
BALADA PERJAKA TUA episode 47 dengan judul Pamor Ketenaran. oleh Author COKRO.
selamat menikmati.
*****************************"""***************
Begitu mereka sampai lorong, mereka menggunakan kristal mereka untuk teleport keluar satu demi satu. Setelah lampu biru pudar, Klein meletakkan tangannya di pinggul dan mulai berbicara.
"Yah, mari kita lihat ... Kami akan melanjutkan ke lantai 75 dan membuka pintu gerbang sana. Bagaimana denganmu? Kau bintang hari ini, apa kau ingin melakukannya? "
"Tidak, aku akan menyerahkannya kepadamu. Aku benar-benar capek. "
"Jika itu alasannya... berhati-hatilah dalam perjalananmu pulang. "
Klein mengangguk dan kemudian memberi isyarat kepada teman satu timnya.
Keenamnya berjalan ke pintu besar di sudut ruangan. Dibalik itu seharusnya ada tangga ke lantai berikutnya. Pengguna Katana berhenti di depan pintu dan berbalik.
"Hei ... Damar. Kau tahu ketika kau melompat masuk untuk menyelamatkan para anggota The Martonegaran Army ... "
"... Kenapa dengan itu?"
"Aku ... yah, benar-benar senang. Itu saja yang aku ingin katakan. Sampai ketemu lain waktu. "
Aku tidak mengerti apa yang ia katakan. Ketika aku memiringkan kepalaku, Klein memberiku acungan jempol, lalu membuka pintu dan menghilang melalui itu dengan grupnya.
Hanya Angela dan aku yang tersisa di ruang besar bos. Api biru yang telah bergejolak dari lantai telah menghilang beberapa waktu lalu, dan suasana seram yang pernah memenuhi ruangan itu menghilang tanpa jejak.
Cahaya lembut yang memenuhi jalan sekarang membanjiri ruangan ini juga. Tidak satu tanda pertempuran yang tersisa.
Aku mengatakan sesuatu kepada Angela, yang masih menempatkan kepalanya di bahuku.
"Hei ... Angela ...."
__ADS_1
"... ... Aku begitu takut .... Aku tidak tahu apa yang akan kulakukan ... ... jika kau mati. " Suaranya gemetar lebih lemah dari yang pernah kudengar sebelumnya.
"... Apa yang kau bicarakan? Kau kan yang pertama kali menyerang masuk." Aku mengatakan hal ini saat aku meletakkan tanganku di bahu Angela dengan lembut.
Sebuah flag pelanggaran akan muncul jika aku memegangnya terlalu terang-terangan, tapi ini benar-benar bukanlah situasi dimana aku perlu khawatir tentang itu. Saat aku dengan lembut menariknya ke arahku, telingaku hampir saja ketinggalan suaranya yang kecil.
"Aku akan mengambil istirahat sejenak dari guild."
"Is, istirahat ... kenapa?"
"... Aku berkata bahwa aku akan menjadi satu tim denganmu untuk sementara waktu ... Apakah kau sudah lupa?"
Sesaat setelah aku mendengar hal itu... Disuatu tempat di dalam hatiku, muncul suatu perasaan yang hanya bisa digambarkan sebagai kerinduan yang kuat. Bahkan itu mengagetkan ku.
Aku—solo player Damar—adalah orang yang mengabaikan semua player demi menjaga diriku agar tetap hidup di dunia ini. Aku adalah pecundang yang telah berpaling dari teman satu-satunya dan melarikan diri 2 tahun lalu, pada hari saat semua ini dimulai.
Orang seperti diriku, yang bahkan tak punya hak untuk mengharapkan seorang rekan—apalagi sesuatu yang lebih dari itu. Aku sudah menyadari hal ini dengan cara yang menyakitkan dan tak terlupakan.
Aku telah bersumpah untuk tidak berharap lagi, tidak pernah merindukan perhatian orang lain.
Aku mengubur konflik yang bertentangan ini dengan emosi yang tak bisa dijelaskan, dan kemudian menjawab dengan jawaban singkat. “…baiklah.” Setelah mendengar jawabanku, kepala Angela mengangguk sedikit dibahuku.
Keesokan harinya.
