
Tetapi ternyata jebakannya berlapis dua. Ruangan itu juga adalah Anti-Crystal Area- sehingga kristal-kristal milik kami tidak berfungsi.
Di sana sungguh-sungguh terdapat terlalu banyak monster untuk ditahan. Anggota-anggota yang lain jatuh dalam kebingungan total dan berlarian tanpa tujuan.
Aku mencoba untuk membuka jalan dengan menggunakan teknik pedang tingkat tinggi yang telah aku sembunyikan hingga seakrang, tetapi para anggota yang panik tidak dapat melarikan diri pada waktunya.
Satu per satu, HP mereka jatuh ke angka nol, dan mereka berteriak sebelum meledak menjadi kepingan-kepingan. Aku berpikir setidaknya aku dapat menyelamatkan Sachi dan mengayunkan pedangku tiada henti.
Tetapi hal itu sudah terlambat. Aku melihat Sachi berusaha menggapaiku dengan tangannya sementara sebuah monster memotongnya dengan tanpa ampun. Kedua matanya tetap mempercayaiku bahkan ketika dia terpecah seperti sebuah patung kaca dan menghilang.
Dia telah mempercayaiku dan bergantung padaku hingga akhir; tetapi karena kata-kataku sangat lemah dan dangkal, mereka telah menjadi tidak lebih dari sebuah janji kosong, sebuah kebohongan.
Keita telah menunggu kami di dalam penginapan yang telah digunakan sebagai markas sementara kami dengan kunci dari markas utama baru di tangannya.
Setelah kembali kedalam penginapan seorang diri, aku menjelaskan kepada Keita tentang apa yang terjadi. Dia terus mendengarkan tanpa suara hingga aku selesai, lalu bertanya kepadaku:
"Bagaimana kamu selamat?”
Lalu aku mengungkapkan levelku yang sesungguh nya dan bahwa aku telah menjadi beta tester.
__ADS_1
Keita melotot kepadaku seakan-akan aku adalah sesuatu yang menjijikkan, lalu berkata satu hal.
"Seorang beater sepertimu tidak mempunyai hak apapun untuk bergabung dengan kami."
Kata-kata itu telah menusuk menembusku seakan-akan mereka adalah sebuah pedang baja.
"...apa yang terjadi... dengan orang itu...?”
"Dia bunuh diri.”
Tubuh Angela bergetar di atas kursinya.
Aku merasakan tenggorokanku menyempit. Sementara aku menghitung hitung kembali ingatan-ingatan itu yang telah aku kunci jauh di dalam lubuk hatiku, emosi-emosi yang menyakitkan dari waktu itu kembali dengan
kemurnian yang sempurna.
Aku menggertakan gigiku. Walaupun aku ingin menggapai Angela untuk penghiburan, sebuah suara di dalam pikiranku berbisik,
“Kamu tidak mempunyai hak untuk melakukan hal itu,” yang meninggalkanku dengan satu-satunya pilihan untuk mengepalkan kepalan tanganku dengan erat.
__ADS_1
"Aku telah membunuh mereka. Bila aku tidak menyembunyikan fakta bahwa aku adalah seorang beta tester, aku pasti akan dapat membujuk mereka untuk tidak menghiraukan peti itu. Yang melakukannya adalah aku... Akulah yang telah membunuh Keita... dan Sachi...”
Dengan kedua mataku terbuka lebar, aku memaksakan kata-kata ini keluar dari gigiku yang bergemeretak.
Angela tiba-tiba berdiri, mengambil dua langkah ke arahku, dan mengusap wajahku dengan kedua tangannya. Dia menarik wajahnya yang cantik lebih dekat ke arahku dengan sebuah senyum hangat.
"Aku tidak akan mati.”
Dia mengatakan hal itu dengan berbisik, akan tetapi suara itu terdengar sangat jelas. Aku merasa kekuatan meninggalkan tubuhku yang tegang.
"Karena, aku... aku adalah seseorang yang akan menjagamu.”
Setelah mengatakan hal ini, Angela membawa kepalaku ke dadanya dan memeluknya. Aku merasakan sebuah kegelapan yang lembut dan hangat menutupiku.
Sementara aku menutup kedua mataku, pikiranku menembus selubung gelap dari ingatanku dan melihat wajah-wajah dari anggota Black Cat; mereka semua duduk di sebuah meja penginapan, bermandikan dengan sebuah cahaya oranye.
bersambung.
__ADS_1