Bantu Aku Bercerai

Bantu Aku Bercerai
Raka Lagi.


__ADS_3

Saat ini Adel sudah tidur. Tidur setelah sebelumnya merengek mau bertemu Bang Darwis. Katanya rindu. Kalau gak bisa ketemu, video call saja, pintanya tadi.


Tentu aku bimbang. Gimana gak bimbang. Selama ini aku mati-matian menghindari Bang Darwis. Ya gak mungkin aku ujug-ujug nelfon bilang Adel rindu. Yang ada nanti bakalan dijadikan alasan untuk ambil Adel dari aku.


Gak, aku gak mau itu. Itu terlalu kejam untuk diterima setelah perjuangan aku selama ini. Adel anakku, diri ini yang membesarkan dan merawatnya. Gak rela kalau dia diasuh Bang Darwis yang egois mementingkan diri sendiri. Terlebih sekarang dia ada istri baru. Gak yakin Adel bisa dia urus.


Satu-satunya cara agar Adel tenang adalah membiarkan dia menelepon. Tapi bukan menelepon Bang Darwis, melainkan Aldi. Aku suruh Aldi pura-pura jadi Bang Darwis.


Beruntung cara itu ampuh sampai saat ini. Soalnya suara mereka mirip banget. Dari intonasi sampai cara ketawa. Semua mirip. Yang berbeda cuma postur tubuh dan sikap.


Perlahan aku beringsut dari kasur, lalu keluar kamar hendak kemaskan kamar satunya. Rencananya malam ini ibu mertua sama Aldi akan tiba. Katanya mungkin sampai sekitar jam sepuluh malam, itu artinya setengah jam lagi.


Nanti kamar itu akan digunakan Aldi, sedang ibu mertua tidur bareng aku sama Adel. Kalau dihitung-hitung ini adalah kali ketiga mereka menginap.


Saat mengganti spray tiba-tiba aja aku teringat omongan Adel tadi sore. Pasal Raka. Adel bilang Raka suka aku.


Aku duduk termenung lihatin dinding. Mikirin ucapan Adel. Rasanya gak mungkin dan mustahil Raka suka aku, tapi Adel juga gak mungkin bohong. Anakku mana tahu soalan orang dewasa kalau orang dewasa itu gak kasih tau.


Tapi pertanyaannya, kenapa Raka bilang begitu? Ke Adel lagi. Gak habis pikir aku. Kalau dia suka aku, harusnya bilang, maka akan aku kasih dia pengertian saat itu juga. Aku lagi gak mau dekat dengan lelaki mana pun.


Lagian sekarang statusku masih belum jelas. Walau agama sudah sah bercerai, tapi negara masih mencatat pernikahan aku sama Bang Darwis. Makanya aku berencana urus perceraian. Soal saksi, insyaallah ibu mertua sama Aldi bakalan banyu.


Sekarang udah gak ada beban buat pergi. Uang tabungan buat pulang juga sudah ada. Tinggal kantongi akta cerai.

__ADS_1


Bismillah, aku harap Allah meridhoi.


"Assalamualaikum!"


Aku yang baru rampung pasang spray langsung menjawab, lalu menyambar jilbab dan mengintip siapa yang datang malam-malam begini.


"Raka?"


Impulsif lidah ini memanggilnya saat tau kalau memang dia yang datang. Dia datang dengan sesuatu di tangan yang merupakan rantang. Selain itu, dia juga tersenyum sambil angkat rantang itu.


"Ganggu gak?" tanyanya dari luar.


Gegas aku buka pintu lalu melihatnya. Mengamati dari atas sampai bawah. Penampilannya rapi, cukup keren dengan postur tubuh tegap berisi. Dengan tampang begini rasanya gak mungkin dia naksir aku. Ada banyak wanita diluaran sana.


"Maaf malam-malam datang. Cuma mau kasih ini. Ini titipan dari Bunda," katanya sambil menyodorkan rantang yang entah apa isinya.


Iya, aku memang suka soto. Tapi kan ini sudah bukan waktunya buat makan malam. Lagian aku juga udah makan.


Tapi, karena sudah diberi mau gak mau aku ambil juga.


"Oiya, Bunda pesen tempatnya langsung bawa pulang. Buat dia bekal besok," lanjutnya.


Dan ya, rantang ini memang sering Bu Maura bawa ke rumah sakit.

__ADS_1


"Kalau gitu saya Salin dulu," sahutku apa adanya lalu masuk rumah.


Di meja dapur kusalin sotonya ke mangkuk, lalu mencuci tempatnya. Namun, tiba-tiba ada yang merangkul pinggang, mulutku dibekap.


Sesak rasanya terlebih lagi badanku melayang. Kaki gak Napak lantai. Aku digendong dari belakang.


Tentu aku berontak apalagi tahu kalau pelakunya Raka. Dia membawa paksa aku masuk ke kamar. Kamar yang barusan aku bereskan.


Bugh!


Kepalaku pening. Sakit, ngilu karena kepala terbentur lantai. Pasalnya kasur ini hanya kasur lantai yang gak terlalu tebal. Saat badan terbanting, tentu semua bagian ngilu barengan. Terlebih kepala.


"Tahan, mbak. Aku nggak lama. Aku cuma mau coba. Tahan ya. Jangan berisik," bisiknya yang buatku panik luar biasa. Mataku memanas.


Kudorong dia. Tapi, nihil, badannya masih menghimpit. Berat. Sesak. Aku gak bisa gerak. Badan dan harga diri ini tercabik karena badan mulai digeraya ngi.


Aku berusaha teriak, tapi gak bisa. Semua upayaku kayak gak mempan. Dari cakaran sampai pukulan, sama sekali gak ngefek. Dia tetap berusaha melakukan hal hina.


"Aku itu naksir Mbak. Tapi kenapa Mbak gak tau. Kenapa pura-pura gak tau," bisiknya.


Dadaku makin bergemuruh saat dia menjauhkan wajah, karena dengan begitu aku bisa melihat seringai dan tatapan mata. Tatapan mata yang bisa aku artikan buas.


Ternyata aku benar. Firasat ku gak pernah salah. Raka memang bukan pria baik.

__ADS_1


Air mataku meluruh. Aku memelas, tapi yang kudapatkan adalah seringai jahat dan tatapan penuh naf su.


"Jangan melawan ya, nanti aku kasih uang. Berapa pun aku kasih. Syaratnya jangan ngelawan. Oke?"


__ADS_2