
"Apa-apaan ini!" teriak seseorang yang setelah kulihat adalah Mama Ana, mertuaku. Dia mendekat sambil berkacak pinggang, matanya melotot tajam. Di belakangnya ada Aldi. Adik iparku itu tampak khawatir.
Ya, aku tau ibu mertuaku punya penyakit asam urat dan darah tinggi. Mungkin Aldi berjaga-jaga, takut hal yang gak diinginkan terjadi.
Bang Darwis berdiri, pun dengan wanita itu. Tapi aku, aku tetap duduk karena udah gak punya tenaga lagi. Jangankan untuk berdiri dan marah-marah, untuk menjelaskan saja lidah ini udah gak bisa gerak. Yang aku lakukan adalah menangis menunduk meratapi nasib yang jelek ini.
"B-buk. Ibuk kenapa ke sini?" Bang Darwis terdengar gugup.
Pasti. Pasti dia gugup karena ketahuan ibunya sendiri. Tapi aku rada ragu, bukankah darah lebih kental dari air. Mungkin saja Mama Ana akan membela anaknya.
Entahlah, aku terlalu sakit.
Sekarang aku pasrah, jika disalahkan Mama Ana pun aku gak akan membela diri. Rumah tangga ini mustahil diperbaiki. Aku gak mampu bertahan. Aku ingin pergi.
"Darwis, siapa dia? Apa benar kata Aldi kamu selingkuh di belakang Nabila?" cecar mertuaku.
Tentu aku mendongak melihat muka tuanya yang begitu bengis natap Bang Darwis. Ternyata perkiraan aku salah. Mama ana seperti memihakku, persis apa yang dibilang Aldi. Mama gak suka peselingkuh.
"Jawab, Darwis! Apa kamu diam-diam nikah sama perempuan ini?" lanjut ibu mertuaku lagi sambil menunjuk Irmaya.
Irmaya tampak ketakutan dan Bang Darwis menuntunnya di belakang punggung. Kelihatan banget takut wanita itu kenapa-kenapa.
Teganya dia, aku disiksa sedang wanita itu dijaga luar biasa. Apa gak ada harganya aku di mata dia.
Aku sesenggukan makin dalam. Perih banget ini hati saat membayangkan rumah tangga sedang ada di ujung tanduk.
"Jawab, Darwis! Apa benar yang Aldi bilang, kamu selingkuhi Nabila!" teriak ibu mertuaku lagi.
Bang Darwis bungkam. Tangannya yang ada di sisi celana mengepal saat beradu pandang sama Aldi. Aku yakin dia sedang marah karena adik kandungnya mengacaukan semua rencana dia.
Aku berdiri, lalu mendekati ibu mertuaku. Aku dipeluknya.
Gini-gini ibu mertuaku peduli. Walau kadang suka nyinyir. Kendati begitu dia kelihatan sayang aku sama Adel. Dan aku yakin kasih sayangnya gak main-main ke saat lihat dia membentak anaknya sendiri demi aku.
Dalam tangis aku bersyukur punya ibu mertua macam dia dan adik ipar macam Aldi yang peduli.
"Buk, aku … aku …."
__ADS_1
"Apa yang kamu lakuin ini salah, Darwis! Kamu mau ikuti jejak bapak kamu itu?" teriak ibu mertuaku lagi.
"Buk, aku tau salah. Tapi ini udah kejadian. Aku gak bisa lepas tanggung jawab," jelas Bang Darwis lagi.
Teganya dia. Apa sebelum berselingkuh dia gak kebayang aku, gak kebayang wajah Adel dan bagaimana rumah tangga kami kelak?
Bang Darwis mendekat ke Aldi dan meninjunya dua kali. Aku tentu kaget gak nyangka dia bakalan melampiaskan kemarahan ke adiknya sendiri. Ibu mertua sampai berteriak dan melerai mereka.
"Apa yang kamu dapat dari hasil ikut campur, Al? Apa?" teriak Bang Darwis.
"Aku cuma gak mau ada perempuan lain yang bernasib sama macam ibuk," balas Aldi. Kelihatan marah dia. Terlihat dari tatapan mata dan kepalan tangan.
