
Hari ini tepat sebulan Aldi koma. Dan karena itu juga niat pulang aku urungkan. Malah, aku akhirnya cari kontrakan dekat rumah mantan mertua sekaligus dapat kerja di situ. Kerja di tempat laundry. Selain karena kondisi Aldi, Adel juga gak mau pisah sama Bang Darwis. Hari-hari merengek minta main sama Fahri. Kepalaku pusing karena itu.
Gimana gak pusing, coba pikirkan, di saat mau pergi anakku malah makin lengket sama mereka. Malah jarang tidur di rumah. Adel lebih sering tidur di rumah mantan mertua yang buatnya leluasa main ke rumah Bang Darwis dan Maya.
Tapi kupikir ambil hikmahnya. Kalau gak gitu aku gak bisa kerja. Aldi begini karena aku dan keluarganya kekurangan uang sekarang. Warung memang beroperasi, tapi berbeda saat Aldi yang pegang. Ibu mertua tidak terlalu pandai menghandle itu. Barang-barang banyak yang kosong. Bang Darwis, dia juga sibuk karena diancam akan dipecat jika melakukan kesalahan lagi.
Hari ini aku off kerja dan rencananya mau ke rumah ibu kasih sebagian uang gaji sekalian jemput Adel. Aku mau bawa dia jenguk Aldi karena memang jatahku hari ini. Setiap sore kami selalu gantian lihat keadaan Aldi di rumah sakit.
Namun, langkah berhenti saat lihat Irmaya, dia sudah ada depan kontrakan.
"Mbak, bisa bicara sebentar?" tanyanya. Terlihat agak kikuk dia.
"Bisa, duduk dulu." Aku persilakan dia duduk di kursi plastik yang memang ada di teras kontrakan.
Tapi ada yang aneh, bukannya ngomong dia justru menunduk sambil mengamit tangan sendiri.
"May?"
Maya mendongak menatap aku lamat.
"Ngomong aja," lanjutku. Jujur, udah kadung penasaran sama apa yang akan dia katakan. Secara kami gak dekat, gak ada alasan untuk dia bertandang ke sini. Ini pasti ada alasan kuat. Hmm, aku penasaran.
Dia menghela napas. Gugup agaknya. Mungkin lantaran hubungan kami sebelumnya. Selama ini memang gak pernah tegur sapa. Aku selalu jaga jarak dari Maya.
Sebenarnya bukan hanya Maya, tapi Bang Darwis juga. Masih segar diingatan saat mantan suamiku bilang dengan lantang bakalan balik sama aku dan ninggalin Maya.
Sebagai perempuan aku benci pada Bang Darwis. Dia gak punya hati, sudah hancurkan aku, malah mau hancurkan Maya. Lalu hati anak-anak pasti akan lebih hancur lagi.
Untungnya sejak kami berpisah, kegilaannya menghilang. Bahkan saat tau aku mengontrak di sekitar rumahnya pun dia gak pernah mengusik. Palingan jemput Adel. Dia gak pernah nekat.
"Maya?" panggilku lagi.
"Mbak Nabila masih sayang Bang Darwis?" tanyanya yang buatku gak bisa ngomong.
__ADS_1
Kuamati dia.
"Aku sudah lama memikirkan ini, Mbak. Dan aku pikir harus dengar semua langsung dari Mbak Nabila. Apa Mbak Nabila masih ingin menjadi istrinya Bang Darwis?"
Speechless. Aku beneran nggak nyangka dia nanya begini.
"Maya, mungkin kamu salah paham. Aku sama Bang Darwis udah …."
"Aku tahu kalian sudah bercerai dan itu karena aku. Dan setelah di pikir-pikir lagi aku nggak bisa memaksakan ego ke kalian berdua," balasnya yang buatku rada pening.
"Apa maksud kamu?" tanyaku lagi.
"Aku ingin menyerah, Mbak. Pernikahan ini. Bang Darwis. Aku gak kuat."
Aku tarik napas panjang, kepala rasanya berdenyut mendengarkan ucapannya ini. Ini rada gila. Beneran. Gak nyangka dia bisa kepikiran begini.
"Kamu cemburu? Aku sama Bang Darwis udah …."
