kami ketika dia kembali kedepan barisan dan memerintahkan dengan tangannya.
Ke dua belas orang itu kemudian mengangkat senjata mereka dan mulai berjalan lagi, armor berat mereka mengeluarkan suara gemerincing.
Meski mereka masih memiliki 100% HP mereka diluarnya, pertarungan yang berkelanjutan dalam Prahara Dunia Pedang Online meninggalkan kelelahan yang tidak bisa terlihat.
Tubuh kami di dunia asli mungkin tidak bergerak sedikitpun, tapi perasaan lelah masih akan menetap hingga kami tidur atau beristirahat di sini.
Berdasarkan apa yang kulihat, para player The Army itu sudah kelelahan, karena mereka tidak terbiasa bertarung di garis depan.
“…apa mereka akan baik-baik saja ya…”
Klein berbicara dengan suara khawatir ketika anggota The Army menghilang kedalam jalan sempit yang menuju kearah lantai atas dan suara langkah kaki mereka menghilang dari telinga kami.
Dia benar-benar orang yang baik.
bersambung
__ADS_1
**************************************
ikuti Gusku suamiku & legenda ponorogo.