Bantu Aku Bercerai

Bantu Aku Bercerai
Merayu.


__ADS_3

POV Darwis.


***


"May, kopi mana?"


"Belum bikin, kopi habis!" balasnya dari dalam kamar mandi.


Ck, punya bini kenapa gak guna gini, sih. Perkara kopi aja aku harus teriak dulu. Kadang aku itu suka heran, kenapa rumah serasa hutan. Teriak-teriak terus dari dulu.


Kulihat tudung saji yang kosong bawaannya mau ngamuk kalau gini. Gimana mau kerja kalau kopi aja gak ada. Gak becus banget jadi istri. Tau dia gak guna gini mending aku rahasiakan aja dia. Gak akan aku cerai Nabila demi dia.


Dulu, saat ada Nabila pagi-pagi begini aku selalu disuguhkan sarapan. Kalau gak mi goreng, ya nasi goreng telur ceplok. Apa aja dia sediakan agar aku turun kerja dalam perut kenyang. Dia selalu mengutamakan aku dan Adel. Jam segini biasanya Adel sudah mandi. Sarapan sudah tersaji lengkap dengan kopi. Minusnya dia masih pakai daster.


Tapi setelah aku pikirkan istri kucel di rumah lebih mendingan ketimbang istri pandai dandan tapi rumah berantakan macam kandang ayam. Keahlian Irmaya cuma dandan, makan, minta uang.


Kalau aku pikir-pikir apa yang Ibu bilang itu benar. Aku buang berlian demi batu kerikil di jalan. Apes bener.


Kulangkahkan kaki menuju rumah ibu. Beli kopi di warung Aldi sekalian minta sarapan kalau ada. Kan daripada sarapan diluar mending makan di rumah. Uangnya bisa disimpan untuk beli C D.


Ah, C D di rumah juga pada bolong. Dulu, Nabila selalu belikan aku C D tanpa diminta. Sekarang apaan, Maya malah menuntut ini itu tanpa mau memperhatikan kebutuhan suaminya ini.


Hufh! Makin dipikirkan aku makin kesal. Aku juga rindu Adel. Anakku itu gak pernah rewel. Anteng main gak pernah berisik apalagi merengek. Tapi semenjak ada Maya dan Fahri, rumah sudah macam hutan. Tiada hari tanpa teriak.


Sesampainya dirumah ibu kulihat warung Aldi tutup. Tumben.


"Pak, kok Aldi gak buka?" tanyaku ke Bapak yang sedang ngopi di teras.

__ADS_1


"Aldi gak ada, nginep diluar semalam," balas Bapak yang buatku mikir itu anak nginap ke mana? Tumben milih tidur diluar ketimbang buka warung. Pagi gini kan biasanya banyak yang belanja.


"Pak."


Bapak berdeham doang tanpa mau melihat. Dia terlalu asyik baca koran sambil sesekali benerin kacamata yang melorot.


"Pak," panggilku lagi.


"Kenapa? Mau sarapan? Masak sendiri. Ibu lagi gak ada."


Loh, kok.


"Memangnya Ibuk ke mana?" tanyaku.


"Ikut Aldi nginep."


"Nginep ke mana?" tanyaku lagi.


Bapak berhenti baca koran dan melihatku lama, setelahnya mendesah panjang. Apa coba maksudnya.


"Pak, Ibuk sama Aldi mana? Mereka nginep ke mana?" cecarku. Bapak mencurigakan.


"Ke rumah pak lek kamu. Ada acara khitanan di sana."


Paklek? Khitanan?


Perasaan bulan lalu udah. Kok sekarang khitan lagi. Cucunya perasan cuma satu.

__ADS_1


Wah, ini ada yang gak beres. Ada yang disembunyikan. Apa diam-diam Ibuk ketemu Nabila sama Adel.


Aku tarik napas panjang, lalu pura-pura melihat depan. Dibuat muka senelangsa mungkin. Dan ya, aku memang nelangsa setelah ditinggal Nabila.


"Pak, aku nyesal milih jalan ini. Kalau bisa aku mau balik lagi sama Nabila."


"Gak akan bisa."


"Tapi Bapak bisa."


"Kamu tau, Bapak terlalu banyak penyesalan makanya bertahan. Kamu gak tau aja perlakuan ibu kamu itu kayak gimana."


Tentu aja aku tau. Diluar mungkin kelihatan mereka baik-baik aja. Tapi aku masih bisa melihat kebencian di mata ibu. Ibu masih menyimpan dendam.


"Maka dari itu aku gak mau macam itu, Pak. Aku mau memperbaikinya."


Bapak lepas koran dan menatapku serius.


"Aku gak mau jadi macam bapak yang terlalu lambat menyesal. Aku ingin cepat minta maaf dan mulai semuanya lagi dari awal."


"Sulit, Wis. Kesalahanmu terlalu besar. selain selingkuh, kamu juga main tangan. Untung aja Nabila gak laporin kamu ke polisi."


"Tapi aku bisa berubah kok, Pak."


Bapak diam dan kesempatan itu aku pakai buat pegang tangannya. Ketimbang ibu, Bapak lebih mudah diluluhkan. Mungkin karena kami sama-sama melakukan kesalahan yang sama.


"Bapak tau di mana Nabila sama Adel?" tanyaku.

__ADS_1


__ADS_2