"Alah, bilang aja kamu mau cari perhatian sama Nabila, iya kan?"
Aku beneran shock dengar ucapannya. Sampai hati dia bilang begitu tentang adiknya sendiri.
"Bang, jangan kamu bawa Aldi di sini. Dia gak salah apa-apa. Justru dia bantu aku. Karena dia, aku tau kalau kamu gak setia!" teriakku.
"Tapi dia memang punya rasa ke kamu Nabila!"
"Darwis! Jangan salembarangan kamu. Aldi ini peduli sama Nabila karena Nabila istri kamu."
"Bang, berhenti. Jangan lempar batu sembunyi tangan. Kamu itu udah hancurin rumah tangga kita. Teganya melampiaskan kemarahan ke Aldi," teriakku. Frustrasi. Dia berlagak jadi korban di sini.
"Kamu bela dia," geramnya sambil narik lenganku. Aku tentu merintih karena sakit. Ngilu.
"Bang!"
"Ingat Nabila, aku gak bakalan lepasin kamu. Gak akan ada kata cerai."
Bugh!
Tiba-tiba Bang Darwis tersungkur dan setelah aku lihat Aldi yang membuatnya begitu. Aldi meninjunya.
"Jangan jadi pengecut, Bang. Kalau cinta sama Nabila kenapa kamu main hati!" teriak Aldi.
Kulihat wanita itu. Dia ketakutan sambil peluk anaknya.
__ADS_1
"Bu?"
Aku menoleh dan melihat Adel mendekat. Dia usap-usap mata dan hatiku makin pedih melihatnya. Karena sekarang bukan hanya aku yang berbagi, tapi Adel juga. Dia akan berbagi kasih sayang.
Kudekati Adel, tapi saat hendak menggendongnya, tiba-tiba ada sentuhan dari belakang dan itu adalah Aldi. Aldi maju dan menggendong Adel.
"Adel biar aku yang urus," katanya.
Aku mengangguk, lalu membiarkan Aldi keluar rumah. Sebelum keluar kulihat dia menatap bengis Bang Darwis.
"Aku minta cerai!" kataku tegas. "Aku gak sanggup serumah sama perempuan lain. Aku gak mau berbagi. Pulangkan aku!"
"Nabila!" Ibu mertua menginterupsi. Kaget mungkin karena aku minta cerai.
"Aku gak bisa bertahan, Buk. Aku gak sanggup. Bang Darwis berkhianat!" jelasku dengan air mata berurai. Sakitnya gak bisa aku jelaskan.
"Gak, Ibu gak setuju. menarik lenganku, lantas bilang, "Bil, harusnya bukan kamu yang pergi, tapi dia."
Ibu mertua menunjuk muka Irmaya, lantas mendekatinya. Dia juga mengguncang badan wanita itu.
"Kamu, teganya kamu menghancurkan rumah tangga perempuan lain. Kamu perempuan, 'kan?"
Seketika itu juga Bang Darwis melerai lalu, pasang badan.
"Bu, jangan kasarin Maya. Dia gak tau apa-apa," katanya yang buat hatiku tertusuk berlati. Perih.
Mataku tertuju ke wanita itu. Dia menangis.
"Maafkan aku, Buk. Aku sebenarnya juga gak tau kalau Bang Darwis punya istri. Dia ngakunya duda saat ketemu aku."
Apa? Ini beneran gila. Bang Darwis jahat. Teganya dia ngaku duda padahal di sini aku merawatnya dengan tulus.
Kuhapus air mata, lalu tatap Irmaya.
"Beneran, Mbak. Aku beneran gak tau," sambung Iramaya sambil natap aku. Aku sampai gak tau harus ngomong apa.
"Tapi sekarang kamu tau," sahut Ibu mertua nyaring.
__ADS_1
Irmaya tiba-tiba bersimpuh di depan ibu mertuaku. Dia sesenggukan. Suara tangisnya beradu dengan suara tangis bocah itu.
"Tapi terlambat buat pergi, Buk. Sekarang aku lagi hamil anak kedua. Udah dua bulan. Dan aku gak sanggup kalau harus merawat mereka sendiri. Aku ingin didampingi Bang Darwis."