
Talak akhirnya jatuh dan yang bisa aku lakukan adalah merosot ke lantai membiarkan air mata berurai. Air mata penuh makna. Karena selain sedih, entah kenapa aku juga lega. Lega akhirnya bisa lepas dari dia yang zalim. Tapi lebih sedih lagi karena rumah tanggaku berakhir begini. Sakitnya gak terkira, rasanya sampai ke ulu hati. Rasa yang buat diri ini sulit bernapas.
Setelah kata talak terucap Bang Darwis pun pergi. Dia memboyong Maya. Ke mana? Tentu saja ke rumah kami.
Ah, ralat, itu bukan lagi rumah kami, melainkan rumah mereka. Dan keluarga ini akan jadi asing bagiku.
"Nabila, buka pintunya!" titah ibu mertua. Ya, aku yakin itu dia. Dia berucap sambil ketuk pintu.
"Bentar, Bu!" Kurapikan jilbab dan melihat wajah sendiri di cermin. Kacau. Sangat berantakan. Mata bengkak dan hidung merah. Aku terlihat amat jelek. Mungkin ini alasan kenapa Bang Darwis berpaling.
Aku beranjak dari kursi lalu membuka pintu. Di pintu ibu mertua berdiri dan di sebelahnya ada Aldi. Adik iparku itu bawa tas besar. Tas yang aku kenal, familier karena itu tasku. Tas yang aku bawa dari Kalimantan ke sini.
"Ini tas kamu, Ndok. Bawa masuk, Al," titah ibu mertua. Mukanya jangan ditanya. Sama seperti aku. Berantakan. Kelihatan kesedihan dan kekecewaan di situ. Dia menyayangkan aku bercerai dari Bang Darwis, tapi juga gak bisa maksa aku setelah apa yang terjadi.
"Makan malam dulu, ya," ucap ibu mertua. "Adel pasti butuh makan."
Aku lihat Adel yang ada di ranjang, anakku itu memeluk kakiku sambil tersenyum. "Buk, dedek mau pulang. Mau main sama Bapak."
Ya Allah, air mata yang tadinya udah gak keluar kembali turun lagi. Bahkan rasanya lebih sakit dari tadi.
"Adel mau es krim?" tanya Aldi. Dia berjongkok mensejajarkan diri dengan Adel.
Anakku tentu mengangguk, lalu mengalungkan lengan ke leher Aldi. Mereka pergi.
__ADS_1
Kini tinggal aku sama ibu mertua.
"Makan, yuk, Adel biarkan Aldi yang urus. Yang penting kamu kuat dulu," ucap ibu mertuaku lagi.
Baiklah, benar kata ibu. Aku harus kuat karena punya Adel yang saat ini hanya bergantung sama aku. Aku harus bertenaga biar bisa kasih Adel kasih sayang full. Sebab mulai saat ini selain jadi ibu, diri ini juga harus bisa berperan jadi ayah agar dia gak kehilangan sosok Bang Darwis.
Aku makan bersama ibu mertua. Gak ada yang kami bicarakan selain diam. Beneran, saat begini apa pun terasa serba canggung. Makan pun gak enak, rasanya hambar. Justru yang ada diri ini mati-matian menahan air mata. Entah kenapa saat lihat nasi aku tiba-tiba teringat Bang Darwis. Biasanya aku yang siapkan segala keperluan dia termasuk makanan. Tapi kini, ada orang lain yang akan ambil alih.
Selepas makan aku pun bantu ibu mertua berberes, lalu berniat merebah lagi di kamar. Saat melewati ruang tamu kulihat Adel tengah disuapi Bapak mertua. Tampak sekali wajah tua itu menahan sedih.
"Adel, nanti kalau sudah selesai makan masuk ke kamar, ya?" pintaku.
Bocah itu menganggukkan kepalanya, lalu minta disuapi lagi.
Di kamar aku duduk termenung memperhatikan tas besar yang dibawa Aldi tadi. Tas yang berisi semua pakaianku dan Adel. Ya, memang aku yang meminta ibu mengemas semua barang-barang aku yang tertinggal di sana.
"Kak Nabila!"
Aku tersentak spontan seka air mata lalu buka pintu. Di situ ada Aldi.
"Boleh aku masuk, Kak? Ada yang mau aku ambil di lemari," katanya.
Aku tentu mempersilakan dia masuk, sebab kamar ini memang kamarnya. Aku menumpang untuk tidur di sini, sedang dia katanya akan tidur di ruang tamu.
__ADS_1
"Maaf kalau ngerepotin," kataku. Suara beneran terdengar sengau.
Aldi yang mengambil baju menutup pintu lemari, lalu duduk di sebelahku. "Jangan sungkan. Aku justru malu karena hanya bisa bantu sampai sini."
Hatiku sakit lagi. Mata pun mulai panas. Tapi, aku tahan agar gak nangis lagi. Terlalu malu.
"Jadi apa rencana Kak Nabila?" tanyanya.
Aku menggeleng dengan posisi masih melihat depan. Kosong. Gak tau harus ngapain. Aku gak punya duit dan tempat tujuan. Tapi tinggal di sini juga bukan keputusan baik. Selain akan bertemu Bang Darwis, aku juga gak enak sama Aldi. Dia laki-laki dan aku perempuan. Kami bukan mahram.
"Sekarang aku lagi berpikir buat kasih tau orang yang ada di Kalimantan, tapi …."
"Jangan dulu balik."
Aku spontan menatapnya.
"Lebih baik tenangkan diri dulu barang sebulan dua bulan. Baru setelah itu pergi."
Aldi tiba-tiba mengeluarkan uang dari dalam dompet. Lalu menyerahkan beberapa lembar uang itu padaku.
"Tenangkan diri dulu, Kak. Aku udah dapet tempat yang nyaman untuk Kak Nabila tinggal sementara ini. Besok pagi aku antar."
"Al?" Aku beneran gak tau mau bilang apa.
__ADS_1
"Aku udah janji bakalan antar kakak kembali, tapi maaf gak bisa sekarang. Kondisi ibuk lagi gak baik-baik aja. Jadi aku minta kak Nabila nunggu dulu. Nanti aku sama Ibuk yang akan antar Kakak. Kami jemput kak Nabila baik-baik, maka akan kembalikan kak Nabila juga dengan cara yang baik."