Bantu Aku Bercerai

Bantu Aku Bercerai
Jadi pengasuh


__ADS_3

Kembali ke POV Nabila.


***


"Bila, ini gaji buat bulan ini," Bu Mutia menyerahkan amplop cokelat yang aku terima sambil ucapkan terima kasih.


"Saya lebihin dari bulan lalu," lanjutnya.


Mataku membola. Dilebihkan?


Alhamdulillah.


Aku tiba-tiba penasaran berapa isinya. Bulan lalu ada satu juta tujuh ratus. Kalau ditambahin mungkinkah ada satu juta delapan.


Alhamdulillah, dengan uang ini aku bisa bayar kontrakan dan ajak Adel jajan dan beli baju.


"Makasih, Bu."


"Karena saya puas sama kerja kamu. Naura juga anteng sama kamu. Badannya berisi dan bersih. Saya jadi tenang nitipin Naura sama kamu," lanjut Bu Mutia. Usianya sudah empat puluhan tapi masih terlihat segar. Senyumnya juga manis.


Ah, selain memiliki semyum manis, Bu Mutia ini juga sangat baik. Waktu pertama kerja aku digaji sejuta lima ratus. Untuk aku tentu itu lumayan besar. Terlebih lagi saat kerja sama dia aku bisa bawa Adel. Dan yang lebih Masya Allah lagi, Adel anteng jagain bayi yang aku asuh. Antara kontrakan dan rumahnya hanya berjarak beberapa rumah saja. Jadi gak perlu ongkos. Dan juga camilan yang ada di kulkas boleh Adel makan. Gimana aku gak betah coba.


"Buk, buruan!"


Aku lihat samping dan mendapati Pak Burhan sudah ada dekat mobil. Pak Burhan ini suaminya Bu Mutia. Dia seorang perwira polisi, sedang Bu Mutia sendiri adalah dokter. Dokter kandungan. Aku bekerja sama mereka sudah empat bulan ini. Jaga bayi mereka sekaligus mengerjakan pekerjaan rumah. Tanpa masak, karena di rumah ini gak akan ada orang. Mereka pulang saat sudah sore dan malamnya lebih sering makan di luar. Tugasku hanya jaga anak mereka sambil beres-beres. Nyuci, nyetrika dan lain-lain.


"Ya udah, titip Naura, ya. Sarapannya ada di dapur, saya gak sempet nyuapin. Kamu suapin, ya."


"Iya, Buk."


"Saya berangkat dulu," ucap Bu Maura sambil mencubit gemas pipi anaknya. Anaknya yang baru berusia enam bulan.

__ADS_1


Agak ajaib memang dan mungkin akan ada yang mencibir mereka. Usia sudah lanjut tapi punya bayi. Tapi kan bayi adalah rejeki.


Selepas itu aku tutup pintu, lalu kunci. Aku juga hidupkan TV sambil meletakkan Naura di karpet bulu. Sedang Adel, duduk anteng mainin boneka.


"Del, jaga adek, ya. Ibuk ke dapur dulu."


Adel mengangguk, lalu ajakin Laura main. Dia ngoceh dan Laura terkekeh geli.


Melihat pemandangan ini mencelos hatiku. Adel anteng, tapi kadang rewel jika teringat sama Bang Darwis. Beberapa kali dia demam karena merindukannya.


Tapi, aku belum siap bertemu Bang Darwis. Pun, gak berani pulang kampung karena belum urus perceraian. Walau secara agama sudah cerai, tapi negara belum. Aku belum mengantongi akta cerai. Rencanakan aku akan mengurusnya besok. Mudahan Bu Maura mau mengizinkan aku libur.


Dengan langkah cepat aku ke dapur. Namun kaget hampir kejengkang saat lihat sosok manusia keluar dari kamar mandi dengan dada terekspos. Hanya Ada handuk di pinggangnya.


Karena kaget ku pun memalingkan muka. Jika diingat aku pernah lihat mukanya. Kalau gak salah namanya Raka. Dia anak sulung keluarga ini yang katanya mahasiswa. Dia punya rumah sendiri dekat kampus. Fotonya tercetak jelas di dinding ruang tamu.


"Mbak Nabila pengasuh Naura?" tanyanya. Suaranya ngebas. Jadi gemetar aku.


"Aku Raka, abangnya Naura," jelasnya.


Aku masih menunduk.


"Mama udah jelasin kalau Mbak bakalan di rumah jagain Laura. Jadi lakukan tugas Mbak dengan baik. Aku gak bakalan ganggu," katanya lalu melewatiku. Aroma sabun menguar saat dia lewat.


Sepeninggal dia barulah aku bisa bernapas lega. Entah kenapa kikuk sendiri. Seruangan sama orang lain rasanya canggung.


Seperti permintaan Raka, aku tetap melakukan tugas seperti biasanya. Lebih tepatnya berusaha tenang walau rasanya gak nyaman.


Saat Laura istirahat aku mulai beberes. Raka pun gak kelihatan karena ke kamar gak keluar lagi. Aku bersyukur dia melakukan itu.


Jam sudah menunjukkan pukul sebelas siang dan kebetulan Luara sedang tertidur. Karena sekarang ada Raka, aku pun berinisiatif menanyainya. Barangkali ingin makan sesuatu untuk makan siang.

__ADS_1


Berani-berani takut kudekati kamarnya, lantas mengetuk. "Den Raka, ini saya Nabila. Den Raka mau makan siang apa?" tanyaku


Walau memasak bukan ranahku, tapi entah kenapa gak enak saja kalau makan sendiri gak nawarin. Kebetulan aku sudah goreng ayam dan buatku dan Adel makan.


Pintu mengayun membuka dan memperlihatkan badannya yang kurus tinggi. Badannya kurang lebih macam Aldi, cuma kulitnya ini lebih bersih dan cakep. Mungkin karena masih muda.


"Masak apa memangnya?" tanyanya.


"Saya masak ayam goreng. Tapi kalau Den Raka mau minta masakin lain, bisa saya masakin, kok."


"Gak usah. Makan yang ada aja." Dia pun melewatiku dan menuju dapur. Aku tentu mengikuti. Di dapur sudah ada Adel. Dia makan sendiri.


"Buk, kenyang," ucap Adel.


Aku mendekatinya dan membersihkan wajah yang rada cemong. Adel memang belum terlalu bisa makan sendiri.


"Sini, kita bersihkan dulu," ajakku lalu menuntunnya ke kamar mandi.


"Nanti Adel nonton ya. Bobo di sana," kataku.


Adel mengangguk, lalu berlari pergi.


"Saat keluar dari kamar mandi kulihat Raka sudah makan. Di duduk dan sekilas melirik. Aku yang sadar pura-pura sibuk membersihkan piring dan nasi yang bertaburan


di lantai.


"Mbak Nabila."


Aku spontan menoleh dan melihatnya menatap gak kedip.


"Ya, kenapa, Den?"

__ADS_1


"Sudah berapa lama jadi janda?"


__ADS_2