"Aku capek Mbak," potongnya. Aku cuma bisa diam melihatnya menunduk.
"Itu nggak akan mengubah apa pun, Maya," potongku cepat.
Dia mendongak. "Tapi Bang Darwis …."
"Aku udah nggak ada rasa. Kita udah selesai sejak lama. Perasaanku udah nggak ada sejak dia berkhianat," potongku lagi.
Dia menunduk kembali. "Maaf …."
"Sudah masa lalu. Mbak anggap itu takdir. Takdir pahit yang harus Mbak lalui sendiri," jelasku.
Aku patah hati rumah tangga berantakan. Tapi makin ke sini diri ini sudah bisa menerima kenyataan. Terpuruk ke hal yang sama dalam waktu lama itu hanya akan menyakiti diri sendiri, 'kan? Itu gak baik.
Maya masih menunduk dan aku pikir dia saat ini sedang di fase menyesal. Tapi menyesal juga nggak ada gunanya. Waktu terus berjalan.
__ADS_1
"Bang Darwis nggak cinta aku, Mbak. Dia terpaksa bertahan karena orang tuanya dan orang tuaku," jelasnya lagi.
"Kalau itu Mbak no komen. Cuma Mbak ingin kamu mengingat lagi, renungkan, bukankah kalian bisa sampai di sini karena ngelakuin kesalahan?" ungkitku.
Maya mengangguk.
"Begini, Mbak bukan orang yang paham agama. Tapi menurut Mbak, selama bisa diselamatkan, selamatkanlah, Maya. Pernikahan bukan lelucon. Walaupun pernikahan kalian bermula dari perselingkuhan, pernikahan tetap pernikahan. Dan Allah membenci perceraian. Apa kalian ingin mendapat kemurkaan lagi?" terangku.
Maya menggeleng. Dan kulihat memang Maya ini banyak perubahan. Dulu saat bertemu aku pakaiannya sungguh terbuka. Tapi sekarang berbeda. Pakaiannya makin hari makin tertutup. Hari ini kulihat dia datang dengan jilbab di kepala.
"Tapi Bang Darwis nggak cinta aku, Mbak," jelasnya lagi. Terdengar tersendat suaranya.
"Aku gak kuat, aku ngerasa gak ada harganya," lanjutnya.
"Mbak yakin ada cinta. Bang Darwis itu bukan tipe orang yang gampang berbuat baik dengan orang jika dia gak peduli. Dia bahkan mempertahankan perselingkuhan kalian dan mengenalkan kamu ke kekuarga, itu artinya dia memang ada rasa."
"Tapi kita jarang berkomunikasi, dan yang membuatku sakit adalah, beberapa kali dia mengungkit dan membandingkan aku sama Mbak Nabila," sahutnya.
"Itu bukan hal yang harus kamu pikirkan. Itu bukan alasan untuk kamu merajuk. Justru sebaliknya, kamu harus buktikan kalau kamu lebih baik dari Mbak."
Maya mendongak. "Mbak Nabila …."
"Sekarang Mbak nanya, apa kamu mencintai Bang Darwis?" tanyaku serius.
Dia mengangguk
"Kalau gitu pertahankan, coba dekati lagi dia, rebut hatinya, hapus Mbak dari pikirannya. Mbak rasa dia cuek sama kamu bukan karena nggak cinta, dia hanya sibuk. Kamu tahu tanggung jawab sebagai kepala keluarga itu berat dan itu dia tanggung sendiri. Kamu nggak seharusnya ngelakuin ini sama dia," tuturku lagi panjang lebar.
Kulihat Maya menyapu pipi, air matanya turun menitik ke paha yang terbalut gamis.
"Maya, kita semua pernah melakukan kesalahan. Tapi Kita semua wajib bertaubat dan melakukan yang terbaik. Jangan gampang menyerah, Mbak yakin pertemuan kamu sama Mas Bang Darwis pun itu adalah takdir."
"Mbak Nabila …."
__ADS_1
Kupegang tangannya, menggenggamnya kuat. "Mbak nggak ada niatan untuk balik sama Bang Darwis. Kalian cocok dan Mbak berdoa untuk kebahagiaan kalian," terangku lagi, lalu memeluknya. Dia sesenggukan di pundakku.
"Maafin aku Mbak maaf …."