Aku sudah bersembunyi di lantai dua di toko milik Agil sejak pagi ini. Aku duduk di bangku yang terbuat dari batu sambil dengan kaki menyilang dan meminum teh yang rasanya aneh, yang tidak bisa kupikir mungkin itu adalah produk gagal. Aku juga sedang dalam mood yang tidak baik.
Seluruh Algade — tidak, mungkin seluruh orang di Puri Martonegaran sedang sibuk membicarakan kejadian kemarin. Penyelesaian sebuah lantai, yang berarti pembukaan sebuah kota baru, sudah cukup untuk memulai banyak sekali gosip.
Tapi kali ini, berbagai rumor lain juga tercampur kedalamnya, seperti «Iblis yang membantai sepasukan anggota The Martonegaran Liberatiom Army» dan «Pengguna Pedang Ganda yang membunuh sang iblis sendirian dengan 50 serangan»…
Seharusnya ada batas dimana orang bisa melebih-lebihkan sesuatu. Entah bagaimana mereka telah menemukan dimana aku tinggal. Hasilnya, para pemain pedang dan penjual informasi berkumpul di rumahku sejak pagi. Akhirnya aku harus menggunakan kristal teleport untuk kabur.
“Aku akan pindah… Ke lantai yang sangat sepi, ke sebuah desa dimana mereka tidak akan pernah bisa menemukanku….”
__ADS_1
Ketika aku menggumamkan keluhanku tanpa henti, Agil berjalan mendekatiku dengan sebuah senyuman.
“Hey, jangan seperti itu. Bukankah bagus menjadi terkenal untuk sekali dalam hidupmu. Kenapa kau tidak menyelenggarakan seminar saja? Aku akan mengurus tiket dan tempatnya…”
“Ga mungkin!” Aku berteriak dan melempar gelas yang ada di tangan kananku, mengincar area yang berada 50cm di sebelah kanan kepala Agil.
Tapi tanpa sadar aku melakukan gerakan yang mengaktifkan skill Melempar Senjata dan melemparkan gelas itu ke dinding dengan kecepatan tinggi.
Gelasnya meninggalkan jejak cahaya sebelum mengenai dinding dengan suara yang kencang.
Untungnya, ruangannya adalah benda yang tidak bisa dihancurkan, jadi tidak ada apapun yang terjadi selain munculnya tulisan «Immortal Object». Jika aku mengenai sebuah hiasan, benda itu pasti akan hancur.
“Ah, apa kau mau membunuhku!?” Aku mengankat tangan kananku sebagai tanda minta maaf dan kembali bersandar di kursi setelah mendengar teriakan berlebihan yang dikeluarkan sang pemilik toko.
Agil sedang memeriksa harta yang kudapat dari pertarungan kemarin. Setiap beberapa lama dia mengeluarkan suara yang aneh, yang kemungkinan besar ada barang yang cukup berharga didalamnya.
Aku berencana untuk membagi rata uang yang kudapat dari menjual barangbarang itu pada Angela, tapi ini sudah lewat batas waktu janji pertemuan dan dia masih belum datang. Aku sudah mengirimkannya sebuah pesan, jadi dia pasti tahu dimana aku sekarang…
Kami berpisah di jalan utama dari gerbang teleport lantai 74 kemarin. Dia berkata kalau dia akan mengajukan cuti dan pergi ke markas Balada Perjaka Tua di Grandum di lantai 55.
Aku bertanya padanya jika aku harus ikut dengannya, mengingat masalah dengan Cradil dan yang lainnya. Tapi dia mengatakan kalau dia baik-baik saja dengan sebuah senyuman diwajahnya, jadi aku melupakan niatku.
Sudah 2 jam sejak waktu perjanjian. Jika dia telat seperti ini, apa itu berarti sesuatu telah terjadi? Tidakkah seharusnya aku pergi dengannya? Aku meminum teh yang ada di gelas dengan sekali teguk untuk menenangkan rasa khawatir ku.
Sesaat setelah aku meminum habis teh di poci teh yang ada di hadapanku, dan Agil menyelesaikan pemeriksaan item-item ku, aku mendengar suara langkah kaki berlari menaiki tangga. Kemudian, pintunya dengan cepat terbuka.
"Hey, Angela…”
*bersambung.
******************************************
ikuti Gusku Suamiku, Legenda Ponorogo, dan The King's Wasted Princess**.
__ADS_1